Wajah sebagai Topeng

Damhuri Muhammad *
Kompas, 15 Maret 2009

SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah.

Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitu pun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri. Itu sebabnya, kerap terniscaya bahwa manusia itu adalah wajahnya, bukan akal-budinya, bukan pula ruhnya. Tak soal bila tuan tidak punya kaki lantaran diamputasi, tidak punya tangan lantaran cacat semenjak rahim.

Tuan masih leluasa bergaul, bahkan menjalin hubungan asmara dengan orang-orang normal. Dijamin tuan masih bisa dikenali, wajahnya tuan masih bisa bersitatap dengan wajah-wajah lain, dan terus-menerus mengirimkan sinyal tentang segi-segi kedirian tuan.

Tapi, apa jadinya bila yang cacat dari tubuh tuan adalah wajah? Masih percaya dirikah tuan tegak-berdiri, berinteraksi sebagaimana layaknya orang-orang yang punya wajah? Bagaimana orang akan mengenal tuan yang tidak lagi punya wajah meski tuan masih punya tubuh?

Pusat eksistensi

Inilah pertanyaan penting yang terdedahkan dalam novel Wajah Lelaki Lain (terjemahan dari The Face of Another) karya pengarang Jepang terkemuka, Kobo Abe (1924-1993) ini. Namun, alih-alih mengafirmasi wajah sebagai pusat eksistensi sebagaimana pengandaian ringan di atas, buku ini justru sedang berupaya menjungkirbalikkan kuasa wajah sebagai satu-satunya penanda identitas, tabiat, dan kejatidirian.

Demi penyangkalan telak itu, ”aku” (tokoh utama)—seorang ahli kimia molekuler yang wajahnya terbakar akibat kecelakaan di laboratorium hingga yang tersisa hanya gundukan-gundukan jejaring daging akibat luka keloid—merancang sebuah topeng guna mengganti wajah lamanya. Sejak kehilangan wajah, ia merasa terkucil, terasing dari lingkungannya, dan yang paling memberatkan adalah ketidakrelaan istrinya menjadi pendamping bagi seorang suami yang tidak lagi punya wajah. Lebih parah lagi, dalam keterasingan yang tak terpermanai itu, dengan mata kepala sendiri terus-menerus ia menyaksikan perselingkuhan istrinya dengan lelaki lain.

Mungkin itu sebabnya, ia ingin terlahir kembali dengan wajah utuh sebagaimana dulu. Bila perlu lebih sempurna, lebih asali dari wajah aslinya. Maka, ia menopengi dirinya dengan perangkat dan bahan-bahan yang ia olah sedemikian rupa dengan kecanggihan tingkat tinggi, hingga topeng hasil karyanya itu bahkan bisa berkeringat, di permukaannya bisa tumbuh kumis, jenggot, dan jerawat, sebagaimana wajah sungguhan.

Sayangnya, topeng itu, alih-alih membebaskannya dari ceruk keterasingan, malah membuat ia semakin terpuruk dalam skeptisisme eksistensial yang sukar terpecahkan. Jangankan topeng itu, bahkan wajah aslinya yang sudah remuk tak berbentuk itu tetap tidak bisa merepresentasikan kediriannya yang paling sejati. Ia seakan-akan terus didesak untuk memercayai bahwa wajah asli itu juga topeng, tak lebih berharga dari topeng bikinan yang memang telah berhasil mengelabui mantan istrinya. Baginya, tak ada sesuatu yang bisa dimaklumatkan oleh seraut wajah, selain kepalsuan, pengkhianatan, kebohongan, dan basa-basi. Kalaupun wajah memberikan sasmita dan pertanda, itu semu dan palsu.

Semula, dengan topeng itu, ia merasa telah menaklukkan perempuan yang memberhalakan wajah itu. Di luar dugaan, sejak mula pula, mantan istrinya itu tahu bahwa lelaki tampan yang telah membuat ia bertekuk lutut itu tidak lain adalah mantan suaminya yang sedang menyamar. Realitas yang terbangun menjadi serba terbalik, serba jungkir-balik. Betapa tidak? Lelaki bertopeng merasa telah menguasai permainan, padahal kenyataannya ia sudah kalah, bahkan jauh sebelum permainan itu dimulai. Bukan ia yang mematai-matai mantan istrinya, sebaliknya sedetik pun perempuan itu tidak pernah lalai mengawasi gerak-geriknya.

Hampir tiga perempat dari buku setebal 350 halaman ini dipenuhsesaki oleh ketegangan-ketegangan eksistensial yang diperankan oleh lelaki bertopeng itu. Ia begitu menggebu-gebu hendak meraih eksistensi diri yang bulat dengan mewujud menjadi orang lain. Tapi, pada saat yang sama, ia begitu bergairah untuk kembali pada diri yang asali dengan cara membuka topeng itu, lalu tampil sebagai sosok lelaki dengan wajahnya dibalut gulungan perban. Sebentuk keraguan-raguan eksistensial yang keduanya terbukti tidak menjanjikan apa-apa selain kepalsuan. Lalu, dengan apa semestinya jejak eksistensi diri itu bisa ditandai?

Novelis pemenang Akutagawa Prize (1961, untuk novel ”The Crime” of Mr S Karuma) dan pengagum berat eksistensialis Martin Heidegger dan Karl Jasper ini dengan cara yang unik berhasil membangun semacam alegori eksistensial yang menakjubkan lewat The Face of Another. Dalam perkembangannya, tidak banyak sastrawan yang berhasil menitiskan kompleksitas persoalan eksistensialisme modern ke dalam karya sastra, apalagi novel. Sebelumnya hanya Frans Kafka, Edgar Allan Poe, dan Samuel Becket yang melakukannya—meski dengan ultimate concern, mainstream, perspektif, dan keterampilan artistik yang berbeda-beda. Itu sebabnya, dalam sejumlah telaah akademik terhadap novel-novel Kobo Abe (The Woman in The Dunes, The Ruined Map, The Face of Another) para kritikus kerap membandingkannya dengan karya-karya Kafka, Poe, dan Becket.

Hambar

Amat disayangkan, edisi Indonesia novel ini tampaknya hanya mengolah dan dan menonjolkan segi-segi dramatik dari remuk-redam dan terpiuh-piuhnya perasaan lelaki bertopeng lantaran penyamarannya dibalas pula dengan penyamaran, kepalsuan dibalas kepalsuan, lantaran cintanya bertepuk sebelah tangan, lantaran dendam yang tiada kunjung tertuntaskan.

Problem kesadaran eksistensial—bagian paling rumit dari sumbu pemikiran eksistensialisme modern—sebagai mainstream yang hendak dieksplorasi oleh novel ini menjadi hambar. Barangkali karena penerjemahnya tidak begitu menguasai akar-akar persoalan kefilsafatan kontemporer, khususnya yang berkaitan dengan sayap pemikiran eksistensialisme.

Begitu juga dengan kerja penyuntingan yang tampaknya main gunting sembarangan hingga sejumlah bagian yang semestinya menjadi inti, menjadi substansi, tetapi terposisikan hanya sebagai sisipan, suplemen, pelengkap belaka. Akibatnya, kedalaman yang dijanjikannya—sebagaimana terbaca dalam edisi Inggris-nya—sukar untuk diselami.

Meski ada gairah yang menyala-nyala untuk menyangkal wajah sebagai pusat kejatidirian, novel ini tidak berpretensi untuk menuntaskan pertanyaan besar perihal bagian manakah dari jagat cilik (mikromosmos) itu yang paling jujur memancarkan kejatidirian yang paling utuh?

Buku ini hanya menawarkan sejumlah kemungkinan guna menolak kepalsuan yang selama ini bermuasal dari wajah—tetapi terus-menerus dipercayai sebagai kejujuran. Jangan-jangan sisi paling hakiki dari kedirian ”mengada” justru setelah kita kehilangan wajah, bahkan setelah kita menghilangkan semua fungsi ketubuhan.

Maka, lelaki bertopeng itu tidak sedang mencari keasalian eksistensi diri dengan wajah baru, tetapi justru terus-menerus membangun semesta kehilangan guna memberi ruang bagi kehadiran diri yang asali. Ia yang justru ”mengada” setelah ”meniada”….

* Damhuri Muhammad, Cerpenis Bermukim di Pinggiran Jakarta
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/03/buku-wajah-sebagai-topeng.html