Permainan Opini Gie dan Wid

Andhika Prayoga
http://www.lampungpost.com/

DALAM sebulan ini, banyak tokoh besar berpulang. Sebuah pertanda agar kita tidak selalu menggantungkan diri pada mereka. Sudomo, Bismar Siregar, dan Widjajono Partowidagdo wafat dalam waktu yang tidak terlampau jauh.

Ketiganya pernah mengemban tugas penting menegakkan kedaulatan bangsa Indonesia. Mereka dapatlah dikatakan paripurna menjalankan amanat negara hingga pensiun. Meninggal di atas gunung mengingatkan kita pada kisah seorang idealis pada 1960 bernama Soe Hok Gie, mantan Ketua Senat FSUI yang meninggal di Gunung Semeru. Di tengah hiruk pikuknya menentang pemerintahan transisi Orde Lama ke Orde Baru ia mengasingkan diri pada hobinya; mendaki gunung.

Saat itu, Gie, sapaan akrab Soe Hok Gie, sedang gencar mengkritik kebijakan Orba yang dikuasai militer. Menurut Gie, Orba tidak lagi sesuai dengan tujuan awal. Dalam memoarnya Catatan Seorang Demonstran, Gie mengutarakan penyesalannya telah mengambil peran meruntuhkan Soekarno, tapi nyatanya ia ditipu mentah-mentah.

Pemikiran Wid

Romansa Gie tak jauh beda dengan apa yang dilakukan Wid, sapaan akrab Widjajono, saat menjadi “bumper” pemerintah dalam kebijakan kenaikan harga BBM. Ia dipastikan jenuh dan berharap ada tempat pelarian dari tekanan publik yang mempersepsikannya tidak prorakyat.

Wid adalah sosok idealis dalam ruangnya. Akademisi yang mempunyai tiga gelar master dari tiga bidang ilmu sekaligus. Ia Ilmuwan yang brilian. Itulah yang menguatkan keyakinan SBY saat mendapuknya menjadi wakil menteri ESDM mendampingi Jero Wacik, walaupun semua itu juga berkat usulan Hatta Rajasa yang notabane adalah mahasiswa Wid di ITB.

Kebijakan kenaikan harga BBM yang berdengung beberapa waktu yang telah melejitkan putra Magelang itu sekaligus upaya mengorbankannya pelan-pelan. Pemikirannya yang jernih ditambah cara dia menyampaikan pendapat mampu membuat orang terkesima dan yakin bahwa kenaikan harga BBM sangat penting. Ditambah dengan kajian teoritis-ekonomis, seorang idealis sekelas Wid mampu memberikan argumen tak terbantahkan perihal kebijakan kontroversial itu. Tak heran jika berbagai pengamat mengatakan Wid mampu memainkan opini publik.

Permainan opini publik Wid hampir mirip dengan metode Gie. Selebaran gelap Gie bersama Gerakan Mahasiswa Sosial (Gemsos) arahan Soemitro telah mengubah persepsi masyarakat. Kala itu, publik yang terlena dan mengultuskan Soekarno mengarah cenderung membela Orde Lama secara radikal.

Landasan Gie dan Wid adalah akademik. Sebagai akademisi, tentunya mereka tidak mempunyai basis massa yang siap membela dengan fisik terhadap pendapat mereka. Namun, mereka mempunyai pendukung setia, yaitu orang-orang yang telah tercerdaskan secara logika dan berusaha mengikuti pola pikir pembentuk opini.

Bagaimana tidak, Wid berusaha merasionalisasi kenaikan harga BBM seorang diri di tengah ketidakberpihakan publik saat itu. Ia meyakinkan bahwa kenaikan harga BBM adalah solusi kemajuan bangsa. Tidak tanggung-tanggung ia yang meyakinkan bahwa kenaikan harga BBM seharusnya adalah Rp2.000, bukan Rp1.500 versi pemerintah, walaupun tidak disetujui.

Rasionalisasi tersebut juga dilakukan Gie saat membongkar pembantaian PKI oleh TNI di Bali. Penyerangan itu dilakukan dalam tulisannya yang kemudian berlawanan dengan persepsi publik yang saat itu dipenuhi eurofia pembubaran PKI. Akibatnya, Gie pun banyak menuai kritik.

Menyendiri

Semeru dan Tambora memang tempat yang berbeda. Gie dan Wid dipisahkan beberapa waktu dan generasi. Namun, mereka memiliki kesamaan cara pandang yang unik dalam membentuk persepsi publik tanpa harus mengorbankan idealisme.

Gie adalah pendiri Mapala UI dan Wid adalah anggota pecinta alam di ITB, kampus yang banyak melahirkan pejuang bangsa ini. Gie yang ateis tidaklah sama memandang gunung sebagai salah satu rasa syukur atas ciptaan Tuhan sebagaimana Wid. Gie hanya ingin lari sejenak dari kepenatan hidup. Cara pandang seperti itulah yang menjadi kontradiksi antara mereka berdua di balik kesamaan-kesamaan mereka.

Lebih dari itu, Gie tidak pernah menikmati hasil dari idealismenya. Ada yang berpendapat jika Gie tidak mati di Semeru, mungkin ia ada di dalam pemerintahan sekarang. Tidak bersama Soeharto karena ia membencinya dan tidak bersama Megawati karena anak Soekarno. Namun, kemungkinan bersama Gus Dur atau SBY yang dianggap sesuai dengan idealismenya.

Namun, Gie lebih beruntung ketimbang Wid. Ia pernah menulis bahwa hal yang baik adalah tidak pernah dilahirkan atau mati saat muda, dan orang yang paling tidak beruntung mati di saat tua. Dalam alur pikir Gie, Wid tidak beruntung. Ia mati tua.

*) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung /26 April 2012