Belanja Sampai Mati, Citra Diri Remaja

Annisa Steviani *
resistbook.or.id

“NAMA saya Cheallaigh (ungkap Kelly),” tertulis di halaman depan situsnya. “Saya menderita anoreksia sejak umur 6 tahun, jenis bulimia. Berat 120 pon dan tinggi 5,6 kaki. Sekarang saya berumur 17 tahun dan mengikuti community college. Halaman ini adalah buku catatan pribadi berisi kisah cinta saya dengan anoreksia.”

Jika Anda menyangka “kisah cinta” yang dimaksud adalah cinta ironi, Anda salah besar. Kelly memang benar-benar jatuh cinta pada anoreksia. Ia mendewakan tubuh kurus. Demi tubuh layaknya model, ia bertahan menjadi seorang “pro-ana” (pro-anoreksia). Ia melaparkan diri, membuat menu makanan rendah kalori, memuntahkan apa yang ia makan, dan bangga untuk menjadi kurus dengan anoreksia. Di Amerika sepuluh persen remaja berperilaku anoreksia di usia 10 tahun atau kurang, sedangkan 33% memulai antara umur 11-15. Padahal, dampak dari penyakit ini sungguh mengerikan, menstruasi berhenti, pengeroposan dini tulang, lemah fisik, dan akhirnya kematian.

Kisah tentang anoreksia itu merupakan sedikit fakta mengejutkan yang dipaparkan penulis dalam bukunya Belanja Sampai Mati. Buku ini banyak memberikan fakta seputar gaya hidup remaja Amerika yang mengejutkan, sulit dipercaya, dan terkadang sedikit tak wajar.

Gempuran para model yang bertubuh kurus itu melekatkan citra “cantik”. Belum lagi standar cantik Hollywood di mana tubuh kurus dan payudara besar akan membuatmu terkenal. Para remaja berlomba mendapatkan tubuh kurus dengan payudara yang lebih besar. Implan payudara menjadi sesuatu yang sangat normal di kalangan pelajar SMU Amerika. Bahkan, operasi plastik di beberapa bagian tubuh untuk menutupi ketidaksempurnaan dan mendapatkan rasa percaya diri tidak lagi dianggap luar biasa oleh mereka. Selama satu tahun, dari tahun 2000 sampai 2001, jumlah operasi kosmetik yang dilakukan remaja usia 18 tahun meningkat 21,8%, dari 65.231 menjadi 79.501. Hampir 306.000 dari 7,4 juta operasi plastik yang dilakukan penduduk Amerika pada tahun 2000 bertujuan mengubah penampilan remaja dan anak-anak. Mereka pun terbiasa dengan gaya hidup bermerek layaknya selebriti Hollywood .

Merek, sadar atau tidak sadar, telah melekat pada diri masing-masing orang sejak mereka pertama kali mulai memilih baju mana yang cocok untuk dirinya. Di Amerika, para remaja benar-benar melekatkan merek-merek tersebut untuk citra dirinya. Remaja saling menilai berdasarkan merek yang dikenakan dan berapa jumlah uang yang ia (atau keluarganya) miliki. Sekarang, 55% siswa SMA Amerika bekerja 3 jam sehari dan hanya 27% siswa asing tidak bekerja. Betapa mereka mengorbankan waktu untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah untuk mendapatkan uang yang nantinya akan mereka belanjakan untuk sesuatu yang branded (bermerek).

Penulis memaparkan seluruh fakta tentang kapitalisme dan komersialisme pelajar Amerika ini dengan detail. Ia mengantar pembaca melihat sisi gelap dari pemasaran produk untuk remaja. Ia menguraikan jalinan rumit yang saling berkaitan antara kaum muda, media, budaya pop, agen korporasi, dan budaya konsumen.

Buku ini cocok bagi para remaja atau orang dewasa yang ingin “disadarkan” atas kebiasaan mereka berbelanja demi membentuk citra diri di mata orang lain. Bagi pembaca yang tidak pernah berbelanja barang-barang bermerek pun dapat memperluas wawasan tentang gejala-gejala konsumtivisme. Buku ini amat berharga tidak hanya sebagai telaah kritis atas apa yang melanda masyarakat Amerika, namun juga bisa menjadi panduan bagaimana menanggapinya. Masyarakat Indonesia dapat belajar dari semua fakta remaja Amerika ini agar generasi selanjutnya yang memang sudah kebarat-baratan tidak terus terjerumus dalam budaya pop Amerika.

*) Annisa Steviani, mahasiswa jurusan Jurnalistik Fikom Unpad.
Dijumput dari: http://mustofawh.wordpress.com/2008/07/21/belanja-sampai-mati-citra-diri-remaja/