Warisan Budaya Tak Benda

Rhenald Kasali
http://www.sindonews.com/

HARI ini, 18 November 2010, di Kenya, udara sejuk yang turun dari perkebunan kopi di tepi Kota Nairobi akan Anda rasakan di Indonesia. Hari inilah sidang di Kantor UNESCO akan mengambil putusan resmi bahwa angklung adalah budaya tak benda warisan nenek moyang bangsa Indonesia.

Ia disebut sebagai The intangibles cultural heritage of humanity. Kita perlu mengingatkan kembali para pemimpin bahwa kata intangibles sering tidak dipahami. Sekali lagi, pengakuan ini adalah soal intangibles, bukan tangibles-nya itu sendiri. Tangibles itu bisa berupa benda, alat musik yang bernama angklung, atau baju dan kain bernama batik, atau sejenis senjata yang kita kenal dengan keris.

Yang terlihat itu adalah yang mudah dipahami, sesuatu yang tangible. Adapun intangibles adalah apa yang membawa atau mengantarkan sesuatu yang terlihat itu. Ini penting dipahami karena berawal dari paham atau tidaknya para pejabat terhadap makna intangibles akan terlihat ke mana anggaran dialirkan dan menentukan mati hidupnya suatu budaya.

Bukan Koleksi

Orang-orang kaya baru hanya akan mewariskan tangible asset pada anak cucunya. Sawah, tanah, gedung, mobil, perhiasan, dan sebagainya adalah tangible. Ia terlihat, berwujud, dan dapat diperdagangkan. Demikian juga dengan benda-benda koleksi seperti kain batik, keris, alat-alat musik, lukisan, dan barang-barang antik lainnya. Orang-orang yang menaruh perhatian pada hal-hal seperti itu biasanya hanya tertarik pada kekayaan fisik: harta. Harap maklum tak ada harta tangible yang dapat memberikan kemakmuran pada keturunan.

Hanya orang bodoh saja yang menaruh perhatian pada warisan bendawi seperti ini. Orang-orang yang mampu melihat jauh ke depan memberikan warisan yang jauh lebih bertenaga, yaitu pendidikan, keterampilan, kesenian, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan baik, reputasi, dan seterusnya. Warisan ini tak berbentuk benda. Ia tak dapat dilihat kasatmata karena melekat pada manusia dan tidak dapat diperoleh dalam tempo sekejap. Ia ada dalam memori otot (myelin), memori otak, dan dalam kesatuan hidup manusia.

Mampu atau tidaknya ia menghasilkan kesejahteraan akan sangat tergantung pada para penerus untuk mengembangkannya. Maka, meski angklung dan musik dari bambu mengakar kuat dalam budaya Sunda, hanya sedikit orang yang mampu mengembangkannya. Angklung yang konon dulu dipakai untuk mengundang Dewi Sri menjaga kesuburan sawah di tanah Sunda juga pernah dikenal sebagai alat pemacu semangat dalam pertempuran.

Di Bandung, kalau Anda sedang berlibur, mampirlah ke Saung Angklung Mang Ujo. Setelah keluar dari pintu tol Pasteur, Anda tinggal lurus menembus jembatan layang Pasopati, maka nanti Anda akan menemukan petunjuk jalan ke kiri di sekitar Cicaheum, itulah cara menuju saung yang dilengkapi penginapan dan pusat pertunjukan. Setiap sore ratusan seniman angklung menghibur tamu dengan musik yang pasti membuat Anda terasa berbeda.

Seniman-seniman cilik, sudah ikut bermain sejak usia lima enam tahun. Angklung adalah alat pendidikan motorik yang merangsang keseimbangan otak manusia. Tetapi saya ingin kembali mengingatkan bahwa warisan intangibles adalah warisan yang sangat mahal. Sama seperti warisan budaya origami yang sampai sekarang terus dipakai di sekolah-sekolah di Jepang, yang tanpa disadari telah membentuk tangan orang-orang Jepang terampil dalam hal-hal kecil dan detail.

Saya sangat percaya inilah yang membentuk keahlian para engineer Jepang dalam bidang automotif, bahkan seni merangkai bunga, membuat tanaman bonsai, sampai memotong ikan buntel yang beracun menjadi sashimi yang nikmat. Seorang teman yang masa kecilnya sempat mengikuti orang tuanya bertugas di Jepang dan mengecap pendidikan di sana berujar, ”Saya tak bisa melihat selembar kertas menganggur. Ia (kertas itu) bisa berubah menjadi apa saja.”

Sekarang dia menjadi dokter bedah kosmetik yang terkenal dan dia mengakui kedokterannya bukan semata-mata diperoleh dari jalur pengetahuan belaka (brain-memory), melainkan juga aliran seni dan detail yang tertanam di memori tangan (myelin) dan pikirannya. Inilah intangibles. Sekarang pikirkanlah apa jadinya bila para pejabat dan politisi kita tidak mengerti makna intangibles. Mereka hanya berkampanye untuk menikmati aspek tangibles dari intangibles itu.

Mereka hanya memakai baju batik sepanjang hari, mengajak Anda menikmati musik angklung, terlibat dalam pameran-pameran benda-benda purbakala (keris) dan seterusnya. Intangibles jalur untuk membangunnya bukan semata-mata koleksi pameran dan konsumsi. Intangibles dibangun melalui jalur myelin, yaitu latihan.

Penghargaan dan pengakuan dari lembaga dunia seperti UNESCO adalah sekadar fakta pemicu untuk menghidupkan kembali tradisi membatik, membuat angklung, dan membuat keris. Soal promosi dan pameran adalah soal pasar. Tetapi apalah artinya pasar bila pasokan di hulunya mati. Ibarat sungai yang dialiri air yang bening, ia butuh mata air yang terus mengalir. Intangibles itu tak kelihatan, ada pada mata air itu.

Pembinaan di Hulu

Jadi spirit pengakuan UNESCO adalah spirit menghidupkan kembali mata air. Ia harus terus mengalir karena habitatnya dipelihara. Bagaimana caranya? Kita tentu perlu menghidupkan simpul-simpul yang mengantar masyarakat terbiasa bermain angklung, membatik, atau membuat keris seperti anak-anak di Bali belajar musik dan tarian pada ribuan sanggar atau banjar-banjar di dekat rumah mereka.

Angklung dan batik jelas harus kembali dihidupkan di kampung-kampung di Jawa Barat dan dijadikan alat musik wajib di berbagai sekolah dasar di seluruh Indonesia. Bukankah di masa kecil Anda dulu juga bermain angklung di sekolah? Sekarang ini anak-anak kita telah lebih mengenal alat-alat musik modern bertenaga listrik yang melahirkan kemampuan berteriak dan berbahasa tubuh metal dengan wajah yang garang, mungkin karena itulah life skills anak-anak kita mulai kehilangan aura kehalusan dan budi bahasa yang membentuk karakter mereka.

Bagi saya, angklung tetap memikat. Di Rumah Perubahan kami sudah biasa menggunakan angklung bersama putra-putri almarhum Mang Ujo untuk menghidupkan otak kanan para pemimpin. Setelah dianalisis oleh ahli syaraf kami, barulah para peserta menyadari pentingnya fondasi berpikir untuk membangun bangsa ini. Angklung mampu membuat Anda riang dan melahirkan wajah yang tulus. Jadi kalau mengerti mengapa negeri ini memperoleh pengakuan angklung sebagai warisan tak benda, anggarkanlah biaya-biaya pendidikan pada aspek intangibles itu sendiri.

Dengan menghidupkannya, warisan budaya ini akan terus hidup, bahkan berkembang lebih baik lagi menyambut denyut nadi pasar. Mengapa saya perlu mengingatkan hal ini? Saya sudah sering berkeliling dan diingatkan oleh para pengusaha berbasiskan intangibles tentang hilangnya atau berkurangnya jumlah tenaga pembatik dan pembuat angklung. Sementara itu, mohon maaf, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, serta para kepala dinas pemerintah provinsi dan kabupaten hanya punya program pameran atau promosi ke luar negeri.

Berapa bujet untuk menghidupkan kembali intangibles rakyat? Kalau dibilang ada, bisa saja. Tetapi pengamatan saya proporsinya tidak proporsional. Jadi birokrasi kita hobinya jalan-jalan saja. Kalau sudah begitu, apa artinya pengakuan UNESCO? Sekali lagi, intangibles tidak dapat diperoleh dalam tempo sekejap. Tetapi ia bisa hilang dalam sekejap kalau Anda asyik bicara dan jalan-jalan saja.

Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI /18 November 2010