Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.

Dalam bahasa Sasak Lombok, kata yang sama berarti waktu setelah salat asar menjelang magrib. Bagi penduduk etnis Sasak, sandekala diartikan sebagai titik rawan. Saat itu, semua orang, anak-anak dan dewasa harus menghentikan aktivitas sejenak untuk menyongsong waktu salat magrib dan mengaji. Malah, bayi tidak boleh dibawa ke luar rumah, agar tidak kerasukan makhluk gaib.

Kalau ditarik garis merahnya, semua berakhir pada masa jeda atau transisi, ketika siang baru saja beranjak, sementara hari belum menapaki malam.

Wawan membacanya sebagai sebuah semangat perlawanan, dengan empat tema besar, korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, persoalan lingkungan, dan kearifan lokal.

Wawan tidak sendiri menggarapnya. Dia bekerjasama dengan mainteater yang biasa menggarap teater kontemporer berbahasa Indonesia. Bahasa? Ya, Sandekala ditampilkan dalam dua bahasa, Sunda dan Indonesia.

Khusus di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, Sandekala menggunakan bahasa ibu dari penulisnya, Godi Suwarna, bahasa Sunda. Pementasan berlangsung dari Jumat (23/5) hingga Sabtu (24/5). Pementasan berbahasa Indonesia bakal berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada tanggal 22 hingga 23 Juli 2008.

Wawan mengaku tidak sengaja membeli novel karya Godi berjudul Sandekala, yang mendapatkan penghargaan Sastra Rancage 2008. “Temanya sangat menarik dan sangat kontektual. Peristiwa Mei 1998. Bukankah tahun ini persis sepuluh tahun reformasi,” ungkap dia.

Semuanya berawal dari kerakusan seorang camat yang memerintah dengan tangan besi di kawasan Kawali, Ciamis. Dia tidak segan-segan menyikat seluruh proyek yang ada di depannya, asalkan jelas pemasukan buat kantongnya sendiri. Malah, dia tidak menampik teguran dari Ki Kuncen soal penebangan di hutan keramat, Tabet.

Saking rakusnya, camat yang mengepalai beberapa tukang pukul ini juga meneror para tukang ojek. Setiap tukang ojek harus memberinya kutipan. Kalau tidak membayar bakal babak belur seperti Dadang.

Dewi, si anak camat tidak tahan dengan kelakuan bapaknya. Bermodalkan pengalaman unjukrasa ketika menjadi mahasiswa di kampusnya, dia bersama Pandu, kekasihnya yang berasal satu kampung melakukan perlawanan.

Mereka berdemonstrasi. Terlebih ketika camat tidak mau memindahkan pasar di alun-alun kota yang berdekatan dengan tempat ibadah. Masyarakat mulai gerah dan semakin berani. Akibatnya unjuk rasa semakin menjadi dan tidak terkontrol.

Kondisi ini digambarkan lewat potongan-potongan klip video dokumentasi unjukrasa di Jakarta, 10 tahun lalu. Desingan peluru, pemukulan oleh aparat, tangisan, dan korban kekerasan mendominasi.

Kekerasan demi kekerasan ini ternyata sudah bukan lagi dalam lingkup perintah camat, melainkan bupati. Para pengunjuk rasa yang bersembunyi di hutan keramat, dibinasakan semuanya.

Sunda Kuno

Menariknya, pementasan teater ini juga memasukkan unsur kearifan lokal dalam visualisasinya. Adapun yang diambil adalah aksara Sunda kuno dalam prasasti Astana Gede atau dikenal dengan sebutan prasasti Kawali.

Prasasti ini merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur dalam perang Bubat.

“Ini merupakan upaya kami untuk menghidupkan kembali budaya lokal yang selama ini dipinggirkan,” kata Wawan dalam pengantar sandiwaranya.

Pementasan teater Sandekala ini bekerja sama dengan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), ELSAM, INFID, Perkumpulan Praxis, Voice Of Human Right, Transparancy International Indonesia, Indonesian Corruption Watch, dan Wahana Lingkungan Hidup.

Sandekala bisa jadi punya arti baru lagi. Setidaknya dari pementasan itu, bisa menjadi motivasi untuk perjuangan gerakan antikorupsi.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/teater-sandekala-mei-1998.html