Kreatif sebelum ke Dunia Kerja
Heri Faisal
Padang Ekspres 15/10/2011

Menjadi profesional. Itulah target yang diharapkan anak-anak Sastra Production (Es-pe) setiap kali mengangkat acara. General Manager Es-pe, Chairani menyebut mereka selalu berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk menyelesaikan acara yang diprogramkan.

“Akhir tahun ini kami akan mengisi beberapa kegiatan di Padang Fair 2011, termasuk kegiatan rutin kami, Boom Sastra,” katanya kepada Padang Ekspres, kemarin (14/10). Kegiatan di Padang Fair itu meliputi iven pendidikan, kebudayaan, dan hiburan.

Kata Rani, panggilan akrab Chairani, masing-masing iven itu harus diisi dengan acara-acara yang kreatif. “Kami masih rancang, tunggu saja tanggal mainnya,” ujar dara asal Bukittinggi itu penuh rahasia.

Keunggulan sebuah EO (Event Organizer) itu katanya adalah dalam kreativitas pengemasan acara. Bagaimana membuatnya menjadi menarik dan diapresiasi banyak orang. Terutama pihak sponsor yang mendanai. Makanya, mereka butuh tim yang solid yang di dalamnya berisi orang-orang kreatif. Dia menyebut Es-pe berdiri didasari ketidakjelasan kepanitiaan setiap kali membentuk acara di kampus. “Dulu itu di Sastra, setiap ada iven selalu bentuk kepanitiaan, kemudian bubar setelah acara berakhir.

Begitu seterusnya. Jadi, kepanitiaan itu selalu diulang-ulang dari awal, akibatnya acara jarang yang maksimal,” kata Rani.
Dari sanalah mereka berinisiatif memiliki EO sendiri. Sejak 2001 mereka mulai rutin menggelar acara-acara di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Imu Budaya) Universitas Andalas (Unand). Pada 2005, dekan FS resmi mengeluarkan izin untuk Sastra Production sebagai sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di FS Unand.

“Tapi, untuk kegiatan kami tidak terpusat hanya di Fakultas Sastra saja. Sering kali kami bikin acara di luar kampus,” katanya. Begitu juga untuk pendanaan kegiatan. Mereka tidak terlalu mengharapkan bantuan dana dari kampus. Tetapi, lebih memilih membangun dan memanfaatkan jaringan yang baik dengan menggaet sponsor.

Maka sekarang, sponsor besar seperti Djarum, ClassMild, dan provider seluler menjadi mitra kerja tetap yang selalu ada setiap kali mereka berkegiatan. Rani menyebut itu berkat jaringan kuat yang mereka bangun selama ini. “Kuncinya adalah meyakinkan klien soal acara yang kita angkat. Buat mereka percaya dan jangan kecewakan,” kata mahasiswi Sastra Inggris angkatan 2009 itu.

Johanes Ariffin Wijaya, penulis buku Tujuh Langkah Jitu Membangun Bisnis Event Organizer mengingatkan bisnis EO adalah bisnis kepercayaan. Untuk membangun kepercayaan totalitas harus nomor satu. Tidak perlu orang pintar, tapi mereka yang mau berkorban dan berani mengemban tanggung jawab.

Detail-detail kerja EO itu sudah mereka pelajari dengan baik dari pengalaman-pengalaman mengangkatkan acara. “Kami tujuannya cari pengalaman, sebagai tempat belajar sebelum masuk dunia kerja. Jadi di sini semua anggota harus belajar semuanya,” ujar Rani yang baru dilantik jadi GM sejak Agustus lalu.

Itu diakui Cynthia Faradilla, seorang anggota Es-pe. Dia mengaku beruntung bisa bergabung Es-pe. Selain karena memang ingin belajar tampil di depan publik, dia bisa belajar menyusun proposal acara, mengatur kepanitiaan, melobi, hingga membawakan acara. “Dulu aku paling takut bicara depan umum, sekarang sudah ngga lagi, sudah pede,” akunya.

Meski banyak menggelar iven-iven di luar kampus, seperti mengisi acara Padang Fair, bikin festival musik, atau mengisi acara tahun baru, mereka mengaku menggelar acara tidak untuk cari untung. “Kami ngga mikiran untung. Bisa bikin acara sampai sukses saja sudah jadi kebanggaan buat kami,” katanya.

Namun begitu, dia tidak menampik ada beberapa acara yang menghasilkan keuntungan. Hasilnya, tidak saja dibagi-bagikan ke anggota, sekaligus masuk kas organisasi. Hm, terus kreatif Es-pe.

Dijumput dari: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=14670

Categories: Canting