Petanda Kata Pentas Sastra 2012 Dari PP Al Anwar Paculgowang

Santri Primitif Telah Mati
Anjrah Lelono Broto *)
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto

Memang tak sesakti yang dibuat pujangga asli / Mohon dimaklumi / Sekaligus dinikmati / Baris kata yang tak tahu diri / Yang digubah di warung kopi // Mereka yang terlupa masa lalu / Dan tak peduli masa depan / Mereka yang mengadu nasib dengan sebatang rokok / Dan secangkir kopi / Mereka yang mencurahkan perasaan di ujung / Pena dan secarik kertas / Mereka yang berkelana di antara maya dan nyata // Sang pujangga pinggiran // Aku tak pandai berkarya / Aku tak terlalu mengarti tentang sastra / Namun hari ini / Ku beranikan diri / Untuk memanggungkannya // Di antara para pujangga //

(Puisi Yang Digubah Santri, KH. M. Masduqi Muhaimin, Pimpinan PP Al Anwar Paculgowang Diwek Jombang)

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beserta atribut polemik, demonstransi serentak, ataupun aksi-aksi jahiliyah seperti penimbunan, dll beberapa menit ini kita eliminasi dari beban benak kita. Bukan untuk memanjakan benak kita dengan geliat berpikir yang ‘sik asyik’ sebagaimana judul lagu terbaru Ayu Ting Ting. Akan tetapi, alangkah baiknya andaikata sejenak otot-otot benak diri, kita mobilisasi dalam sebuah proses kreatif yang bermuara pada serangkai kata, frasa, kalimat, hingga wacana tertulis –sesuatu yang tidak mudah musnah dihembus tiup angin musim, sesuatu yang hingga saatnya nanti masih bisa dibaca siapa saja, sesuatu yang besar niscayaan akan menjadi salah satu pintu pencerahan dari-Nya-.

Inginan sederhana tanpa aksesoris besaran anggaran negara ini pulalah yang menjadi BBM penulis dan awak Teater Kopi Hitam Indonesia (TKHI) menyusun gelaran agenda Pentas Sastra 2012 dengan tajuk “Ketika Karya Sastra Dipanggungkan”. Pembacaan karya-karya penulis dan Cucuk Espe serta menyisir hingga ke hulu proses kreatif kami merupakan gagasan awal konten dari agenda tersebut. Ketika kami berdua telah mengawali buka-bukaan, diharapkan audiens yang hadir juga melakukan hal yang serupa. Rencananya, agenda ini akan dilakukan di lima kota, yakni Jombang, Mojokerto, Kediri, Ponorogo, dan Solo.

Alhamdulillah, Pondok Pesantren (PP) Al Anwar Paculgowang menjadi tempat pertama gelaran agenda Pentas Sastra 2012 (29/03). Pondok pesantren yang terletak di Desa Paculgowang Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang ini menjadi pilihan awak TKHI yang menggawangi manajemen agenda Pentas Sastra 2012, Gandis Uka, didasarkan pada realitas bahwa pondok pesantren ini memiliki potensi besar guna pengembangan kegiatan membaca-menulis sastra sebagaimana ruh elementer agenda ini. Mengingat, beberapa nama di dalam pondok pesantren ini, seperti Siti Saadah, Badrus Alwi, Zanin, dll telah meramaikan geliat bersusastra di kota Jombang beberapa waktu terakhir ini. Kemudaan usia mereka adalah sebuah jaminan bahwa masih panjang jalan yang bisa mereka retas-rangkai untuk menjadi lebih genial.

Agenda Pentas Sastra 2012 di PP Al Anwar Paculgowang kemarin dibuka oleh KH. M. Masduqi Muhaimin. Sedangkan Yusuf Suharto, jebolan PP Tambakberas yang kini menempuh studi di STKIP PGRI Jombang, didhapuk menjadi moderator. Catatan buku tamu menunjukkan bahwa audiens yang sudi menyempatkan waktu bertandang ke PP Al Anwar Paculgowang dan selibat dalam agenda ini berasal berbagai kalangan, dalam dan luar kota Jombang, seperti Mojokerto dan Lamongan.

Dalam uraian makalahnya yang berjudul “Menikmati Proses Kreatif”, salah satu narasumber agenda ini, Cucuk Espe, menjelaskan tentang nikmatnya membahasatuliskan sesuatu yang berkesan bagi kedirian kita. Sesuatu yang berkesan yang sifatnya personal dapat disampaikan dan dipahami oleh orang lain melalui media tulisan bergenre karya sastra. Ketika menjawab beberapa pertanyaan dari audiens, Cucuk Espe yang malam itu didampingi sang istri tercinta, menjelaskan tentang posisi bakat yang kecil pengaruhnya dalam kegiatan menulis karya sastra. Justru yang paling dominan bagi awak TKHI yang malam itu membacakan puisinya “Berlindung di Perahu Nuh” adalah kebiasaan dan pembiasaan.

Sedangkan, penulis lebih menguraikan dua variabel bahasa ketika karya sastra dipanggungkan, sebagaimana tajuk agenda ini, yaitu bahasa teks sastra dan bahasa visual panggung. Fenomena teknik membaca karya sastra yang profan sebagaimana pemandangan lazim dalam perhelatan lomba-lomba membaca puisi di lingkungan lembaga pendidikan, bagi penulis, karena kurangnya penyadaran dari berbagai pihak untuk membangun proses kreatif yang sehat dalam benak siswa untuk lebih dalam menggali bahasa teks sastra itu sendiri maupun bahasa visual panggung untuk mendukung tersampaikannya pesan dalam teks sastra yang dibacakan. “Ibu, Aku Pulang” merupakan puisi yang penulis bacakan untuk memberikan gambaran sederhana konjungsi di antara dua variabel di atas.

Apakah kepekaan menemukan kesan dan membahasakannya dalam teks sastra berbanding lurus dengan bakat? Mengapa sastra menjadi perihal banyak diguna-pahami oleh ulama’ bahkan tokoh-tokoh agama lintas keyakinan dari masa ke masa? Bagaimana tips dan trik agar kita terbiasa membahasakan apa saja yang berkesan dalam benak dan hati kita? Adalah sederet pertanyaan yang mengemuka dan kami tanggapi malam kemarin di agenda Pentas Sastra 2012 di PP Al Anwar Paculgowang.

Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut coba penulis dan Cucuk Espe urai dalam utas jawab sederhana dan berdenyut dalam inginan agar audiens memiliki ke-pede-an untuk menulis dan memanggungkan karya sastra. Lebih dari sepuluh audiens sontak memberanikan diri untuk menulis dan membacakan karyanya tersebut. Satu hal yang patut dicatat adalah 80% audiens yang membacakan karyanya, menyeleseikan karyanya di tempat dan waktu yang sama yaitu di sela mendengarkan uraian utas jawab narasumber dan atau sembari menikmati pembacaan karya audiens yang lain. Sungguh suatu petanda nyata bahwa ketika diri bersungguh-berniat, sesuatu yang sebelumnya kita anggap aneh, sulit untuk dilakukan, dan berhitung-hitung motif (sebagaimana karakter elementer menulis karya sastra), dapat kita lakukan dengan cepat.

Alhasil, sejarah yang ditandai dengan ditemu-gunakannya tulisan sebagai alat komunikasi dan dokumentasi manusia menjadi akar lahir-tumbuhnya kesadaran dalam diri; “Andai kita masih jauh dari kebiasaan-pembiasaan menulis maka sama artinya dengan bahwa diri kita masih primitif.” Agenda Pentas Sastra 2012 di PP Al Anwar Paculgowang kemarin menjadi sebuah momentum kebangkitan kemanusiaan audiens untuk menanggalkan keprimitifan diri dengan berani menulis dan memanggungkan karya sastra. Bahkan, di antaranya adalah KH. M. Masduqi Muhaimin pribadi yang mengucap salam dengan puisinya di awal tulisan ini.

*) Awak TKHI dan Penjaga Gawang Talkshow Belajar Sastra di Radio SPFM. Hanya seseorang mencintai membaca dan menulis, di tengah deras lunturnya budaya literasi. Penulis lepas dan mengabdikan diri di lembaga pendidikan, seni, dan budaya (Lembaga Baca-Tulis Indonesia), penjaga gawang Talkshow Belajar Sastra di Radio Pendidikan Diknas Kabupaten Jombang, dan menjadi awak TEATER KOPI HITAM INDONESIA.
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/26/petanda-kata-pentas-sastra-2012-dari-pp-al-anwar-paculgowang/