Pengalaman Dahsyat Sastri dan Pipiet

Yurnaldi
http://oase.kompas.com/

Memoar sastrawi Kekuatan Cinta yang ditulis Sastri Bakry dan Dalam Semesta Cinta karya Pipet Senja, dinilai Presiden Komunitas Sastra Indonesia Ahmadun Yosi Herfanda dan Kepala Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Endo Senggono, sebagai pengalaman dahsyat. Penuh dengan kisah yang menginspirasi dan ditulis dengan bahasa yang indah dan menarik.

“Mencermati memoar penulis, ternyata lebih dahsyat dari karya-karya sastra yang sebelumnya banyak mereka tulis,” kata Ahmadun, pada Bedah Buku Kekuatan Cinta karya Sastri Bakry dan Dalam Semesta Cinta karya Pipiet Senja, Senin (15/6) di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta.

Seperti diketahui, Sastri Bakri adalah perempuan penulis dan aktivis asal Padang, Sumatera Barat, yang cukup dikenal luas. Ia Ketua HWK Sumbar, Ketua WPI Sumbar, PMI Sumbar, dan Vice President The Malay Islamic World yang berpusat di Melaka, Malaysia. Peraih Anugerah Srikandi Tun Fatimah yang disematkan PM Abdullah Badawi 2007, telah menulis sejumlah buku. Saat ini menjabat Kepala Badan Pengawasan Daerah Kota Padang.

Sedangkan Pipiet Senja, selama kariernya sebagai penulis, telah menulis lebih seratus novel, tetapi yang telah diterbitkan sekitar 80 judul buku, sejak 1978 sampai sekarang. Aktivitasnya saat ini sebagai anggota Majelis Penulis Forum Lingkar Pena, sering diundang seminar kepenulisan ke pelosok Tanah Air dan mancanegara. Sekarang bekerja di Penerbit Jendela.

Endo yang fokus membicarakan karya Sastri Bakri mengatakan, sebagai memoar, Kekuatan Cinta karya Sastri Bakry tidak hanya kuat di bahasa yang begitu indah, tetapi juga kisah-kisah yang dipaparkan memberikan perenungan yang patut disimak.

“Di balik pengalaman yang romantik, menarik hati, hingga perjalanan perkawinan, banyak hal-hal yang bisa menjadi inspirasi,” katanya.

Mengutip penyair Leon Agusta, Endo mengatakan bahwa dengan membaca Kekuatan Cinta, beragam kenangan menjelma menjadi senandung panjang. Dalam bingkai buku harian cinta diabadikan. Berbagai renungan hidup dan ajal berkelindan dengan pergumulan iman dan ketakwaan yang berakhir pada berpasrah diri di hadapan Allah Sang Maha Pencipta. Sebuah renungan dan nyanyian hati yang indah.

Sastrawan Hamsad Rangkuti yang hadir pada bedah buku itu kepada Kompas mengatakan, memoar karya Sastri ini sangat menarik, terutama tentang dua episode pernikahan yang bertolak belakang.

“Betapa ia ingin memaknai dengan arif tanpa menyalahkan, tapi suami lebih memilih perempuan lain. Lebih menawan lagi dalam episode kedua, cintanya diputus kematian. Hanya kekuatan cinta yang membuatnya tegar,” kata Hamsad, yang telah meraih berbagai penghargaan sastra, terakhir SEA Write Award dari Raja Thailand.

Ilmuwan Pratiwi Sudharmono, dalam komentarnya di buku menilai Kekuatan Cinta sebuah memoar menawan tentang dua insan yang saling mencintai dan saling memuja. Menjadi inspirasi buat semua wanita bahwa esensi emansipasi berangkat dari rumah masing-masing. “Satu pelajaran penting yang bisa dipetik bahwa meskipun Tuhan menentukan segalanya, tidak berarti manusia harus pasrah saja dengan apa yang akan terjadi terhadap dirinya,” katanya.

Cerpenis dan kritikus sastra dari Universitas Negeri Padang, Dr Harris Effendi Thahar, yang sempat mengupas buku kekuatan cinta di Padang, mengatakan, walaupun peristiwa-peristiwa yang diceritakan lumrah, tetapi kekuatan pada memoar ini bukan terletak pada apa peristiwanya, tetapi yang menarik adalah bagaimana peristiwa itu diceritakan penulisnya.

“Pembaca merasa berbagai pengalaman dengan penulis novel ini, bagaimana kekuatan cinta itu dapat terjaga intens hadir di setiap bagian pada penggal kedua itu. Hal itu dimungkinkan oleh kepiawaian Sastri Bakry menggunakan bahasa yang sangat komunikatif, kalimat-kalimat pendek, percakapan-percakapan singkat, serta idiom-idiom yang sangat akrab dengan pembaca, terutama kalangan perempuan,” katanya.

15 Juni 2009