Media Katarsis, Manfaat Pendekatan Resepsi Sastra

Wemmy Alfadhli
http://www.kompasiana.com/wem

Seorang koruptor zaman Orde Baru yang lolos dari pengawasan Indonesian Coruption Watch bersantap malam bersaama keluarga besarnya. Sambil menyantap makanan yang lezat-lezat, sambil seluruh anggota keluarganya melahap sepuas-puasnya semua hidangan yang serba nikmat, sang koruptor berbicara panjang lebar tentang perbuatan korupsi yang dilakukannya; yang bagaimanapun itu demi kesejahteraan dan kemakmuran keluarga. Yang bagaimanapun untuk itu ia bersedia menanggung semua dosanya. Demi modal hidup baik-baik anak cucunya kelak. Sementara acara makan-makan yang serba lezat terus berlangsung dengan sangat nikmat. Tulang belulang segala macam daging berserakan di piring-piring. Sehabis itu giliran puding, karamel, dan berbagai rupa pencuci mulut meluncur ke meja makan. Sementara di luar hujan turun dengan derasnya. Dari Aceh hingga Jakarta.

Di Aceh, di tengah-tengah derasnya hujan, di antara suara guntur dan halilintar yang bersambung-sambungan, orang-orang sedang bekerja keras membongkar sebuah kuburan massal yang baru ditemukan. Satu per satu tengkorak-tengkorak dan tulang belulang tersebut diangkat ke permukaan. Pada waktu yang sama, di Jakarta, sang koruptor dengan sangat nikmat sedang menyedot otak gulai kepala ikan bumbu aceh. Sedotannya bagai sedotan kilang-kilang minyak di tengah lautan yang bergelora.

Cuplikan pada para paragraf di atas saya ambil dari sebuah cerpen karangan sastrawartawan Seno Gumiro Ajidarmo berjudul Telepon Dari Aceh. Sungguh teramat memikat gaya ironik yang dihadirkan Seno pada cerpen yang pernah dimuat dalam buku kumpulan cerpen terbaik KOMPAS tahun 2000 ini. Dengan mengontraskan secara paralel suasana acara bersantap dengan hidangan serba nikmat yang terjadi di Jakarta–di rumah sang koruptor–dengan kejadian pembongkaran kuburan–bisa kita tafsirkan sebagai korban DOM–di Aceh, cerita ini telah berhasil menghadirkan kesan miris pada pembacanya. Paling eksplisit bisa kita lihat pada korelasi oposisional yang mungkin timbul antara tulang belulang segala macam daging santapan keluarga sang koruptor tersebut dengan tulang belulang mayat-mayat yang ditemukan di Aceh. Seno tepat sekali sama-sama menggunakan pilihan kata tulang belulang bagi kedua hal yang sebetulnya berbeda tersebut. Apabila hal ini kita hubungkan dengan pemaknaan yang bisa hadir bahwa sang koruptor Orde Baru tersebut adalah simbol dari Jakarta atau Pemerintah Pusat yang dianggap menindas daerah–dalam hal ini rakyat Aceh–maka bisa saja timbul metafor yang sangat sadistik di benak pembaca: sang koruptor dan keluarganya tersebut sebetulnya sedang menikmati tulang belulang korban DOM di Aceh dengan sangat nikmatnya dan tanpa rasa bersalah.

Banyak sekali fakta-fakta tekstual dalam cerpen ini yang bisa lebih dikupas lagi untuk menunjukkan kesan ironistiknya; yang akan mengakibatkan sentuhan estetik pada sisi emosi pembaca. Daya sentuh terhadap emosi pembaca inilah yang diharapkan akhirnya berujung pada efek katarsis pada setiap pembacanya. Sebuah pencerahan yang didapatkan setelah melewati tahapan kemuakan terhadap apa yang terjadi. Tentang bagaimana efek katarsis bekerja dalam “dunia sastra”, Profesor Budi Darma pernah memberi contoh pada peristiwa “banjir darah” dalam pertunjukkan sebuah drama tragedi. Pertunjukan tersebut pada akhirnya “mendidik” penonton agar tidak melakukan hal apa-apa yang baru saja mereka saksikan di atas panggung.

Pada sekira akhir tahun 70-an model pendekatan dalam kritik sastra ikut diramaikan oleh teori estetika resepsi; atau dalam posisinya di antara berbagai macam pendekatan lain dalam analisis teks sastra lebih umum dikenal dengan istilah resepsi sastra. Ada dua tokoh yang pertama kali secara sistematis dan metodologik merumuskan model pendekatan ini, yakni Jauss dan Iser; keduanya dari Jerman. Setelah tulisan-tulisan mereka dikenal oleh dunia, mulailah terlihat bagaimana model analisis teks dan teori-teori sastra mendapatkan kesegaran dan sudut pandang baru. Pengaruh paling radikal setidaknya terlihat pada sebuah buku yang berjudul Kritik Sastra Subjektif (David Bleich) yang dikomentari Selden sebagai sebuah argumen canggih; yang setuju pergeseran paradigma kritik sastra objektif ke kritik yang bersifat subjektif. Apalagi jika hendak dibicarakan bagaimana pengaruhnya pada aliran dekonstruksionisme yang sedang hangat-hangatnya disoroti pada zaman paskamodernisme ini.

Poin paling penting dalam pendekatan resepsi sastra adalah bagaimana peran (setiap) pembaca–dengan segala persamaan dan perbedaan tipikalnya–dalam menafsirkan teks (sastra) mulai diperhitungkan. Antara Jauss dan Iser sebetulnya terdapat perbedaan konsepsi tentang analisis resepsi ini. Jauss lebih membicarakan tentang penerimaan aktif–pembacaan yang diikuti oleh penciptaan karya baru oleh pembaca tersebut–sehingga membentuk garis kesinambungan sejarah penerimaan; lebih jauh tentang ini bisa dilihat pertemuannya dengan pendekatan dan teori intertekstualitas. Sedang Iser lebih menekankan model analisisnya pada kemampuan atau cara teks (dan penulis) mempengaruhi (penafsiran) pembaca; atau dirumuskan oleh Iser dengan konsep tentang efek (wirkung, dalam bahasa Jerman). Sebab pembicaraan tentang pembaca (yang mahaluas) inilah barangkali yang mengakibatkan kemandegan usaha pengembangan model pendekatan ini. Sesuatu yang cukup “beresiko”, untuk menjelaskan (secara ilmiah) sebuah objek yang sangat besar macam variabelnya, dan tambah pula, sangat tinggi tingkat mobilitasnya. Objek tersebut iaitu manusia; yang hidup, berpikir, mempengaruhi, dan dipengaruhi. Upaya generalisasi sepertinya juga sulit untuk diterapkan. Berbeda dengan kajian-kajian sosial lainnya, kajian sastra memiliki tuntutan tersendiri yang berupa “penghargaan besar” terhadap “segala keunikan satuan estetiknya”.

Jauss sebetulnya juga telah berusaha menghindari kesemerawutan identifikasi pembaca tersebut dengan memfokuskan penelitiannya pada penerimaan yang bersifat aktif–sehingga ada pembuktian secara interteks. Begitupun Iser, ia mengemukakan klasifikasi tentang pembaca dengan membedakan antara pembaca sebenarnya (real reader) dengan pembaca yang disarankan oleh teks (implied reader). Yang terakhir ini dapat kita temui pada pembaca ahli–yang bagaimanapun dengan segala keterbatasannya pula–sebab seorang ahli melakukan penafsiran teks telah dibekali oleh seperangkat alat analisis; tidak sekedar sudut pandang impresi dan latar belakang subjeksinya. Sehingga dengan itu diharapkan sudut pandang yang dihadirkan oleh teks–barangkali untuk kali ini perlu dipisahkan dari “niat semula” pengarangnya–dapat ditangkap dengan sebaik-baiknya.

Dengan sangat terbatas, apa yang dilakukan Iser tersebutlah yang coba saya terapkan pada cerpen di atas. Sehingga saya berani mengambil kesimpulan tentang efek katarsis (pencerahan) yang mungkin dihadirkan oleh teks cerpen tersebut pada pembaca; dengan penyesuaian pada segala variabel pembaca untuk menentukan intensitas pengaruh teks tersebut. Ada benarnya, dalam analisis sudut pandang atau skema yang dihadirkan oleh teks cerpen tersebut perlu dilakukan sebuah kajian semiotik; sebab upaya pengorelasiannya terhadap referensi peristiwa dan hal-hal real di luar teks juga secara terbatas memasuki lingkup kajian sosiologi sastra. Namun, seperti yang dikatakan oleh Dr. Faruk (UGM) bahwa resepsi sastra adalah bagian dari teori semiotik, saya kira semiotik pun adalah hanya salah satu pendekatan “tambahan” yang dibutuhkan dalam rangka analisis estetika resepsi yang menekankan efek karya (baca: cara karya yang memproduksi efek) ini.

Saya melihat masih banyak karya-karya sastra lain–yang secara feeling dianggap menyentuh emosi dan kesadaran seorang pembaca–bisa digarap dengan teori wirkung-nya Iser ini. Salah satunya–yang saat menulis ini tiba-tiba terlintas di kepala saya–adalah naskah drama Orang Malam karangan Soni FM. Menarik jika kita menyimak sudut pandang dalam pengangkatan sebuah tema pada drama itu dibandingkan dengan kecenderungan tematik karya-karya sastra dalam sebuah rubrik mingguan yang diasuh Soni. Apalagi jika hendak dihubungkan dengan latar sosiologisnya. Dan lebih apalagi lagi, jika dihubung-hubungkan dengan niat membentuk watak kebudayaan masyarakat sebagai upaya pembuktian bahwa karya sastra berperan dalam membentuk nilai-nilai pada masyarakatnya. Perlu saya tambahkan di sini bahwa ada sebuah buku menarik, karangan George W. Burns, yang memperlihatkan bagaimana cerita (metafora) bisa dimanfaatkan sebagai sarana psikotherapi (terapi psikis). Bahkan, seperti yang pernah dilansir Subagyo Sastrowardoyo, di Amerika sana telah ada yang dinamakan Psikopoetry sebagai sebuah alternatif terapi kejiwaan.

Barangkali ini memang upaya yang mulai bergerak ke arah pragmatisme; ke pemikiran yang mulai membicarakan peran sastrawan dan karya sastra di tengah-tengah masyarakatnya. Tetapi apa salahnya kukira. Kita bisa melihat betapa keringnya teks-teks sastra maupun analisis-analisis teks sastra yang tidak memiliki wawasan di luar “sastra untuk sastra”. Apalagi dalam analisis wacana teks media–yang tak seprismatik teks sastra–juga telah berkembang analisis yang mulai memperhitungkan peran penafsiran pembaca; meninggalkan kekakuan tradisi analisis formalistik dan positivistik. Contohnya adalah upaya pengklasifikasian unsur analisis teks media oleh Sara Mills yang dikenal dengan kritik feminisnya. Apa yang coba saya lakukan pada cerpen Seno tadi masih sangat awal dari upaya “ambisius” pendekatan resepsi sastra; masih tidak terlalu memperhitungkan tingkat variasi pembaca. Dan tulisan saya kali ini pun sangat bertendenz untuk memancing tanggapan reseptik berikutnya. Walau begitu, walau dengan baru “dikit-dikit” kenal semantik dan semiotika, saya memberanikan diri sedikit berbeda pendapat dengan GM–dalam kata pengantarnya pada halaman depan buku KOMPAS ini–tentang efek horor karya Seno tersebut. Bukankah kita sama-sama pembaca, sekaligus merupakan pembaca yang berbeda, Pak Goen?

Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/08/media-katarsis-manfaat-pendekatan-resepsi-sastra/