LOKALITAS PUISI-PUISI DEDDY ARSYA

Fariq Alfaruqi *
http://www.harianhaluan.com/

WISATA DALAM PUISI

Selayaknya seorang peman­du wisata yang menawarkan informasi dari sebuah tempat atau daerah kepada para turis, puisi juga dapat memposisikan diri sebagai pemandu wisata yang handal bagi penikmat sastra. Ketika membaca puisi-puisi Deddy Arsya, hal terse­butlah yang pertama kali kita temukan. Kita dibawa singgah dari satu daerah ke daerah lain, bercerita tentang sejarah, adat istiadat, perekonomian, beserta kompleksitas kebudayaannya. Terutama daerah-daerah yang berada di Sumatera bagian tengah, yang dalam latar buda­yanya merupakan ranah Mi­nang­kabau, tempat di mana penyair dilahirkan dan men­jalani proses kreatifnya.

Dalam sejarah sastra Indo­nesia, sastra warna lokal telah dimulai sejak zaman Balai Pustaka, seperti puisi-puisi Amir Hamzah. Setelah sempat terbe­nam pada periode Pujangga Baru dan periode 45 yang menampilkan ciri-ciri nasio­nalisme dan humanisme, sastra warna lokal lahir kembali pada periode 50-an. Ajip Rosidi mengumumkan “angkatan terbaru”-nya melalui karyanya “Jante Arkidam”, atau AA Navis lewat cerpen “Robohnya Surau Kami.” Namun, adakah warna lokal dalam karya-karya tersebut? Ya, kalau hanya latar. Memang karya-karya tersebut menggunakan latar daerah masing-masing, namun, adakah perubahan isi pada karya apabila latar tersebut diganti dengan tempat lain. Ajip Rosidi menggunakan latar perkebunan dan pedesaan, tapi, apakah perkebunan dan pedesaan merupakan warna lokal? Me­mang terdapat surau dalam cerpen Navis yang merupakan istilah mushala di Minang, namun dalam cerpen tersebut surau hanya mengacu pada kultur keagamaan tertentu, yaitu Islam. Tetapi warna lokal pada puisi-puisi Deddy Arsya tidak hanya tergambar sebagai kulit luar saja, seperti penggunaan diksi kepundung, kepinding, kanciang, menderun, yang merupakan diksi Minang yang di Indonesiakan, atau penggu­naan latar tempat belaka. Ia juga menawarkan problema­tika-problematika yang diha­dapi masyarakat Minang. Ba­gai­mana harga tomat orang Alahan Panjang dalam puisi “Odong-odong Fort de Kock” atau Silungkang sebagai tempat pemintalan kapas dalam puisi “Truk Pembawa Kapas Lewat di Silungkang”, yang merujuk kepada permasalahan ekonomi, adapula kisah perperangan PRRI dalam puisi “Perang Tiga Tahun yang Ramai” yang memuat nilai-nilai sejarah, bahkan perbandingan hidup antara masyarakat yang tinggal di daerah darek dengan pasisia juga hadir dalam beberapa puisinya, semisal “Ikan Pa­dang” dan “Odong-odong Fort De Kock”.

Tidak sama halnya dengan pengkategorian yang dike­mukakan Shipley, bahwa dalam sastra warna lokal pengarang bertindak sebagai wisatawan dan lokalitas hanya diman­faatkan sebagai setting semata. Akan tetapi lokalitas tersebutlah yang menjadi subjek dalam puisi Deddy Arsya, puisi yang memandu para ‘wisatawan’ dalam penjelajahannya. Di sini, justru pembacalah yang bertin­dak sebagai wisatawan.

Pasca Modernisme

Setelah modernisme dan nasionalisme gagal dalam mencegah terjadinya konflik antarbangsa, serta tidak sesu­ainya unsur kebudayaan barat terhadap kepribadian bangsa Indonesia, kearifan lokal bukan hanya menjadi pilihan sebagai alat pencarian jati diri bangsa Indonesia. Tetapi juga menjadi mainstreame bagi per­kem­bangan kesusastraan Indo­nesia mutakhir. Para sastrawan seperti berlomba-lomba mem­promosikan daerahnya masing-masing.

Di bawah pengaruh iklim seperti sekarang ini, yang diperiodesasikan oleh barat sebagai era Postmodern, warna daerah memang mendapatkan tempat yang besar untuk me­lantangkan “kata-kata” mereka sendiri, yang mana pada era sebelumnya mereka ‘terkung­kung’ oleh apa yang disebut dengan gagasan global.

Indonesia yang secara realitas historis telah mewa­riskan pluralisme, dapat ber­pesta menyambut era Post­modern ini.

Namun, dalam puisi-puisi­nya Deddy Arsya tidak hanya berkutat dalam tataran plu­ralitas konvensional, tetapi juga merambah narasi-narasi yang belum mapan, yaitu pluralitas yang berkembang sejalan de­ngan gerakan antikemapanan di eropa pada tahun 70-an, yang tidak lagi berurusan dengan permasalahan SARA, mela­inkan permasalahan-permasa­lahan kontemporer, seperti pluralisme-pluralisme kecil dalam kultur besar serta budaya populer. Isu pluralisme kecil tersebut tergambar dalam puisi “Odong-odong Fort de Kock”: “Lilitkan sarung itu ke leherku, Ayah, orang darat tak tahan dingin,/ syal di Pasar Bawah lebih mahal dari sadel sepeda roda tiga./ Bawa aku ke Padang saja, aku ingin sup sirip hiu, dan rendang cumi./ Kepala ikan kerapu lebih murah dari itik serati orang Koto Gadang.”

Dalam potongan puisi ini dapat kita lihat perbandingan kultur-kultur yang ada di Minang, “Bawa aku ke Padang saja, aku ingin sup sirip hiu, dan rendang cumi. Kepala ikan kerapu lebih murah dari itik serati orang Koto Gadang” perbandingan ini merujuk kepada kultur masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dengan kultur masyarakat yang tinggal di daerah darat atau dataran tinggi.

Sedangkan isu budaya po­pu­ler, dapat kita baca pada puisi “Sekolah Beruk di Pari­aman”: “Televisi menyiarkan siaran langsung pertandingan bulutangkis./

Lalu iklan menyalak di radio entah siapa: Lomba berenang lintas selat!/ Kau kata: Bisa ikut, dia, bisa ikut!/ Lalu kau mencabuti bulu-bulu di tubuhnya dengan penyedot debu./ Telinganya kau olesi balsem dan minyak angin Cap Lang.”

Bagaimana budaya populer berkembang, digambarkan dengan jelas dalam puisi ini, bahwa dalam budaya populer, berukpun bisa ikut lomba berenang lintas silat, dengan mengubah pencitraanya melalui pencabutan bulu dengan penye­dot debu dan mengoleskan balsem ke telinga beruk itu.

Problematika semacam ini kerap hadir pada sebagian besar puisi-puisi Deddy Arsya yang telah dipublikasikan di koran-koran.

Penggembosan

Dengan lokalitas Minangnya pula puisi-puisi Deddy Arsya mencoba membongkar apa yang disebut trilogi indah-baik-benar dalam sebuah karya, yang mana selalu dibicara­kan secara bersama-sama. Aspek-aspek tersebut tidak lagi ‘diindahkan’ dalam puisinya.

Dengan reto­rika moc­kery ia membebaskan dan mengolok-olok apa itu keindahan, etika dan logika. Hal ini juga tergambar dalam puisi “Sekolah Beruk di Paria­man”: /”Beruk betina pekak itu menggigit puting susumu/ ketika belajar memanjat di halaman rumah Sidi pegawai lampu PLN.”

Aspek-aspek keindahan yang biasanya dicerap oleh indera tidak ditemukan di sini, pembaca dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang ganjil, yang memang sering kita temukan dalam realita. Apabila FPI membaca puisi-puisi ini, mungkin bisa jadi akan dicap haram, karena mengandung diksi vulgar, seperti “puting susumu.” Atau yang lebih mempermainkan keindahan dan etika, terdapat dalam puisi “Museum Teknologi.” Di sana ia menggunakan diksi dan metafora yang tidak lazim bagi perpuisian Indonesia, seperti: “Payudaramu puting mur, obeng dan porsneling” atau “serupa tali kutangmu yang meninggalkan jejaknya di punggung dan di pundak.

Jalan Keluar

Dalam era multikultural, karya sastra semacam inilah yang diharapkan dapat men­jembatani antara satu budaya dengan budaya lain, satu daerah dengan daerah lain. Sehingga menimbulkan ruang-ruang diskusi untuk mencapai suatu Indonesia yang diharapkan. Sehingga gerakan otonomi daerah yang sedang gencar dilaksanakan, tidak berada dalam tataran politik semata. Dan kelak tidak tumbuh seba­gai pengasingan suatu daerah terhadap daerah lain.

*) Fariq Alfaruqi, Menulis Puisi dan Esai, Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND. /18 Desember 2011