Membaca Cerita

Yusrizal KW
Padang Ekspres 29/05/2011

Namanya Laila. Setelah seharian tak tampak oleh ayah dan ibunya, ia ditanya, “Kamu dari mana saja seharian tidak tampak?”
Gadis jolong gadang ini menjawab, “Saya baru kembali dari cerita, Ayah!”

Berkerut kening ayah mendengar jawaban sang putri. Biasanya, kalau pertanyaannya dari mana, jawabnya menunjukkan tempat. Tapi tidak demikian dengan Laila. Ia malah menjawab, “Dari Cerita”.

Sekitar seminggu yang lalu, ibunya geleng-geleng kepala ketika si Laila ini menjawab, “Aku baru saja dihanyutkan oleh puisi-puisi Chairil Anwar, Ibu….”

Jawaban-jawaban Laila demikian, pada akhirnya dipahami sebagai suatu kehebatan tersendiri oleh kedua orangtuanya. Laila bukanlah anak aneh. Tetapi, seorang anak, yang memiliki dunia yang lebih indah dibanding dengan anak sebaya dengannya.

Ia memiliki ruang imajinasi yang hebat, yang bisa membuat ia seperti selalu pergi dan pulang dari sebuah dunia baru. Ternyata, sang ayah, sejak kecil, selalu mendidik Laila untuk membaca buku, terutama karya sastra atau naskah-naskah cerita. Tak heran, setiap punya uang jajan berlebih, Laila menabungkannya untuk membeli buku. Kini, koleksi buku-buku ceritanya, sudah banyak. Rak buku di kamarnya, dipenuhi buku-buku cerita yang bagus dan bermutu.

Pada buku hariannya, Laila menulis: Ayah dan ibuku orang hebat, walau keduanya hanya tamat SMA. Mereka selalu membelikanku buku-buku cerita, dan hingga kini, aku terbiasa membaca kisah-kisah hebat dari dalam karya sastra. Aku punya banyak kumpulan dongeng, cerpen, novel dan kumpulan puisi. Artinya, rak bukuku, diisi oleh buku-buku sastra.

Setiap aku menamatkan sebuah novel, atau buku cerita, aku merasa baru kembali dari negeri yang indah. Aku merasa baru pulang dari sebuah negeri, sebuah tempat yang aku menjadi bagian dari plot, alur dan tema kehidupan mereka. Ketika orang dalam negeri cerita itu sedih, menderita, aku merasakan sedih dan derita. Begitu juga untuk kebahagiaan. Aku kadang terjebak membenci tokoh yang zalim dalam novel, sebagimana aku juga sering mendambakan cowok keren dalam cerpen remaja yang kubaca.

Ayah Laila merasa bahagia, ketika anak-anak lain merengek minta dibelikan handphone atau blackbery terbaru, ia justru direngek untuk membelikan buku cerita. Yang paling berat, anaknya minta dibelikan rak buku. Tapi, ia mengabulkan, sebagaimana temannya mengabulkan permintaan anaknya minta dibelikan sepeda motor.

Seorang teman dari ayah Laila, suatu kali berkata, “Bung, sediakan buku-buku cerita bermutu di rumah untuk dibaca anak-anakmu. Dari situ ia bisa memainkan imajinasinya, membayangkan sesuatu, lalu memaknainya dengan caranya sendiri…. Kelak dia akan menjadi orang yang berhati baik….” Ayah Laila melakukan saran temannya itu, sehingga ia menyadari, perlu menyediakan bacaan setiap saat untuk anak di rumah. Tugasnya sebagai orangtua, bukan memberi makan atau sekadar memasukkan ke sekolah atau mencarikan tempat les yang bagus. Tapi, sebagai ayah, ia menyadari, juga perlu menyuapkan makanan bagi batin dan jiwa anaknya yang lapar. Buku salah satunya, agar anaknya kuat dan berilmu.

Di suatu pagi, ibu Laila diam-diam membuka buku harian anaknya. Laila kebetulan sedang ke sekolah. Dalam buku harian itu, sang ibu terharu. Laila menulis: Tuhan memberiku ayah dan ibu yang berbeda dengan ayah dan ibu teman-temanku. Ketika aku berkunjung ke rumah teman-teman-temanku, tidak menemukan rak buku di rumah temanku. Yang banyak lemari berisi kristal, benda-benda berharga selain buku. Oya, ketika aku berkunjung ke rumah beberapa orang guruku, juga tidak ada rak khusus buku, sementara aku harus menuntut ilmu dari mereka. Ah, aku tiba-tiba jadi bangga pada ayah dan ibuku, yang menyediakan buku dan raknya di rumah kami, sehingga aku tak pernah merasa kurang.

Ayah dan ibuku orang hebat, karena tahu manfaat uang salah satunya untuk membeli buku. Ibunya Laila, habis membaca catatan harian anak perempuannya itu, tersenyum. Ia menulis SMS panjang kepada adiknya, yang punya anak kelas satu sekolah dasar. Ia tulis, Dik, kenalkan cerita melalui lisanmu, melalui buku-buku bagus kepada anakmu yang kelas satu sekolah dasar itu. Kalau punya uang lebih, ajak dia ke toko buku, beli buku cerita atau dongeng. Jika remaja, perkenalkan dia pada cerpen, novel dan cerita-cerita yang luar biasa. Karena dengan itu jiwanya akan kaya, akan merasa selalu pergi dan kembali dari cerita, sebuah dunia yang memberi warna-warni kehidupan hakiki.

Setelah itu, ibu Laila bergumam dalam hati. Kita hidup, harus membaca cerita. Membaca novel. Sebab, novel atau cerita, adalah rautan kisah dan kehidupan, yang memberi pengalaman batin, sekaligus memperhalus rasa dan budi kita sebagai pembaca. Selesai membaca novel atau cerita atau sebagaimana dikatakan Laila, kita merasa kaya dalam jiwa. Seakan pulang membawa buah tangan yang isinya: makna kehidupan terasa manis ketika saripatinya didapat dari membaca dengan hati. Tak banyak orang yang tahu, membaca cerita atau novel (karya sastra), baik buat jiwa dan pikiran.

Dijumput dari: http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=407