Balada Anak-Anak Buruh Migran

Judul : Kue-Kue Cinta
Penulis : Fita Chakra & Wylvera W
Penerbit : Pelangi Indonesia
Cetakan : I, Januari 2013
Tebal : 224 Halaman
Peresensi: Untung Wahyudi *
Kompas, 14 Maret 2013

Tahukah kita bagaimana nasib anak-anak buruh migran yang ditinggal orangtua mereka ke luar negeri? Keputusan orangtua mereka untuk meninggalkan keluarga dan anak-anak bukanlah hal yang mudah. Sebagai orangtua, mereka tidak akan pernah mau hidup jauh dari anak-anak, terutama jika anak mereka masih kecil.

Tapi, hidup harus tetap berjalan. Keadaan yang serbasulit di kampung halaman membuat seseorang segera mengambil tindakan. Salah satunya menjadi buruh migran atau TKW ke luar negeri. Keputusan itu bisa menjadi pilihan terakhir, karena keterbatasan skill dan lapangan kerja di negeri sendiri yang tidak memungkinkan.

Demikianlah apa yang dilakukan Fatimah dalam novel keluarga Kue-Kue Cinta. Demi menyambung hidup, wanita dengan dua orang anak yang masih kecil itu memutuskan untuk merantau ke Negeri Jiran Malaysia. Awang dan Nining, anaknya, dia titipkan pada Suminah, perempuan yang selama ini telah banyak membantunya dari kesulitan, terutama sejak suaminya meninggal dunia.

Pada Suminah, Fatimah berjanji, kelak dia akan rutin mengiriminya uang untuk biaya hidup dan sekolah anak-anaknya. Karena Suminah hanya bekerja sebagai penjual kue keliling yang penghasilannya tidak seberapa.

Tapi, berbilang tahun, bahkan hingga masa kontrak Fatimah bekerja di Malaysia berakhir, uang yang dijanjikan untuk dikirim ke kampung tidak pernah mereka terima. Suminah benar-benar kewalahan, terutama untuk membayar biaya sekolah Awang dan Nining yang sudah nunggak tiga bulan. Sementara pihak sekolah sudah tidak bisa memberi toleransi. Waktu yang ditentukan untuk membayar SPP sekolah sudah lewat. Terpaksa Awang dan Nining harus ke luar dari sekolah (halaman 21).

Suminah sangat sedih ketika mendapatkan surat dari pihak sekolah Awang dan Nining. Perempuan lajang yang juga teman dekat Fatimah semasa hidup di panti asuhan itu tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan pihak sekolah untuk mengeluarkan Awang dan Nining.

Tapi, Awang dan Nining termasuk anak yang cerdas dan tidak gampang menyerah. Mereka bertekad akan mencari uang sendiri untuk meringankan beban Suminah yang selama ini menjadi pengganti ibunya. Awang dan Nining memutuskan untuk mengamen di jalanan. Keputusan itu mereka ambil karena tidak ada pilihan lain. Siapa yang mau mempekerjakan mereka yang masih di bawah umur? Awang mulai serius belajar main gitar “warisan” mendiang Ayahnya. Nining pun tak kalah saing. Dia juga serius latihan menyanyi. Kebetulan Nining memiliki suara yang lumayan bagus (halaman 85).

Suminah sangat khawatir dengan keputusan kedua anak itu. Tapi, Suminah juga tidak bisa melarang mereka mengamen. Wanita itu hanya berdoa demi keselamatan mereka, terutama dari gangguan atau ancaman preman jalanan yang mungkin akan mereka temui.

Apa yang dikhawatirkan Suminah terbukti. Awang dan Nining seringkali mendapat gangguan dari anak-anak sesama pengamen. Mereka berdua dituduh merebut daerah kekuasaan anak-anak jalanan yang juga berprofesi sebagai pengamen. Padahal, Awang melihat selama ini wilayah yang menjadi tempat mangkalnya sepi dari pengamen. Makanya, Awang dan adiknya seringkali mendapatkan uang yang lumayan di tempat itu.

Tapi, anak-anak jalanan bertampang beringas itu tetap mengganggu Awang dan adiknya. Suatu hari, Awang dihadang dan dikeroyok hingga babak belur. Adiknya hanya menangis melihat kejadian itu. Nining akhirnya menyuruh kakaknya mengalah dan mencari tempat lain untuk mengamen (halaman 108).

Sejak kejadian itu Suminah tidak mengizinkan mereka mengamen lagi. Sebagai gantinya, perempuan itu mengajak mereka berjualan kue. Menjajakannya ke komplek perumahan yang tidak jauh dari rumah mereka. Awang dan Nining senang dengan ide Suminah. Mereka berjanji akan menjajakan sendiri kue-kue itu tanpa ditemani bibinya.

Jiwa berdagang ternyata cukup terlihat dari cara Awang dan Nining menjajakan kue. Aksi mereka berdua saat menawarkan ke perumahan-perumahan cukup ampuh menarik perhatian. Tak jarang dagangan mereka diborong atau mendapat pesanan dalam jumlah banyak untuk keperluan sebuah acara. Untuk menyemangati mereka dalam berjualan, Awang mempunyai ide untuk memberikan nama kue-kue buatan bibinya dengan nama ‘Kue-Kue Cinta’. Adiknya sangat setuju dengan nama itu (halaman 120).

Novel duet karya Fita Chakra dan Wylvera W. ini sarat dengan perjuangan hidup. Bagaimana anak-anak di bawah umur berjuang keras demi bertahan hidup di tengah kepungan krisis yang melanda keluarga mereka. Tokoh Awang dan Nining mewakili kisah pelik anak-anak para buruh migran yang tidak jelas bagaimana nasibnya di negeri seberang. Apakah mereka hidup senang dan aman di perantauan? Atau sebaliknya, mereka menjadi korban penyiksaan majikan-majikan keji seperti yang selama ini diberitakan media massa.

Novel setebal 224 halaman ini sarat dengan pelajaran hidup serta spirit entrepreneur. Lewat tokoh Awang, Nining, Fatimah, Suminah dan beberapa figuran dalam novel ini, pembaca diajak mengarifi serta memaknai perjuangan hidup. Dengan penuturan bahasa yang sederhana, novel ini tidak hanya cocok dinikmati usia anak-anak. Tapi, juga mampu menyentuh hati pembaca dewasa.

*) Alumnus IAIN Sunan Ampel, Surabaya.
Dijumput dari: http://oase.kompas.com/read/2013/03/14/00590663/Balada.Anak-Anak.Buruh.Migran