Sunaryono Basuki Ks
Suara Karya, 16 Maret 2013

Pengakuan Seorang Tukang Sampah Kejadiannya? Begini. Seperti biasa di pagi buta itu aku sudah menelusuri jalan kota menuju kompleks perumahan yang sampahnya akan kukumpulkan. Kereta sampah yang dibuat dengan biaya proyek kebersihan kota beberapa tahun yang lalu, kuparkir di ujung lorong yang buntu dari kompleks perumahan itu.

Kereta sampah yang beroda dua, dinding bawahnya terbuat dari seng dan bagian atasnya terbuat dari anyaman kawat, sudah menemaniku beberapa tahun lamanya. Ban rodanya sudah beberapa kali kuganti atas biaya dari kas RT tempat kompleks perumahan itu berada, padahal kereta sampah ini juga aku pergunakan membuang sampah dari kompleks lain yang tidak punya tukang sampah. Tanpa kerja rangkap itu, sulit bagiku untuk menghidupi keluargaku.

Tentang penghuni kompleks? Penghuni kompleks ini selalu memerhatikan kesejahteraanku. Selain membayar iuran sampah setiap bulan, tak jarang pada pagi hari ini seseorang tiba-tiba keluar dari rumah, menyerahkan padaku baju atau kaos bekas, dan tak jarang sejumlah uang.Tidak banyak memang, tetapi sepuluh ribu rupiah atau dua puluh ribu benar-benar merupakan hiburan bagiku. Mereka tidak tahu bagaimana keadaan gubukku, berapa anakku atau apakah istriku bekerja. Andaikata mereka tahu bahwa anak-anakku sudah bersekolah semua, mungkin ada yang menyumbangku dengan sepasang sepatu bekas.

Situasi pagi itu? Sayang sekali pagi itu tidak ada yang membuka pintu. Aku mengumpulkan sampah dari satu bak sampah ke bak sampah yang lain dengan diam, tak ada salak anjing, tak ada suara yang menyapa. Maklumlah, pagi itu gerimis turun, dan udara agak dingin. Mungkin mereka sedang tidur, atau sedang salat subuh.

Dimana aku menemukan benda itu? Sebelum aku keluar dari gerbang kompleks, kulihat sebatang pipa paralon yang tergeletak di sisi gerbang.

“Wah, rejeki pagi-pagi,” kataku dalam hati. Di sisi gerbang, di dekat rumah di tepi jalan besar yang selalu dijaga petugas berseragam, aku menemukan pipa paralon itu. Menurutku, pipa ini sudah sengaja dibuang oleh pemiliknya, karenanya aku memungutnya. Aku memuatkannya ke dalam kereta sampahku. Nanti setelah sampah kubuang di tempat pemusatan pembuangan sampah, pipa paralon itu tentu saja tidak kubuang, tetapi akan kuambil dan siangnya akan kujual. Sedangkan sampah yang dibuang disitu berasal dari sejumlah tukang sampah di wilayah itu. Sekitar jam tujuh sebuah truk akan datang mengangkut sampah itu dan membawanya ke tempat pembuangan akhir sampah di luar kota. Terkadang tidak cukup sekali truk itu mengangkut sampah dari sana. Di tempat itu pagi-pagi sebelum sampah diangkut truk, sejumlah pemulung sudah giat mengais-kais rejeki di sana. Ada saja yang mereka pungut: potongan-potongan besi yang akan dikumpulkan pada pengepul khusus besi, kardus, bekas botol air mineral, semuanya bisa diuangkan. Namun aku memilih menjadi tukang smapah, bukan pemulung sampah.
Aku juga sering mengumpulkan karung bekas tempat beras dan kujual dengan harga beberapa rupiah. Lumayan.

Bagaimana hal itu terjadi? Aku sendiri tidak tahu tepatnya. Kalau tidak salah aku melintas di dekat tumpukan sampah yang dibakar. Tidak dekat sekali, tetapi tentu saja aku tidak bisa menghindar terlalu jauh dari kobaran api itu. Dan blur, tahu-tahu aku terjungkal entah berapa meter jauhnya. Rasanya tubuhku ditampar oleh tangan raksasa yang tak kelihatan.

Apakah aku tahu itu bom? Ah, tentu saja aku tak tahu. Aku hanya seorang tukang sampah. Bagaimana aku tahu itu bom? Dan bagaimana membuat bom? Kalau membuat petasan, dulu aku bisa. Aku menumbuk arang, kemudian mencampurnya dengan tumbukan belerang dan potas. Yah, sekedar bisa menyala, menerbangkannya ke udara dan berbunyi “sreeeeng”, sehingga kami sebut mercon sreng, dan bisa menghasilkan letusan kecil.

Laporan seorang anggauta kepolisian

Seperti biasa kami, maksudku aku dengan Briptu Eko, bertugas patroli berkeliling kota dengan mengendarai sepeda. Ini kebijakan komandan, patroli dengan sepeda motor menimbulkan bunyi.

Berpatroli dengan mengendarai sepeda mengingatku pada kakekku yang dulu bekerja sebagai polisi tahun lima puluhan dan kalau berpatoli mengendarai sepeda. Memang saat itu ada sepeda motor gandengan, namun itu diperuntukkan bagi para ajun inspektur atau inspektur yang kebanyakan sudah berkeluarga, dan dapat membawa anggauta keluarganya berkeliling kota di tempat duduk gandengan itu. Saat ini aku tidak bisa melihat sepeda motor seperti itu berseliweren di kotaku, aku hanya dapat menontonnya di layar TV saat menayangkan film mengenai perwira tentara Jerman yang sedang berpatroli.

Nah, sewaktu kami sedang asyik mengayuh sepeda tanpa bicara dan rasa kantuk sudah lewat karena sudah menjelang pagi, tiba-tiba kami mendengar suara ledakan itu. Terpaksa aku membuka mulut:
“Awas. Gawat. Ada bom meledak!”

Aku segera menelpon markas dan segera melajukan sepeda ke arah asal suara ledakan itu. Sampai di tempat kejadian kudapati orang berkerumun, dan beberapa rekan polisi juga sudah berada di situ. Kukuakkan kerumunan orang dan kelihatan seorang lelaki tergeletak di tanah.
“Sudah ada yang minta ambulans?” tanyaku pada rekan polisi yang sudah datang lebih dulu.

“Sudah!” dan saat itu kudengar suara sirene ambulans yang meraung-raung. Aku ingin menanyai lelaki yang terkapar itu, namun nampaknya dia tak sadarkan diri.

PENGAKUAN TUKANG SAMPAH YANG
DITANYAI POLISI DI RUMAH SAKIT (lanjutan)

Mungkin itu memang bom. Pasti ditujukan pada siapa? Aku tidak tahu. Oh, ya, apakah untuk Bapak Bupati? Aku ingat, pipa itu aku temukan di sisi pintu gebang masuk kompleks, dan rumah yang menghadap ke jalan raya dan selalu dijaga petugas berseragam itu adalah rumah yang disewa oleh pemerintah daerah untuk Bupati selama rumah untuk beliau sedang dibangun. Ya, ya, mungkin ditujukan pada beliau. Oh, aliran politikku? Aku tidak tahu, pak Polisi. Aku hanya tukang sampah. Waktu pemilu aku mendapat kaos gatis bergambar banteng PDIP dan juga kaos bergambar pohon beringin. Kan lumayan untuk kupakai gantian. Masih ada kaos-kaos lain. Oh, pak Bupati dari partai apa? Aku tak tahu. Oh, ya, kalau tidak salah dulu dicalonkan oleh PDIP. Apa beliau punya musuh? Mana aku tahu, pak Polisi?

Laporan media

Ini adalah cuplikan laporan media setelah terjadinya ledakan pipa paralon yang melukai seorang tukang sampah.

Lokal Post, 13 Maret. Setelah ledakan pipa paralon kemarin ternyata terungkap bahwa bom paralon tersebut ditujukan kepada Bupati Danawijaya, sebab pipa tersebut ternyata ditemukan oleh tukang sampah Pak Lusuh di dekat kediaman bupati.

Namun, sebelum bom sempat diledakkan, ditemukan sebagai sampah tak berguna, namun meledak ketika berdekatan dengan nyala api. Kapten Polisi Wicaksana menjelaskan bahwa pipa paralon yang dirakit sebagai bom itu sebenarnya akan diledakkan dengan memakai gelombang radio dan dikontrol melalui HP. Polisi sedang mendalami masalah ini dan mencoba memburu pelakunya. Bagaimanapun, meledaknya bom paralon itu telah menyebabkan keresahan di tengah masyarakat.

Koran Pos Dusun, 14 Maret

Polisi telah menangkap tiga orang tersangka hasil penelusuran kepolisian .

Komplotan perakit bom paralon itu ditangkap di kediaman mereka di Jalan ABC no 13 ketika sedang merencanakan peledakan bom paralon berikutnya untuk mengacaukan keadaan. Dari tangan mereka disita beberapa pipa paralon, kabel-kabel dan sejumlah pemicu peledak. Menurut salah seorang mereka, mereka bukan bagian dari komplotan teroris nasional apalagi internasional. Amin, salah seorang dari mereka mengatakan: “Aku tidak mau bupati yang sekarang naik tahta lagi. Bikin rakyat sengsara.”

Polisi yang menelusuri latar belakang Amin menemukan bahwa Amin berasal dari keluarga semrawut ( broken home) yang tidak ingin melihat orang lain merasa bahagia. Dia menyatakan bahwa selama ini bupati hanya menyengsarakan rakyat, dan janji-janjinya selama pilkada tidak pernah dipenuhi. Demikian laporan wartawan kami.

Lokal Post, 15 Maret. “Pemberitaan ngawur!” demikian pernyataan Slamat penghuni Jl ABC no 13. Dengan didampingi penasehat hukum dari LBH setempat, Slamet menyatakan bahwa berita yang dimuat di media mengenai penghuni rumah Jl ABC 13 itu ngawur. Slamet bersama istrinya Novely dan dan anak mereka semata wayang, Jim, mempersilakan wartawan menggeledah rumahnya untuk menemukan pipa-pipa paralon yang katanya dirakit menjadi bom.

“Nama saya Slamet, bukan Amin, dan di sini tidak ada yang bernama Amin, dan tidak ada lelaqki dewasa lain selain saya.”

Polisi memeriksa wartawan Koran yang memuat berita itu dan akan menyeretnya denagn tuduhan meresahkan masyarakat. Sekarang terdapat lorong buntu dalam masalah ini.

* Singaraja, 18 Maret 2012
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=323230

Categories: Cerpen