Spiritualisme Sastra

Mohamad Ali Hisyam *
Seputar Indonesia, 3 Okt 2009

BOLEH dibilang, terorisme adalah bagian dan hasil dialog dan perjumpaan antaragama yang belum sepenuhnya berhasil. Padahal, upaya untuk mengakrabkan setiap agama sudah lama diretas.

Panorama perjumpaan antaragama secara formal memang sudah kerap terjadi dalam kaleidoskop sejarah. Guna meredam gejolak konflik serta menautkan muatan luhur di tubuh tiap-tiap agama,pertemuan formal semacam ini penting dilakukan dan seyogianya terus dilestarikan. Namun, yang sebenarnya lebih penting dari itu semua adalah keselarasan dan kesalingsapaan antarpemeluk agama dalam realitas keseharian.

Visi perdamaian serta penggalian nilai-nilai agama akan terjalin dengan akrab manakala esensi keteduhan agama diwujudkan melalui ritme interaksi sosial yang melibatkan seluruh masyarakat hingga lapisan akar rumput. Kesadaran untuk saling menghormati antaragama dalam prilaku profan masyarakatlah yang paling berpotensi mendorong hubungan sosial dalam bingkai yang sejuk dan dinamis. Spiritualitas, yang merupakan ruh kesadaran kemanusiaan, semestinya dijadikan modal berharga guna menjalin interaksi dalam komunitas plural menuju ke arah pencerahan yang humanis, toleran, dan transformatif.

Pada dimensi ini, penting direnungkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk spiritual. Ia adalah bagian dari keluarga Mahacahaya (family of the light).Pelbagai kekacauan yang terjadi di muka bumi, sepanjang sejarah, salah satunya disebabkan karena kita telah abai dan alpa akan jati diri kita sebagai makhluk spiritual. Manusia niscaya akan hidup penuh kedamaian manakala ia telah menemukan jati dirinya, yaitu hidup dengan mengesampingkan ego dan mengedepankan cinta kasih.

Membincang ihwal persinggungan lintas agama, karya sastra juga tak ketinggalan untuk turut berikhtiar menjadi media dan jembatan penghubung yang mampu mengantarkan kesadaran khalayak menuju altar spiritualitas yang damai dan lintas batas. Sastra melansir muatan nilai kemanusiaan yang mengasah kepeduliaan serta rasa saling hormat antarpemeluk agama. Kendati memang tidak terlalu banyak karya sastra yang secara sublim mengupas seputar spiritualitas agama.Terlebih yang mengulasnya dari dimensi lintas agama.

Di antara yang sedikit itulah kita bisa menyebut novel Memburu Kalacakra (Bentang Budaya: 2004) karya Ani Sekarningsih sebagai salah satu pustaka berharga dalam belantika karya sastra maupun referensi kebudayaan yang mengurai ihwal spiritualitas secara umum. Bila dalam novel sebelumnya, Namaku Teweraut, Ani lebih memperkental alur ceritanya dari perspektif antropologi, di novel Memburu KalacakraAni Sekarningsih lebih khusyuk dengan pilihan tema-tema ideologis: seputar spiritualitas.

Di tengah kondisi sosial masyarakat kita yang tak kunjung pulih dari krisis moral,pilihan tema yang disodorkan Ani dapat menjelma oase yang menyegarkan. Secara ringkas narasi Memburu Kalacakra dengan sepenuh hati hendak menjawab sebuah pertanyaan mendasar: bahwa dalam mengarungi samudra hidup,manusia butuh bekal keberanian mencari dan mengasah sumber spiritualitas yang menghampar luas sepanjang semesta kehidupan itu sendiri.

Dalam karya ini spiritualisme bahkan bisa dikais tidak hanya melalui agama, melainkan dari artefak-artefak peradaban yang mengelilingi manusia. Salah satunya adalah kearifan budaya yang bernilai tuntun positif.Lewat tokoh Arleta, Memburu Kalacakra berupaya menyajikan gambaran bagaimana pengembaraan seorang anak manusia yang dengan begitu intens melakukan pencarian spiritual yang tiada ujung. Dalam khazanah sastra Indonesia mutakhir, karya sastra yang menggarap tema spiritualitas lintas agama ini sebenarnya sudah pernah ada.

Kita bisa menyebut dua seri Supernova (Dewi Lestari) serta Tujuh Musim Setahun (Clara Ng) sebagai sedikit di antara karya pribumi yang mengemas tema religiositas dan spiritualitas dari beragam sudut. Pada spektrum yang lebih luas, kita akan menemukan sejumlah keserupaan antara karya yang dihasilkan sastrawan Indonesia dengan karya-karya sastra spiritual karangan James Redfield.Setidaknya, sepasang karya Redfield, yakni The Secret of Shambala dan The Celestine Prophecy (keduanya sudah diindonesiakan oleh penerbit Gramedia) memperlihatkan pada kita bagaimana petualangan spiritual seseorang telah membuat dirinya berkemampuan melintas sekat, berburu spiritualitas dari ladang satu ke ladang yang lain. Tanpa kenal ruang, tanpa tabir waktu.

Seorang pemeluk agama yang saleh tidak hanya sibuk berhubungan dengan Tuhan dalam wujud prilaku ritual formal. Lebih dari itu, ia akan senantiasa peduli dan memikirkan kehidupan lingkungan sosial di sekitarnya, dengan cara ”bersalaman” saling bahu membahu menyemai kesalehan sosial yang tak hanya mengerubung dalam satu lingkaran komunitas, melainkan juga menebarkan kesejukan kepada semua orang.

Termasuk di dalamnya penganut berbagai agama. Artinya, agama merangkum rahmat bagi alam yang bakal bermakna bila ia ditaburkan dengan penuh ketulusan.

*) Mohamad Ali Hisyam, Penikmat sastra, mengajar di Universitas Trunojoyo Madura
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/10/spiritualisme-sastra.html