Tamu Istimewa

Renny Meita Widjajanti
http://www.suarakarya-online.com/

SEMUANYA berkelebat bagai putaran seluloid. Bayangan sosok perempuan itu datang kembali memenuhi benak saya. Bibirnya yang selalu dihiasi dengan senyuman, membuat saya terkesan hingga saya tak mudah melupakan. Tiba-tiba dada saya terasa sesak, sulit bernafas. Mata saya pun terasa perih dan berair. Setiap malam saya sulit memejamkan mata. Pikiran saya selalu terbayang akan dirinya.

Perempuan itu akan tersenyum setiapkali saya memandangnya dan saya balas senyumnya dengan hati bergetar. Kadang saya tak berani menatapnya. Saya terpana. Saya cepat-cepat membungkus nasi, membubuhinya dengan tempe atau tahu goreng, sambal, dan sedikit kuah. Perempuan itu tersenyum lagi begitu menerima nasi bungkus. Mengangguk sebagai ucapan terima kasih, lalu pergi entah ke mana. Saya ikuti langkah kakinya yang tenang sampai menghilang di belokan.

Perempuan itu selalu singgah di warung nasi saya. Senyumnya bisa membuat saya melamun, sampai saya pernah disadarkan oleh pembeli lain yang datang.

“Sudah rutin, ya, perempuan itu minta makan di sini?” Sering langganan warung saya bertanya seperti itu. Saya mengangguk.

Saya memang terkesan dengan senyumnya itu. Senyum yang jujur dan dalam penuh makna. Senyum yang diam-diam saya rindukan dari semua orang. Senyum yang tidak pernah saya dapatkan selama empat puluh tahun lebih dalam kerutinan hidup. Tapi begitu saya mendapatkannya dari perempuan itu, kadang saya malah tidak bisa menikmatinya secara penuh. Hati saya selalu berdebar dan kalau memandang matanya yang sejuk itu, membuat pandangan mata saya menjadi perih.

“Kamu ini aneh. Masak melihat senyum saja kok sampai begitu,” kata suami saya ketika saya menceritakan kepadanya suatu malam saat akan berangkat tidur. “Saya tidak bohong. Rasanya bahagia melihat senyum itu. Tapi, juga ada perasaan sedih. Entah oleh sebab apa,” jawab saya. Suami saya hanya memandang saya erat-erat. Mungkin heran dengan cerita saya itu. Saya hanya bisa tersenyum, tidak melanjutkan cerita lagi, karena suami saya telah terlelap.

Perempuan itu rutin datang ke warung saya selepas maghrib, saat pembeli tidak banyak. Dia selalu berdiri di pinggir pintu sebelah depan warung, berjarak tiga-empat meter dari lemari kaca tempat dagangan saya jajakan. Kadang, kalaupun pembantu saya lebih awal memergoki kedatangannya, pembantu saya akan segera bilang kepada saya. Saya memamg telah berpesan kepada pembantu saya seperti itu. Saya ingin tiap hari membungkuskan nasi buatnya. Saya selalu berharap kedatangannya, saya selalu merindukan senyumnya. Senyum yang sudah jarang saya dapatkan selama ini. Perempuan itu seperti telah menjadi tamu istimewa dalam kehidupan saya.

* * *

Seperti di kota-kota lain, di kota saya saat ini juga semakin banyak pengemis dan pengamen. Para pengamen memenuhi bus kota dan perempatan jalan.

Tidak peduli suaranya memenuhi standart atau tidak. Saya pernah melihat ada yang masih balita membawa kecrekan – alat musik sederhana para pengamen yang mengeluarkan bunyi creek.. creek.. creek -, dan menyanyi dengan suara cadel. Para pengemis makin berlomba menjual kesedihan dengan memamerkan cacat dan bayi yang menangis kepanasan. Udara kota memang makin menggerahkan, bernapaspun serasa semakin sesak. Dan kerja keras dan keuletan bekerja tidak membuat penghasilan bertambah. Begitupun penghasilan saya dari usaha warung nasi yang saya kelola. Tidak banyak sisa keuntungan dari hasil warung nasi saya. Tiap malam, saat menghitung penghasilan, saya selalu berkerut kening, kesulitan memisah-misah untuk belanja esok hari, menyimpan buat upah pembantu, untuk sewa tempat, bayar listrik, dan lain-lain. Tidak banyak sisanya. Ah, tapi ini mungkin problem warung nasi kecil seperti yang saya kelola.

Untuk kafe-kafe yang semakin menjamur dan harganya mahal itu, mungkin saja tidak ada masalah seperti ini. Pelanggan saya hanya orang-orang susah dan para pekerja rendahan yang sehari-harinya tidak membawa uang banyak. Sopir taksi, tukang becak, tukang ojek, tukang bakso keliling, pelayan toko, kuli bangunan, mahasiswa yang cekak kirimannya dan pegawai kecil.

Mereka makan telah terjatah, hanya mampu mengeluarkan uang tidak lebih dari lima ribu rupiah untuk sepiring nasi dan segelas teh tawar. Saya membuka warung nasi, memang sambil berniat untuk berbagi kepada orang-orang kecil yang uangnya pas-pasan. Setiap hari ada juga pengemis yang rutin mampir di warung nasi saya.

Memang tidak semua pengemis meminta jatah makan. Mungkin yang kalah bersaing saat mengemis yang melakukannya. Dan di saat sulit mencari uang seperti ini, saat pengeluaran harus diperketat, tapi demi mereka yang membutuhkan makan, pemberian jatah sedikit makan untuk gelandangan, tidak saya kurangi, malah justru ditambah karena jumlah mereka semakin bertambah.

Tidak ada yang saya harapkan dari tiga-empat pengemis yang tiap harinya saya beri sedikit nasi dan lauknya itu. Mereka tidak punya apa-apa. Bagaimana mengharap bayaran dari orang yang tidak punya? Mereka yang tiap lepas magrib mampir itu memang tidak pernah bicara. Tapi mata mereka sudah merupakan jutaan kalimat yang mengharukan dan meminta pengertian. Mereka menatap makanan yang terpajang di dalam kaca, sampai saya atau siapa saja yang menunggu warung memergokinya dan membungkuskan nasi plus lauknya.

Hanya kepada perempuan yang usianya tak lebih dari tigapuluh tahun, yang walau tampak kotor bajunya tapi wajahnya masih tampak ayu ini, saya mengharapkan sesuatu. Saya menginginkan sebuah senyum tulus darinya. Senyum yang selalu membuat saya bergetar, menangis, dan bersedih. Dan perempuan itu memang selalu tersenyum tiap mampir di depan warung saya. Seperti pengemis lainnya, perempuan itu juga tidak pernah bicara. Tapi lewat tatapan matanya dan senyumnya kami sering berdialog. Kami membicarakan banyak hal. Saling mengadu. Dari tiap pertemuan, saya memunguti kisah hidupnya, menyusunnya bersama jadi perhiasan tak ternilai bagi saya.

“Saya bahagia hidup seperti ini,” bisiknya sekali waktu. Saya mengangguk dan tersenyum tanda memahami. Saya pun membayangkan perjalanan seorang perempuan yang bertahun-tahun ditinggal pergi suaminya entah ke mana. Dia datang ke kota saya karena bingung. Di desa tiap orang membicarakannya. Dengan berbekal ijazah sekolah menengah dia menjalani hidupnya, melawan ketidakberdayaannya.

Tubuhnya memang tidak sempurna untuk jadi seorang model. Walau pakaiannya nampak lusuh, kotor, tapi wajahnya yang jernih cukup menarik perhatian setiap orang. Perhiasan keperempuannya menghiasi wajahnya dengan sempurna. Alisnya yang hitam, matanya yang tajam, hidung dan bibirnya yang indah, sudah barang tentu akan membuat para lelaki hidung belang gatal menggodanya. Saat menjadi karyawan sebuah swalayan, banyak lelaki menggodanya. Dari teman kerja, sampai pengunjung swalayan selalu menggodanya. Tapi dia tahu semuanya iseng. Dia mau kalau ada laki-laki yang serius menikahinya. Tapi siapa yang mau serius dengan perempuan pengemis seperti dia, kalau tidak hanya ingin iseng untuk mempermainkan dan sekedar untuk melampiaskan syahwat saja?

Di jaman seperti ini sulit untuk mempercayai orang. Setelah swalayan tempatnya bekerja tutup, bangkrut, bersama ratusan karyawan lainnya dia kehilangan pekerjaan tanpa pesangon.

Mulailah dia menjalani hidup yang tragis. Ia mengerjakan apa saja, seperti mencuci dan membantu memasak di tempat orang. Tapi itu tak cukup untuk hidup sederhana dan menyewa kamar kos. Banyak memang kenalannya menawari kerja di tempat hiburan atau kafe. Tapi semua itu mesti dibarengi dengan tambahan servis genit sampai memenuhi ajakan kencan. Dia tak mau melakukan itu. Dia melawan kesombongan sebuah kota. Sampai nasibnya berubah tragis ketika tiga orang pengunjung tempatnya bekerja di karoke, pekerjaan yang akhirnya dia terima dengan keterpaksaan menipu dengan membawanya ke sebuah rumah, dan memperkosanya.

“Tapi saya bahagia,” kata perempuan itu, yang meninggalkan pemerkosanya begitu saja, tidak mengambil uang yang diberikan kepadanya. “Saya bahagia bisa menolak siapa pun yang mengajak untuk menjual diri. Saya menikmati hidup, meski kenalan saya bilang saya sok dan kolot,” lanjut perempuan itu, yang kemudian menggelandang di jalanan dan diperkosa berkali-kali. “Saya sudah melawannya. Saya tidak merasa kalah. Saya bahagia.”

Semakin hari saya dengan perempuan gelandangan itu makin akrab. Meski waktu bertemu hanya beberapa menit, tapi kami berdialog makin panjang. Kami sama-sama yakin bahwa kebahagiaan ada dalam prinsip hidup, bukan pada lahiriah yang kita hasilkan. Karena itu, ketika banyak yang menyarankan agar warung saya diubah menjadi kafe dengan penunggu wanita-wanita muda dan cantik, saya menolaknya, meski akan jauh menguntungkan dan menghasilkan uang banyak.

“Dengan semakin bertambahnya umur, saya hanya ingin merasakan makna bahagia dan keindahan bersyukur seperti yang ada di dalam senyuman perempuan gelandangan itu,” kata hati saya. Memang tiap orang yang mendengar alasan saya, termasuk suami saya, sulit mengerti.

Berkali-kali saya menerangkannya, tapi mereka tetap tidak mampu memahami arti senyum keikhlasan yang saya dapatkan dari perempuan pengemis yang kini telah tiada itu. Beberapa hari lalu, jasadnya dalam keadaan yang menggenaskan, ditemukan di gudang kosong tidak jauh dari warung nasi saya. Perempuan itu telah meninggal dengan membawa senyumnya. Entah dibunuh oleh siapa. Masih dalam penyelidikan polisi. Saya berduka. Sekarang senyuman itu telah tiada dan mungkin akan sulit saya temukan lagi. Di jaman sekarang, senyum memang sudah langka. ***

* Yogyakarta, Oktober 2011