CITRA WANITA INDIA DALAM NOVEL MADU DALAM SARINGAN *

Maman S. Mahayana *

Mengherankan, dibandingkan dengan pengaruh kesusastraan klasik India—kisah Ramayana atau Mahabharata, misalnya—yang jejaknya dapat dengan mudah dijumpai dalam khazanah kesusastraan Indonesia, pengaruh kesusastraan kontemporer India di Indonesia, tampaknya seperti hampir tak terdengar, laksana tak berpengaruh, dan terkesan begitu asing.[1] Padahal, di samping epos Ramayana dan Mahabharata, sejak zaman Pujangga Baru khazanah kesusastraan kontemporer India, sudah coba diperkenalkan.[2] Continue reading “CITRA WANITA INDIA DALAM NOVEL MADU DALAM SARINGAN *”

Memanjakan Telinga dengan Karya Sastra

Hristina Nikolic Murti, Angkat Ronggeng dalam Audiobook
Nugroho Pandhu Sukmono, Susanto
http://www.suaramerdeka.com/

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk kian memasyarakat. Setelah diangkat dalam layar lebar, kini karya Ahmad Tohari itu digarap menjadi audiobook (buku bunyi).

KARYA sastra tersebut memikat Hristina Nikolic Murti (33), pegiat lembaga Digital Archiphelago. Dia bersama sejumlah rekannya kini menggarap novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) dalam bentuk buku bunyi. Continue reading “Memanjakan Telinga dengan Karya Sastra”

Melezatkan Pelajaran Sastra di Sekolah

Adrian Ramdani
http://www.kompasiana.com/adrianramdani

Pelajaran sastra. Memang ini seolah suatu pelajaran yang kurang diminati banyak siswa sekolah. Mereka lebih cenderung memilih pelajaran yang menantang dan bersifat ilmiah. Matematika, Fisika, Kimia, merupakan pelajaran favorit yang dianggap paling digemari dan memberikan manfaat yang lebih dari sebuah puisi atau cerpen. Pelajaran sastra dirasa hanya diberikan sebagai pelengkap dan termasuk bagian dari pelajaran bahasa Indonesia. Porsi yang diberikan seolah-olah dianggap tidak terlalu penting nantinya atau dengan kata lain tidak menunjang untuk kehidupan masa depan. Continue reading “Melezatkan Pelajaran Sastra di Sekolah”

Dilema Kritik Sastra

Aminullah HA Noor
http://www.suarakarya-online.com/

Suatu waktu ketika kritikus sastra HB Jassin masih hidup ia pernah menyinggung mengenai perlunya seorang penulis fiksi menghadapi kritikus yang mengkritik karyanya.

Hal ini sudah penulis lakukan beberapa tahun yang lalu ketika Salim Said mengkritik Gerson Poyk di majalah Tempo (maaf, tanggal dan tahunnya penulis lupa). Satu halaman Tempo menghajar penulis dengan mengatakan (kurang lebih) bahwa imajinasi penulis hanya terbatas di wilayah fisik semata. Continue reading “Dilema Kritik Sastra”

Bahasa »