Om Kelom

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Di usianya yang ke-85 tahun, pamanku masih sehat tetapi kelakuannya agak aneh. Walaupun ia seorang Doktor (yang sudah pensiun), kenangan aneh masa kecilnya datang lagi di benaknya. Ia melempar sepatu dan sandalnya ke gudang diganti dengan kelom.

Ia memanggil seorang tukang kelom geulis, menyuruh tukang itu membuat kelom. Kelom itu terbuat dari batang pohon waru di pagar kebun sayurnya. Tali kelom itu terbuat dari ban bekas. Awalnya ban itu dipotong dan diiris setipis ikat pinggang, lalu dipotong lagi dan dipakukan ke kelomnya.

Sebagai keponakan tersayang aku membiarkan dia sibuk mengawasi tukang. Kelihatannya ia asyik sekali. Begitu kelomnya jadi, ia mondar-mandir di rumah menikmati bunyi klom, klom, klom, klom.
Aku jadi usil. “Asyik, ya Om, pakai kelom. Mulai saat ini nama Om menjadi Om Kelom ya!”
“Ah, kau bisa saja,” katanya sambil mondar-mandir di depanku menyentakkan kelomnya, klom, klom, klom!
“Maaf Om,” kataku.

“Kau perlu dengar ceritanya klom. Waktu Om tamat Sekolah Rakyat menjelang perang dunia, sekolah itu tak beri ijasah. Hanya selembar kertas seperempat dari kertas ukuran kwarto, ditulis tangan oleh guru kelas VI yang menyatakan bahwa Om telah tamat kelas VI, lalu ditandatangani, tanpa tanggal, tanpa stempel.

Menerima surat tamat belajar tulisan tangan guru kelas enam itu, Om senang bukan kepalang. Lalu umur Om menjadi 13 tahun. Tiap sore hari Om mandi di kali, membersihkan daki di badan dengan batu, terutama kulit tumit Om yang tebal dan pecah-pecah karena di siang hari tak pernah memakai sepatu atau sandal atau klom.

Ya, sehabis mandi sore hari Om jalan-jalan di kota. Jalan raya di kota kecil kenangan Om itu belum beraspal. Hanya pasir kerikil yang dilindas oleh stoomwals. Wals yang memakai tenaga uap panas. Air dimasak dengan kayu bakar lalu uapnya menggerakkan roda besi besar yang berat sehingga kelikir bercampur pasir hancur merata.

Bunyi kelom Om, tidak seperti lazimnya suara klom yang terdengar. Bunyinya malah krek… krek… krek…. Om biasa berhenti menonton stoomwals itu dan mengaguminya.

Terpikir oleh Om, kalau Om besar nanti Om kepingin jadi sopir benda berat itu, lalu meratakan jalan kota, menghancurkan kerikil yang disebar.

Oh, oh, ketika Om menoleh ke halaman tuan Opsiter Pekerjaan Umum, seorang Indo Belanda tampak anak-anak sedang bermain bulu tangkis. Mereka bersepatu putih sekaligus kaos kaki. Celana dan baju mereka putih bersih. Dengan bunyi kelom yang beradu dengan jalan keras berpasir Om memasuki halaman dan berdiri menonton. Tiba-tiba Om diusir oleh seorang anak Indo jantan. Dengan sendirinya Om berklom ria meninggalkan tempat Indo-Indo Belanda itu.

* * *

Pada suau sore Om cepat mandi di sungai, seperti biasa, tanpa sabun tanpa handuk. Om dan ibu Om pindah ke kebun dekat sungai tanpa uang tanpa makanan, hanya dengan dua tas besar berisi pakaian.

Ayah Om masuk penjara karena ayah Om seorang nasionalis perintis kemerdekaan pengikut Sukarno. Makanan ditukar dengan pakaian.Kami tak pernah memegang uang. Setelah punya makanan, garam pun tak punya. Untung tetangga kebun baik hati. Bertamu sebentar minta api dan garam tetangga memberikan dengan sukarela.

Om masih ingat adegan Om berlari kencang membawa api dan garam ke rumah, lalu menyalakan api dan membakar tiga bulir jagung kering, keluar sebentar memetik cabe yang tumbuh di halaman, menghancurkannya dicobek dengan butir-butir garam yang kasar masih bercampur tanah, lalu gigi mengeroyok jagung yang keras itu dengan lauk garam-cabe doang. Jagung keras itu dikunyah oleh gigi Om yang masih keras di masa muda.
Tak seperti sekarang. Dulu gigi Om sekeras tang, paku pun bisa digigit sampai putus.
“Ah,masa!” kritikku.

“Lalu setelah mandi, Om memakai pakaian bersih yang dicuci tanpa sabun. Walau pun Om sudah tamat Sekolah Rakyat tetapi badan tetap kecil sehingga pakaian lama masih pas di badan. Pakaian lama itu disebut baju monyet. Bentuknya seperti sarung bantal. Di bagian atas ada lubang untuk lolosnya kepala dan di kiri dan kanan ada lubang untuk masuknya tangan kiri dan kanan. Di bagian bawah ada dua lubang untuk kedua paha. Ha, ha, ha!”
Om Kelom tertawa sehat sekali. Gigi taring di sebelah kanan yang ompong kelihatan.

“Teruskan, teruskan Om!” anjurku. Setelah mandi Om menulis surat lamaran. Di samping lamaran itu terikut surat tamat belajar kellas enam itu. Surat itu diisi ke emplop, lalu emplop iu ditaruh di saku depan. Dulu, saku depan itu berfungsi sebagai kantong bekal ke sekolah. Bekal itu berupa jagung goreng tanpa minyak. Enak sekali hasil kunyahan kruk-kruk jagung iu di mulut. Tibalah giliran kantong depan itu membawa surat lamaran kerja unuk menjadi magang. Om mendapat informasi bahwa, mula-mula jadi magang, setelah beberapa tahun diangkat jadi jurutulis. Naik pangkat jadi klerk, naik lagi jadi commies, naik lagi jadi Commies Kepala.

Wau! Dengan seribu mimpi dan sejuta semangat Om berjalan dengan kelom memasuki kantor itu dipagi hari pukul sembilan. Bunyi mesin tik sudah terdengar mengalir dikantor itu. Om mendidik klom Om supaya jangan berbunyi klom, klom, klom lagi.

Tuan Besar sedang duduk menulis di meja besar di ruang yang luas dan bersih. Tiba di pintu Om menunduk. Tuan Besar memandang Om, lalu tangannya bergerak memanggil supaya Om merapat ke mejanya. Lalu Om duduk dan pelan-pelan Om menyorong lamaran.
Walaupun orangnya hitam, Om menganggapnya Tuan Besar. Tuan Besar sedang membaca….

Lalu, jantung Om seolah berteriak, trima tidak trima tidak trima tidak… dan barulah lenyap ketika ia mengangkat mata memandang Om.

“Kau menghina pemerinah dan Ratu Welhelmina. Datang melamar kerja memakai kelom, baju monyet dan otak monyet. Beraninya kau, monyet, datang melamar kerja ke sini pakai baju monyet dan surat tamat belajar kelas enam palsu.
Apakah kau sudah bisa mengetik?” tanya tuan Besar.
“Belum Tuan Besar.”
“Ini tandanya anak berani.”
“Trimakasih, Tuan Besar.”
“Dan kau sudah tercatat sebagai anak terkenal beraninya.”
“Terimaksih tuan Besar.”

“Kau tercatat, setiap kali pulang sekolah, kau menghabiskan buah murbai lima pohon di halaman kantor ini. Juga kau menghabiskan beberapa buah jeruk bali di halaman kantor ini. Kami telah mengenalkau sejak lama sebagai pencuri cilik.”

“Ampun tuan besar.Ampun. Saya lapar sekali ketika itu. Saya dan ibu saya tinggal di kebun dan ayah saya dipenjara.”

“Ya, saya tau ayahmu dipenjara karena menghina Ratu Wilhelmina, raja Belanda. Dan sekarang saya tangkap kau sebagai pencuri buah murbai tiga pohon besar dan satu pohon jeruk bali di halaman kantor ini.”
“Saya minta ampun, Tuan Besar.”

“Oh, saya tidak suka menghukum orang bersalah yang sudah minta ampun. Saya ampuni kau dan akan meberimu tanda mata, ya. Mau terima tandamata?”
“Mau Tuan Besar, mau sekali Tuan Besar. Tandamata apa?”
“Tandamata dicambuk tiga kali untuk tiga pohon murbai dan satu kali untuk satu pohon jeruk bali.”

“Medengar itu jantung Om hampir copot. Tapi Cuma pantat yang agak bengkak karena Om diikat di tiang lalu dicambuk empat kali dengan rotan. Sudah itu Om pulang dengan langkah yang terpincang-pincang,” cerita sedih Omku.

Lalu Omku ambil keputusan untuk bersekolah lagi. Beruntung pada waktu itu ada SMP swasta. Jumlah siswa ada tiga puluh lima orang yang ikut ujian akhir dan hanya Omku yang lulus ujian negeri. Kemudian Omku masuk SMA Negeri dan lulus dengan angka gemilang. Karena Om anak pintar maka masuk universitas tanpa ujian masuk. Langsung dapat beasiswa.

Begitu tamat S1, Om dikirin ke luar negeri untuk ambil S2 dan S3. Tuhan menolong Om sehingga jadi dokter dengan titel Ph.D. Kembali ke Indonesia, Om langsung diangkat menjadi Direktur Rumah Sakit.

* * *

Kadang-kadang, setelah dewasa Om mengomeli diri sendiri. Om merasa bangga karena di masa kecil sudah berani melamar kerja memakai baju monyet tanpa ijasah dan membawa musik di telapak kaki yang berbunyi klom, klom, klom!

Itulah Omku, yang sejak kecil ingin jadi sopir sebuah benda besi yang berat bernama stoomwals. Mungkin karena banyak makan buah murbai maka Om sehat sekali dan terlalu percaya diri tetapi percaya diri yang tidak memiliki imajinasi yang datang dari naluri takut. Betul-betul Om seorang anak yang berbuat sesuatu bukan karena perhitungan tetapi hanya berdasarkan keyakinan dan kesenangaan seorang anak yang nakal.

Beberapa waktu sebelum itu, ketika masih duduk di kelas lima, pulang sekolah ketika Om jadi ‘monyet’ di pohon murbai, seorang gadis kecil noni belanda kulit puih kasar berkeringat, rambut perang anak Tuan Kontrolir, tampak sedang memungut buah murbai matang yang jatuh. Melihat itu Om segera berlari ke rumah Om yang dekat dengan kantor pemerintah, mengambil topeng dari kulit kambing dan membungkus tubuh dengn kain hitagm lalu menakut-nakuti si noni. Dia berlari sambil menangis dan kemudian Om dikerjar oleh opas kantor yang kumisnya runcing mencuat simetris di kiri dan kanan, memakai topi bambu dan kelewang panjang. Barang karena itu pulalah ia masuk dafar hitam.

Suatu hari ia bertugas mengoperasi seorang nyonya yang marganya sama dengan marga Tuan Besar yang dahulu mencambuknya. Penyakit nyonya itu ureter steen, batu yang menyumbat saluran dari ginjal ke kantong seni. Walaupun terlintas perihnya cambukan rotan di masa kecil, ia berusaha mengusirnya, ketika tangannya membelah perut nyonya itu.

Sang Nyonya adalah putri Tuan Besar yang mencambuknya empat kali dengan rotan. Tetapi Om berusaha melupakan kenangan pahit itu. Dendam adalah musuhnya. Hanya batunya ditaruh di botol kecil yang bening, yang dibawa pulang ke rumahnya, dan ditaruh di meja kerjanya di kamar perpustakaannya. Mungkin saja batu yang berkembang tajam itu membawa kenangannya kepada cambuk tersebut, tetapi bilamana ia mengetahui bahwa sang nyonya telah sehat kembali, maka dia merasa tidak ada dendam antara dia dan Tuan Besar.

Tiba-tiba terdengar bunyi gedebuk. Omku terpeleset di anak tangga depan rumah. Seluruh isi rumah berlari menemuinya dan menggotongnya ke tempat tidur. ***

/12 Mei 2012