Eudemonisme: Epikuros dan Aristoteles

Franz Magnis-Suseno
Harian Haluan, 17 Febr 2013

Pertanyaan inti para filosof moral Yunani kuno adalah: Bagaimana sebaiknya seorang bijaksana menangani hidupnya? Jawaban yang mereka berikan adalah: Ma­nu­sia hidup secara bijaksana apabila kehidupannya meng­hasilkan kebahagiaan yang seoptimal mungkin.

Moralitas menurut mere­ka pada hakikatnya memuat petunjuk-petunjuk bagaimana manusia harus menjalankan kehidupannya supaya menca­pai secara optimal kebaha­giaan itu.

Ada tiga aliran, atau tiga jawaban dasar, atas perta­nyaan tentang kehidupan yang bijaksana.

Yang pertama diberikan oleh Aristoteles. Aristoteles mengatakan bahwa orang menjadi bahagia semakin ia mengembangkan potensi-potensinya. Yang kedua adalah Epikuros.

Menurutnya manusia akan bahagia semakin ia berhasil menghindar dari pengalaman-pengalaman yang menya­kitkan dan mencapai penga­laman-pengalaman yang me­nye­nangkan.

Pola etika ini juga disebut hedonisme. Etika ketiga yang di sini tidak dapat dibahas amat berpengaruh kemudian hari, yaitu etika dari aliran Stoa: Menurut Stoa orang tenang-bahagia apabila ia bersedia menyesuaikan diri dengan rukum rasionalitas ilahi. Meskipun dalam waktu lebih kemudian, pembahasan di sini dimulai dengan Epiku­ros.

Kebahagiaan Kecil: Epiku­ros Epikuros lahir sekitar 342 S.M. di Samos, salah satu pu lau di kepulauan Yunani. Pada 306 Epikuros mendirikan sebuah sekolah filsafat di kota Athena yang kemudian men­jadi sangat terkenal. Ia secara pribadi sangat dihormati oleh para muridnya sebagai orang yang berkepribadian halus, luhur dan baik hati ser ta menjalin ikatan persahabatan yang mendalam.

Ia hidup dengan sangat sederhana dan dalam keadaan sakit berat masih tenang dan gembira. Epikuros meninggal pada 271.

Seperti seluruh etika Yu­nani, begitu pula Epikuros mau menun jukkan jalan bagaimana manusia dapat hidup dengan sebahagia mung kin dalam suatu kehidupan yang banyak goncangannya.

Dalam situasi politik kerajaan-kerajaan besar (wari­san Iskandar Agung) polis, kota yang bagi Aristoteles adalah arena manusia mere­alisasikan hakikat sosialnya, tidak punya arti politis lagi. Orang bijaksana mencari kebahagiaan kecil dengan menghindar dari keresahan dan perasaan yang menya­kitkan serta belajar menik­mati kesenangan-kesenangan yang menawarkan diri.

Ajaran Epikuros memang tepat disebut hedonisme. Akan tetapi hedonisme itu canggih.

Kesenangan yang mantap tidak tercapai dengan mencari pengalaman nikmat sebanyak mungkin, me lainkan dengan menjaga kesehatan dan beru­sa­ha hidup sedemikian rupa hingga jiwa bebas dari kere­sahan. Maka manusia yang mau bahagia justru harus membatasi diri. Ia harus dapat senang dengan yang sederhana.

Maka menurut Epikuros kita perlu berusaha ke dua arah. Di satu pihak, kita harus belajar untuk hidup dengan sederhana, untuk puas dengan seadanya. Dan di lain pihak ia harus memakai pemiki­rannya untuk membebaskan diri dari ketakutan-ketakutan yang tidak perlu (misalnya takut terhadap kematian atau terhadap dewa-dewi). Ajaran Epikuros sampai sekarang pantas diperhatikan.

Aristoteles: Hidup yang Bermutu Aristoteles lahir pada 384 sebelum Masehi di Stagyra di daerah Thrakia, Yunani Utara.

Delapan belas tahun ke­mu­dian ia masuk ke Aka­demia di Athena dan sampai pada 347 ia menjadi murid Platon. Pada 342 ia diangkat menjadi pendidik Iskandar Agung muda di keraton raja Philippus dari Makedonia. Pada 335 ia kembali ke Athe­na dan men dirikan seko­lahnya sendiri yang namanya lykaion, yang juga disebut sekolah Peripatetik, sebe­narnya sebuah pusat peneli­tian ilmiah. Pada 323, sesu­dah kematian Iskandar Agung, ia harus melarikan diri dari Athena karena ia, seperti Sokrates 80 tahun sebelum­nya, dituduh menyebarkan ateisme. Ia meninggal pada 322.

Prinsip dasar etika Aristo­teles adalah bahwa kita hendaknya hidup dan bertin­dak sedemikian rupa sehingga kita mencapai hidup yang baik, yang bermutu, yang berhasil.

Hidup kita berhasil apa bila kita mencapai tujuan terakhir yang kita cari melalui segala usaha kita: Kebaha­giaan, bahasa Yunani: eudai­mo­nia. Maka etika ristoteles disebut eudemonisme.

Kebahagiaan akan sema­kin kita nikmati semakin kita merealisasikan potensipotensi kita sebagai manusia. Etika menawarkan petunjuk ke hidup bahagia itu.

Namun yang khas bagi Aristoteles baru menjadi jelas kalau kita bertanya hidup macam apa yang menurutnya tidak bisa menghasilkan kebahagiaan. Ada tiga hal yang ditolak Aristoteles: hidup mencari kekayaan, hidup mencari nama besar, dan hidup mencari nikmat.

Dua yang pertama ditolak karena tujuannya kekayaan dan nama besar hanya nilai instrumental-sementara. Ke­ka­yaan tidak dicari demi dirinya sendiri, melainkan karena memungkinkan meme­nuhi kebutuhan dan hasrat. Nama besar mengacu pada sifat yang menjadi sebab orang mendapat nama besar, maka sifat itulah yang harus dicari, bukan nama besar.

Etika (misalnya etika Epikuros) yang menganggap kesenangan atau nikmat sebagai apa yang harus dicari disebut hedonisme (dari kata Yunani hedone ‘nikmat’). Pada Aristoteles kita menemukan bantahan mendasar pertama terhadap hedonisme. Menurut Aristoteles menjadikan nik­mat tujuan hidupnya adalah ciri binatang. Kalau manusia membuat nikmat menjadi tujuan hidupnya, ia tidak mengerti dirinya sendiri. Nikmat itu pada dirinya sendiri tidak jelek, tetapi bukan tujuan. Nikmat dirasa­kan kalau suatu kecende­rungan (perlu minuman, seksu­a­litas) atau usaha (mencari kebenaran, memecahkan ma­salah, menyelesaikan tugas yang berat) berhasil. Maka bukan nikmat, melainkan usaha itulah tujuannya.

Lalu hidup macam apa yang kondusif ke pencapaian kebahagiaan? Menurut Aris­toteles kita makin bahagia makin kita berhasil mengak­tualisasikan potensi-potensi dan bakat-bakat kita, jadi kalau kita membuat nyata apa yang baru berupa kemam­puan. Seperti seorang yang rupa-rupanya berbakat musik akan makin bahagia makin ia dapat bermain musik. Dalam bahasa modern: Keba­ha­giaan didekati dengan me­ngem­bangkan diri (karena itu etika Aristoteles juga dapat disebut etika pengembangan diri).

Pada hakikatnya menurut Aristoteles ada dua poten­sialitas dasar pada manusia: Logos atau akal budi, dan sifat sosialnya. Roh dan kesosialan, itulah yang khas bagi manusia.

Karena itu menurut Aristo­teles filsafat yang mengem­bangkan roh membahagiakan. Filsafat Kristiani kemudian mengembangkan dimensi itu: Yang paling membahagiakan adalah kontemplasi (meman­dang) Allah. Kesosialan manu­sia terlaksanakan dalam kehidupan keluarga, di kam­pung dan dalam polis (negara kota). Karena itu, menurut Aristoteles manusia mengem­bangkan kesosialannya secara penuh dalam berpolitik, dalam ikut mengurus komunitas bersama. Manusia adalah zoon politikan, makhluk politis.

Keutamaan yang mengajar manusia bagaimana ia mem­bawa diri secara etis atau politis adalah kebijaksanaan (phronesis). Kebijaksanaan itu tidak dapat dipelajari seperti orang belajar ilmu penge­tahuan, melainkan berkem­bang melalui pengalaman, komunikasi, refleksi.

Dalam etika kebijak­sana­an adalah penting. Karena hanya orang bijaksana tahu bagaimana membawa diri secara etis.

Tanggapan Kebahagiaan kecil yang diajarkan Epikuros dapat disebut seni hidup dalam situasi yang sulit. Orang yang dapat melaksanakannya me­merlukan kematangan hati dan visi yang dapat mem­bedakan antara betul-betul penting dan apa yang tidak. Namun kita dapat bertanya: apakah pen­carian kebahagiaan kecil bagi dirinya sendiri cukup untuk membuat hidup kita berharga, untuk merasa bah­wa hidup kita bermakna? Hidup hanya untuk dirinya sendiri di tengah-tengah sega­la macam masalah: apa betul-betul memuaskan? Bukankah kita harus berani melibatkan diri? Bukankah kita akan merasa ditantang untuk mem­perbaiki situasi? Bu­kankah hidup kita terasa tawar kalau tidak ada orang lain yang dapat bersyukur karena kita ber­sentuhan dengannya? Jadi apakah kebahagiaan kecil itu betul-betul kebahagiaan, atau sebenarnya sebuah pelarian saja?

Terhadap hedonisme tentu ada argumen sangat kuat seperti sudah diajukan oleh Aristoteles.

Apakah dengan penjuml­ahan perasaan nikmat kita bisa mencapai kebahagiaan?

Apakah orang yang asal menghindar dari pengalaman yang tak enak bisa bahagia? Bukankah hidup mulai ber­makna, dan kita merasa ditantang dan bahagia kalau kita memberi komitmen de­ngan risiko, tanpa mem­perhitungkan rasa sakit? Bukankah hal-hal terbaik harus diperjuangkan dan perjuangan tidak pernah tercapai hanya dengan mencari nikmat dan menghindar dari bahaya terluka. Hedonisme kelihatan betul-betul sesat, ia tidak membawa manusia ke suatu hidup yang ber­makna.

Filsafat moral Aristoteles termasuk teori moral yang paling termasyur dan sampai sekarang menjadi sumber inspirasi. Bahwa manusia akan bahagia bukan karena ia mencari uang atau nama besar atau nikmat, melainkan dengan mengembangkan roh dan kesosialannya, dengan mengarahkan diri ke realitas adi-duniawi serta menge­rahkan diri dalam memajukan masyarakatnya, adalah pene­muan yang amat berpengaruh pada etika sesudahnya.

Moralitas sebagai ajaran bagaimana seorang bijaksana harus hidup agar hidupnya bermakna dan tidak sia-sia adalah pengertian sangat mendasar dan penting.

Yang dapat dikritik ba­rang­kali bahwa meskipun Aristoteles membicarakan keadilan secara rinci dan mendalam, akan tetapi ia tidak sepenuhnya berhasil mengangkat ciri mutlak tun­tutan keadilan. Keadilan bukan hanya tuntutan kebi­jaksanaan, melainkan keharu­san yang tak dapat ditawar-tawar. Bertindak dengan adil bukan hanya bijaksana dan “diharapkan”, melainkan kewajiban. Segi itulah yang dijadikan pusat etika oleh Immanuel Kant.

Dijumput dari: http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=21267:eudemonisme-epikuros-dan-aristoteles&catid=41:kultur&Itemid=193