Mbah Mar

Yulizar Fadli
http://www.lampungpost.com/

ANGIN kalem. Mata Mbah Mar melek-merem. Kambing-kambing gembalaannya juga tampak ayem mengunyah rumput gemuk yang tumbuh di Balai Pertanian—para penduduk menyebutnya balitan. Balitan milik pemerintah itu terbentang luas dan ditanami beragam ubi, bunga, sampai padi berkualitas tinggi. Yang terang, sekeliling kawasan itu dipagari kawat berduri. Continue reading “Mbah Mar”

Catatan Di Meja Nusa Dua & Café Bandar: MEMPERJUANGKAN PUISI (I – 7)

Dr. JJ Kusni *

1.
Kali ini, aku mengajakmu memperhatikan dan membicarakan puisi-puisi Gendhotwukir yang sekarang sedang belajar di Jerman, dan agaknya mendalami ilmu filsafat. Gendhotwukir adalah nama pena, bukan nama benar. Nama pena bagi seorang penyair apalagi yang sedang mendalami ilmu filsafat [kalau dugaanku benar], tentu mempunyai makna tersendiri yang sampai sekarang belum kuketahui. Kutanyai ke sana ke mari pada teman-teman yang berasal dari etnik Jawa, mereka pun tidak bisa memberikan keterangan yang pasti. Sebagai orang Jawa barangkali kau lebih paham. Continue reading “Catatan Di Meja Nusa Dua & Café Bandar: MEMPERJUANGKAN PUISI (I – 7)”

Karya Bermutu, Cerdas dan Piawai

Taufik Effendi Aria *

Home

Setiap orang pasti punya keinginan untuk menciptakan karya bermutu, cerdas dan piawai. Karena karya yang demikian dapat memperpanjang makna kehidupan seseorang di atas permukaan bumi ini. Namanya akan selalu dikenang, seolah-olah dia tak pernah mati walau jasadnya telah terkubur dan menyatu dengan tanah sekalipun. Sebagaimana adagium: ‘’Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama’’. Continue reading “Karya Bermutu, Cerdas dan Piawai”

Bahasa »