Puisi Kritik Kehidupan

Judul : SELENDANG BERENDA JINGGA
Penulis : Zulkarnain Siregar
Penerbit : Jejak Publishing, Yogjakarta 2011
Jenis : Sastra
Tebal : XXIX + 148
ISBN : 978.979.19552.4.9
Peresensi: Ali Soekardi
http://www.analisadaily.com/

DULU, seorang penyair akan merasa begitu gembira dan bahagia jika karya-karyanya (baik yang telah dipublikasi lewat media massa atau belum), dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku. Ya, semacam antologi puisi. Namun sekarang berkat kemajuan dan kecanggihan tehnologi di bidang komunikasi, atau lebih dikenal sebagai dunia maya, maka sarana publikasi karya sastra itu menjadi lebih banyak dan lebih luas penyebarannya yang berarti juga pembaca atau peminatnya bertambah banyak pula.

Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh penyair Zulkarnain Siregar. Penyair yang produktif ini telah menulis sekian banyak puisi yang semuanya dipublikasikannya lewat dunia maya, atau tepatnya lewat facebook. Ada sekitar limapuluhan puisi karyanya yang telah dipublikasikannya, dan kini telah lahir pula dalam bentuk buku yang diberinya judul Selendang Berenda Jingga (Himpunan Puisi Facebook).

Buku kumpulan puisi yang berjudul puitis ini (juga merupakan judul salahsatu puisinya-hal. 10) diberi prologue oleh Irwansyah Hasibuan dan pengamatan puisi oleh Antilan Purba (Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan), pengantar oleh MJA Nashir (penulis dan pejalan kaki) ser-ta epilogue oleh Prof.Dr.Ikhwanuddin Nasution,M,Si (Guru Besar pada Departemen sastra Fakultas Sastra USU Medan), terasa agak unik.

Apa itu – Setiap puisi yang ditulisnya dan disiarkan lewat facebook selalu disertai komentar pembacanya, dan ini semua dikutip dan dihadirkan dalam bukunya yang dicetak indah dengan cover berwarna kuning dan coklat yang menarik. Selama ini hal seperti ini belum pernah ada, kecuali resensi, atau juga komentar atau pembahasan oleh para kritikus sastra puisi atau prosa.

Penyair ini terasa begitu “mahir” bermain kata-kata. Namun bukan sekedar kata kosong, tapi kata yang dilahirkannya dalam bentuk puisi itu mempunyai makna tersendiri. Justru inilah yang menimbulkan kesulitan bagi pembacanya (apalagi yang awam) untuk bisa mengerti atau memahami maknanya dengan cepat.

Perlu berulang-ulang membacanya, menyerap dan merenungkannya, hingga timbul penafsiran yang tentu saja penafsiran pembaca yang satu akan berbeda dengan pembaca lainnya. Meskipun ada beberapa yang sebenarnya agak mudah untuk menemukan maknanya, seperti Euforia (84), Kalau Esok Masih Ada (13), atau Tak Lagi Jadi Elegi (133).

Jelas ini berbeda dengan karya-karya penyair Taufik Ismail, yang meskipun bermain kata-kata penuh makna dan kritik terhadap suasana dan lingkungan, masih teramat mudah untuk dimengerti oleh pembaca awam. Hal ini dikemukakan bukan untuk membanding, tapi masing-masing penyair itu mempunyai ciri dan kekuatan masing-masing yang saling berbeda dalam menyampaikan rasa hatinya.

Dan Zulkarnain Siregar dalam kumpulan Selendang Berenda Jingga ini ter-nyata mempunyai rasa hati yang beragam kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, pemberontakan, tapi juga rasa iman, cinta, gagasan, kerinduan, dan juga harapan.

Jika di negeri kita sekarang ini tumbuh perasaan tidak puas bahkan kecewa di hati rakyat melihat perkembangan situasi, rasa ketidakpercayaan terhadap bapak-bapak pemimpinnya yang dulu telah diberinya suara ketika Pemilu/Pilkada lewat Tak Lagi Jadi Elegi (buat capres dan cawapres RI) penyair telah mengingatkan yang antara lain katanya :

andaikan tuan-tuan dan nyonya terpilih
jangan sangka berutang ke luar negeri
sumber penyelesaian bencana
negeri berbagai pulau ini

sebab kami pun tak tau, untuk apa ?
yang kami tau hutan kami gundul
yang kami tau sawah kami jadi realestat
yang kami tau ladang kami jadi ruko
tanah bukan milik kami
bahkan diri kami pun
bukan milik kami lagi

Hati ini ikut sakit membacanya. Tapi jadi lebih terluka membaca Euforia yang menggambarkan kegeraman terhadap suasana yang selalu menuntut bebas lalu menodainya sendiri :

kemarin kaugugat kuasa
dan bebas kaujadikan perisai
demi vested interest

hari ini kelakuanmu semena-mena
kaugadai, tanah dan air ini
demi untuk kerajaanmu
di negeri orang

esok anarkimu menjadi-jadi
kaujual, seluruh isi negeri ini
agar kau bisa nyaman bersama makelar begundal

Itulah sekedar cuplikan dari begitu banyak puisi yang terkumpul dalam Himpunan Puisi Facebook Zulkarnain Siregar, Namun dari secuil cuplikan sudah sangat terasa kritik yang terkandung di dalamnya terhadap kehidupan kita berpemimpin, bernegara, dan bermasyarakat, bahkan juga mengenai lingkungan alamnya. Penyair menumpahkan kekesalan, kejengkelan dan kemarahannya, namun masih dalam susunan kata puisi yang wajar dan sopan.

Di sinilah terasa keutamaan penyair yang tidak calak mengumbar kata tapi mengena !

23 Nov 2011