“Terbunuhnya” Kultur Tatap Muka

Indra Tranggono *
Kompas, 29 Maret 2009

SETIDAKNYA sejak era 1980-an, tanpa sadar, ”kita” menyelenggarakan ”perkabungan” kebudayaan atas ”terbunuhnya” kultur tatap muka. ”Kita” makin kesulitan untuk bertemu, berdialog secara intens, saling menyelami batin, mencium bau keringat, dan mengenali kemanusiaan dalam sebuah ruang sosial yang kondusif. ”Kita” mengalami keterasingan: kesendirian pun telah mengkristal menjadi kesunyian.

Dulu, kita bisa bareng-bareng nonton ketoprak, ludruk kelilingan, atau jenis kesenian tradisional lainnya yang manggung di desa atau kota kita. Tapi, di manakah mereka sekarang? Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta kesenian tradisional yang mobile tinggal satu-dua atau bahkan punah. Sementara panggung-panggung Ramayana atau wayang orang makin jauh dari tepuk sorak atau ingar-bingar penonton. Para pemain menggigil dibalut kemiskinan yang mencemaskan.

Begitu juga bioskop-bioskop di kota-kota kecil maupun pinggiran. Sejak era sinepleks menguasai pasar, mereka makin ditinggalkan penontonnya dan akhirnya bernasib tragis: gulung tikar. Ada satu dua bioskop yang masih bertahan, tetapi mereka hanya menunggu dijemput maut. Nasib yang sama juga dialami banyak sinepleks, kecuali yang ada di kota-kota besar, seperti Jakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya.

Dulu, di berbagai kota muncul banyak lingkaran studi (diskusi) yang mampu melahirkan kesadaran kritis atau wacana-wacana yang membuat benak kita penuh sesak pengetahuan. Dari lingkaran diskusi kecil ini lahir banyak tokoh muda, yang kini eksis di berbagai bidang. Kini, mungkin lingkaran diskusi itu masih ada meskipun jumlahnya menyusut tajam.

Paparan contoh di atas hanyalah sebagian (kecil) dari ”matinya” seni pertunjukan, yang tentu juga terjadi di kota-kota lain di negeri ini. Kita melihat kenyataan, bukan hanya kesenian yang sepi, tapi juga forum-forum diskusi dan kegiatan sosiokultural lainnya yang dianggap tidak memiliki ”nilai guna”.

Semula kita menyangka: kematian mereka hanya karena dibunuh kapitalisme yang menghadirkan siaran televisi di ruang tamu atau hal-hal lain yang memberi kenyamanan dan mudah dijangkau. Hal itu benar. Kapitalisme memang punya tabiat rakus dalam melipatgandakan modal untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Ia tidak mau peduli dan berbagi dengan nasib pihak-pihak lain yang juga punya hak hidup. Prinsipnya: survival of the fittest. Hanya yang kuat dan berkuasa yang mampu bertahan.

Matinya jenis kesenian atau tontonan yang live ternyata bukan hanya disebabkan perang modal dari ”kapitalis” (juragan) kecil melawan kapitalis raksasa. Begitu juga dengan ”matinya” forum-forum sosiokultural. Ada hal yang jauh lebih mendasar: ”terbunuhnya” kultur tatap muka dalam masyarakat.

Pragmatisme

Kultur tatap muka tentu tidak sesederhana ”pertemuan saling menatap wajah”, melainkan sebuah budaya bercorak komunal yang menganggap penting kebersamaan untuk menciptakan solidaritas sosial dan merawat nilai-nilai kemanusiaan. Di dalam kebersamaan itu, pada hakikatnya, setiap individu memperkuat ikatan sosialnya sekaligus meneguhkan bahwa masing-masing orang merupakan bagian integral dari masyarakat atau komunitas. Di sini, setiap individu melakukan pemaknaan sosial, baik yang terkait dengan diri sendiri maupun terkait dengan orang lain. Selain itu, setiap individu juga melakukan pemaknaan kultural: mereka melakukan konfirmasi dan peneguhan (istilah Umar Kayam) atas nilai-nilai ideal kehidupan yang disepakti bersama.

Siapakah pembunuh kultur tatap muka? Kita bisa mengajukan pragmatisme, sebagai terdakwa.

Menurut budayawan Kuntowijoyo, pragmatisme berasal dari bahasa latin pragmaticus: praktis, aktif, sibuk; bahasa Yunani pragma berarti bisnis. Filsafat pragmatisme tumbuh di Amerika; ditumbuhkan William James (1842-1910) melalui buku Pragmatism. Pokok ajaran (kebenaran pragmatisme) ini adalah sebuah kepercayaan itu dinilai benar jika berguna. Ukuran dari kebenaran ialah apakah suatu kepercayaan dapat mengantarkan orang kepada tujuan. Pragmatisme menolak pandangan tentang kebenaran kaum rasionalis dan idealis, yang dianggap tidak berguna dalam kehidupan praktis (Kuntowijoyo : 2005).

Pragmatisme menemukan ruang aktualisasi yang luas bersama dengan semakin menguatnya kapitalisme. Kata-kata kunci dalam kapitalisme adalah: praktis, pragmatis, efektif, dan efisien. Ketika semua orang tanpa reserve mengimani materialisme, maka ”nilai guna” (yang disodorkan pragmatisme) menjadi pilihan paripurna. Kepentingan-kepentingan jangka pendek menjadi pilihan yang harus diambil untuk survive. Akhirnya, apa pun dilakukan demi perolehan yang dicapai secara instan itu. Segala hal yang tidak ”cepat saji” atau ”cepat raup” ditolak tanpa permisi dan basa-basi.

Di mata pragmatisme, kultur tatap muka dianggap bukan sebagai ”kebenaran” karena tidak memiliki guna (mendatangkan hasil secara langsung). Prinsip orang, kudu mikolehi (harus mendapat hasil konkret atau keuntungan secara cepat raup), bertabrakan dengan prinsip-prinsip kulural dalam budaya tatap muka: perawatan atau pengukuhan nilai, solidaritas sosial dan lainnya. Bagi orang pragmatis, nilai-nilai itu terlalu abstrak dan ”tidak bisa dimasak menjadi nasi” (orang Jawa bilang, ora bisa diliwet).

Kapitalisme bergandengan tangan dengan pragmatisme telah sukses ”mengubur” idealisme secara hidup-hidup. Ini terbukti, pragmatisme laku di mana-mana: ya di bidang politik, ya agama, ya budaya, ya kesenian, ya hukum, ya ekonomi, ya pendidikan. Komplet. Akibatnya, terjadi humanisasi karena kekuatan modal beroperasi tanpa kontrol, termasuk kontrol dari negara. Bahkan, negara cenderung berposisi sebagai ”panitia pasar bebas” yang diciptakan dan dibangun kapitalisme.

Kultur tatap muka, yang salah satu tujuannya adalah merawat kemanusiaan dari bahaya robotisasi manusia yang diciptakan industrialisme juga makin tenggelam ke dasar degradasi manusia. Dalam setiap pertemuan yang cenderung muncul bukan manusia, melainkan aktor-aktor bernama fungsi alias guna. Manusia cenderung tereduksi menjadi sekadar fungsi di berbagai bidang kehidupan. Siapa pun yang berupaya merebut kemanusiaannya, mereka akan dicap sok idealis, keras kepala, tidak realistis, jadul (zaman dulu, kuno) dan olok-olok lain. Mungkin masyarakat sekarang tidak lagi butuh budaya tatap muka, melainkan tatap fungsi, tatap guna, tatap hasil, tatap upah.

* Indra Tranggono, Cerpenis, Tinggal di Yogyakarta
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/03/kebudayaan-terbunuhnya-kultur-tatap.html