Sudarto, Rasa Cintanya pada Gamelan

Padli Ramdan
http://www.lampungpost.com/

TIDAK ada darah seni yang mengalir di tubuh Sudarto. Dia pun tidak begitu mahir memainkan alat musik Jawa.

Berawal dari kecintaan pada seni karawitan, dia membuat sendiri alat musik jawa, kemudian mendirikan Paguyuban Seni Karawitan Ngesthi Budhoyo. Hampir semua alat musik yang digunakan dalam paguyuban adalah buatan Sudarto.

Sejak membentuk paguyuban seni tahun 1994, Sudarto membeli beberapa alat musik Jawa bekas. Alat musik itu tidak lengkap sehingga ditambah dengan buatan tangan sendiri. Mulai dari pemotongan kayu hingga penghalusan perunggu dikerjakan sendiri oleh mantan Kepala SMAN 2 Bandar Lampung ini.

Dia menyebut beberapa alat musik yang dibuat sendiri, seperti ketoksaron, demon, gender, dan slentem. ”Nadanya saya selaraskan sendiri,” kata dia.

Kini semua pemain di Paguyuban Ngesthi Budhoyo menggunakan alat musik yang dibuat oleh Sudarto. Dia mengakui memang ada beberapa teman yang membantu dalam pembuatan alat musik tersebut.

Menurut kakek dua cucu ini, kemampuannya dalam membuat alat musik karena didasari rasa cinta pada kesenian. Rasa cinta pada seni membuat dirinya paham untuk men-setting, nada alat musik Jawa. ”Saya sering dengar musik Jawa, jadi tahu bagaimana nadanya,” ujar Sudarto.

Uang yang dipakai untuk membuat alat kesenian berasal dari kantong pribadi Sudarto. Meskipun tidak sebagus alat musik perunggu yang asli, bunyi dan nada yang dihasilkan tetap merdu dan enak didengar. Buktinya paguyuban ini sering diminta tampil untuk mengisi acara perkawinan. ”April dan Juni mendatang kami sudah diminta untuk pentas di daerah,” kata dia.

Sudarto memang lahir dari keluarga Yogyakarta yang kental dengan kesenian Jawa, seperti wayang dan karawitan. Namum, dari pihak keluarganya tidak ada satu pun yang terlibat langsung dalam kesenian. Dia pun suka mendengarkan dan melihat kesenian Jawa.

Suami dari Suryatmi ini mengaku belajar kesenian secara autodidak, lewat buku, kaset, dan melihat pertunjukan kesenian secara langsung. Latar belakang pendidikan pun tidak berhubungan dengan seni. Dia menyelesaikan strata satu di FKIP Universitas Islam Indonesia (UII).

Bagi pria kelahiran 26 Agutus 1951 ini kesenian adalah obat stres. Lewat kesenianlah orang mengekspresikan diri. Stres disebabkan karena perasaaan tidak bisa diekspresikan.

Lewat seni, perasaan itu diekspresi. Sudarto masih terlihat segar bugar. Meskipun sudah pensiun dari dunia pendidikan, dia masih memiliki segudang aktivitas. Selain kesenian, masih aktif di kegiatan sosial, seperti pramuka.

Paguyuban seni yang dia pimpin masih rutin latihan setiap minggu di rumah Sudarto, di Jalan Nusa Indah I, Sukarame. Latihan yang dilakukan hingga pukul 01.00 ini bisa dihadiri ratusan anggota paguyuban. Beberapa tetangga sekitar rumahnya pun turut menyaksikan latihan karawitan yang dilakukan tiap malam Selasa ini.

Dia mengatakan seni bisa menjadi sarana orang untuk bersilaturahmi dan berkumpul. ”Siapa yang mau hanya kumpul ramai-ramai tidak ada kegiatan. Lewat seni karawitan dan wayang, orang pun tertarik duduk bersama sambil menikmati kesenian,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Sudarto tidak lepas dari rasa untuk melestarikan seni dan budaya Jawa. Kesenian Jawa, lewat gamelannya, sudah diakui oleh dunia sehingga harus dilestarikan. ”Seni dan budaya merupakan bagian dari jati diri bangsa dan harus terus dirawat,” katanya.

Sudarto sebagai wakil dari kaum tua sudah melakukan aksi nyata untuk melestarikan karawitan dan wayang. Namun, langkah itu tidak diikuti kaum muda. Menurutnya, anak muda kurang tertarik pada kesenian Jawa. Anak muda tertarik pada musik Barat yang dia nilai instan dan tidak ada apa-apanya dengan musik tradisional Jawa.

Menurutnya, kesenian Jawa terus ada selama masih ada yang meminati. Orang yang tinggal di kota besar memang hanya berminat pada tari dan seni campursari. Sedangkan orang di daerah lebih memilih pertunjukan wayang kulit.

Sudah hampir semua kabupaten dan kota di Lampung dia kelilingi untuk menampilkan kesenian karawitan dan wayang. Terutama pada pemilihan gubernur tahun 2009, paguyuban dikontrak untuk tampil di beberapa daerah selama masa kampanye.

Sudarto memiliki keinginan agar seni dan budaya warga pendatang di Lampung bisa berkembang bersama dengan seni warga pribumi. Banyak sekali orang luar Lampung yang tinggal di Provinsi Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Hal ini menjadi kelebihan bahwa Lampung bisa menjadi Indonesia mini. Perpaduan antara seni pendatang dan seni pribumi akan menjadi perekat alat pembauran di masyarakat.

Meskipun tanpa bantuan anggaran dari pemerintah daerah, Sudarto masih tetap melestarikan paguyuban seninya. Seni akan makin meriah bila ada andil pemerintah, Dia berharap agar kesenian Jawa bisa diajarkan di sekolah-sekolah.

Muridlah yang nantinya memilih untuk mendalami kesenian yang sesuai dengan keinginannya. Seni sangat universal dan tidak dibedakan mana Jawa dan bukan Jawa. ”Syukur-syukur bila semua kesenian bisa diajarkan di sekolah,” kata Sudarto.

11 March 2012