Rumah di Tepi Lumpur (MENGENANG TRAGEDI LUMPUR LAPINDO)

Yusri Fajar
_Koran Surya, 2008

Senja berhias debu beterbangan dari jalanan yang tergilas roda kendaraan. Beberapa truk berjalan beriringan, datang silih berganti memuntahkan tanah keras bercampur batu di atas tanggul penahan luapan lumpur. Karman, lelaki berumur empat puluh lima tahun, menatap hamparan mega dari atas salah satu sudut tanggul yang memanjang. Telah setahun rumahnya tenggelam dalam lumpur yang keluar deras dari perut bumi. Rumah hasil jerih payahnya itu kini tinggal kenangan.

Karman datang ke atas tanggul itu bukan untuk menangisi nasib. Ia hanya ingin mengenang hari, tanggal dan bulan ketika dulu batu pondasi rumahnya diletakkan pertama kali. Semangat perjuangan saat rumah itu didirikan masih membekas dan terus berkobar. Karman ingat bagaimana dulu ia harus pergi ke bank untuk meminjam sejumlah uang untuk membangun rumah secara bertahap hingga empat bulan. Tapi belum lunas cicilan hutangnya ke bank, kini rumahnya terbenam lumpur. Rasa marah menggumpal dalam hatinya. Ia tahu pengeboran yang bocor adalah biang keladinya. Tapi ia tak ingin larut dalam dendam dan kesedihan. Kini harapan mendapatkan ganti rugi dan segera membawa istri dan kedua anaknya pindah dari lokasi pengungsian yang lekat dalam pikiran Karman.

Waktu Karman berangkat dari lokasi pengungsian menuju tanggul lumpur, ia melihat kedua anak lelakinya yang masih SD sedang bermain bola bersama teman-temannya. Dulu mereka biasanya bermain bola di tanah kosong dekat rumahnya yang kini terkubur lumpur. Tapi sekarang permainan dilakukan di halaman pasar tempat mengungsi. Mereka juga harus rela pindah ke sekolah dekat pengungsian karena gedung sekolah dasar di desanya lenyap.

Karman masih tertegun menatap lautan lumpur. Ia teringat orang tuanya yang telah almarhum. Kuburan mereka di pinggiran desa juga tak luput dari terjangan lumpur. Keluarganya kini tak bisa lagi berziarah ke makam kedua orang tua yang telah membesarkannya. Karman juga memperkirakan nisan petanda kubur orang tuanya mungkin telah rusak atau hilang karena lumpur.

Karman berandai-andai dan bertanya. Jika lumpur bisa surut apakah ia masih akan melihat rumahnya kokoh berdiri dan menyisakan beberapa bagian bangunannya yang tentu menyimpan jejak sejarah hidup keluarganya? Andai lumpur sirna apakah ia masih bisa mengenali lokasi kuburan kedua orang tuanya untuk kemudian dengan khusyu menaburkan bunga di atasnya. Karman menerawang. Dilihatnya asap tebal masih mengepul dari pusat semburan. Lumpur masih terus menyembur. Senja terus merayap. Maghrib segera tiba. Dari atas tanggul, Karman juga bertanya dalam hati apa secercah asa untuk membangun rumah baru masih tersisa.

Tiba-tiba terdengar suara memanggil dari arah belakang. Karman tersentak dari diam.

“Pak, ibu minta bapak kembali ke pengungsian,”teriak anak pertama Karman sambil berjalan mendekat.

“Ada apa? Sebentar lagi bapak juga pulang.”

“ Ibu nafasnya sesak, dari tadi batuk-batuk.”

“Pasti sakitnya kambuh lagi.”

“Makanya, pak, kita pindah dari pengungsian. Bangun rumah lagi, pak. Biar ibu, aku, dan adik tidak kedinginan kalau malam.”

“Bapak belum punya uang, nak. Sabar. Nanti kalau uang ganti rugi sudah diberikan kita akan bikin rumah lagi. Ayo kita pulang. Nanti ibu menunggu.”

Karman dan anaknya berjalan menyusuri tanggul lumpur kemudian menuruni tangga dari batu. Wanti, istri Karman memang sering sakit setelah tinggal di pengungsian. Kehidupan yang jauh dari bersih dan memadai serta beban pikiran telah membuat wanti sakit. Sesampai di pengungsian Karman menghampiri Wanti yang tengah berbaring di atas kasur tua yang terletak di atas lantai.

“Aku bawa ke dokter di posko, ya? Biar nanti diperiksa dan diberi obat,” kata Karman sambil mengusap kening Wanti.

“Nggak usah. Nanti juga sembuh. Mungkin tadi siang aku kena debu sehingga batuk dan sedikit sesak.Tolong buatkan aku teh hangat saja”

“Kamu harus banyak istirahat. Jangan terlalu capek dan kena angin berdebu,” kata Karman sambil menatap wajah Wanti yang sedikit pucat.

Karman lalu berdiri dan bermaksud membuatkan teh. Tapi belum sampai Karman menyibak kelambu, Wanti bertanya,” Kapan kita akan pindah dari sini?” Suara Wanti agak terdengar parau tapi ia melanjutkan bicara. “Lambat laun aku tidak tega melihat anak-anak kita hidup begini. Mereka terus-menerus protes karena dulu biasanya belajar di rumah.”

“Aku juga kasihan mereka, “Karman terdiam sebentar. “Mudah-mudahan kita bisa segera pindah. Besok kan jadwal pembagian ganti rugi.”

“Benar besok pembagiannya? Nanti ditunda-tunda lagi. Berapa kali kita dibohongi. Sampai lelah. Sudah berkali-kali menuntut tapi tetap nihil hasilnya. Kita telah berbulan-bulan terlunta.”

“Sabar,” kata Karman datar

“Justru kesabaran itu yang sering dimanfaatkan orang.”

“Mudah-mudahan besok ganti rugi akan diberikan. Setelah ada dana, kita segera pikirkan untuk memiliki tempat tinggal permanen. Jangan terus marah dan bersedih. Nanti kondisimu malah tidak kunjung membaik. Aku buatkan teh dulu ya. Setelah itu aku akan ke posko, mengambil jatah makan untuk kita dan anak-anak.”

“Jangan lupa diperiksa dulu sebelum dibawa pulang. Takut nasi dan lauknya sudah basi. Seperti kemarin.”

Karman bergegas ke belakang memasak air dan membuatkan teh untuk Wanti. Malam mulai merayap. Istri dan kedua anak Karman memang tak henti menanyakan waktu pindah dari pengungsian. Sementara Karman tak mampu berbuat banyak. Meski bersama korban lumpur lainnya ia telah sampai ke ibu kota menemui para pejabat negara untuk menggantungkan asa, namun harapannya masih belum kunjung tiba.

***

Matahari telah tinggi saat Karman berada dalam antrian panjang pengambilan ganti rugi. Deru angin menabur-naburkan debu ke pepohonan yang telah mengering di sisi-sisi tanggul lumpur. Penantian Karman yang lama tak sia-sia. Akhirnya ia mendapatkan ganti rugi juga. Hatinya cukup lega. Sambil berjalan pulang Karman membayangkan sebuah rumah yang sederhana berhias senyum istri dan kedua anaknya. Sampai di lokasi mengungsi Karman tidak melihat istrinya di atas tempat tidur. Kedua anaknya juga tidak ada. Melihat tas dan seragam sekolah yang tergeletak di atas tikar di depan kelambu ia yakin kedua anaknya telah pulang sekolah.

Lalu kemana istri dan kedua anaknya? Karman bertanya-tanya. Teringat Wanti, istrinya, yang semalam masih sakit, ia bergegas keluar memeriksa sudut-sudut lokasi pengungsian. Tak juga Karman menemukan istri dan anaknya. Ia bertanya kepada beberapa pengungsi lain tapi mereka tidak tahu. Kegelisahan Karman menjadi-jadi. Tapi tak lama karena beberapa saat kemudian ia melihat Wanti, dan kedua anaknya berjalan melewati gerbang pasar tempat mereka mengungsi.

“Aku baru membelikan anak-anak kue di toko depan pasar. Tadi para tetangga memberitahu kalau ganti rugi telah diberikan semua.”

“Ya, benar. Tapi belum seratus persen,” jawab Karman sambil mengajak wanti dan kedua anak mereka masuk dalam bilik tempat mereka mengungsi.

“Kamu sudah sehat?”

“Ya. Sudah membaik. Sepertinya harapan kita untuk mendirikan rumah secara perlahan akan jadi kenyataan.”

“Tapi kapan, pak?” anak mereka yang nomor dua bertanya.

“Secepatnya, nak.” Jawab Karman seraya mengelus kepala bocah kelas enam SD itu.

Siang semakin panas. Setelah memperoleh jatah makan, Karman, Wanti dan kedua anak mereka tampak melahap makanan bersama-sama. Tak lama kemudian kedua anak mereka pamit bermain sepak bola. Karman dan Wanti tampak duduk di dalam bilik pengungsian. Mereka berdiskusi tentang rencana mendirikan rumah. Karman ingin mempunyai rumah yang lokasinya masih dekat dengan kota. Tak jauh dari pusat keramaian. Ia ingin memulai lagi usaha berjualan pakaian yang telah lama berhenti sejak musibah lumpur.

Sementara Wanti ingin membangun rumah di atas tanah pemberian orang tuanya di pinggiran kota. Ia ingin menjauh dari lokasi-lokasi pengeboran dan daerah pusat pengembangan kota. Ia ingin menghapus trauma atas musibah yang menimpa keluarganya. Dulu Karman dan Wanti sebenarnya ingin menempati tanah itu. Tapi karena lokasinya sangat jauh dari tempat Karman berjualan, mereka memutuskan membangun rumah di lokasi yang sekarang terendam lumpur.

Lokasi tanah pemberian orang tua Wanti itu masih sepi. Di sisinya nampak hamparan sawah yang membentang luas.

“Kamu mantap tinggal di atas tanah itu?” tanya Karman pada Wanti.

“Mantap. Daripada mengungsi? Dan lagi uang ganti rugi kan belum semua diberikan. Hanya cukup untuk dana awal membangun dan melunasi cicilan hutang kita yang dulu. Mana mungkin membeli tanah lagi,” kata Wanti berusaha meyakinkan. Melihat Karman terdiam, Wanti bertanya,”Bagaimana? Bukankah kamu ingin secepatnya membawaku dan anak-anak pindah dari pengungsian?”

Karman tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Matanya menerawang teringat istrinya yang berkali-kali menangis ketika lumpur mulai menenggelamkan rumah mereka. Terbayang juga anaknya yang lapar di pengungsian karena bantuan makanan yang belum tiba.

Yusri Fajar
Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/yusri-fajar/rumah-di-tepi-lumpur-mengenang-tragedi-lumpur-lapindo/10150194577803061