SUMBANGAN ACEH BAGI BAHASA MELAYU DAN INDONESIA *

T.A. Sakti **
Serambi Indonesia, 21 Agu 2008

Bahasa Melayu merupakan akar utama dari bahasa Indonesia. Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa diperkaya sehingga ia semakin mantap berperan di seluruh Nusantara, Bahasa Melayu masih dapat dilacak jejaknya mulai abad ke-7 masa kerajaan Sriwijaya berupa prasasti-prasasti yang menggunakan bahasa Melayu kuno, seperti prasasti Kedukan Bukit (tahun 683 M), Talang Tuo (tahun 684), dan lain-lain.

Seiring dengan timbul-tenggelamnya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan datangnya penjajahan asing; bahasa Melayu pun mendapat predikat yang berbeda-beda dalam perkembangannya; seperti bahasa Melayu Pasai, bahasa Melayu Melaka, bahasa Melayu Johor, bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Balai Pustaka, dan bahasa Nasional Indonesia.

Bahasa Melayu Pasai berkembang pada masa Kerajaan Samudera Pasai (1250-1524M). Kerajaan ini amat berperan dalam penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara seperti Melaka dan Jawa. Bersamaan dengan berkembangnya agama Islam itu tersebar pula bahasa Melayu Pasai di daerah wilayah tersebut melalui kitab-kitab pelajaran agama Islam yang menggunakan bahasa Melayu Pasai sebagai pengantarnya.

Kerajaan Samudera Pasai berhubungan akrab dengan Kerajaan Melaka. Perkawinan antara Sultan Melaka Iskandar Syah dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Samudera Pasai semakin mempererat hubungan kedua Negara itu. Sultan Samudera juga telah mengutus dua orang ulama ke pulau Jawa untuk mengembangkan agama Islam. Berkat dakwah Islam yang dilakukan oleh Maulana Ishak-lah, maka agama Islam berkembang di Gresik, dan seterusnya menyebar ke seluruh pulau Jawa. Karena berperan sebagai pendakwah pertama itulah sehingga Maulana Ishak bergelar Syekh Awwalul Islam.

Sebutan istilah “bahasa Melayu” merupakan kebiasaan baru di abad ke-18. Pada abad keenam belas dan tujuh belas penyebutan bahasa Melayu dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”, karena bahasa itu ditulis dalam huruf jawi, yakni huruf yang telah disesuaikan dengan ucapan lidah masyarakat Nusantara. Sementara “Jawi” ialah sebutan orang-orang Arab di masa itu untuk negeri-negeri di wilayah Nusantara – Asia Tenggara.

Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis dengan bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai merupakan bukti amat kuat untuk mengenal bentuk asli bahasa Jawi Pasai itu. Namun, naskah satu-satunya dari Hikayat Raja-raja Pasai yang terwariskan kepada kita hari ini bukanlah dijumpai di Aceh, melainkan di pulau Jawa. Naskah itu kepunyaan Kiai Suradimenggala, Bupati Sepuh di Demak, daerah Bogor yang selesai disalin tahun 1235 H atau 1819 M.

Keberadaan naskah satu-satunya Hikayat Raja-raja Pasai di pulau Jawa merupakan salah satu bukti pula, bahwa masyarakat Jawa masa itu telah mengenal bahasa Melayu Pasai dengan baik, sehingga mereka dapat menikmati kisah-kisah dalam Hikayat Raja-raja Pasai itu.

Menurut Dr. Muhammad Gade Ismail dalam satu tulisannya mengatakan, adanya hubungan antara Kerajaan Samudera-Pasai dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara seperti pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Lombok dan Sumbawa dapat ditelusuri dengan adanya kesenian batu nisan yang terdapat di Pasai dengan daerah-daerah tersebut di atas. Melalui perhubungan antara berbagai wilayah itulah bahasa Melayu Pasai secara perlahan-lahan berkembang menjadi “bahasa lingua franca” atau bahasa ilmu dan perdagangan.

Bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai juga menjadi salah satu bahasa resmi Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini antara lain dapat dibuktikan melalui pengantar Kitab Miraatut Thullab karya Syekh Abdurrauf Syiah Kuala. Tentang hal ini Syekh Abdurrauf berkata: “Maka bahwa sanya adalah hadlarat yang Mahamulia (Paduka Sri Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah) itu telah bersabda kepadaku daripada sangat lebai akan agama Rasulullah, bahwa kukarang baginya sebuah kitab dengan bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai yang muhtaj (diperlukan) kepadanya orang yang menjabat jabatan qadli pada pekerjaan hukum daripada segala hukum syarak Allah yang muktamad pada segala ulama yang dibangsakan kepada Imam Syafi’i radliallahu ‘anhu”.

Dalam masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam, wilayah ini banyak melahirkan ulama dan pengarang yang sebagian karya-karya mereka masih ditemui hingga hari ini. Namun, ada empat ulama-pujangga yang paling terkenal yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Ar-Raninry dan Abdurrauf As-Singkili. Diantara karangan Hamzah Fansuri ialah: Syair Burung Pingai, Syair Burung Pungguk, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Sementara karya yang berbentuk prosa antara lain Asrarul Arifin.

Tokoh ulama dan ilmuan lainnya yang amat terkenal adalah Nurudin Ar-Raniry meski hanya menetap selama tujuh tahun (1047 H/1637 M – 1054 H/1644 M), peranan syekh Nuruddin Ar-Raniry di Aceh cukup besar, ia menulis 29 kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Karya-karyanya antara lain Bustanus Salatin, Sirathal Mustaqim, Hidayatul Habib, Khaifiatus salat, Babul Nikah, yang terakhir ini, bersama kitab Sirathal Mustaqim dikirimkan sendiri oleh Ar-raniry ke Kedah (sekarang di Malaysia) pada akhir tahun 1050 H/1640 M. diantara murid Nuruddin Ar-Raniry yang kemudian paling menonjol di Nusantara adalah Syekh Yusuf Al-Maqassari, seorang ulama besar Sulawesi Selatan, yang juga berperan di Banten (Jawa) dan Afrika Selatan.

Tentang peranan Nuruddin Ar-Raniri dalam mengembangkan bahasa Melayu, Dr. Azyumardi Azra menulis sebagai berikut : “Tidak kalah penting adalah peranan Nuruddin Ar-Raniri dalam mendorong lebih jauh perkembangan bahasa Melayu sebagai Lingua Franca di wilayah melayu Indonesia. Dia bahkan diklaim sebagai salah seorang pujangga Melayu pertama. Meski bahasa ibu Ar-Raniri bukanlah Melayu, penguasaannya atas bahasa ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Seorang ahli bahasa Melayu –Indonesia menyatakan, bahasa Melayu Klasik al-Raniri tidak menunjukkan kekakuan yang sering terlihat dalam bahasa Melayu praklasik. Dengan demikian karya-karya Ar-Raniri dalam bahasa Melayu juga dianggap sebagai karya-karya sastra dan, sebab itu, memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Perkembangan bahasa Melayu Jawi sejak Kerajaan Samudera Pasai sampai saat berdiri negara Nasional Republik Indonesia tentu telah melewati waktu yang berabad-abad lamanya. Dr. Teuku Iskandar mengatakan :”Kesusteraan Melayu yang dimulai di Kerajaan Pasai dan dilanjutkan di Kerajaan Aceh berkembang selama lebih dari enam ratus lima puluh tahun, dan berpengaruh sampai sekarang.

Dalam hal itu, Syed Muhammad Naquib al-Attas antara lain mengatakan, bahwa pengaruh jejak ke penyairan Hamzah Fansuri terus berlanjut hingga abad ke-20. Kesimpulan itu diakui oleh seorang ahli tentang Hamzah Fansuri (Hamzah Fansurilog), yakni Abdul Hadi W.M. ia berpendapat, pengaruh Hamzah Fansuri terlihat pada beberapa karya penyair “Pujangga Baru” seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Bagi Sanusi Pane pengaruh itu nampak pada sajaknya “Dibawa Gelombang”, sedangkan untuk Amir Hamzah terlihat dalam sajak yang berjudul “Sebab Dikau”.

Selain Sanusi Pane dan Amir Hamzah, masih banyak pula para penyair “Angkatan Pujangga Baru” yang terpengaruh dengan sastra sufi yang bersumber dari aliran Tasawul Hamzah Fansuri, diantara mereka adalah Hamka, Ali Hasjmy, Asmara Hadi, OE Mandank, Yoesoef Sou’yb dan Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam kajian Abdul Hadi W.M lainnya pada periode 1970-an juga didapati, bahwa aliran tasawuf Hamzah Fansuri terus berpengaruh kepada beberapa penyair masa itu, bahkan hingga masa kini, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Acep Zamzami Noor dan Ahmadun Y Herfanda.

**) Penulis adalah budayawan dan peminat Sastra Melayu dan Indonesia, tinggal di Banda Aceh.
*) Artikel ini saya tulis dalam rangka menyambut “Pekan Peradaban Melayu Raya, Banda Aceh, 20 – 25 Agustus 2008.

Dijumput dari: http://tambeh.wordpress.com/2012/04/14/sumbangan-aceh-bagi-bahasa-melayu-dan-bahasa-nasional-indonesia/