Siapa Kritikus Sastra di Sumatera Barat?

Muhammad Subhan
http://kuflet.com 08/01/2012

Saat ini, setidaknya ada tiga koran harian di Padang yang menyediakan rubrik Seni dan Budaya dengan kolom cerpen “serius”nya. Saya katakan serius karena ketiga koran itu memang serius menampilkan cerpen-cerpen bernilai sastra. Koran-koran tersebut adalah harian Singalang, Padang Ekspres dan Haluan. Singgalang sepengetahuan saya sudah cukup lama memberi kesempatan kepada penulis-penulis Sumbar, khususnya kalangan muda untuk menulis cerpen-cerpen serius. Padang Ekspres sebagai koran yang masih berusia muda di daerah ini juga memberi kesempatan yang sama. Haluan sendiri, sejak berganti manajemen, semakin serius mengelola ruang sastranya. Berbeda Haluan di era sebelumnya yang fokus pada cerpen-cerpen bertema anak dan remaja.

Dari ketiga koran harian yang terbit di Padang ini, sejumlah nama cerpenis muncul dengan gaya penulisan masing-masing. Sekedar menyebut nama, ada Yetty AK, Sondri BS, Anwar Thahar, Agus Hernawan, Ade F Dira (Ragdi F Daye), Yonda Sisko, Yung Ster Twin, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Syarifuddin Arifin, Abrar Khairul Ikhirma, Inriani, Asril Koto, Eddy Pranata, Edy Sumanto, Dasril Achmad, Irmansyah Ucok, Alwi Karmena, Pinto Janir, Andri Sandra, Yusril Katil, Yulizar Nassa, Prel T, Free Hearty, Luzi D, Maifirizal, Eddie MNS Soemanto, Zurianti, M. Isa Geutama, Rudi Rusli, Yusril Ardanis, Iggoy el Fitra, Deddy Arsya, Kurnia Hadinata, serta sejumlah nama lainnya.

Belum tersebut siapa kritikus sastra Sumbar hari ini yang menghebohkan ulasan kritiknya. Beberapa tahun belakangan, masih terlihat produktivitas Prof. Hasanuddin WS dan Ivan Adilla di media, sebagai dua nama di antara sedikit nama-nama kritikus yang ada di Sumbar. Sebelumnya, ada almarhum Prof. Mursal Esten dan AA Navis yang sudah mendahului kita semua. Selain nama-nama itu, tak ada lagi generasi baru yang muncul. Mereka adalah orang-orang yang memberi warna pada konfigurasi dunia sastra di Padang saat ini. Namun, menurut saya, sebagian di antara nama-nama yang tersebut itu masih sangat diharapkan produktivitasnya untuk secara rutinitas mempublikasikan karya-karya mereka di koran terbitan Padang yang hari ini “merindukan” karya-karya mereka. Tentunya, dengan harapan ada munculnya kritikus-kritikus baru untuk mengkritik karya-karya mereka pula.

Fenomena menarik yang patut didiskusikan, adalah masih kurangnya penghargaan koran terhadap karya-karya mereka di kampung sendiri. Penghargaan yang saya maksud, diantaranya secara finansial sebagai input “kerja keras” para cerpenis itu. Melalui tulisan ini, saya merasa risih menyebut berapa jumlah honor yang diterima penulis untuk setiap cerpen yang dipublikasikan di koran bersangkutan. Artinya, honor untuk cerpenis Sumatra Barat di daerah sendiri masih jauh dari yang diharapkan. Maka tak heran, kalau koran-koran di Padang hanya sekadar “batu loncatan” saja, khususnya bagi para cerpenis pemula. Target mereka adalah koran-koran Jakarta yang tampaknya telah menjadi kiblat, meski sejujurnya sering kali tak terpanjat. Beberapa orang yang saya cermati berhasil menembus “dinding” yang tinggi itu, adalah Wisran Hadi, Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, Gus tf Sakai, Yusrizal KW, Ode Barta Ananda (alm.), Asril Koto, Iyut Fitra, Heren Yahya, Khairul Jasmi, Agus Hernawan, Yusril Ardanis, Yetty AK, Ragdi F Daye, dan sedikit nama lainnya. Mereka berhasil menerbitkan sejumlah cerpen terbaik mereka di koran-koran Jakarta, seperti Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo dan sejumlah media cetak lainnya.

Jelas saja, sudah menjadi tradisi bagi cerpenis Sumbar untuk berlomba-lomba mengirimkan karya ke koran-koran Jakarta. Selain untuk sebuah prestise, prestasi, dan tentu juga “pitih”. Tak tanggung-tanggung, koran Jakarta memang sangat mengharagai karya-karya penulis daerah yang mampu memenangkan kompetisi seleksi redaksi. Honor yang akan diterima cerpenis yang karya mereka lolos di meja redaktur budaya, ratusan ribu rupiah jumlahnya. Cukup menggiurkan, lebih dari sekadar untuk mengganti ongkos cetak dan ongkos kirim. Maka, semakin menghilanglah satu demi satu penulis-penulis Sumatra Barat yang selama ini memang memanfaatkan koran-koran Padang sebagai batu loncatan. Karena kehilangan penulis-penulis produktif itu pula, redaktur budaya sering kewalahan akan menerbitkan cerpen siapa. Maka bercampur baurlah antara cerpen-cerpen yang berkualitas pemula dengan cerpen-cerpen yang sedang berupaya mencari jati diri kepenulisannya. Sebab kelangkaan karya bermutu itu pula, tak ada lagi yang berminat mengkritik cerpen-cerpen yang muncul hampir setiap pekannya itu.

Sampai saat ini, belum ada nama kritikus baru yang terlihat di koran-koran terbitan Padang. Bahkan yang ironisnya, mahasiswa jurusan sastra, baik di Universitas Negeri Padang maupun Universitas Andalas masih belum tampak secara konsisten menulis. Satu dua muncul, satu dua pula menghilang. Tapi mau apa lagi. Itulah fenomena berkesusateraan yang terjadi di Sumatra Barat hari ini. Media semakin banyak, namun cerpen-cerpen bermutu semakin langka. Tak ada lagi karya yang bisa menandingi—atau setidaknya sama—dengan cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis yang cukup fenomenal itu. Memang, kata orang-orang tua kita dahulu, setiap jaman selalu meninggalkan sejarahnya. Dalam sejarah tiap-tiap jaman itu pula, muncul tokoh-tokoh penulis yang mengukir sejarah baru.

Tak kecuali para cerpenis dan para kritikusnya. Sudarmoko, kritikus muda Indonesia dalam esainya di harian Kompas pernah menulis, “Kondisi kritik sastra yang berorientasi pada keilmuan dan kebutuhan sastra saat ini masih terus diliputi tanda tanya. Kritik sastra belum mengarah pada usaha yang maksimal. Setidaknya, melihat kondisi yang ada, seharusnya kondisi kritik sastra dapat lebih baik dari hari ini….”. Ada benarnya harapan Sudarmoko itu. Namun, tidak maksimalnya usaha para kritikus sastra kita hari ini, faktor penyebabnya tidak lain “kemalasan” mengkritik karya sastra yang belum menunjukkan mutu sebenarnya. Dan, saya rasa, kualitas sebuah cerpen akan menentukan kualitas kritik yang dihasilkan para kritikusnya.

Dijumput dari: http://kuflet.com/2012/01/siapa-kritikus-sastra-di-sumatera-barat/