Persoalan Kemanusiaan dalam karya A.A. Navis

Herton Maridi
http://www.kompasiana.com/hertonmaridi

Pada Kamis sore tepatnya 05 April 2012 16.30 FAS (Forum Alternatif Sastra) dan HMJ Aqidah Filsafat bekerja sama menyelenggarakan bedah film dokumenter sastrawan Indonesia “A.A Navis” acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas dan beragam mahasiswa (jurusan) lainnya. Sekilas tentang A.A Navis yang dilahirkan di di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun. Ia pernah berkuliah di salah satu universitas di belanda. Di universitasnya dia termasuk orang yang pintar ia selalu dipuji oleh teman-temannya karena kepintarannya akan tetapi ketika waktu ujian datang ia tidak pernah bisa lulus. Hal itu kemudian menjadikan beliau untuk memutuskan berhenti kuliah dan kembali ke kampung halamannya di Indonesia dan membangun Taman Siswa di dekat rumahnya. Semua anak-anak yang bersekolah di sana diajarkan semua ilmu seni dan sastra, seperti menulis, melukis dan memahat dan yang paling penting adalah di sekolahnya semua siswa bebas berekspresi melakukan apapun yang mereka suka. Karena bagi A.A Navis suatu sekolah/instansi pendidikan bukan hanya untuk menjadikan siswanya mempunyai pengetahuan tapi menjadikan sekolah adalah tempat untuk menuangkan kreatifitas dan gagasan. Karena dengan kebebasan eksistensi kita semakin tinggi. Ketimbang hanya belajar lalu menghapal pelajaran seni dan lainnya yang tingkat kebenarannya tergantung pada tingkat keakuran antara jawaban kita dengan jawaban si pengajar.

Setelah menyaksikan film dokumenter A.A Navis (selanjutnya akan saya sebut Navis) yang berdurasi 23 menit. Manfaat kita menonton fim dokumenter ini adalah agar kita terangsang dan merasakan gairah untuk menulis. Kita akan mengetahui beberapa proses kreatif dari seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Hal yang disinggung oleh beliau adalah bahwa modal utama untuk menulis adalah kita belajar filsafat, kenapa harus filsafat? Karena yang dituliskan dalam sastra itu bukan peristiwa kehidupan manusia tetapi persoalan-persoalan manusia dan persoalan-persoalan hanya bisa secara kritis dirasakan oleh orang yang menggunakan filsafat sebagai pisau bedah. Pada “Datangnya Dan Perginya” karya A.A Navis, tokoh ayah dipecundangi oleh perasaannya sendiri. Sikap pengecut yang hadir dalam diri tokoh ayah adalah bentuk apresiasi Navis dalam sindiran terhadap tokoh agama. Orang yang paham dengan agama malah menjadi orang begok dan buta hati. Hanya satu ketidaksengajaan ketika takdir membawanya pada suatu pilihan yang menyebabkan terjadinya krisis iman dalam diri tokoh ayah. Betapa bejat moral seorang tokoh ayah dalam cerpen “Datangnya Dan Perginya” membiarkan sebuah kehidupan menjadi satu keluarga dalam ikatan pernikahan yang dilandasi oleh perkawinan sedarah. Di sini ada persoalan kemanusiaan yang diangkat. Jadi Navis tidak menginginkan penulisan cerpen atau puisi itu selalu berbicara cinta, rembulan, sunyi, kota dan yang lainnya.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bambang Q Anees “Karya yang mengangkat persoalan manusia itu karya yang berumur panjang tapi kalau karya yang mengangkat persoalan pribadi saja akan berumur pendek”. Masalah kita sebagai penulis pemula itu pasti adalah berkarya dalam rangka menyuburkan imajinasi saja atau menuliskan keinginan menjadi sesuatu. Padahal yang ditawarkan oleh Navis berkaryalah anggaplah persoalan kemanusiaan, berdasarkan apa yang kita lihat.

Maka penyair atau sastrawan bukan orang yang tinggal di dalam kamar tapi dia hidup berhubungan dengan masyarakat dia harus tahu apa persoalan kemanusiaan yang sedang terjadi di luar. Navis berkata “kita menulis untuk tergantung kepada siapa yang mau kita tuju”. Kalau menulis untuk anak kecil berbeda dengan menulis untuk sebaya. “Apa yang tidak mungkin dituliskan dalam cerita bisa kita tulis dalam makalah, puisi atau yang lainnya” tutur Navis. Dengan kata lain menulis itu mengemukakan apa yang ada di dalam diri kita ihwal persoalan kemanusiaan yang sedang terjadi.

Salam sastra, mari berkarya!
Dijumput dari: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/06/persoalan-kemanusiaan-dalam-karya-aa-navis/