Festival Gamelan dalam Harapan Kembali

Sri Wintala Achmad *

Gamelan merupakan salah satu alat musik tradisional Jawa. Gamelan yang terbagi dari jenis pelok dan slendro terdiri dari berbagai nama, semisal: saron, peking, bonang, gender, gambang, kethuk, kenong, gong, rebab, siter, gambang dll. Di dalam permainan gamelan, kendhang sebagai panutan atas lambat-cepatnya tempo atau keras-lembutnya dinamika irama. Kendang pula berperan sebagai tanda akan berakhirnya sebuah permainan gamelan.

Di dalam perlembangannya, permainan gamelan bukan sekadar untuk mengiringi lagon, gendhing, atau permainan teater tradisional seperti kethoprak, wayang dll, namun juga untuk mengekspresikan gagasan serta rasa dari seorang kompuser musik. Permainan gamelan sebagai medium ekspresi yang cenderung terlepas dari pakem-pakem klasik tersebut mulai tersosialisasikan di lingkup generasi muda, semenjak Mas Sapto (panggilan penulis kepada almarhum Sapto Raharjo) mulai memrakarsai event Fersival Gamelan di Yogyakarta setiap tahun sekali dengan melibatkan banyak kompuser baik dari lingkup lokal, nasional, maupun internasional.

Sepeninggal Mas Sapto ke alam keabadian, masyarakat seni Yogyakarta telah merasa kehilangan seorang pengembang gamelan dan sekaligus kompuser kreatif yang gigih. Karena itu, peran Mas Sapto harus digantikan oleh siapa saja yang memiliki komitment dengan pengembangan gamelan. Demikian pula, Festival Gamelan yang selalu diselenggarakan bersamaan dengan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tersebut harus tetap dilaksanakan. Tidak masalah apakah event tersebut diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan atau lembaga-lembaga non pemerintah yang senantiasa mengandalkan kekuatan dana dari sponsor atau donatur.

Event Festival Gamelan seyogyanya bukan sekadar dilaksanakan di kantong-kantong budaya semisal Taman Budaya, melainakan alun-alun atau lapangan-lapangan di pedesaan dapat dijadikan tempat alternatif. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat luas yang selama ini mengenal gamelan sebagai iringin lagon, gendhing, teater tradisional atau campursari dapat memerluaskan pengetahuannya terhadap fungsi gamelan sebagai alat ekspresi yang kreatif dan inovatif atas gagasan dan rasa dari seorang kompuser musik tradisional.

Harapan lain agar pelaksanaan event Festival Gamelan seyogyanya disertai dengan work-shop pengenalan, mencipta komposisi sederhata, atau cara memainkan gamelan kepada generasi muda dan anak-anak. Langkah ini dapat ditempuh dengan melibatkan lembaga-lembaga pendidikan formal dan informal. Dengan melibatkan siswa (mahasiswa) merupakan langkah cerdas di dalam menanamkan kecintaan dari generasi penerus terhadap gamelan.

Apabila pelaksanaan event Festival Gamelan telah mampu menyentuh ruang apresiasi yang lebih luas, maka rasa cinta generasi penerus terhadap gamelan yang mengarah pada perkembangan permainan gamelan dapat terealisasi. Sekalipun upaya tersebut tidak luput dari kecaman generasi tua yang sangat fanatik dengan pakem-pakem klasik di dalam permainan gamelan.

Tetapi kecaman dari generasi tua terhadap perkembangan permainan gamelan sesungguhnya masih bisa diatasi dengan pendekatan komunikasi dialogis antara kedua belah pihak. Apabila pendekatan ini telah dilakukan secara intensif, maka generasi tua akan secara lambat-laun menerima upaya perkembangan permainan gamelan yang diprakarsai Mas Sapto dan penerusnya. Karena itu, pelaksanaan event Festival Gamelan seyogyanya melibatkan generasi tua sebagai peserta aktif.

Hal terakhir yang perlu ditandaskan, bahwa event Festival Gamelan hendaklah tetap dilaksanakan. Harapan ini dimaksudkan agar gamelan tetap sebagai produk budaya Jawa yang tidak akan musnah di lingkungannya sendiri (tanah Jawa). Karenanya, meski Mas Sapto telah meninggalkan kita, Festival Gamelan harus diselenggarakan. Entah apa dan bagaimana caranya.

*) Sri Wintala Achmad, Pemerhati seni dan budaya Jawa, Tinggal di Cilacap, Jawa Tengah.
Dijumput dari: http://hiburan.kompasiana.com/musik/2012/04/05/festival-gamelan-dalam-harapan-kembali/