W. S. Rendra dan Dami N. Toda dalam Kenangan

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende) 5-7 Agus 2010

W. S. Rendra dan Dami N. Toda adalah tokoh besar dalam sastra Indonesia modern. Rendra adalah sastrawan besar dengan spesifikasi menonjol sebagai penyair dan dramawan, sedangkan Dami N. Toda adalah sastrawan besar dengan spesifikasi menonjol sebagai kritikus sastra. Selain dikenal luas sebagai sastrawan Indonesia, Dami N. Toda adalah juga sastrawan NTT, kelahiran Desa Todo-Pongkor, Kabupaten Manggarai, Flore, NTT pada 29 September 1942.

Kedua tokoh besar dalam sastra ini telah meninggal dunia. W. S. Rendra meninggal pada 6 Agustus 2009 di Jakarta, sedangkan Dami N. Toda meninggal pada 10 November 2006 di Hamburg, Jerman. Keduanya berteman akrab sejak mengikuti pendidikan dan meniti karier di Yogyakarta tahun 1960-an, berlanjut di Jakarta tahun 1970-an.

Meskipun Dami kemudian bermukim di Jerman sejak 1980, menjadi dosen bahasa dan sastra Indonesia pada Lembaga Studi-Studi Indonesia dan Pasifik, Universitas Hamburg, Jerman, hubungan keduanya tetap terjaga. Latar belakang hubungan akrab itulah yang membuat Rendra datang di NTT/Flores pada 15-19 Oktober 2007, ikut mengantarkan “abu jenazah” almarhun Dami N. Toda ke Ruteng, Kabupaten Manggarai terus Desa Todo-Pongkor, tempat abu jenazah almarhum Dami N. Toda disemayamkan.

Artikel ini disusun untuk mengenang kedua tokoh besar di bidang sastra ini sekaligus menunjukkan hubungan akrab keduanya, baik hubungan pribadi maupun hubungan dalam berkarya sastra. Artikel berseri ini merupakan penyempurnaan artikel saya yang pernah dimuat berseri pada harian Flores Pos (terbitan Ende, Flores, NTT) pada tahun 2010 yang lalu.

Sastrawan Rendra datang ke NTT/Manggarai bersama istri Dami dan dua orang anaknya, mantan Gubernur NTT Ben Mboi, anggota DPR RI Benny K. Harman, serta sejumlah anggota keluarga. Dari Jakarta ke Kupang, lalu ke Ruteng, terus ke Todo-Pongkor, Manggarai. Di Todo-Pongkor, tempat kelahiran Dami Toda, abu jenazah kritikus sastra berbobot ini disemayamkan. Di Todo-Pongkor pun Rendra didaulat menjadi “Keraeng” (warga terhormat) dalam suku Todo-Pongkor, Manggarai.

Penyair Rendra mengikuti seluruh rangkaian prosesi abu jenazah teman dekatnya ini. Di Kupang dan Ruteng penyair ini membacakan sajak “Jalan Alam, Jalan Budaya, dan Jalan Manusia” yang secara khusus dipersembahkan untuk “menghormati” kritikus sastra Dami N. Toda. Di Ruteng, Rendra yang pada tahun 1960-an mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan tahun 1985 pindah ke Depok, Jawa Barat, dengan nama Bengkel Teater Rendra, ini juga memberi kesaksian dalam “Forum Lonto Leok” di Ruteng tentang kehebatan Dami dalam dunia pergulatan dan panggung sastra Indonesia modern (Pos Kupang, 12, 16, 19, 21 Oktober 2007; dan Flores Pos, 16, 19 Oktober 2007).

***
Siapakah Rendra? Nama lengkapnya Wilybrordus Surendra Rendra (disingkat W. S. Rendra) lahir pada 7 November 1935 di Solo Jawa Tengah, dalam keluarga dan lingkungan Katolik yang teguh, dan meninggal dunia dalam usia 74 tahun pada 6 Agustus 2009 di Jakarta.

Ayahnya bernama Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di SD/SMP Katolik Kanisius, Solo, di samping sebagai dramawan tradisonal Jawa. Ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah, seorang penari serimpi di Keraton Surakarta. Rendra menyelesaikan SD, SMP, SMA Katolik St. Yosef, Solo. Tahun 1955 kuliah pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta sampai Sarjana Muda (gelar BA). Tahun 1964-1967 mendapat beasiswa untuk belajar di American Academy of Dramatical Art, Amerika Serikat.

Penyair dan dramawan besar ini, dengan penuh kesadaran dan keberanian yang teguh, “memilih” jalan seni dan sastra sebagai perjuangan: //Aku mendengar suara/jerit hewan yang terluka/ada orang memanah rembulan/ada anak burung terjatuh dari sarangnya/orang-orang harus dibangunkan/kesaksian harus diberikan/agar kehidupan bisa terjaga//.

Di mata seorang guru besar filsafat Unika Atma Jaya dan STF Driyarkara, Jakarta, Alois A. Nugroho, Rendra adalah “suara lain,” katakanlah “suara hati nurani bangsa” yang sangat dibutuhkan bangsa ini. Rendra telah menyumbangkan “suara lain” atau alteritas, yang terkesan urakan dan bohemian bagi kehidupan dan aspirasi normal rata-rata manusia Indonesia. “Alteritas inilah yang memungkinkan manusia Indonesia lepas dari sikap one in one yang banal. Alteritas ini memampukan kita mengkritisi hidup yang normal” kata Alois Nugroho (Kompas, 8 Agustus 2009).

Bagi Rendra, seni tidak berhenti pada estetika, tetapi ia menjadi “seruan hati nurani” yang berfungsi kritis dan profetis. Apapun bentuknya, seni selalu “terlibat” dan kontekstual. Karya-karya sastra Rendra, baik berupa puisi maupun drama/teater, membuat orang “menjadi” tercenung, berefleksi, bercermin diri, atau berani mengkritisi lingkungannya, masyarakatnya, bangsanya, dan negaranya. Dalam puisinya yang berjudul “Sajak Sebatang Lisong” (1978) ia menggugah kesadaran kita: //Inilah sajakku//pamflet masa darurat/Apakah artinya kesenian/bila terpisah dari derita lingkuingan/Apakah artinya berpikir/bila terpisah dari masalah kehidupan//.

Rendra adalah sastrawan besar Indonesia modern yang paling komplit menciptakan hampir semua genre (jenis) karya sastra (kecuali novel), yang tidak dimiliki oleh sastrawan manapun di negeri ini. Beliau terkenal dengan puisi-puisi epik atau epika (syair panjang yang bercerita), yang antara lain, bercerita tentang orang kecil tertindas dan terlempar, serta kegetiran perjuangan mereka dari lembah kubangan kutukan alam, penindasan atau sistem sosial yang bobrok dam amburadul.

Beliau juga menciptakan, menerjemahkan, menyadur naskah-naskah drama/lakon, terutama drama/lakon klasik Yunani, sekaligus memainkannya di atas panggung lewat Bengkel Teater, sehingga dikenal luas sebagai dramawan besar Indonesia. Selain itu, almarhum menulis cerita pendek (cerpen) dan menulis esai atau kritik sastra dan budaya. Membawakan pidato kebudayaan yang khas, menggigit dan menggugat, benar-benar suara lain atau alteritas, yakni “suara hati nurani bangsa,” sebagaimana dikatakan profesor filsafat, Alois A. Nugroho.

Karya-karya sastra Rendra yang sempat saya telusuri dari berbagai sumber yang terserak, meliputi kumpulan puisi, naskah lakon/drama/teater sekaligus memainkannya, kumpulan cerpen, dan kumpulan esai/kritik sastra/kebudayaan. Tentu, masih banyak karya sastra Rendra yang luput dari penelusuran ini, karena saya mengalami kesulitan mendapatkan bahan-bahan tertulis yang terpublikasikan. Adapun rinciannya seperti berikut ini.

Pertama, kumpulan puisi dalam bentuk buku: (1) Ballada Orang-Orang Tercinta (1957); (2) Empat Kumpulan Sajak (1961); (3) Blues untuk Bonnie (1971); (4) Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972); (5) Potret Pembangunan dalam Puisi (1983); (6) Nyanyian Orang Urakan (1985); (7) Disebabkan oleh Angin (1993); (8) Orang-Orang Rangkasbitung (1993), dan (9) Pantun Jurnalistik (1998).

Kedua, naskah lakon/drama/teater sekaligus memainkannya, antara lain: (1) Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954); (2) Bip-Bop Rambate Rate Rata (teater Mini Kata, 1967); (3) Mastodon dan Burung Kondor (1972); (4) Perjuangan Suku Naga (1975); (5) Sekda (1977); (6) Penembahan Reso (1986); (7) Oedipus Sang Raja (terjemahan karya Sophokles, 1969); (8) Selamatan Anak Cucu Sulaiman; (9) Hamlet (terjemahan karya William Shakespeare); (10) Macbeth (terjemahan karya William Shakespeare); (11) Lysistrata (terjemahan karya Aristophanes); (12) Menunggu Godot (terjemahan karya Samuel Beckket, 1969); (13) Oedipus di Kolonus (terjemahan karya Sophokles; (14) Antigone (terjemahan karya Sophokles); (15) Kasidah Berzanji; (16) Sobrat (2005), (17); Kereta Kencana ( terjemahan karya Ionesco); dan (18) Buku Harian Seorang Penipu (terjemahan karya Alexander Ostrovsky).

Ketiga, buku kumpulan cerpen: (1) Ia Sudah Bertualang (1963); (2) Dua Jantan; (3) Hutan Itu. Sedangkan kumpulan esai/kritik sastra/kebudayaan adalah: (1) Mempertimbangkan Tradisi (1983); (2) Tentang Bermain Drama; dan (3) Seni Drama untuk Remaja (1977).

Karya-karya Rendra tidak hanya dikenal di dalam negeri, juga dikenal di luar negeri. Sebagian karyanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing, antara lain dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang, dan India. Ia juga aktif dalam mengikuti sejumlah festival internasional, antara lain: The Rotterdam International Poetry Festival (Rotterdam, Belanda, 1971, 1979); The Valmiki International Poetry Festival (New Delhi, India, 1985); Berliner Horizonte Festival (Berlin, Jerman, 1985); The First New York Festival of The Arts (New York, AS, 1988); Spoleto Festival (Melbourne, Australia, 1989); World Poetry Festival (Kuala Lumpur, Malaysia, 1992); dan Tokyo Festival (Tokyo, Jepang,1995).

***
Menurut Rendra, Dami N. Toda adalah tokoh sastra terkemuka di Indonesia dan dunia. Hasil karyanya lahir dari permenungan yang mendalam tentang sejarah pergolakan intelektual dan sentuhan rasa yang telah mengendap dalam lubuk hatinya. Karya sastranya telah memberikan pencerahan tentang peradaban manusia. “Dami Toda menulis secara jujur dan karenanya ia pantas mendapat penghormatan dari seluruh masyarakat Indonesia” tandas Rendra di hadapan peserta “Forum Lonto Leok” di Ruteng yang juga dihadiri oleh mantara Gubernur NTT Ben Mboi dan Bupati Manggarai Christian Rotok (Pos Kupang, 17 Oktober 2007; dan Flores, 17 Oktober 2007).

Kesediaan dan ketulusan Rendra datang ikut mengantarkan abu jenazah Dami Toda ke NTT/Manggarai ini, bisa saja menimbulkan pertanyaan di antara kita: ada apa hubungan antara Rendra dengan Dami Toda? Dan seperti apa hubungan itu? Meskipun secara umum dipahami bahwa kehadiran penyair besar Indonesia ini sebagai bagian dari bentuk solidaritas dan rasa hormat terakhir kepada sesama sastrawan yang mempunyai visi dan pandangan yang sama dalam berkarya. Namun, kalau ditelusuri lebih jauh ke belakang, ada sejarah panjang hubungan antara Rendra dan Dami N. Toda.

Rendra dan Dami N. Toda sudah saling mengenal dan berteman lama sejak di Yogyakarta. Setelah selesai Sarjana Muda (gelar BA) di Universitas Gajah Mada (UGM), Rendra mendirikan Bengker Teater di Yogyakarta tahun 1960-an. Dalam kurun waktu yang sama, Dami N. Toda kuliah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (dapat gelar BA) dan Fakultas Hukum Unika Atma Jaya Yogyakarta (tidak tamat). Di kota inilah mereka bertemu.

Sebagai orang seni, Dami Toda yang juga punya bakat di bidang teater/drama, terlibat dalam Bengkel Teater milik Rendra. Dami N. Toda ikut dalam pelatihan dan pementasan lakon “Maria Zaitun” yang dipentaskan Bengkel Teater. Lakon ini diangkat dari pusi Rendra yang berjudul “Maria Zaitun” yang terdapat dalam Balada Orang-Orang Tercinta (1957).

Dalam “Forum Lonto Leok” di Ruteng pada 18 Oktober 2007, Rendra mengakui pertemanannya dengan Dami serta keterlibatan Dami dalam pementasan “Maria Zaitun.” Rendra menyatakan bahwa pertemanan dengan Dami terjadi sejak mahasiswa di Yogya. “Pertemanan kami begitu intens dalam dunia sastra dan budaya” cerita kenangan Rendra di hadapan peserta “Forum Lonto Leok” di Ruteng (Pos Kupang, 26 Oktober 2007).

Sebagai “sesama orang sastra” tentu saling mengenal adalah sesuatu yang wajar, apalagi tinggal dalam satu kota. Rendra terus menghasilkan karya-karya sastra kreatif (puisi) dan bermain drama lewat Bengker Teater, Dami N. Toda terus melakukan telaah/analisis/kritik sastra terhadap berbagai jenis karya sastra, termasuk karya-karya sastra milik Rendra.

Rasa hormat Rendra kepada Dami N. Toda semakin bertambah tatkala di Ruteng ia membaca buku karya ilmiah Dami berjudul, Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi (Nusa Indah, Ende, Flores, 1999). Buku sejarah budaya Manggarai ini menggambarkan pemikiran kritis Dami Toda sebagai bentuk “pencerahan/pelurusan” sejarah Manggarai yang telanjur dimanipulasi oleh kaum penjajah (Belanda) di masa lalu. Buku ini merupakan salah satu buku terbaik hasil penelitian sejarah kebudayaan daerah di Indonesia yang “mengandalkan” tradisi lisan atau bahasa tutur masyarakat lokal sebagai sumber utama penelitian dan menghasilkan karya ilmiah yang sangat berbobot.

Prof. Dr. Taufik Abdullah, Ahli Peneliti Utama, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang memberi “Prakata” pada buku yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Ende, ini memuji karya ilmiah yang berbobot ini. Menurut Taufik Abdullah, karya Dami N. Toda ini tidak hanya mengingatkan kita pada “sejarah” dari (salah satu) pulau-pulau yang terabaikan, tetapi juga yang tak kurang pentingnya adalah ia ingin menunjukkan betapa pentingnya memperhatikan “pulau-pulau sejarah” yang terabaikan. “Karyanya bukan saja mengisi kekosongan relatf dari pengetahuan kita tentang sejarah Flores, khususnya Manggarai, tetapi juga menunjukkan berbagai permasalahan historiografis yang harus diperhatikan” tandas Taufik Abdullah dalam “Prakata” buku tebal ini (1999, hlm. 8).

***
Dalam perjalanan panjang kariernya sebagai kritikus sastra Indonesia modern, Dami N. Toda memberikan perhatian khusus pada karya-karya W.S. Rendra, baik karya puisi maupun drama/teater, serta pementasan-pementasannya. Dari hasil penelusuran atau pelacakan yang saya lakukan terhadap karya-karya Dami N. Toda yang tersebar luas, yang secara khusus menelaah atau mengkritisi karya-karya Rendra, ditemukan minimal empat karangan atau tulisan Dami.

Pertama, tulisan Dami yang berjudul “Willy yang Mencari, Terluka, dan yang Berang: Studi Sajak-Sajak Terbaru WS Rendra” dalam majalah Horison (Nomor 1/Tahun 8, Januari 1973). Karangan ini dimuat kembali dalam buku Dami N. Toda yang berjudul Hamba-Hamba Kebudayaan (Sinar Harapan, Jakarta, 1984, hlm. 110-119, dengan judul yang dipenggal menjadi “Willy yang Mencari Terluka dan yang Berang”). Kedua, tulisan Dami yang berjudul “Suatu Coba-Coba untuk Sedikit Membahas Rendra” dalam harian Sinar Harapan (19 Juli 1973). Ketiga, tulisan yang berjudul “Aspek Rendra dalam Teater Indonesia: Kesadaran Teater Baru” dalam harian Sinar Harapan (24 Desember 1973). Karangan ini dimuat kembali dalam Hamba-Hamba Kebudayaan (1984, hlm. 34-40, dengan judul yang diubah menjadi “Teater Baru Indonesia”). Keempat, tulisan yang berjudul “Eksistensialisme dan WS Rendra” dalam majalah Horison (Nomor 5/Tahun 15, Mei 1980).

Yang menarik dari empat tulisan Dami N. Toda di atas adalah tulisan tentang “Teater Baru Indonesia.” Menurut Dami, sejumlah lakon/pementasan yang dilakukan Rendra setelah pulang dari Amerika Serikat tahun 1967, baik karya asli milik Rendra maupun karya terjemahan atau saduran lakon klasik Yunani, menunjukkan sesuatu yang “baru” dalam teater Indonesia modern, yang lain dari yang pernah ada sebelumnya. Karya-karya teater itu, antara lain: Bip-Bop Rambate Rate Rata (1968), Peristiwa Sehari-hari (1968), Pahlawan yang Kalah (1969), maupun karya-karya terjemahan atau saduran dari sastrawan asing yang disutradarai “khas Rendra,” seperti Oedipus Sang Raja (karya Sophokles, 1969), Hamlet dan Macbeth (karya William Shakespeare), dan Menunggu Godot (karya Samuel Beckett).

Menurut Dami, kehadiran teater atau drama Rendra di Indonesia, harus diakui sebagai “pembuka mata” untuk memahami pengertian teater yang sesungguhnya. Kehadirannya mempertanyakan kembali salah paham kita selama ini tentang teater atau drama yang senantiasa kita runut semata-mata secara “teks” dan “lakon mimesis belaka.”

Dami menyatakan bahwa Rendra menyadarkan kita tentang arti “aktor” di atas panggung, yang tidak hanya sekedar “mesin kata-kata” dan tata kostum serta asesoris pelengkap yang lain, tetapi karena “ekspresi konkret” yang ditampilkan oleh aktor itu sendiri di atas panggung. Dami N. Toda berpendapat, “kehadiran teater Rendra” lewat Bengkel Teater, yang antara lain lakon-lakonnya yang telah disebutkan di atas, menunjukkan sudah terjadinya “pembaruan” dalam teater Indonesia modern.

Di sini kritikus sastra Dami N. Toda menunjukkan sekali lagi kemampuan intelektual dan kematangan wawasan sastra budayanya yang luas dalam meyakinkan pendapat atau pandangannya, sebagaimana ia lakukan pada tahun 1970-an pada waktu ia “menemukan” Iwan Simatupang sebagai novelis besar Indonesia dan pada waktu ia “melambungkan” Sutardji Calzoum Bachri sebagai penyair besar dalam sastra Indonesia modern (lihat Yohanes Sehandi, “Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra,” dalam Pos Kupang, 23 Juni 2010).

Kehadiran teater baru Rendra ini memang mengundang tanggapan beragam dari berbagai pengamat/kritikus sastra/teater di Indonesia. Dami N. Toda sendiri menyebut teater baru Rendra ini sebagai Teater Puisi, Goenawan Mohamad menyebutnya Teater Mini Kata, Trisno Sumardjo menyebut Teater Abstrak, Subagio Sastrowardojo menyebutnya Teater Murni, dan Arifin C. Noer menamakannya Teater Primitif (lihat Dami N. Toda, Hamba-Hamba Kebudayaan, 1984, hlm. 39). Dalam perjalanan waktu, sebutan Teater Mini Kata yang dilontarkan Goenawan Mohamad menjadi lebih populer dikenal orang sampai dengan saat ini.

Karangan Dami N. Toda yang berjudul “Teater Baru Indonesia” sebagaimana telah disebutkan di atas adalah karangan yang menarik sekaligus menantang publik sastra Indonesia modern. Mengapa? Karena “kebaruan” atau “semangat kebaruan” teater Rendra bersama Bengkel Teaternya menjadi “modal dasar” bagi Dami dalam menyatakan sikap pandangannya tentang perlu hadirnya angkatan baru dalam sejarah sastra Indonesia.

Arus “kesadaran baru” dalam teater Indonesia yang dibawakan Rendra, ditambah dengan “fenomena baru” dalam novel-novel eksistensialisme Iwan Simatupang, serta munculnya “kreativitas baru” dengan menemukan kembali unsur “magis” dan “mantra” dalam puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, menjadi landasan yang kokoh dan kuat bagi Dami N. Toda untuk “memproklamasikan” hadirnya sebuah angkatan sastra/pujangga baru dalam sejarah sastra Indonesia, yang Dami N. Toda sebutkan sebagai Angkatan 1970-an.

Dalam ceramah panjang dan ilmiah yang berjudul “Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa” yang dibawakan Dami N. Toda pada Dies Natalis ke-5 Majalah Tifa Sastra (25 Mei 1977) di Jakarta, kritikus Dami N. Toda mengumumkan lahirnya Angkatan 1970-an dalam sastra Indonesia. Makalah yang sangat menarik itu dimuat kembali dalam buku Sejumlah Masalah Sastra (Ed. Satyagraha Hoerip, Sinar Harapan, Jakarta, 1982, hlm. 173-192).

Kalau dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia modern, nama Angkatan 1970-an menjadi “populer” dan “diterima” sebagaimana halnya dengan Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, dan Angkatan 66, itu tidak terlepas dari jasa besar “pencetus” Angkatan 1970-an dalam sastra Indonesia modern, yang tidak lain dan tidak bukan adalah kritikus sastra Dami N. Toda.

*) Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Flores, Ende