Mbah Mar

Yulizar Fadli
http://www.lampungpost.com/

ANGIN kalem. Mata Mbah Mar melek-merem. Kambing-kambing gembalaannya juga tampak ayem mengunyah rumput gemuk yang tumbuh di Balai Pertanian—para penduduk menyebutnya balitan. Balitan milik pemerintah itu terbentang luas dan ditanami beragam ubi, bunga, sampai padi berkualitas tinggi. Yang terang, sekeliling kawasan itu dipagari kawat berduri.

Dulu, hanya Mbah Mar dan Mbah Kirut yang boleh menggembalakan hewan ternak di tempat itu, karena pasangan suami-istri ini memang dekat dengan pimpinan Balai Pertanian. Misalnya saja Mbah Kirut, setiap bulan ia tak pernah absen membersihkan parit rumah dan kebun pribadi milik sang pimpinan. Kalau ada orang lain yang nekat atau diam-diam menggembalakan hewan ternak di sana, maka Pak Wayan, pimpinan balitan, bertubuh tambun, berkepala botak, dan berjenggot tebal, tak akan segan-segan membawa senapan burung untuk mengusir mereka semua.

Satu orang yang pernah sial terkena pelor burung Pak Wayan, ditembak dari jarak sepuluh meter dan mengena tepat di bagian kanan kakinya. Orang itu blingsatan. Ia lari terbirit-birit membawa sabit sambil mencangklongkan karung plastik berisi rumput ke bahunya yang tinggal tulang.

Sejak setahun setelah kepala negara baru didapuk di negeri ini, Pak Wayan meninggal akibat kecelakaan beruntun. Opel Blazer yang ia kendarai hancur tak keruan. Ada sekitar tiga atau empat kendaraan yang beruntun bertabrakan. Tak tahu pasti menelan berapa korban, yang terang, Pak Wayan meninggal di tempat kejadian. Sejak itulah, orang-orang jadi merasa bebas menggembalakan atau mencarikan rumput untuk hewan ternaknya di balitan.

“Udah enggak ada lagi yang bawa senapan burung sambil berteriak lantang,” ujar penggembala kepada penggembala lainnya.

Tapi hal itu berbeda buat Mbah Mar. Mbah kesayanganku itu merasa kehilangan bosnya. Mbah Mar yang paling kencang menangis saat orang-orang datang melayat di rumah duka. Mbah memelukku waktu menangis. Saat itu, aku iseng mengintip dari celah ketiak Mbah, kulihat Bu Wayan dan Mas Agung menangis sewajarnya. Tak berlebihan seperti Mbah Mar. Ibuku juga biasa saja, menghapus air matanya dengan ujung kerudung tanpa suara. Padahal kalau dipikir-pikir, ibulah yang setiap hari tinggal di rumah itu. Sebab Ibu adalah seorang pembantu. Mbah Mar dipanggil hanya jika Pak Wayan atau istrinya minta dipijat atau dikerik.

Mbah adalah dukun pijat paling andal dan terkenal di kampungku. Ada yang menjulukinya dukun serbabisa. Malah Mbah pernah dipanggil sebagai pawang hujan waktu ada hajatan pernikahan. Mbah andal menyembuhkan kaki orang yang keseleo, tapi Mbah tak berdaya menghilangkan nyeri di kaki kiriku yang pincang ini. Tapi, walaupun begitu, aku tetap dibawa ke mana pun Mbah pergi. Meskipun jalanku lambat, Mbah tak pernah marah. Ia tetap menuntunku ke tempat orang yang minta diobati. Mbah lebih senang mendatangi daripada didatangi pasiennya.

Mengenai upah, Mbah tak pernah mematok harga. Ia terima berapa pun jumlahnya. Kalau tidak memberi uang, biasanya mereka memberi barang. Beras dan gula yang paling sering Mbah terima. Dulu, orang juga sering memberi sebungkus rokok kretek semasa Mbah Kirut hidup. Tapi sejak suami tercintanya itu meninggal karena penyakit asma, tak ada lagi sebungkus rokok yang Mbah Mar terima.

***

“REJEKI itu sudah ditaker, jadi enggak mungkin ketuker. Gusti Allah Mahaadil, Tin. Walaupun Mbah Kirut sudah meninggal, tapi buktinya Mbah tetap tegar. Ibumu juga begitu. Bu Wayan kan sudah pindah ke Yogya. Pimpinan pertanian juga sudah diganti. Mau tidak mau ibumu harus cari usaha sendiri,” Mbah berkata panjang lebar sambil menghapus air mata di pipiku. Aku mendongak dan melihat wajah Mbah yang sudah keriput. Mbah tersenyum dengan bibirnya yang sumbing.

Aku tak boleh minder. Tak boleh marah dan tersinggung. Itu semua garisan takdir, Mbah menasihatiku waktu anak Pak Bawir mengejekku habis-habisan.

Aku memang cacat dari lahir. Aku tak mau sekolah lantaran teman-teman sekolah selalu menghinaku. Itu yang membuat sekolahku hanya bertahan sampai kelas III. Padahal sebenarnya aku ingin sekolah sampai tinggi seperti Mas Kandar. Dia sekolah di jurusan psikologi. Malah sudah sampai tingkat S-2. Aku dengar cerita itu dari Bapak Mas Kandar sendiri. Ia bercerita waktu dipijat oleh Mbah Mar. Pendengaranku masih baik, meskipun mulutku tak bisa bicara.

Aku tak tahu kenapa aku bisu. Dulu, waktu aku masih dalam perut ibu, kata Mbah Mar, ibuku pernah memukul ular sampai mati. Ibu kena tulah. Kena karma. Mana boleh perempuan hamil tua membunuh seekor ular!

Kupercayai mitos itu. Mitos yang menjadi sedemikian hidup di kepalaku. Aku jadi sangat percaya bahwa kecacatanku ini memang karena ulah ibu. Tapi, walaupun begitu, sedikit pun aku tak pernah membencinya.

Ibu juga mengajariku menembang Jawa, meski sebetulnya ia tahu aku tak bisa bicara. Kudengar suara ibu sangat merdu. Ia selalu menembangkan lagu Lingsir Wengi menjelang aku tidur. Aku mengangguk-angguk saja saat ibu mengajariku menembang—anggukan yang sama saat Mbak Manise mengajariku mengaji.

Ibu juga berkisah, sebelum menikah dulu, ia bergabung dengan salah satu kelompok campur sari bernama Ojo Dumeh. Di situlah ibu bertemu dan jatuh cinta dengan bapak. Bapak adalah pimpinan dalam kelompok itu. Ia yang mengajari ibu menembang. Katanya, suara bapak lebih merdu ketimbang ibu.

Kelompok mereka terkenal di seluruh kampung dan sering diundang kalau ada hajatan. Tapi sejak ada kelompok orkes baru di kampung itu, campur sari jadi terpinggir. Campur sari dilupakan. Mereka kehilangan periuk rezeki. Tapi untunglah, kata ibu, ia diminta jadi pembantu di rumah Bu Wayan—dan itu juga berkat Mbah Mar yang waktu itu diminta untuk mengeriknya.

Itulah sebabnya, kata Ibu, sejak usiaku tiga tahun, bapak memutuskan merantau ke tanah Jawa. Bapak tak pernah pulang. Tapi ibu terlihat sabar menunggu bapak pulang. Mungkin juga tidak, sama seperti aku yang merasa bahagia meskipun sebenarnya juga tidak. Bahagia tak bahagia tetap wajib berterima kasih pada yang memberi hidup, pesan ibu setiap ia selesai menembang.

Mbah sudah sering melarang ibu menyanyikan lagu itu. Katanya, kalau dinyanyikan di malam hari, lagu itu bisa mengundang hantu perempuan. Mbah menyebutnya kuntilanak. Tapi mitos itu seperti tak penting buat ibu. Tetap saja ia menembangkannya untukku tiap malam.

Aku tak tahu isi lagu itu. Ibu juga tak pernah bercerita tentang riwayatnya. Padahal aku ingin sekali melontarkan pertanyaan untuk sekadar tahu apa artinya. Tapi sayang, pertanyaanku itu tak dapat kulontarkan.

Ibu berhenti menembang saat usiaku 14 tahun. Tepat saat Bu Wayan kehilangan suaminya tercinta, bertepatan juga saat ibu harus kehilangan pekerjaannya. Karena pimpinan Balai Pertanian yang baru pasti mencari pembantu yang juga baru. Ibu harus mencari ranting rezeki lain. Gaji bulanan yang ia kumpulkan dari Bu Wayan menjadi modal berjualan di pasar. Dari jual tembakau, kue, sampai akhirnya menjual sayuran.

Masih di usia 14, saat kampungku sudah tak ramai membicangkan pemimpin baru di negeri ini, saat itu pulalah bapakku pulang dari Jawa. Aku lupa wajah bapakku. Aku baru tahu kalau ia bapakku setelah diberitahu oleh Mbah Mar dan ibuku. Aku kaku saat Bapak memelukku.

Bapak berperawakan kurus-tinggi. Pantas saja aku juga kurus seperti itu, pikirku dalam hati. Aku juga berpikir sekaligus ingin tahu, apa sebetulnya pekerjaan bapakku. Tapi sayang, aku tak sempat mendengar percakapan tentang pekerjaannya.

Oh ya, kata ibu, bapak yang memberiku nama Suprihatin. Tak tahu juga kenapa aku diberi nama itu. Kalau kata Mbah Mar, agar aku ini jadi perempuan yang penuh rasa prihatin, wajar, pandai bersyukur, dan tidak berlebihan dalam menjalani hidup. Ada-ada saja jawaban Mbah Mar.

Mbah Mar sendiri tidak memanggilku Suprihatin. Ia memanggilku, Gotin. Tak perlu kutanya kenapa. Karena aku suka dipanggil begitu.

Bapak tak lama tinggal di rumah. Mungkin hanya sepuluh hari. Setelah itu ia pamit pergi ke Jawa lagi. Aku sempat mendengar Bapak berjanji pada Ibu bahwa ia akan segera kembali. Bapak juga berpamitan padaku sambil menyentuh daguku setelah sebelumnya berpamitan dan mencium tangan Mbah Mar.

***

RUMAH berfondasi bata merah kini hanya ditinggali tiga penghuni. Aku, Mas Nalis, dan Mbah Mar. Ibuku meninggal pertengahan April lalu. Aku dan Mbah menemukannya tergeletak di atas amben. Mulutnya berbuih. Kata Mbah Mar, ia minum racun serangga. Bapak tak pernah tahu kalau ibu sudah meninggal. Sama halnya aku, tak pernah tahu apa gerangan nasib bapakku, sebab ia tak sekalipun pulang setelah pamit pergi ke Jawa enam tahun lalu.

Aku tengah hamil tua. Usiaku 20 tahun sekarang. Aku membuka usaha menjahit setelah setahun sebelumnya mengikuti kursus di Penjahit Perintis. Di sanalah aku mendapat keahlian sekaligus bertemu dengan jodohku, Mas Nalis. Aku menikah di usia 19, dan Mas Nalis empat tahun lebih tua dariku. Meskipun pendengaranya tak berfungsi, ia adalah suami yang sabar dan penyayang. Kami dinikahkan di KUA. Tanpa pesta. Hanya ijab-kabul biasa. Aku bersyukur. Karena kehadiran Mas Nalis mengingatkanku pada ucapan Mbah Mar, rezeki sudah ditaker, jadi enggak mungkin ketuker.

***

SORE begini Mbah pasti sedang menggembalakan kambingnya di Balai Pertanian. Mas juga pasti belum akan pulang dari pasar, kataku dalam hati. Aku khawatir. Perutku mulai sakit. Ada yang menendang-nendang di dalam perut. Aku pergi ke dapur mengambil minum. Kupikir sakitnya berkurang kalau aku minum air.

Belum sempat sampai di dapur, aku melihat seekor ular di dekat pintu. Kontan saja aku takut. Aku melompat belakang. Berusaha menjerit, tapi tak bisa. Entah kenapa tiba-tiba aku mengambil sapu, kayu, atau apa saja yang ada di dekatku untuk memukul ular itu. Ular itu jadi melawan. Sebagian badannya tegak sempurna. Ia mencoba mematuk, aku menghindar. Aku memukul, ia menghindar. Akhirnya, dalam waktu yang tak lama, aku berhasil memukul kepalanya.

Setelah berkali-kali kupukuli, akhirnya ular itu mati. Kurasakan perutku semakin sakit. Aku tak kuat berjalan. Aku bersandar pada meja kayu di sebelahku, mencoba menarik napas panjang—kemudian duduk sambil memandangi ular yang sudah mati itu. Aku menunduk dan memohon pada Tuhan, agar mitos yang kupercaya itu tak menimpa bayi yang sedang kukandung ini.

Gunungterang, Mei 2012