Nilai Dunia Tulis-Menulis

Yohanes Sehandi *
__Flores Pos (Ende) 5 Mei 2012

Dalam dunia modern seperti sekarang ini, kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang mempunyai kaitan erat dengan kegiatan rutin/harian seseorang, baik sebagai kegemaran atau hobi maupun sebagai bidang kerja atau profesi.

Tentang hobi dan profesi ini, The Liang Gie dalam bukunya Pengantar Dunia Karang-Mengarang (1992) menyatakan: Setiap orang untuk kegairahan hidupnya perlu mempunyai suatu kegemaran atau hobi, sedangkan untuk kelangsungan hidupnya harus memiliki suatu bidang kerja atau profesi. Hobi yang digeluti dengan penuh kegembiraan, membuat hidup ini menarik hati, dan profesi yang dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab, membuat hidup ini mengandung arti!

Aktivitas tulis-menulis yang merupakan salah satu aktivitas penting masyarakat modern pada saat ini, bisa dikelompokkan sebagai hobi atau kegemaran yang menggairahkan hidup, bisa pula sebagai bidang kerja atau profesi yang menjadi sumber penghidupan.

Berkat kemajuan peralatan teknologi modern dewasa ini yang cukup banyak menggantikan tenaga manusia, menyebabkan banyak waktu seseorang menjadi longgar. Waktu yang longgar itu alangkah baiknya apabila diisi dengan kegiatan menulis atau mengarang, daripada ngobrol tak tentu arah atau gosipin tetangga sebelah rumah yang bisa merusak hubungan kekerabatan.

Aktivitas menulis atau mengarang merupakan sebuah solusi atau alternatif. Duni tulis-menulis mengandung nilai, bermanfaat, dan menyenangkan. Semua orang bisa melakukannya: pelajar, mahasiswa, dosen (apalagi), PNS, pegawai swasta, pejabat, guru, ibu rumah tangga, penganggur, pedagang, pensiunan, dan lain-lain.

Orang yang sudah pensiun atau purnabakti, yang tentu sudah punyai tumpukan bekal pengetahuan dan pengalaman berharga, tinggal dibagi-bagikan kepada pelbagai pihak lewat tulisan atau karangan. Betapa indahnya hidup ini apabila bisa dan rela berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain, demikianlah salah satu ungkapan bijak dari Kahlil Gibran, seorang penyair kaliber dari Timur Tengah.

Menulis sebagai hobi atau kegemaran tujuan utamanya untuk memperoleh kesenangan diri dan membuat kehidupan sehari-hari kita senantiasa menarik dan menggairahkan, apalagi kalau dilakukan dengan penuh keterlibatan diri. Melakukan sesuatu dengan serius dan penuh keterlibatan diri akan terjadi katarsis (chatarsis), yakni suatu proses kejiwaan sebagai pelepasan segala beban pikiran dan perasaan yang menimbulkan kelegahan batin. Kelegahan batin inilah yang mempengaruhi kesehatan jasmani dan rohani seseorang.

Menulis sebagai bidang kerja atau profesi, semakin nyata dan dibutuhkan berbagai pihak, tidak saja pada dewasa ini juga untuk masa-masa mendatang. Berkat kemajuan yang pesat di bidang penerbitan/publikasi, baik penerbitan buku maupun penerbitan majalah dan surat kabar, juga media on-line pada akhir-akhir ini, membuat profesi menulis mendapat tempat terhormat dalam masyarakat, yang tidak kalah gengsi dengan profesi yang lain.

Kegiatan tulis-menulis serta hasil-hasil yang diperoleh dari kegiatan itu, sadar atau tidak oleh penulisnya, mendatangkan berbagai nilai. Nilai-nilai itulah yang dapat memuaskan aneka kebutuhan seseorang. Nilai tulis-menulis yang dimaksudkan di sini adalah suatu “keberhargaan” yang timbul atau diperoleh seseorang sebagai hasil dari perbuatan, pengalaman, dan penerimaan yang dihasilkan dalam kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang.

Berdasarkan pengamatan secara umum dan dipadukan dengan pendapat sejumlah ahli di bidang tulis-menulis, antara lain pendapat The Liang Gie (1992), kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang melahirkan sekurang-kurangnya enam nilai. Keenam nilai itu adalah nilai kecerdasan, nilai kependidikan, nilai kejiwaan, nilai kemasyarakatan, nilai keuangan, dan nilai kefilsafatan. Berikut ini diuraiakan secara singkat keenam nilai tulis-menulis tersebut.

Pertama, nilai kecerdasan. Seseorang yang sudah terbiasa menulis, sadar atau tidak, akan terbina dan berkembang dengan baik daya kritis dan kreatifnya, akan terbiasa berpikir kritis, sistematis, dan logis. Daya persepsi dan analisisnya pun dipertajam. Kebiasaan-kebiasaan yang demikianlah yang menyebabkan kemampuan kecerdasan atau intelektual seorang penulis terbina dan berkembang dengan baik.

Kedua, nilai kependidikan. Seseorang yang terbiasa menulis, dengan sendirinya akan terbiasa dan terlatih dalam bekerja dan menghasilkan karya apa saja dengan mengandalkan kemampuan diri-sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Menulis termasuk salah satu jenis kegiatan masyarakat modern yang keberhasilannya ditentukan oleh keuletan dan ketekunan diri-sendiri.

Lekak-liku, jatuh-bangun, dan suka-duka perjuangan seorang penulis, mulai dari nol sampai menjadi seorang penulis/pengarang kawakan, tidak lain dan tidak bukan, melalui proses belajar yang tekun dan terus-menerus. Proses belajar yang tekun dan terus-menerus itulah yang melahirkan nilai kependidikan dalam kegiatan tulis-menulis.

Ketiga, nilai kejiwaan. Seseorang yang tekun berlatih menulis, lama-kelamaan akan bisa dan berhasil mengorbitkan tulisan atau karangan di berbagai surat kabar dan majalah atau diterbitkan menjadi buku. Karangan yang berhasil dipublikasikan itu tentu dibaca dan dinikmati banyak orang. Tentu juga akan mendapatkan banyak pujian atau penghargaan dari berbagai pihak.

Keberhasilan yang diperoleh itu, akan dengan sendirinya memunculkan kepuasan batin, kegembiraan kalbu, kebanggaan pribadi, dan kepercayaan diri. Ini tentu tidak bisa diukur dengan nilai uang, termasuk nilai honor tulisan yang diberikan surat kabar atau majalah atau penerbit buku. Perasaan puas, gembira, dan bangga itulah yang menimbulkan nilai kejiwaan dari kegiatan tulis-menulis.

Keempat, nilai kemasyarakatan. Nilai kemasyarakatan diperoleh berkat tulisan-tulisan seseorang yang tersebar luas dan dibaca masyarakat banyak. Seorang penulis yang terampil dan profesional namanya akan mudah dikenal banyak orang, dan tentu saja mendapat pujian atau penghargaan, apapun bentuk pujian atau penghargaan itu, meskipun juga terkadang mendapat kritikan dan cacimaki dari segelintir pembaca.

Tentu saja tidak sedikit pembaca yang senang membaca atau mengikuti tulisan-tulisan seorang penulis yang jempolan, di media manapun dia menulis. Masyarakat pembaca merasa terbantu dengan membaca tulisan seorang penulis. Di sinilah munculnya nilai kemasyarakatan dari kegiatan tulis-menulis.

Kelima, nilai keuangan. Tulisan atau karangan yang dihasilkan seseorang, terutama yang telah dipublikasikan di berbagai media penerbitan, tentu mendapatkan imbalan yang sesuai dan pantas. Jumlah honor yang diperoleh seorang penulis sangat ditentukan oleh besar-kecilnya media yang memuat tulisannya. Imbalan yang diperoleh dari hasil kegiatan menulis inilah yang memunculkan nilai keuangan dari kegiatan tulis-menulis.

Keenam, nilai kefilsafatan. Tentu sudah diketahui umum bahwa tulis-menulis adalah kegiatan yang paling ampuh mengabadikan buah pikiran dan perasaan umat manusia untuk diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ungkapan “Segala sesuatu akan musnah, kecuali perkataan yang tertulis” memang bukan tanpa berdasar. Perkataan (ajaran) dari tiga orang filsuf legendaris dunia, Sokrates, Plato, dan Aristoteles, sebagai contoh bahwa perkataan yang tertulis itu tak pernah musnah, meski jasad orangnya sudah musnah berkalang tanah.

Demikianlah keenam nilai penting yang diperoleh dalam kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang. Rasanya amat sedikit hasil pikiran atau perasaan serta karya atau perbuatan umat manusia di dunia ini yang mengandung lengkap keenam nilai penting sebagaimana diperoleh lewat kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang.

Setelah kita memahami nilai-nilai yang terkandung dari kegiatan tulis-menulis, tentu mendorong kita untuk menggeluti dunia tulis-menulis ini dengan serius, baik sebagai kegemaran atau hobi maupun sebagai bidang kerja atau profesi. Namun bagaimana pun, tentu Anda bertanya, apa yang harus dipersiapkan untuk menggeluti dunia tulis-menulis ini? Atau dengan kata lain, apa modal yang harus dipersiapkan seseorang untuk menjadi penulis atau pengarang?

Sebagaimana halnya dengan orang yang ingin membuka usaha baru, misalnya usaha bengkel, toko, warung makan, dan tempat fotocopy, harus mempunyai modal dasar, demikian pun seseorang yang ingin terjun menggeluti dunia tulis-menulis. Modal dasar itu gampang diperoleh dan hampir semua orang bisa memilikinya. Menurut penulis, ada beberapa modal dasar yang perlu dimiliki seorang calon penulis.

Pertama, bisa baca-tulis. Artinya, Anda bisa membaca dan menulis huruf-huruf, dalam hal ini huruf Latin. Sangat gampang modal pertama ini. Seseorang yang tamat SLTP dan SLTA tentu tidak menjadi masalah. Lebih gampang lagi bagi yang bergelar sarjana dan magister, apalagi doktor dan profesor. Sebagian besar orang NTT memiliki modal dasar pertama ini.

Kedua, mempunyai minat. Minat adalah keinginan yang kuat untuk melakukan suatu hal atau kegiatan. Seorang yang memiliki modal dasar ini, akan selalu berupaya untuk belajar dan berlatih secara terus-menerus, jatuh-bangun, sampai pada suatu saat ia merasa puas karena bisa menyusun tulisan/karangan dengan baik dan bermutu.

Ketiga, bisa berpikir kritis dan kreatif. Kritis artinya selalu mempertanyakan sesuatu, apakah sesuatu itu benar atau salah, baik atau buruk, logis atau tidak, dan lain-lain. Sedangkan kreatif, selalu mencari dan menciptakan sesuatu yang baru, yang lain dari yang lain. Orang yang kritis dan kreatif biasanya mudah gelisah, tidak pernah puas dengan hasil karya yang ada, dan terus mencari dan menciptakan sesuatu yang baru.

Keempat, memiliki sarana menulis. Sarana menulis di sini sederhana. Pada era internet sekarang ini, sarana menulis seseorang lebih sederhana lagi, cukup bisa mengoperasikan komputer (internet) yang ada di berbagai warung internet (warnet) dengan mengandalkan flashdisk di saku. Tulisan atau karangan kita ketik langsung di komputer, terus dikirim ke media massa lewat E-mail, sampailah tulisan kita di meja redaksi media dalam hitungan detik.

Kelima, memiliki bahan pustaka. Bahan pustaka di sini adalah buku-buku referensi, buku bidang keilmuan, kamus, ensiklopedi, buku pedoman ejaan, pedoman menulis, dan buku-buku panduan yang lain. Kalau tidak miliki sendiri, bahan pustaka ini bisa dibaca di perpustakaan daerah, perpustakaan umum, atau perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi.

Keenam, mau belajar. Belajar maksudnya membaca banyak, terutama bacaan yang menyangkut seluk-beluk menulis, teknik menulis, cara mengumpulkan materi tulisan, kiat memilih dan menyusun kata/istilah, kalimat, dan paragraf. Bisa juga belajar lewat diskusi dengan orang lain, mendengar ceramah, pidato, kuliah, dan lain-lain. Membaca majalah dan surat kabar cukup membantu seseorang dalam membina dan mengembangkan minat menulisnya.

Ketujuh, berlatih secara rutin. Sejalan dengan belajar atau membaca adalah berlatih secara rutin, terus-menerus. Berlatih tanpa bosan-bosan, sampai merasa diri mahir menulis dan tulisan kita berhasil tembus muat di surat kabar atau majalah.

Kesuksesan seorang penulis diraih pada saat tulisannya dimuat di media massa atau bukunya diterbitkan. Itulah pencapaian tertinggi bagi seorang penulis. Ingat, jangan puas dengan satu dua tulisan yang tembus muat di koran atau media masa. Satu dua tulisan yang telah dimuat adalah daya dorong untuk terus berkarya lagi, dan lagi, tiada hentinya.

*) Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Flores, Ende
Dijumput dari: http://yohanessehandi.blogspot.com/2012/05/nilai-dunia-tulis-menulis.html