Sejarah, Gagasan di Balik Peristiwa

St Sularto
Kompas, 25 Okt 2008

Menjelang pengukuhan guru besarnya, Prof Dr Antonius Eddy Kristiyanto OFM (50), teringat sejumlah nama. Di antaranya Kardiyat Wiharyato, guru sejarah di SMP Kanisius Pakem, Sleman, Yogyakarta, serta Martinus Antonius Weselinus (MAW) Brouwer OFM, psikolog dan kolumnis yang menentukan masa depannya sebagai anggota Ordo Fratrum Minorum (OFM).

Pak Kardiyat menimbulkan minat saya studi sejarah. Pengetahuan ensiklopedisnya mampu mengaitkan peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya. Saat mengajar ia tak bawa buku, bercerita sepanjang jam pelajaran. Pengetahuannya amat komprehensif,” kata Eddy Kristiyanto OFM.

Mengenang Pak Kardiyat, baginya, berarti menghidupkan ingatan benih minat belajar sejarah sejak kelas I SMP Kanisius, Pakem. Mengenang awal-awal pendidikan menengah, berarti mengenang tingkah laku ”usil”.

Ia menyebut salah satu contoh. Setamat SMP, ia tak diterima di Seminari Menengah Mertoyudan karena saat tes malah mandi dengan menceburkan diri ke bak air. ”Padahal bak kamar mandinya bersambung, jadi airnya kotor semua.”

Tentang MAW Brouwer, Eddy bercerita, setamat SMA Seminari Menengah Stella Maris dan SMA Mardi Yuana Bogor tahun 1977, ia melamar ke OFM. Ketika tes psikologi, ia diminta menuangkan pemikirannya tentang perkawinan dalam gambar. Ia teringat ilustrasi GM Sudarta di buku kumpulan tulisan MAW Brouwer, Bapak Ibu Dengarlah!

”Saya gambar seorang ibu gendut di atas kereta dengan suaminya sebagai kuda. Saya tidak diterima,” katanya.

Eddy lalu ke Bandung menemui MAW Brouwer OFM. Ia menghadap Brouwer. ”Saat saya masuk ke kamarnya, dia sibuk mengetik. Tanpa melihat saya, dia bertanya, ’Kamu mau masuk fransiskan? Saya jawab, ya Pater. Sambil terus mengetik ia bilang, ya masuk sana.’ Beberapa hari kemudian saya menerima surat diterima sebagai calon fransiskan.”

Mengenai kecintaannya pada sejarah gereja, diawali saat ia diminta belajar Sejarah Gereja di Universitas Kepausan Gregoriana Roma, tahun 1989. ”Awalnya saya merasa cupet, bahasa Latin saya, bahasa resmi gereja yang berabad-abad dipertahankan, amat terbatas. Padahal, hampir semua sumber pertama ditulis dalam bahasa Latin,” katanya.

Hari Sabtu (25/10) ini, Dr Eddy Kristiyanto, Ketua STF Driyarkara ini, dikukuhkan sebagai guru besar bidang sejarah dengan orasi ilmiah Sejarah sebagai Locus Philosophicus et Theologicus di Kampus STF Driyarkara, Jakarta.

Tujuh tahun belajar di Roma dengan obyek penelitian disertasi di Jerman tentang ”uskup buruh” Wilhelm Emmanuel von Ketteler (1811-1877) mengkristalkan beberapa keyakinannya, antara lain bahwa belajar sejarah itu berbeda dengan belajar renang, misalnya. Mahasiswa yang tak belajar khusus ilmu sejarah, umumnya tak dibekali metode telaah historis. Ini perlu disiasati dengan pengetahuan komprehensif.

Tiadanya pengetahuan ini membuat orang tak mampu menghubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. ”Pendasaran metodologi perlu kuat. Kalau pengalaman eksistensial merupakan salah satu basis belajar sejarah, maka terjun langsung tak cukup. Perlu piranti untuk membedah dan menganalisis pengalaman.”

Belajar sejarah berarti memahami gagasan atau alam pikiran di balik peristiwa. Data historis itu penting dan bermanfaat, tergantung bagaimana menghidupkannya menjadi sejarah alam pikiran dan makna yang berkaitan dengan faktor sosial, politik, ekonomi, dan kultural.

Historiografi

Mirip pendekatan historiografi yang dipelopori Prof Sartono Kartodirdjo? ”Ya, belajar sejarah itu tak identik dengan mencatat dan menghafal data historis,” kata Eddy.

Meminjam istilah Frankle, teori-teori historiografis sudah menjadi bagian dari masyarakat Eropa. Belajar sejarah gereja Eropa berarti belajar sejarah Eropa.

”Saya mengambil Jerman untuk penelitian, karena Jerman itu sumber semua ilmu sosial keagamaan. Teori dan tokoh pemikir besar lahir dan tumbuh di sini. Ini termasuk pemikiran besar yang diadopsi dan memberi inspirasi teologi pembebasan di Amerika Latin.”

Lewat tokoh Uskup Von Ketteler, uskup kaum buruh yang hidup di abad ke-19 itu, Eddy memperoleh keyakinan tentang ilmu sejarah. Sejarah merupakan rekayasa pikiran sejarawan. Hal yang banyak diketahui sejarawan adalah masa lampau, sementara masa kini dan masa depan, relatif sedikit.

Kebenaran sejarah bersifat sementara. Ketika ditemukan data baru, seharusnya dilakukan koreksi dan interpretasi baru. Semakin banyak data dan bahan, semakin baik sejarawan melakukan interpretasi. Dalam arti, semakin obyektif dan semakin konvergen. Historiografi diperlukan untuk melengkapi data. Ini berarti sejarah membutuhkan ilmu-ilmu lain, seperti sosiologi.

Menyangkut pendidikan sejarah, mestilah dihapus rasa kekhawatiran. Biarkan anak-anak tahu seperti adanya. Sesuatu yang tak gampang diwujudkan dalam sebuah negara otoriter. Sebaliknya, di negara yang kurang otoriter, dengan proses pendewasaan yang lebih cepat, fakta historis bisa disampaikan lebih awal.

Konsep locus philosophicus et theologicus—proposisi judul pidatonya, kata Eddy, dipungut dari Melchior Cano (meninggal 1560). Locus tak sekadar berarti tempat, tetapi prinsip teologis. Locus sesungguhnya berasal dari pewahyuan, sedangkan ”tempat asing” dapat dikenali oleh kodrat insani. Maka, sejarah dengan akal budi dan otoritas filosofis merupakan locus atau sumber teologis dari teologi.

Tentang masalah obyektivitas sejarah, menurut dia, ada dua hal yang perlu dipertimbang- kan. Pertama, interpretasi sebagai bagian dalam menetapkan fakta historis. Kedua, tidak ada interpretasi yang mutlak obyektif.

Sejarawan diandaikan tahu sebenar-benarnya dan selengkapnya tentang fakta historis. Pengetahuan bermanfaat untuk melihat jati diri sekaligus bahan belajar masa kini dan masa depan.

Lalu, apa kunci agar obyektivitas sejarah bisa dipertanggungjawabkan? Ketika sejarawan taat dan konsisten pada prinsip-prinsip penelitian, di antaranya bisa mempertanggungjawabkannya sebagai kebenaran ilmiah, tak berat sebelah, dan bebas dari kepentingan non-ilmiah.

BIODATA
Nama: A Eddy Kristiyanto OFM
Lahir: Degolan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, DI Yogyakarta
Pendidikan:
– Sarjana Muda STF Driyarkara, 1982
– S-1 IKIP Sanata Dharma (sekarang Universitas Sanata Dharma), 1983
– S-2 Institut Filsafat Teologi St Paulus, Kentungan, Yogyakarta, 1986
– Doktor dari Universitas Gregoriana, Roma, 1996

Pekerjaan:
– Ditahbiskan sebagai pastor OFM, 1986
– Dosen di STF Driyarkara, sejak 1996
– Mengajar di FKIP Ilmu Teologi di Unika Atma Jaya, Jakarta, sejak 2006
– Anggota Komisi Teologi Konferensi Waligereja Indonesia, sejak 1998
– Anggota Office of Theological Concerns of FABC, Bangkok, sejak 2007

Karya buku antara lain:
– Gagasan yang Menjadi Peristiwa. Sketsa Sejarah Gereja Abad I-XV, Yogyakarta, Kanisius, 2002
– Visi Historis Komprehensif. Sebuah Pengantar, Yogyakarta, Kanisius, 2003
– Reformasi dari Dalam. Sejarah Gereja Zaman Modern, Yogyakarta, Kanisius, 2004
– Sakramen Politik. Mempertanggungjawabkan Memoria, Yogyakarta, Lamalera, 2008

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/10/sosok-sejarah-gagasan-di-balik.html