MENUJU INSTITUSI APRESIASI SASTRA, MUNGKINKAH?

Kurnia Effendi
http://kepakcamar.multiply.com/

Sebuah media maya yang kemudian membangun dunia maya, menurut saya hampir menjadi kehidupan lapis kedua. Berjalan paralel dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Mengapa demikian ? Ada sejumlah kegiatan komunikasi yang begitu intens, bahkan sepertinya kita benar-benar mendengar suara “di sana” yang sedang bercakap-cakap dengan kita melalui tulisan. Ada nada riang, bersemangat, sendu, sinis, meledak-ledak, nylekit, dan banyak lagi, yang kia tangkap dari kalimat-kalimat itu.

Dalam sejumlah pembicaraan yang kait-mengait, tampaklah motif dari masing-masing “pembicara” dalam aksinya urun-rembuk di sana: memancing pendapat orang, mencari informasi, menggocek emosi, memberi nasihat, memanas-manasi, menunjukkan kepintaran, menengahi perdebatan, menghibur dan membesarkan hati.

Hebatnya, komunikasi antar manusia itu tidak di tempat yang sama. Bukan di ruang tamu, bukan di aula sekolah, bukan di tempat rapat, bukan pula di sebuah arena diskusi. Pembicaraan riuh rendah itu menjembatani jarak-jarak antarwilayah, antar kota, bahkan benua. Dalam media maya ini, yang tinggal di Malang bisa berbicara dengan yang berkantor di Batam, berumah di Depok, Swiss, atau Perancis tanpa hambatan (kecuali jika listrik mati, karena “nyawa” lalu-lintas percakapan tergantung padanya).

Inilah hikmah besar atas kehadiran internet sebagai bagian dari teknologi informasi. Dari pelbagai perkembangannya, oleh manusia yang pada dasarnya tergolong makhluk sosial dan berbudaya, infrastruktur ini dimanfaatkan sebagai media untuk bergaul. Ruang dan waktu disiasati dengan kecanggihan media nirkabel, alhasil, setiap peristiwa di sudut mana pun dari bumi ini dapat kita ketahui seketika sepanjang disampaikan oleh penghuninya.

Dari urusan formal semacam pemberitaan yang digunakan oleh media massa, manusia secara kreatif memperluasnya sebagai temali pengikat komunitas. Sejumlah provider (yang awalnya didasari kepentingan bisnis) membuka peluang untuk pergaulan komunitas itu. Salah satunya Yahoogroups. Dari sini tumbuhlah dengan pesat komunitas media maya yang dikenal dengan mailing list (milis).

Rasanya pembukaan saya terlalu panjang, padahal syaa ingin cerita serba sedikit tentang milis Apresiasi Sastra (APSAS). Sebuah milis yang mencoba mewadahi pembicaraan kaum pecinta sastra untuk saling menyampaikan apresiasi. Pertama, saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada milis Apresiasi Sastra yang dibentuk 6 Januari 2005. Dalam pertumbuhannya yang menggairahkan, Apsas telah memiliki hampir 800 orang anggota (persis pada saat syukuran dua tahun Apsas, 28 Januari 2007 di toko buku ak.’sa.ra Kemang, tercatat 766 anggota). Kedua, saya bukan salah satu moderator Apsas, namun dipercaya untuk bercerita mengenai kegiatan yang berlangsung dalam keluarga Apsas. Untuk kesempatan ini, saya merasa tersanjung dan tak ada pilihan lain kecuali membeberkan sejumlah aktivitas dengan antusias. Ketiga, menurut saya, sudah saatnya milis menjadi alternatif untuk membudidayakan ilmu dan moral yang melepaskan diri dari hambatan strata, sekaligus memberikan sumbangsih nilai-nilai sebagai ukuran rujukan.

Milis Apsas memiliki sembilan moderator yang tersebar di seluruh dunia (untuk menyebut tak hanya di Indonesia atau Asia). Mereka adalah Djodi Sambodo di Amerika, Sigit Susanto di Swiss, Mega Vristian di Hongkong, Yahya T.P., Hernadi Tanzil di Bandung, Dorsey Elisabeth Silalahi dan Akmal Nasery Basral, keduanya di Jakarta, Didik Eko “Cak Bono” Wahyudi dan Lan Fang, keduanya di Surabaya. Para moderator aktif mengendarai milis ini dengan gagasan masing-masing yang umumnya saling mendukung. Selain itu juga memberikan jalan bagi anggota milis yang memiliki ide kegiatan seputar apresiasi sastra secara positif. Memang demikianlah saya kira tugas moderator, disamping harus secara tegas memperingatkan kiriman surat yang menyimpang dari tujuan milis (misalnya beriklan untuk dagangan pribadi), bahkan memasukkan anggota milis ke dalam daftar hitam bila mereka meluncurkan kata-kata kasar tak senonoh yang menyerang pribadi anggota yang lain.

Ragam Program
Mungkin kegiatan yang berlangsung dalam Apsas bukanlah yang terbaik dan terbanyak dibanding milis lain, namun sepanjang saya berada di dalamnya telah banyak manfaat saya peroleh tanpa harus pergi ke suatu tempat atau membayar dengan biaya mahal. Tanpa harus menyebut satu per satu orang-orang hebat yang terlibat dalam komunikasi aktif, setidaknya kita tahu di tubuh Apsas ada sejumlah jurnalis, novelis, penyair, cerpenis, aktivis kemanusiaan, pecinta buku, dosen, kritikus, penerjemah, dan pekerja imigran, yang siap membagi pencerahan tanpa meminta imbalan.

Mari kita lihat kegiatan yang dibuat dengan kegembiraan bersama. Dimulai dari penulisan pantun dengan tema Tsunami Aceh (saat Apsas berdiri, tsunami baru sekitar 10 hari melanda daratan Aceh dan Provinsi Sumatera Utara). Rasa simpati dan empati tercermin dalam karya, yang tidak membedakan antara senior dan junior (dari jam terbang sebagai pengarang). Itulah awal komunikasi ketika jumlah anggota belum mencapai angka seratus.

Menjelang setahun usia Apsas, atas prakarsa Mega Vristian, lahirlah puisi bersama yang ditulis oleh puluhan anggota milis menjadi semacam ensembel.

Dimulai oleh Rita Achdris pada 30 Desember 2005, disambung oleh yang lain dari menit ke menit, hari demi hari, dan berakhir dengan larik yang dibuat Djodi Sambodo pada 31 Januari 2006. Waktu Bukan Milikmu adalah judul yang dipetik dari baris puisi kiriman Karimah. Untaian panjang puisi itu selanjutnya menghiasi halaman awal buku Selasar Kenangan yang juga memiliki sejarah sendiri.

Selasar Kenangan adalah buku kumpulan cerpen karya para Srikandi Apsas (untuk menyebut para anggota perempuan dalam milis ini) yang dipilih dari hasil program apresiasi penulisan prosa. Waktu itu, dengan tema “Masa Kecil”, terkumpul 21 cerita yang kemudian dinilai oleh 13 relawan apresiator Apsas yang seluruhnya pria. Dengan semangat persahabatan, begitu istilah Djodi Sambodo, terpilih 10 cerpen yang mengumpulkan nilai tertinggi.

“Proyek” tak berhenti sampai di situ. Atas upaya sang penyelia, 10 cerpen pilihan itu diterbitkan oleh Penerbit Akoer (yang juga menerbitkan novel Imperia karya Akmal). Sebuah kerja sama memang terasa ringan bila diemban oleh pemikiran dan aksi sejumlah orang. Disunting oleh Ugie (Eko Sugiarto) dan dihiasi logo Apsas karya Abang Edwin, buku yang memuat karya Anjar, Rita Achdris, Feby Indirani, Anindita, dan teman-teman, hadir di tengah-tengah perbukuan Indonesia pada tanggal 1 Juni 2006.

Tak lama sesudah itu, giliran para pria Apsas diberi ruang untuk menulis prosa dengan tema “Lelaki yang Meneteskan Air Mata”. Tema pun diputuskan melalui pemilihan, bukan merupakan instruksi seseorang atau moderator. Barangkali iklim demokrasi dan saling menghargai pendapat anggota lain inilah yang membuat sebuah milis bertahan dengan kekentalan nilai persahabatan. Dari program ini terhimpun sekitar 40 cerpen dan dalam penilaian para relawan apresiator yang seluruhnya perempuan, telah menghasilkan 20 cerita pilihan. Namun, sampai saat ini, meski ada usulan dari Slamat P. Sinambela untuk diterbitkan, belum mendapatkan kesempatan yang baik.

Apakah program hanya berkisar pada penulisan karya (puisi dan cerpen) saja ? Ternyata tidak. Milis Apsas merupakan tempat belajar bagi semua anggota. Karena itu banyak diantaranya adalah penggemar sastra yang baru mulai menulis. Atau, sebaliknya, karena banyak peserta milis ini ingin pintar menulis, mereka saling belajar satu sama lain tanpa rasa sungkan. Seperti yang saya sebut di bagian awal bahwa melalui milis kita tak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk memperoleh ilmu dari para senior. Itu sebabnya, dalam milis Apsas, sempat ada program pelajaran Ejaan Yang Disempurnakan (EYD),”diasuh” oleh Eko Sugiarto yang memang bekerja pada urusan bahasa di Kompas Biro Semarang.

Selain itu, Titon Rahmawan menawarkan program diskusi dua mingguan, membahas para sastrawan terkemuka atau penulis favorit. Dalam program ini Titon mengajukan nama-nama pembahas dan nama-nama sastrawan. Maka bergulirlah diskusi yang hangat itu, mulai dari Karl May oleh Pandu Ganesha, Pablo Neruda oleh Hasan Aspahani, James Joyce oleh Sigit Susanto, Goenawan Mohammad oleh Kurnia Effendi, sampai serial Narnia oleh Arie Saptaji dan novel N.H. Dini oleh Ita Siregar. Sang pembahas bukanlah orang yang paling pintar, karena dari diskusi yang berlangsung, sebenarnya masing-masing anggota boleh saling memberi masukan.

Program terakhir yang masih berlangsung adalah membuat bunga rampai tulisan bertema kereta api. Dipicu oleh tema Catatan Pinggir Goenawan Mohammad yang membahas tentang kereta api, usulan untuk mengangkat tema itu dalam karya puisi, cerita pendek, dan esai pun gayung bersambut. Setidaknya, sampai medio Januari tahun 2007, jumlah kiriman karya menunjukkan antusiasme para anggota.

Temu Apsasian
Pergaulan di dunia maya nyaris tidak berubah saat dipertemukan dalam dunia nyata. Ini sebuah kenyataan yang patut disyukuri, karena komunikasi melalui internet menjadi icebreaker yang paling efektif. Saya sering mendapati kejadian itu.

Anggota milis Apsas tidak seluruhnya berasal dari satu komunitas yang pernah atau sering bertemu. Umumnya merka hanya akrab berkomunikasi melalui media maya tanpa bertatap muka. Upaya untuk “kopi darat” (istilah para breaker), selalu mendapat sambutan hangat. Beberapa yang paling berkesan adalah : acara nonton bersama Apsas, pertemuan empat milis dalam acara Cinta dalam Perangkap Aksara, peluncuran buku Nyanyian Imigran, dan yang baru saja berlangsung adalah Syukuran 2 Tahun Apsas.

Film Berbagi Suami karya Nia Dinata cukup fenomenal, dari sisi teknik penceritaan maupun tema (tentang poligami). Premiere yang sedianya ditujukan bagi para wartawan dimanfaatkan oleh Akmal untuk dapat mengajak kawan-kawan Apsas turut mengapresiasi, sekalian agar mereka yang biasa bertemu melalui layar komputer dapat saling menyapa.

Permintaan khusus terhadap Nia Dinata ini disambut baik. Saat itulah, di lobi bioskop 21 Setiabudi Kuningan, saya mengenal secara langsung Olin Monteiro, Firman Firdaus, Keisya, Krisdian, Fitri, dan anggota Apsas lainnya. Antara kami langsung bisa bercakap-cakap dengan meriah, karena pada dasarnya sudah pernah saling berkomunikasi lewat internet.

Pertemua empat milis (Apsas, Pasar Buku, BungaMatahari, dan Truedee) di Cafe Omah Sendok pada 14 Februari 2006 merupakan kegiatan paling heboh. Hampir 150 orang hadir dalam nuansa cinta. Tema yang diusung malam itu memang cinta dalam pelbagai esensinya, terutama yang tersurat. Dilengkapi dengan pembacaan cerpen oleh empat moderator milis dan nyanyian musikalisasi puisi bersama Dua Ibu (Reda Gaudiamo dan Tatiana), kopi darat antarmiliser demikian hangat. Trie Utami yang malam itu menyenandungkan salah satu nyanyian hatinya dalam buku Karmapala, menyampaikan konsep cinta dalam proses pemahamannya terhadap Budhisme.

Peluncuran buku Nyanyian Imigram di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin menjadi ajang temu Apsasian yang ke sekian kali. Buku itu menghimpun karya-karya para Buruh Migran Indonesia di Hongkong, yang ternyata cukup baik sebagai kumpulan cerita pendek. Dalam acara itu, saya mengenal Dino F. Umahuk, Lik Kismawanti, Henny, Purnamasari, dan Etik Juwita.

Tentu saja, hajatan ulang tahun yang diselenggarakan di Toko Buku ak.’sa.ra menunjukkan bahwa milis Apresiasi Sastra merupakan keluarga besar yang rukun dan ringan tangan, baik di “angkasa” maupun di “darat”. Hanya dalam waktu yang relatif singkat, Yohanes “blue4gie” Sugianto didaulat menjadi koordinator, dan Vivian Idris dengan gembira menyediakan tempat perhelatan. Dari hari ke hari, saya melihat perkembangan yang menyenangkan lewat komunikasi milis.

Acara pun tersusun, konsumsi terhimpun, sampai pernik-pernik yang seakan lepas dari urusan sastra pun diusulkan secara beruntun.

Anggota yang hadir tak hanya dari seputar Jakarta, rombongan dari Bandung justru muncul pagi nian. Mereka adalah Tanzil, Adi Toha, Mang Jamal, dan Dhipie Kuron. Acara bergulir mulai dari pembukaan yang dipandu oleh Rilla Romusha dan Dino, pembacaan “pidato” yang ditulis oleh Sigit Susanto, dilanjutkan dengan monolog karya Bung Kelinci (Iwan Sulistiawan). Sejumlah diskusi digelar, antara lain membahas buku Yohanes Sugianto, Damhuri Muhammad, empat perempuan (Olin, Lulu, Vivian, Oppie Andaresta). Saya mendapat kesempatan mendampingi Remy Silado (sebagai pembicara tamu) untuk menyampaikan proses kreatif masing-masing. Pembacaan puisi diisi oleh Rahmat Ali, Sihar Ramses Simatupang, Yonathan Raharjo, Urip Herdiman, dan Tiara. Sementara di sekitar lokasi acara terpampang 6 lukisan Wanda Leopolda, koleksi kartu pos, klipping, dan pembatas buku rajutan karya Arleen Amijaya.

Di luar acara formal yang dijadwalkan seperti di atas, temu Apsasian juga berlangsung secara sporadis. Misalnya saat Sigit Susanto “Pulang Kampung”, ia mampir ke Jakarta, YOgya, dan Solo, sebelum ke Kendal. Dalam persinggahannya itu sempat bertemu dengan sejumlah Apsasian. Atau ketika saya tugas ke Surabaya, “tuan rumah” Lan Fang sengaja mempertemukan saya dengan Cak Bono, Juliet Venin, dan Hary B, Kori’un yang kebetulan juga berada di Surabaya. Waktu itu kami bersilaturahmi ke rumah Pak Budi Darma. Di saat lain saya bertugas ke Malang sembari bertemu dengan Abdul Mukhid, Nanang Suryadi, dan Wawan Eko Yulianto. Saya kira, teman-teman lain pun melakukan hal yang sama saat bertandang ke kota lain.

Proses Ajaib
Apakah milis hanya efektif untuk berdialog, menyampaikan informasi, berdiskusi dan berdebat ? Tentu saja lebih luas dari itu. Dengan ragam latar belakang, selera, dan perangai masing-masing anggota, milis Apsas memang jadi tampak berwarna-warni. Misalnya ketika muncul isu RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, suhu milis Apsas memanas oleh pro-kontra sekitar itu. Ketika kasus penggrebekan diskusi buku Marxis di toko buku Ultimus Bandung, reaksi spontan muncul sebagai pembelaan terhadap keterbukaan pemikiran. Tak luput dari tanggapan simpatik anggota Apsas, adalah ketika gempa bumi mengguncang Yogya. Sejumlah relawan, termasuk Widzar Al-Ghifary, turun tangan. Bantuan mengalir melalui teman-teman Apsas di Yogya, termasuk Wariatun dan Saut Situmorang. Musibah paling akhir adalah banjir yang melanda Jakarta dan sejumlah teman mendapat musibah karena rumahnya terendam air. Di antara mereka adalah YOhanes Sugianto dan Nursalam AR. Itu menunjukkan bahwa milis, seperti yang dikhawatirkan media massa, lebih cepat menyampaikan laporan kejadian bahkan hingga ke jarak terjauh dari pusat peristiwa. Pak Sobron Aidit yang meninggal pada 10 Februari 2007 jam 9 pagi di Paris, “didengar” oleh telinga Jakarta beberapa menit kemudian.

Di samping silang pendapat yang memang sering meruncing, misalnya topik yang diangkat oleh Sam Haidy dalam beberapa kesempatan; ada yang selalu memberikan pencerahan secara tenang dan konsisten. Pak JJ Kusni tak pernah main-main saat membahas karya seseorang atau menyampaikan peristiwa budaya dari sudut pandang pemikirannya.

Pandu Ganesha tak henti-henti melakukan sosialisasi karya-karya Karl May. Hernadi Tanzil dan Endah Sulwesi secara berkala mengumumkan apresiasi atas buku-buku yang dibacanya setiap pekan sebagai resensi atau review. Hal ini juga dilakukan sesekali oleh Nadhira Khalid, Rini Nurul Badariah, dan teman-teman lain. Sementara puisi-puisi Hasan Aspahani, Pakcik Ahmad, Inez Dikara, Leonowens, Urip Herdiman Kambali, Dedy Tri Riyadi, dan teman-teman lain, rutin mengisi lembaran halaman milis.

Pelbagai tulisan yang hadir dalam milis sebagian besar serius dan layak jual. Artinya cukup memadai untuk sebuah penerbitan, misalnya tampil sebagai karya (puisi, cerpen, esai) di media massa. Termasuk memenuhi syarat untuk terbit sebagai buku.

Sebenarnya selain buku Nyanyian Imigran, antologi puisi Perempuan Bersayap karya Mila Duchlun pun diproses melalui “tangan-tangan” ajaib dari media maya. Kumpulan cerpen para pekerja Indonesia yang seluruhnya tinggal di luar negeri (Hongkong, Swiss, Amerika, dan Jerman) dikerjakan melalui komunikasi internet. Mendarat di Jakarta untuk diberi pengantar oleh Sihar Ramses dan dicetak di Malang, Jawa Timur. Berakhir dengan peluncuran di Taman Ismail Marzuki.

Ketika Mila Duchlun mulai mengumpulkan sejumlah besar puisinya yang selalu tampil di milis Apsas, dia masih bekerja di Republik Maladewa. Penyunting bukunya ada di Denpasar, Wayan Sunarta, yang kemudian membantu menerbitkannya. Menjelang peluncuran, Mila berkonsultasi dengan banyak teman, lalu memercayakan acaranya kepada saya. Sungguh, saya baru pertama kali bertemu Mila Duchlun tiga hari menjelang launching buku Perempuan Bersayap di Warung Apresiasi Bulungan. Alhamdulillah, pada 14 September 2006 acara berjalan dengan baik, bahkan profil Mila masuk ke kolom etalase Media Indonesia pada hari Minggu berikutnya.

Harapan
Pada perjalanannya, menempuh tahun ketiga, saya berharap milis Apsas tumbuh semakin matang. Setiap program yang mengandung pembelajaran patut dilanjutkan dan ditingkatkan. Sementara kita harus terus mengeksplorasi segala kemungkinan untuk pengembangan aktualisasi diri, siapa tahu akan menjadi cikal bakal “institusi” yang dirujuk oleh banyak orang. Andaikata suatu saat Apresiasi Sastra memberikan semacam penilaian khusus terhadap karya sastra yang terbit dalam setahun, bukankah itu menjadi alternatif lain di antara tolok ukur yang selama ini dikukuhkan oleh lembaga-lembaga resmi (pemerintah maupun swasta) ? Bahkan seandainya pula sekaligus memberikan hadiahnya ?
Pernah Apsas mengirim anggotanya untuk ikut dalam workshop penulisan kreatif yang berlangsung di Solo. Suatu saat nanti, giliran Apsas yang menyelenggarakan pelatihan dan memberikan sertifikat sebagai “tiket” bagi hasil workshop yang layak atau lulus untuk diterbitkan. Sebagai harapan tentu perlu upaya untuk mencapainya. Tetapi kita harus yakin bahwa setiap pekerjaan yang diemban oleh banyak pemikiran dan aksi sejumlah orang, bukan sebagai obsesi pribadi, akan terasa ringan dan lekas sampai pada tujuan.

Apakah sudah saatnya Apsas meniti jalan menuju institusi? Bagaimana menurut Anda?

3 Oktober 2008
Dijumput dari: http://komunitassastra.wordpress.com/2011/02/03/menuju-institusi-apresiasi-sastra-mungkinkah/