MEMAKNAI ULANG KONSEP PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA

Mustafied *
_St-Aloysius-Bandung

Dalam sebuah kunjungan sillaturahim ke Sri Sultan, seperti diceritakan Prof Dr Toni Atyanto Dharoko, seorang dosen senior Teknik Arsitektur UGM, terlontar sebuah pertanyaan menggelitik. Kata Sultan, dari yang diketahuinya, UGM hendak menjadi universitas berkelas dunia (world class university). Jika demikian, bagaimana dengan nasib atau keberadaan budaya local yang ada? Pertanyaan yang bernada kekhawatiran tersebut dapat dimengerti. Sebab salah satu arus besar yang menyertai globalisasi adalah homogenisasi (penyeragaman budaya), di samping neoliberalisasi.
Arus besar gerak global ini mendorong penyeragaman kebudayaan yang berpusat pada pop culture. Sebuah budaya yang diciptakan oleh pusat kekuatan ekonomi dan politik yang disebarkan ke berbagai belahan dunia lain. Budaya tersebut tidak lain adalah budaya konsumen, struktur budaya yang telah terkomodifikasikan untuk semata-mata kepentingan komersial atau akumulasi modal. Moda konsumsi budaya ini bekerja mulai dari life-style sampai cita rasa yang serba seragam.

Meskipun di sudut berlainan, terdapat fenomena lain yang mengiringi globalisasi, yang merupakan arus balik dari penyeragaman budaya, yakni yang disebut Robenston sebagai glokalisasi. Sebuah gejala yang ditandai oleh budaya local yang membonceng arus global sehingga menjadi fenomena global. Ukir Jepara, pakaian Batik, makanan tradisional seperti Tempe, adalah contoh fenomena glokalisasi.
Cerita tentang pertanyaan Sri Sultan akan mengawali dan memantik esai pendek ini mengenai Pendidikan Berbasis Budaya. Akan tetapi, apa sebenarnya makna budaya lokal masih seringkali disalahpahami. Secara sederhana, seperti dikatakan Dr Toni, local culture dimaknai dalam tiga pengertian, yakni artefak-artefak; tokoh-tokoh sejarah; dan praktek hidup. Ketika melakukan praktek menjadi dalang, Prof Timbul juga memaknai sebagai bagian dari upaya mengangkat budaya lokal. Wayang yang merupakan warisan budaya luhur dan penting harus direvitalisasi sehingga lebih terangkat.

Sebab terdapat gejala di mana kebudayaan lokal kehilangan citra di masyarakat. Penghargaan terhadap tradisi lokal mulai meluntur, digantikan dengan konsumsi kebudayaan baru yang seringkali tidak memiliki akar kultural. Mempraktikkan budaya lokal seolah identik ikon keterbelakangan dan tidak modern. Dalam dunia akademik hal tersebut tercermin dalam penghormatan terhadap pendidik yang tidak sekuat zaman dahulu.

Akan tetapi, meskipun terdapat fenomena involusi kebudayaan tersebut, banyak aspek budaya lokal yang memiliki tingkat relevansi dan kecanggihan tinggi. Dalam arti, perkembangan pemikiran terakhir dalam kependidikan seperti student centered learning, ternyata sudah hadir dalam akar tradisi kita. Hal ini nampak dari lontaran Prof Subanar yang menjelaskan bacaannya tentang Ki Hajar Dewantoro, tokoh pendidikan nasional.

Konsep Tut Wuri Andayani, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, pada hakekatnya kongruen dengan student centered learning. Filosofi dasar pemikiran Ki Hajar itu adalah untuk menjadi motivator, menjadi dinamisator, bahkan menjadi pemimpin tidak selalu harus di garis depan. Dengan filosofi ini tidak ada relasi subjek-objek yang hirarkis. Jika pun ada hirarki sosial, konstruksinya tidaklah dominatif dan hegemonik, yang menghambat kreatifitas.

Dalam kependidikan, hal itu berarti pendidikan harus ngangeni atau menyenangkan. Tumbuhnya atmosfer ngangeni hampir mustahil jika segala sesuatu berpusat pada pendidik, sedangkan mahasiswa hanya duduk pasif mendengarkan cerita sang dosen. Menyenangkan membutuhkan keterlibatan peserta didik dalam suasana yang bebas tanpa tekanan dan takut serta kondusif untuk melontarkan gagasan.
Hal itu berarti mahasiswa bukan lagi diandaikan seperti cangkir-cangkir yang siap diisi oleh ”ceret-ceret” yang difungsikan oleh dosen. Pemikir dan praktisi pendidikan Amerika Latin, Paula Freire, menyebut sistem tersebut sebagai banking system. Mahasiswa bukan lagi dianggap objek yang diajar, disuruh, diperintah, diatur, didikte, dan dosen sebagai pengajar, penyuruh, pemerintah, pengantur, dan pendikte. Fungsi dosen lebih sebagai fasilitator dan dinamisator.

Filosofi tersebut mengajarkan untuk selalu menegakkan kedaulatan subjek. Dalam bidang pendidikan, salah satu subjek pendidikan adalah mahasiswa. Dengan pola ini pembelajaran menjadi ngangeni, menyenangkan, sebab mahasiswa memiliki keterlibatan lebih luas dan total, baik secara pikiran, emosional, maupun fisikal. Pola ini menggeser kedudukan mahasiswa yang selalu diposisikan sebagai objek. Sebagai salah satu implikasinya adalah, dosen tidak saja dituntut untuk menguasasi materi, kreatif, dan dinamis, namun juga prigel.

Seorang dosen kedokteran menceritakan pengalamannya ketika belajar di Australia. Pada suatu hari merasa terheran-heran dengan sekumpulan mahasiswa-mahasiswi yang menggunakan pakaian relatif mini. Setelah didekati dan bergabung, keterkejutan tersebut justru bertambah. Sebab tidak pernah dibayangkan, dengan style pakaian seperti itu, mereka sebenarnya sedang melakukan diskusi dengan amat kritis. Dari kisah tersebut diambil benang merah bahwa secara fisik, manifestasi budaya lokal antar-negara berbeda-beda. Akan tetapi, mempraktekkan budaya lokal tidak serta merta menghilangkan atmosfer akademik. Menjadi kritis dalam bingkau budaya lokal yang berbeda dengan Australia bukanlah suatu kemuskilan.

Pembacaan terhadap khazanah pemikiran bangsa tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya konsep student centered learning bukanlah barang import. Namun, telah menjadi tradisi pendidikan di tanah air. Bahwa Ki Hajar juga pernah menghirup tradisi pendidikan Barat di era kolonila, tidaklah menghapus akar konsep pendidikan SCL dalam budaya lokal Indonesia.

Dari elaborasi tersebut dapat dikatakan bahwa konsep budaya lokal tidak dengan sendirinya memiliki hubungan diametral dengan cita-cita sebagai universitas kelas dunia. Bahkan saling mendukung dan memperkukuh. Sebab dalam budaya lokal ditemukan dua makna penting, yakni substansi akademik dan atmosfer akademik. Kekhawatiran Sri Sultan pun menjadi terjawab.

Meskipun demikian, sebenarnya masih belum jelas benar makna pendidikan berbasis budaya. Jika pun dicoba dikonstruksikan, maka pemaknaan budaya lokal lebih merupakan pemaknaan pasif. Budaya sebagai sebuah warisan hidup yang berusia panjang. Pemaknaan ini memiliki peluang besar terjebak dalam tradisionalisme. Serba tradisi. Takut inovasi. Padahal tradisi pun selalu membuka dimaknai ulang, direinterpretasi, bahkan diekslusi.

Karena itu dibutuhkan transformasi pemaknaan budaya lokal dari tradisionalisme ke tradisionalitas, dari romantisme historis menjadi aktualitas historis, dari kegelisahan psikologis dan ontologis ke rasionalitas zaman, dari frasa ”budaya lokal” menjadi strategi kebudayaan. Ignas Kleden (1987:3-8) memahami bahwa inti strategi kebudayaan adalah berpikir dengan cara pembalikan. Strategi kebudayaan berarti menegaskan kita sebagai agen kebudayaan, yang mengarahkan, mengembangkan, menciptakan (kreatif), bukan semata sebagai penerima warisan kebudayaan (normatif). Strategi kebudayaan berarti menegaskan apa yang dapat dilakukan, dan bukannya apa yang harus dilakukan.

Yang pertama berarti membuka ruang kreatifitas nan luas, yang kedua, selalu dikendalikan oleh norma-norma budaya yang kadang sudah membeku. Strategi kebudayaan berarti menciptakan kebebasan kebudayaan, dalam arti kebebasan wawasan, tingkah laku yang tidak terbebankan, pikiran yang leluasa, dan kesanggupan untuk menerobos horizon yang diciptakan oleh situasi aktual masa kini.
Strategi kebudayaan berarti mempersepsikan kebudayaan bukan semata sebagai teori nilai, namun juga sebagai teori sosial. Sebagai teori nilai, kebudayaan menjelaskan fenomena sosial secara moralistik, hitam putih, boleh-tidak, sedangkan sebagai teori sosial, kebudayaan akan melihat akar masalahnya yang seringkali berada dalam dataran sosial dan ekonomi. Strategi kebudayaan berarti menyeimbangkan pemahaman estetis dan progresif tentang kebudayaan.

Untuk mendorong strategi kebudayaan tersebut dibutuhkan tigal hal utama. Pertama, dibutuhkan pemahaman dan pemikiran kebudayaan secara holistik, bukannya sektoral. Kedua, gerak strategi kebudayaan dan gerakan social harus berjalan seiring, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ketiga, kesadaran bahwa perubahan kebudayaan dan sosial yang saat ini terjadi adalah perubahan besar-besaran, baik dalam magnitude maupun dalam intensitasnya, terjadi di segala tingkatan, termasuk basis materialnya.

*) Penulis adalah Manajer pelatihan dan pendidikan PSP UGM (Universitas Gadjah Mada) /12 August 2008
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=56585332153