Memanjakan Telinga dengan Karya Sastra

Hristina Nikolic Murti, Angkat Ronggeng dalam Audiobook
Nugroho Pandhu Sukmono, Susanto
http://www.suaramerdeka.com/

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk kian memasyarakat. Setelah diangkat dalam layar lebar, kini karya Ahmad Tohari itu digarap menjadi audiobook (buku bunyi).

KARYA sastra tersebut memikat Hristina Nikolic Murti (33), pegiat lembaga Digital Archiphelago. Dia bersama sejumlah rekannya kini menggarap novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dalam bentuk buku bunyi.

Ya, teknologi tersebut belum begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun di Eropa dan Amerika sudah menjadi makanan sehari-hari para pecandu buku. Terutama, bagi mereka yang memiliki waktu sedikit untuk membaca.

Membaca dapat dilakukan sewaktu-waktu dan di mana pun tempatnya, baik di kereta api atau di tengah keramaian. Sebab, membaca itu dapat dilakukan seperti saat mendengarkan musik.

Melalui audiobook, penggemar sastra dapat menikmati kisah percintaan Rasus dan Srintil asal Dukuh Paruk dari awal sampai akhir.

Buku setebal 408 halaman itu akan rampung didengarkan hanya dalam waktu 18 jam saja. Hristina mengatakan, ide pembuatan ini muncul berawal dari kebiasaan suaminya, Putragung Wisnumurti (34).

Pria asal Solo itu lebih suka belajar dengan cara mendengar. “Seperti anak kecil yang mendengarkan dongeng dari orang tuanya. Mendengar, lebih mudah dimengerti daripada membaca sendiri,” kata perempuan berdarah Serbia yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Dia mengatakan, Indonesia kaya akan karya sastra, tapi minim pendokumentasian. Selain itu, belum semua masyarakat bisa mengakses. Rupanya, pandangan itu selaras dengan rekannya yang tinggal di New York, Alexander Sukiban yang dikenalnya dua tahun silam. Pria berdarah Jawa itu tengah mencari literatur berbahasa Indonesia dalam bentuk audiobook.

“Suki ingin melihat perkembangan karya media baru yang memudahkan orang Indonesia berhubungan dengan budaya dan seni. Dalam era digital saat ini, seharusnya semua orang dapat menikmati seni narasi dalam cerita yang indah melalui salah satu gadget-nya,” ujar wanita yang bermukim di Jakarta tersebut.

Selain itu, di Benua Amerika dan Eropa, media ini dipergunakan untuk membantu penderita diglosia (kelainan pada saraf mata dan penderita masalah neurologis) dan diseleksia (sering salah mengucapkan suku kata) yang sering dicap bodoh. Di samping itu, mendengar cerita dari audiobook bisa menjadi terapi bagi orang tua yang kesepian hingga pelukis dan pematung.

Kisah yang diceritakan Suki kepada Hristina membuatnya tertarik. Sebab, semasa kecilnya di Kragujevac, Serbia, dia juga menyukai dunia sastra, seperti karya Milorad Pavic yang berjudul Dictionary of the Khazars: A Lexicon Novel. Selain itu, dia juga mengagumi sosok penulis Indonesia, seperti Pramoedya Ananta Toer.

Setelah berinteraksi melalui jejaring dunia maya, Hristina, Suki bersama beberapa rekan yang tergabung dalam komunitas diaspora (WNI yang tinggal di luar negeri) berusaha mewujudkan melalui Digital Archipelago, lembaga nirlaba yang berkedudukan New York, Amerika Serikat.

“Waktu itu, Suki meminta saya untuk mencari tulisan dalam bentuk apa pun. (Karena) latar belakang saya yang berminat dengan sastra, maka saya mengusulkan untuk membuat novel RDP yang ditulis Ahmad Tohari versi audiobook sebagai karya perdana,” kata lulusan Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia, Universitas Sebelas Maret (2007) itu.

Tak berpikir panjang, ibu dari Novak (2) itu menghubungi sastrawan Banyumas yang tinggal di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas. Dia beralasan, karya Tohari adalah salah satu karya fundamental yang menimbulkan banyak kontroversi karena pernah dicekal oleh Rezim Orde Baru.

Menurut pembacaanya, kisah tragedi ronggeng merupakan potret Indonesian pada zaman lampau. Ada sejumlah nilai sosial, budaya, sampai panggung politik yang memposisikan rakyat kecil mengalami nasib tragis.

“Saya makin penasaran. Tapi kami kesulitan mencari Ahmad Tohari. Karena lembaga ini baru didirikan, jaringannya pun belum banyak,” kata perempuan yang tinggal di Indonesia selama sepuluh tahun ini.

Setelah mencari informasi dari Dosen Institut Seni Indonesia Surakarta, Darno Kartawi, yang selanjutnya membantu dalam pengisian suara musik banyumasan, dia berhasil menghubungi penulis Ronggeng Dukuh Paruk ini, dua tahun silam. Serta merta, Hristina meminta persetujuan Tohari untuk menghadirkan novelnya dalam bentuk buku bunyi. Di luar dugaan, Tohari dengan mudah memberikan restu kepada tim Digital Archipelago. Berbekal hal itu, Hristina menawarkan sejumlah orang sebagai pembaca narasi. Salah satunya adalah seniman nyentrik Butet Kertaradjasa.

Penulis novel Ayam Bekisar itu pun menyetujui tawarannya. Dia lalu menghubungi Butet agar bersedia menjadi pembaca cerita yang sukses diangkat ke layar lebar dalam film Sang Penari ini. Ternyata untuk merekam suara emas itu pun membutuhkan waktu yang satu tahun.

“Ini benar-benar kerja tim yang panjang dan melelahkan, karena tidak mudah merekam suara Butet yang punya kesibukan sangat banyak. Kami harus rela menunggu jadwal kosong di sela-sela pentas dan acara seni budaya yang sangat padat,” ujarnya.

Tak Sembarangan

Hal itu dilakukan Hristina karena dia tidak ingin penggarapan audiobook itu sembarangan. Selain mencari pengisi suara dengan karakter yang kuat, penggarapan audiobook ini juga melibatkan para pakar ahli bahasa, intonasi dan fonologi serta ilustrator kenamaan.

Beruntung, saat mencari ilustrasi musik, koleksi calung banyumasan milik Darno sangat banyak. Jadi, wanita yang berprofesi sebagai linguistik lepas ini tidak kesulitan mengisi ilustrasi rekaman.

Setelah itu,dia mencari studio mixing melalui jaringan kebudayaan di Yogyakarta. Di sana, dia menemukan studio Kua Etnika dengan melibatkan, Antonius Gendhel. Namun, proses ini belum rampung hingga sekarang. Pasalnya, masih membutuhkan sejumlah uji coba agar penggambaran suasana di narasi serasa hidup dan enak sewaktu diperdengarkan.

Untuk tahap penyelarasan akhir, Hristina menggandeng Dr Sugiyono dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai proofreader yang bertugas sebagai orang terakhir yang mengoreksi.

“Karena itulah untuk membuat triler audiobook ini kami juga datang ke Banyumas untuk melihat apa dan bagaimana (lengger). Kami ingin tahu pertunjukkan yang sebenarnya. Sebagian kopi dari audiobook nantinya akan kami sumbangkan ke kaum tuna netra. Bila tidak ada halangan, para pengguna telepon seluler pintar akan bisa menikmati hasilnya bulan depan,” imbuhnya.

Selain ke kediaman Ahmad Tohari, rombongan Digital Archipelago ini juga turut mendatangi kampung lengger Desa Gerduren Kecamatan Purwojati, Sabtu (21/4) kemarin. Demi menyempurnakan tahapan audiobook mereka melihat langsung pentas lengger Sekar Wigati Gerduren yang dikoordinir oleh pengurus Desa Adat, Bambang Suharsono dan Rohmat. Selain pakar bahasa, Dr Sugiyono, ilustrator kenamaan Widiyatno juga turut hadir dalam rombongan tersebut.

Penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari menuturkan, pinangan untuk membuat audiobook ini sudah datang sejak dua tahun lalu. Namun karena berbagai hal dan membutuhkan proses panjang, akhirnya proses audiobook ini baru terlaksana saat ini. Meski begitu ia berharap agar keberadaan audiobook ini dapat menjadi pelopor dan motivasi minat berkarya para penulis. “Semoga ini menjadi sarana untuk melestarikan bahasa tutur yang saat ini kian hilang. Dan semangat menulis karya sastra juga kian terdongkrak,” jelas penulis cerpen Blokeng itu.

Dia mengaku sangat menghargai perjuangan dari Hristina dkk untuk membuat RDP dalam versi audiobook. Hal ini, baru pertama kali dikerjakan dan dilakukan oleh orang yang memiliki kepedulian terhadap karya sastra di tanah air. Dikatakan, bulan depan, para penikmat sastra sudah bisa mendengarkan RDP hanya dengan mengunduh via internet. “Saya sudah mendengar hasilnya. Memuaskan,” komentarnya singkat.

25 April 2012