Misteri Kreativitas (Buat Hikmat Gumelar)

Beni Setia *
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2008

SEDULUR Hikmat Gumelar, esaimu di Khazanah “Perihal Kelas Menulis”, (19/4), membuatku bimbang. Itu sebuah model penyampaian gagasan yang amat aneh karena menekankan suasana untuk menjelaskan sesuatu yang sangat sublim subjektif kepada orang yang hidup dengan waktu, yang selalu berpacu supaya punya sedikit waktu untuk sekadar hadir sebagai subjek dalam ruang. Padahal menulis, seperti memancing yang kini jadi pilihan estetik menjadi eksistensi utuh di tengah alam perawan Sukaratu model Syaeful Badar, itu memasuki ruang di mana waktu mati dan berpacu dengan waktu raib.

Tempat orang berkonsentrasi, dan menemukan apa yang ingin diungkapkannya itu tak sekadar karena rangsangan ekstrenal. Saat di mana kesadaran di hati dan ingatan tak dipengaruhi apa-apa dan siapa-siapa, hanya bertemu dengan kemurnian dan terpancing buat mengungkapkan kemurnian dalam metode fenomenologis. Akan tetapi, apa ada orang yang percaya kepada keheningan tanpa gerak, kepada momen sunyi saat ego bertemu dengan diri yang tak pernah diberi kesempatan untuk tampil menyatakan dirinya. Setelah dalam 24 jam dipaksa keadaan untuk reaksional pada rangsangan sekitar, hingga si bersangkutan sendiri heran dengan posisi diri yang terpecah episodistik –karena terlalu bertindak pragmatis tanpa memakai prinsip tunggal yang mendasari semua tindakan.

Namun, bisakah orang itu mengerti kalau menulis itu disiplin sunyi yang memaksa tirai diturunkan dan komputer dinyalakan, di mana dunia cyber membawa si bersangkutan terbang ke mana-mana tanpa digopohkan oleh waktu? Sama seperti lembaran-lembaran buku yang ditelusuri, di mana kalimat demi kalimatnya menjadi labirin yang menjebak ingatan dalam petualangan mental –meski tubuh tak bergerak ke mana-mana. Orang tahanan yang suka rela dipenjara oleh obsesi dan merasa terbebaskan setelah berhasil menuliskan apa yang ingin dituliskannya, yang rentangan keterkutukan siksaannya mungkin ada antara sehari, 2 minggu, atau malah 20 tahun. Seperti seorang Iman Supriono, kelahiran 1971 di tepi hutan jati di Caruban (Madiun, Jawa Timur), yang sejak 1987 belajar menulis, ingin jadi penulis, dan berhasil jadi penulis dalam rentang 20 tahun.

Sekitar 2003 ia mampir dan menghadiahkan buku tipis berjudul “Persiapan Finansial Menjelang Pernikahan”. Sebuah buku yang fokusnya goyah dan teknik ungkapnya gemetar, hingga kita cuma menemukan ketanggungan meski kita bisa menangkap rambu arah (tentang) apa yang ingin ditulisnya. Awal April 2008 lulusan ITS dan Unair ini mampir sebagai pemilik SNF Consulting yang bergerak di bidang Strategic Finance, Trainer FSQ (Financial Spiritual Quotient), seminaris, penceramah, dan penulis. Tentu saja dengan sebuah buku setebal xx + 423 halaman, dengan cetakan pertama Agustus 2006 dan cetakan keempat Maret 2007 — FSQ: Memahami, Mengukur, dan Melejitkan Financial Spiritual Quotient untuk Keunggulan Diri, Perusahaan, & Masyarakat (Lutfansah Mediatama & SNF Consulting). Buku panduan yang menghasilkan 50 angkatan training FSQ.

Akan tetapi, bukan fakta itu yang menarik perhatianku. Justru pengakuannya, yang menyatakan: Ia perlu waktu 20 tahun sebelum sadar akan apa yang ingin ditulis, fokus pada tema, dan berhasil menulis buku yang diapresiasi secara positif.

“Perlu 20 tahunan sebelum yakin dengan apa yang ditulis dan tulisan dipertimbangkan yang lain secara positif,” katanya, “Dan itu apa bukan indikasi saya ini goblok dan dibimbing oleh guru bodoh?” Saya termangu. Ia bukan murid menulisku dan saya juga tak membuka kelas menulis atau sekadar bimbingan konsultasi menulis –meski e-mail-ku selalu dimasuki permintaan konsultasi. Ia bekas murid SMP istriku, yang mengajar bahasa dan sastra Indonesia. Ia bukan siapa, tetapi klaim itu memaksa merenung –pintu ke arah ruang diri bertemu dengan diri murni tulis-menulis dibuka, saya dipaksa masuk dan melapor.

Pelatihan selalu bertumpu pada silabus dan standar kompetensi pencapaian minimal, yang akan mengandaikan si peserta latihan bisa mencapai nilai standar kompetensi minimal dan berhak menyandang sertifikat kelulusan karena ia punya nilai di atas angka standar kompetensi minimal. Dengan kata lain, itu hanyalah urusan antara peserta latihan dan pelatih, antara peserta latihan dan silabus yang mensyaratkan pencapaian angka standar kompetensi minimal, serta antara murid dan guru serta institusi yang cenderung memotivasi sebanyak mungkin peserta latihan agar tersedia sekian puluh lulusan yang siap menulis. Tapi celakanya, kualitas tulisan tak ditentukan oleh pelatih dan guru, oleh institusi pelatihan dan silabus yang menerapkan standar kompetensi minimal. Tak oleh pihak kedua yang intim, tetapi oleh pihak ketiga yang anonim dan keras kepala jaga jarak, oleh pasar yang diwakili oleh subjek redaktur media massa atau penerbit buku, yang mempunyai referensi, preferensi atau selera subjektif dominan yang tak terbantahkan. Mereka yang menentukan nasib sebuah tulisan tanpa perlu tahu apa latar belakang tulisan dan penulisnya –dan pelatihan hanya jembatan magang.

Menulis itu perjalanan panjang Bima di segala alas dan lautan, sebelum ia masuk fenomenologis ke dalam dirinya dan berdialog dengan diri yang tak pernah diberi kesempatan tampil menyatakan diri. Sebuah loncatan yang menyebabkan Musashi jadi seekor harimau di tengah alam dan bukan cuma sensei pelatih dojo shogun. Sebuah keheningan ketika seorang PNS dan suami melepaskan penat sehari-hari dengan pergi ke lubuk angker di kelok sungai sunyi, lalu melempar pancing dan menjadi bagian dari roh alam yang bernapas dalam keselarasan.

Itu inti menulis. Tapi ketika jadi teks, tulisan itu jadi urusan manajemen pemasaran dengan segala trik pencarian, pemahaman, dan penguasaan selera pasar. Itu sisi paling liar, paling duniawi dan gebalau dari seni tulis-menulis, yang selalu terlambat disadari karena tak bisa membuat jarak antara keduanya.

Akan tetapi, memasuki relung jiwa dalam hening untuk bisa menulis itu tak semudah yang dibayangkan karena awal Maret kemarin e-mail-ku diisi surat dari teman yang minta dicarikan penerbit untuk tulisannya. Ia seorang pengarang senior, yang ketika dibaca, teksnya hanya menghamburkan loncatan teknis yang goyah tanpa bisa menjotoskan kedalaman karena relung sunyi sebelum menulis itu tak ditemukan lagi tempatnya. Sebuah ketidakmatangan dari seseorang yang pernah mencapai kematangan, sebuah kelelahan bagi seseorang yang berhasil jaga stamina menulis dalam rentangan puluhan tahun. Apa itu tanda ketuaan? Sebuah kutuk bagi sastrawan yang tidak mati muda model Chairil Anwar seperti yang dengan indah diungkapkan Subagio Sastrowardojo dalam Dan Kematian Makin Akrab?

Apa keteledoran yang menyebabkannya raib? Perpisahan sepihak tanpa tenggang rasa yang menyebabkan Yasunari Kawabata, dengan lirih, mengakhiri hidup?

Hikmat Gumelar, saya SMS Juniarso Ridwan, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Diro Aritonang, dan entah siapa: Mengajak membuat sebuah buku yang mengungkapkan terima kasih pada sensei Saini KM (dan “PR”) — yang memberi rambu sehingga kesadaran murni berada dalam relung fenomenologis jiwa, di mana diri bertemu dengan diri yang tak pernah tampil. Memang.***

* Beni Setia, Pengarang
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/misteri-kreativitas-buat-hikmat-gumelar.html