Sastra yang Menumpang pada Bibir & Tubuh

Abdul Aziz Rasjid
_Minggu Pagi, No 09 TH 65, I Juni 2012

Sejak awal, Wage Tegoeh Wijono menarik perhatian saya dengan kepiawaiannya melakukan pembacaan teks sastra di atas panggung. Ia pandai memadukan beragam elemen artistik: mulai dari pertautan emosi dan pesan teks, memadukan warna-warna vokal sampai kemungkinan gerak di antara sorot cahaya lampu dan properties panggung.

Wage, begitulah ia akrab disapa, sehari-hari berkeliling mengayuh sepeda untuk menawarkan jasa sol sepatu di daerah Purwokerto. Ayah dari lima anak ini secara fisik berambut gondrong, berkulit coklat, juga memelihara kumis. Parasnya sepintas mirip penyair Leon Agusta, yang pernah menjelaskan istilah puisi auditorium pada Temu Sastra 82 di Dewan Kesenian Jakarta sebagai puisi yang ditulis dengan kesadaran komunikasi dan bukan semata-mata kebutuhan berekspresi. Dilatar belakangi kesadaran komunikasi itulah, Wage mengembangkan kesenangan membaca teks sastra tak hanya dalam hati, tapi memilih melafalkannya untuk dinikmati bersama khalayak ramai.

Momen perkenalan saya dengan Wage, mula-mula berlatar di halaman kantor Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas. Di antara cahaya lampu sorot dan penataan panggung yang didesain untuk mengenang kematian penyair Rendra, ia membacakan puisi “Rick dari Corona” dengan memainkan dua vokal ?pria dan perempuan? yang berdialog dengan irama ceplas-ceplos untuk mendeskripsikan kegelisahan warga akar rumput di New York, Amerika.

Sedang pertemuan terakhir saya, terjadi beberapa bulan silam dalam acara pembacaan esai-esai jurnalis Uruguay bernama Eduardo Galeano yang diadakan salah satu BEM Fakultas Sastra. Malam itu, Wage tampil membacakan esai berjudul “Lima Perempuan Perkasa” yang diterjemahkan Halim HD dari buku Century of the Wind. Saya masih teringat, mengawali pembacaannya ia muncul di tengah penonton, berkata lantang bahwa musuh utama yang dipelihara oleh banyak manusia adalah ketakutan. Dengan gesture yang kerap mengepalkan tangan, ia mengisahkan lima perempuan yang melakukan aksi mogok makan di malam Natal sebagai bentuk protes terhadap merajalelanya kelaparan di Bolivia. Aksi ini lantas menginsiprasi ribuan rakyat Bolivia untuk melakukan aksi serupa yang berkembang sebagai aksi mogok kerja dan memuncak dalam bentuk protes turun ke jalan.

Di akhir pembacaan, Wage dengan tegas mengucapkan ending yang menjelaskan bahwa lima perempuan itu berhasil menjatuhkan rejim diktator Bolivia. Ia pun merepetisi ending itu dengan mengajak penonton untuk ikut mengucapkan secara bersamaan. Jika repetisi diasumsikan untuk mempertegas adanya sesuatu yang penting, mungkin Wage bermaksud untuk menyebarkan sugesti pada penonton bahwa gerakan massa yang marah, kecewa dan lapar tak akan dapat dibendung oleh rezim sekuat apapun.

Metode pembacaan yang dilakukan oleh Wage, saya kira menghadirkan apa yang disebut Konstantin Stanilavsky dengan the Feeling of true Measure dimana teks didramatisasikan dengan kadar atau takaran yang benar. Pada teks “Lima Perempuan Perkasa” semisal, teks yang memuat kisah pergerakan perlawanan massal ia siasati dengan cara pembacaan secara massal pula, yaitu pelibatan suara serta emosi penonton sehingga suasana aksi massa dalam teks menjadi terwakilkan.

Teks Sastra & Mata

Di Indonesia, pembacaan teks sastra yang direpresentasi sebagai pertunjukan memang telah berkembang sedemikan rupa dan telah melahirkan bintang-bintang panggung sastra dengan ciri khas masing-masing. Penyair Leon Agusta dalam esai bertajuk “Konsepsi Kepenyairan” (terkumpul dalam Dua puluh Sastrawan Bicara. Sinar Harapan: 1984) pernah mendaftar nama-nama penyair yang berhasil meninggalkan kesan tertentu ketika berada di atas panggung: Menyaksikan Rendra sungguh menakjubkan, penampilan Taufiq Ismail memikat dan mengasyikkan, Darmanto Yatman santai dan pintar menggelitik, dan Sutardji Calzoum Bachri tampak bringas, penuh “terror” dan tenggelam dalam ekstase.

Tetapi batas dinding panggung yang memisahkan pembaca dan pendengar teks sastra pun didobrak. Adalah Wiji Thukul yang mendekatkan diri pada publik dari rumah ke rumah, warung ke restoran, kampus ke kampus dan berkeliling ke Solo, Bandung, Yogya, Jakarta, Surabaya sampai ke Korea dan Australia untuk ngamen puisi dengan memposisikan diri berada sejajar dengan para pendengar (Aku Ingin Jadi Peluru. Indonesiatera: 2004. h.219-220). Bahkan, teks sastra pun dalam perkembanganya berhubungan mesra dengan kesenian pop, semisal Bimbo dan Chrisye yang melantunkan puisi Taufiq Ismail.

Menurut pandangan Afrizal Malna dalam prolog Sesuatu Indonesia, Personifikasi Pembaca yang Tak Bersih (Bentang Budaya:2000), pembacaan teks sastra semacam itu telah melampui pagar teks itu sendiri sebagai teks yang “menyaksikan” kepada teks yang “disaksikan”. Otoritas kebebasan pembaca di depan teks tercetak berkurang banyak ketika ia harus menyaksikan teks sebagai tontonan. Posisi pembaca teks berkedudukan lebih penting daripada teks dan teks semakin riuh oleh banyaknya unsur pertunjukan yang mengelilinginya.

Keriuhan yang mengelilingi teks memang tak dapat dihindari. Sejak awal, teks sendiri tak hadir secara netral pada pembaca melainkan tampil dalam tradisi kanonisasi atau korpus teks yang dibentuk menurut ideologi tertentu, yang bergerak dengan cara-cara tertentu di seputar lingkungan lembaga pendidikan. Kadangkala pula ketertarikan pada teks juga dipengaruhi riwayat capaian penulis yang ditanggapi sebagai parameter kualitas teks. Walaupun teks tak hadir secara netral, tapi mata pembaca bertemu langsung dengan setiap kata dalam teks yang dihubungkan dengan kata lain yang telah atau pun belum tersedia dalam kamus suatu bahasa.

Pertemuan mata pembaca dengan setiap kata dalam teks inilah yang tak terjadi pada pembacaan teks sastra yang direpresentasi sebagai pertunjukkan. Peran mata dialihkan untuk menghayati gerak tubuh pembaca dan bekerja serempak dengan telinga yang mendengar pelafalan atau lantunan teks sastra. Uniknya, pergeseran juga terletak pada wilayah tafsir; jika teks sejatinya berpotensi didapat lewat penghayatan dari membaca berulang-ulang, maka pada pembacaan sastra, tafsir teks justru berada pada gesture dan cara pelafalan si pembaca teks.

Maka disinilah Feeling of true Measure berkedudukan penting. Dan Wage Tegoeh Wijono adalah contoh dari lingkungan saya tinggal, yang saya kira kerap berhasil mengeksplorasi teks sastra yang menumpang pada bibir dan tubuhnya untuk diolah dengan kadar atau takaran yang benar untuk memikat mata dan telinga penontonnya. Bukan hal aneh jika laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sol sepatu ini berhasil melakukannya, karena selain intim dengan membaca karya sastra dalam aktivitas sehari-hari, pekerjaannya yang berhubungan dengan masyarakat umum menjadi modal berharga sebagai pembentuk kesadaran keberlisanannya.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/abdul-aziz-rasjid/sastra-yang-menumpang-pada-bibir-tubuh/10151027679672489?ref=notif&notif_t=note_tag