Puisi Ekologis dan Maritim 5 Penyair Jatim

Yusri Fajar *
__Radar Surabaya, 29 April 2012

LIMA Penyair Jawa Timur, Akhudiat, Zawawi Imron, Nanang Suryadi, F Azis Manna, dan Kusprihyanto Namma yang dipilih untuk berpartisipasi dalam Forum Penyair Internasional 2012, mengha-dirkan nuansa ekologis dan maritim dalam puisi-puisi mereka. Penyair Jatim ini tampil bersama penyair-penyair dari Belanda, Jerman, Afrika Selatan, Swe-dia, Selandia baru dan Makedonia.

Beberapa puisi 5 penyair Jatim yang dimuat dalam buku antologi forum pe-nyair internasional 2012 bertajuk “What’s Poetry?” merepresentasikan alam dan manusia secara dialektis. Azis Manna mengangkat tragedi lumpur lapindo yang tidak hanya menjadi isu na-sional namun juga internasional. Dalam puisi “Semoga Sorga Bersama Mereka Porong, 50 Tahun Kemudian” Azis meng-gambarkan kontestasi kepentingan pemilik modal dalam memanfaatkan lahan dan masyarakat yang sebelumnya damai dengan lingkungan. Eksploitasi alam demi kepentingan kapitalis telah menghancurkan ekosistem Porong, melahirkan bencana tragis.

Padahal untuk menjaga keseimbangan kehidupan, alam harus dijaga agar ke-anekaragaman hayati seperti tercermin dalam puisi Akhudiat yang berjudul “Ayat Air” tetap lestari. Siklus natural alam dirindukan masyarakat yang bertumpu pada entitas-entitas ekologis. Dalam air ada air ada insang ada udara/ ÖMusim ada benih ada tanah ada tani ada air ada bulan ada/. Bagaimana pun eksotisme dan lanskap serta kekayaan alam di Indonesia membuat terpesona mata dunia, namun kekaguman itu akan berubah menjadi ketakutan jika bencana melanda karena alam diposisikan infe-rior, semata sebagai objek.

Alam seperti hutan menjadi penyerap dan penyimpan air yang menjaga siklus air sehingga danau dan telaga di lereng gunung tetap memesona seperti telaga Sarangan Magetan yang dilukiskan se-cara sentimentil oleh Kusprihyanto Nam-ma dalam puisi “Sarangan”. Kusprih-yanto membawa nuansa ekologis juga dalam dua puisi lainnya yang berjudul “Kabut” dan “Suatu Siang”. Ada narasi pepohonan di lembah dan hutan, satwa yang membentuk citra alam penuh ke-damaian. Alam bukan semata metafora penghias baris dan bait puisi namunmenjadi entitas independen yang me-mancarkan aura naturalnya dan menjadi latar kisah manusia yang tengah memak-nai eksistensinya. Ketiga puisi Kusprihyanto secara tematis menjadi ‘penye-imbang’ fenomena degradasi lingkungan dalam puisi Azis Manna. Ada potret ling-kungan yang hancur berhias lumpur ka-rena pengeboran, kehancuran hutan ka-rena pembalakan liar, namun masih ada di belahan sana alam hijau yang mem-buat aku liris puisi ingin datang me-nikmati. Jika alam tenggelam oleh eks-ploitasi, manusia dan kebudayaan eko-logisnya akan lenyap.

Manusia meski mengklaim dirinya sebagai makluk superior, ter-nyata bergantung sekali de-ngan alam bahkan bersi-nergi dan berintergrasi dalam sebuah ekosistem baik secara biologis mau-pun secara simbolis, sebagaimana dalam puisi Nanang Suryadi “Aku Ingin Menangkap Ikan dari Ide yang Kering”. Sinergi yang dinarasikan nanang sebagai relasi mutual antara aku liris (persona dalam puisi) dengan entitas alam yang sebut Nanang, seperti ikan, daun-daun, air kolam, bunga, dan hujan. Ada dialektika ekosistem dalam puisi nanang yaitu ikan, pemikiran, sistem sosial dan manusia yang membentuk kesadaran proses kre-atif. Ikan adalah ikon dari tradisi bahari yang dulu melimpah dengan harga mu-rah di tanah air, namun begitu mahal dan sulit di dapatkan di berbagai negara Eropa.

Zawawi Imron menegaskan, tradisi pe-sisir dan budaya maritim dalam puisinya “Di Bawah Layar” yang menjadi bagian akhir dari antologi What’s Poetry?. Iden-titas ekologis di mana manusia Indonesia berusaha untuk menjadikan alam, samu-dra, sebagai sahabat dalam mengem-bangkan hidup sekaligus mengukir kenangan dan perjalanan terasa kuat da-lam puisi Zawawi. Aku liris dalam puisi ini adalah aku yang tak mengingkari ketergantungan dirinya dengan samudra dan alam luas. Jika cuaca dan iklim tak lagi bersahabat karena global warming maka nelayan jelas sulit menumpukan harapan. Relasi manusia dan alam ada-lah mutual. Dan Zawawi menunjukkan melalui persenyawaan dengan alam, manusia menembus dinding-dinding transendental, membangun refleksi eksistensi kemakhlukannya di tengah bentangan alam ciptaan Tuhan, berbantal ombak berselimut angin.

Perjalanan dengan perahu di samudra yang dilakukan oleh aku liris dalam puisi “Di Bawah Layar”, mulai dari Madura, teluk Ambon, pantai Jepara—laut Jawa, bandar Jakarta, Kalimantan, menegas-kan budaya maritim yang mengakar sejak lama dalam khasanah budaya Indonesia. Bahkan para pelaut handal Indonesia sejak dulu telah menaklukkan keganasan samudra Hindia dan Pasifik. Kemampuan manusia Indonesia dalam mengarungi laut disegani sejak lama, ketika kolonialis Eropa mulai merambah Indonesia. Melalui puisi Zawawi menggambarkan khasanah budaya bahari yang jika tidak dikembangkan dan re-vitalisasikan akan membuat Indonesia kehilangan salah satu akar dan tradisi budayanya.

*) Sastrawan dan Esais, tinggal di Malang