Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena”

Tosa Poetra

Seminggu yang lalu, setelah lelah dari pagi sampai sore kerja di bengkel, saya langsung pulang. Biasanya saya jalan-jalan dulu sebelum pulang. Ya, hari itu memang diharuskan saya segera pulang, karena hari itu di rumah ada acara genduri setahun Yudistira, anak laki-laki saya yang kecil. Sampai di rumah, saya melihat ada paket di meja belajar saya, kiriman dari saudari saya yang bekerja di Hongkong. Continue reading “Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena””

STA: Dari Pengetahuan ke “Weltanschauung”

Ignas Kleden
Majalah Tempo 9/3/2008/hal48–49

SERATUS tahun Sutan Takdir Alisjahbana (selanjut¬nya: STA) dirayakan secara khusus pada 12 Februari 2008. Serangkaian acara lain telah pula disiapkan untuk melanjutkan peringatan itu sepanjang tahun ini (Koran Tempo, 28 Februari 2008). Kita bertanya, apa gerangan warisan tokoh ini untuk kebudayaan Indonesia saat ini, setelah demikian banyak hal dikerjakannya dalam usia yang amat panjang, dan setelah demikian banyak ditulis orang tentang dirinya, untuk menghormati dan mengagumi atau untuk meremehkan dan bahkan melecehkannya. Continue reading “STA: Dari Pengetahuan ke “Weltanschauung””

Arie Batubara Ungkap Misteri Syekh Siti Jenar

TIM 25-27 MEI 2012

Y Alpriyanti
suarakarya-online.com

CERITA tentang keberadaan sosok Syekh Siti Jenar, hingga kini sebenarnya bisa dikatakan masih merupakan sebuah kontroversi. Artinya, pada satu sisi banyak yang meyakini utamanya mereka yang jadi “pengikut” dan ajarannya bahwa tokoh ini memang ada. Di pihak lain, percaya Syekh Siti Jenar hanyalah fiktif. Continue reading “Arie Batubara Ungkap Misteri Syekh Siti Jenar”

Di Balik Gorden Jendela

RR Miranda
http://www.suarakarya-online.com/

SEJAK mengenal lelaki itu Mirna selalu bangun pagi, dan matanya sembab karena susah tidur. Dadanya selalu berdetak dalam kecemasan. Entah kenapa, yang pasti ia sungguh tersiksa menanti pagi yang ditandai dengan ruap cahaya mentari. Mirna merasa perputaran waktu begitu lamban, serupa keong yang menyusuri tanggul-tanggul panjang di persawahan. Begitu lamban, sehingga membuat jantungnya selalu berdetak kencang. Continue reading “Di Balik Gorden Jendela”

Bahasa »