Si Lembut yang Melahirkan Gerakan Islam Kultural

Hartono Harimurti
http://www.suaramerdeka.com/

SUARA memang memengaruhi keterpilihan seseorang menjadi presiden. Tentunya pikiran kita langsung tertuju pada jumlah suara. Namun untuk Presiden AS yang termuda, John F Kennedy, ”suara enak”-lah yang lebih menentukan. Itu yang dikatakan Nurcholish Madjid saat bersilaturahmi dengan jajaran Redaksi Suara Merdeka di Kaligawe beberapa waktu lalu.

”Suara Kennedy yang bagus ikut menentukan keterpilihan dia menjadi presiden. Ini berdasarkan survei yang dilakukan majalah Time. Berdasarkan riset yang bisa dipertanggungjawabkan tentunya. Pemilih yang mayoritas perempuan terpesona terhadap gaya bicara Kennedy yang jelas lebih baik daripada Nixon,” kata pria kelahiran Mojoanyar, Jombang, 17 Maret 1939 tersebut.

Sikap Nurcholishh yang berani mengungkapkan pemikirannya -yang dirasa mendahului zamannya- memang sudah dibentuk sejak kecil. Ayahnya, KH Abdul Madjid, walaupun orang NU, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Menurut pengamatan Nurcholish, ayahnya tetap mendukung Masyumi karena ingin memegang teguh pesan KH Hasyim Asy’ari bahwa Partai Masyumilah yang bisa mewakili umat Islam.

Nurcholishh teringat kejadian masa kecilnya, saat masyarakat belum bisa menghormati perbedaan pendapat. Dia mengaku sering diejek sebagai anaknya orang Masyumi. Karena itu, dia akhirnya memutuskan pindah dari Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, ke Pondok Pesantren Darus Salam di Gontor, Ponorogo.

Selepas dari Gontor, Nurcholish melanjutkan studi di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Dia meraih sarjana Sastra Arab pada tahun 1968. Saat menjadi mahasiswa IAIN itulah Nurcholish bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Nurcholish bersama Sulastomo (Ketua Umum PB HMI saat itu), Mar’ie Muhammad, dan Ekky Syachruddin, dan lain-lain ikut merasakan ‘hari-hari panjang’ HMI pada tahun 1965-1966.

Setelah melewati berbagai suka-duka bersama HMI pada saat-saat genting, Nurcholish akhirnya dipilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI pada tahun 1966. Karena dinilai membawa kemajuan yang berarti bagi HMI, untuk kali kedua Nurcholish terpilih untuk jabatan yang sama pada tahun 1969.

Pada tahun 1970-an Nurcholish terkenal dengan gagasannya ”Islam Yes Partai Islam No”. Gagasan yang kemudian melahirkan gerakan Islam secara kultural tersebut berawal dari keprihatinan. Karena pada masa itu, seakan-akan banyak orang yang merasa tidak pantas menyebut dirinya Islam kalau mereka bukan anggota partai Islam.

Padahal, di sisi lain banyak juga oknum Partai Islam yang ternyata perilaku politiknya dan kesehariannya memprihatinkan.

”Jadi, kalau Islam harus identik dengan partai Islam, maka yang rugi adalah Islam itu sendiri. Islam terasa eksklusif, padahal mestinya rahmatan lil alamin,” kata alumnus Universitas Chicago, Illinois, AS, 1984 (PhD Islamic Thought dengan disertasi tentang filsafat dan kalam Ibnu Taimiyah).

Saat negara genting menjelang pelengseran Soeharto, Nurcholishh dan beberapa tokoh masyarakat lain dipanggil ke Istana.

Nurcholishh bersama tokoh-tokoh lain menjadi sosok yang berperan di balik pengunduran diri Soeharto. Karena secara jujur berani mengatakan kepada Soeharto bahwa mengundurkan diri adalah alternatif terbaik.

”Dalam pertemuan itu, saya mengatakan bahwa kami datang berdasarkan perhitungan detik per detik. Bukan lagi menit per menit. Dan pada detik terakhir sebagian besar rakyat Indonesia meminta Pak Harto untuk mundur,” kata Dosen IAIN Syarif Hidayatullah sejak 1972 hingga kini tersebut.

Cak Nur mengaku, dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto tidak banyak terjadi dialog. Sehingga saat Presiden menyatakan gagasannya membentuk Komite Reformasi tidak ada kesempatan yang cukup buat beradu argumentasi karena mereka yang diundang memang bukan dalam posisi untuk mengatakan ya atau tidak. Namun akhirnya Presiden Soeharto bersedia menyatakan pengunduran dirinya.

Nurcholish juga aktif menulis. Buku-buku karyanya selalu menjadi best seller seperti Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang/Obor, 1984) dan Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan, suntingan Agus Edy Santoso (Bandung, Mizan, 1988)

Sejak 1986, dia dan kawan-kawannya mendirikan dan memimpin Yayasan Wakaf Paramadina, dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada gerakan intelektual Islam di Indonesia. Sejak 1991 menjabat Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Kini menjadi Rektor Universitas Paramadina.

/4 Mei 2003