Kefanatikan Chairil Anwar dalam Kesusastraan Indonesia

Restoe Prawironegoro Ibrahim *
Lampung Post, 7 April 2013

KERAWANG-BEKASI dan Datang Dara Hilang Dara disinyalir sebagai puisi milik orang lain yang dikonotasikan sebagai miliknya. Dan Chairil Anwar pun tidak memungkiri hal tersebut atas kekhilafan yang telah diperbuatnya. Dua puisi tersebut terjemahan dari The Young Dead Soldier karya Ashibaki dan A Song of The Sea karya dari Hsu Shih Mu. Karena dua puisi itu pulalah yang membawa dan menyeret Chairil Anwar dituding melakukan plagiasi. Chairil Anwar telah lupa untuk menuliskan nama terang penyair yang melahirkan karya tersebut di bawah nama hasil terjemahannya. Malah ia menuliskan jati dirinya, seakan-akan Chairil Anwar mencuri karya orang lain. Padahal selama hidupnya, Chairil Anwar tidak pernah mengaku, dua puisi tersebut adalah hasil dari gumpalan imajinasinya yang lama mengental.

Terlepas dari kehilafan yang telah dilakukan Chairil Anwar, ia tetap sosok seorang pelahir sejarah perpuisian Indonesia. Rumah Sakit Mangkusomo yang mengantar “duka” kepergian Chairil Anwar untuk selama-lamanya ikut menjadi saksi bisu kepergian seorang penyair yang tabah, tak pernah goyah dihantam zaman, dan tak bimbang dengan segala keputusannya. Itulah sosok “bapak” sastra modern Indonesia, yang hanya tujuh tahun menjalani hidup di alam fana ini. Kini, berkat Chairil Anwar, kita menikmati budaya asli kita, budaya timur, atas jasa beliau yang banyak kepada kita.

Ada asumsi, bahwa sosok Chairil Anwar adalah sosok penyair yang tidak memiliki tema yang jelas. Kalau ditilik, setiap karya Chairil Anwar selalu menyuarakan kebebasan, untuk tetap memiliki bumi pertiwi ini. Sehingga ia cenderung memilih tema perjuangan dalam banyak puisinya. Dalam Diponegoro, Kerawang Bekasi, Catatan Tahun 1946, Perjanjian Dengan Bung Karno dan sebagainya, merupakan implikasi sosok penyair pembangkang terhadap koloni di tanah air. Tema ini belum pernah terlintas dalam lembaran susastra angkatan sebelumnya. Chairil Anwar berhasil memberikan semangat juang kepada penyair sezamannya.

Chairil Anwar memiliki liku perjalanan yang unik. Ia pemuda penganggur. Untuk memenuhi hidup kesehariannya, mengerjakan apa saja yang mendatangkan uang. Ia rela menjadi penjual buku tulis milik Akhdiat Kartamihardja. Ketika penjualan buku seret, ia sempat masuk ke terali besi lantaran tersangkut pencurian di Cipinang, tahun 1943. di penjara inilah Chairil Anwar berteriak menyuarakan keterikatannya di kamar pengap, dalam karyanya Sebuah Kamar, kamar selnya yang berukuran 3×4 meter.

Penyair Pejuang

Bagi Chairil Anwar, hidup di balik terali besi bak bangsa dan negara yang dibelenggu dan tanah air yang dimonopoili. Indonesia, bagi Chairil Anwar, tak ubahnya hidup di kamar kecil yang pengap, Chairil Anwar membuka jalan perjuangan, agar berjuang untuk kemerdekaan.

Chairil Anwar tergolong sosok penyair yang tidak begitu produktif. Ia hanya menghasilkan 70 buah sajak asli, 10 terjemahan, 4 saduran, dan 6 prosa asli dan 4 terjemahan. Itulah yang menyeret Chairil Anwar semakin berbobot dan sarat dengan intuisi. Tak heran kalau Chairil Anwar berhasil menerobos belahan dunia dengan karyanya itu. Bukan mustahil, karya-karya Chairil Anwar diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Tampak, karya Chairil Anwar menjadi karya besar dunia.

Menilik kiprah Chairil dalam perpuisian Indonesia, ia pantas mendapat penghargaan sebagai “bapak” puisi modern Indonesia, sekaligus sosok penyair “pejuang”. Ia pantas mendapat julukan “bapak” pelopor puisi modern Indonesia. Pantas kita menetapkan hari wafatnya, sebagai Hari Sastra Indonesia.

Bukan tak beralasan, 28 April ditetapkan sebagai Hari Sastra Indonesia, hari itu, 28 April 1949, Indonesia kehilangan penyair si Binatang Jalang, Chairil Anwar, untuk selama-lamanya. Kita kehilangan penyair pelopor Angkatan 45, pembangkangan, kembalinya kiblat budaya dari barat ke timur, lahirnya puisi “modern” Indonesia, prmbebasan dari belenggu rima, ritma, dan irma, dalam tata aturan perpuisian Indonesia, dan sikap eksentrik kepenyairan Indonesia.

Chairil Anwar lahir di Medan, 25 Juli 1922, ia memilih “puisi” sebagai wadah imajinasinya yang mengental. Kepenyairannya teramat singkat. Terasa unik kalau ia menjadi pelahir puisi modern Indonesia. Ia bersikukuh mengembalikan budaya timur yang terancam hilang oleh sikap Sutan Takdir Alisyahbana yang mengkiblatkan budaya ke barat. Lentera puisi yang dipilih Chairil Anwar mempunyai alasan kuat, tidak sekadar melahirkan “warna” baru, sekaligus menyelamatkan lembaran susastra Indonesia dari keaslian, tidak dimomoki aksen kata membumbung tinggi, sebagaimana angkatan Pujangga Baru.

Kepada HB. Yassin, Chairil Anwar pernah mengeluh; “Yassin, prossa seperti dalam pidato angkatan Pujangga Baru itu hanya membumbung tinggi saja dan tidak sampai ke perhitungan (efekrening).” Jadilah Chairil Anwar sebagai sosok penyair yang mengorek dan menggali puisi sampai pada intisari kata, membuat perhitungan dengan puisi dan puncaknya mengubah “warna” puisi Indonesia warisan penyair pendahulunya.

Perjalanan kepenyairan Chairil Anwar tidak begitu mulus. Ketika kali pertama mencoba menerobos media Pandji Pustaka, puisi yang dibawanya ditolak, hanya lantaran dicurigai sebagai penyair pembangkang Jepang. Uniknya, tim sensor naskah saat itu menerima Diponegoro lantaran dianggap sebagai karya sastra yang menyuarakan perlawanannya terhadap koloni Belanda. Padahal, dalam Diponegoro, Chairil Anwar menyumpah segala bentuk penjajahan di bumi pertiwi ini. Termasuk yang dilakukan oleh Jepang.

Diceritakan oleh HB Yassin, kritikus sastra Indonesia: “Pada suatu hari di tahun 1943, di datang ke redaksi Pandji Pustaka, seorang muda yang kurus, pucat tidak terurus, kelihatannya. Matanya merah agak liar, tetapi seperti selalu berpikir. Gerak-geriknya lambat-lambat, seperti perilaku orang tidak peduli.” HB. Yassin seperti kedatangan “malaikat pembaru” yang kelak membaharui perpuisian Indonesia. Dengan diterimanya Diponegoro dalam Pandji Pustaka, Chairil Anwar berhasil dengan cita-citanya meneriakkan “perjuangan” di bumi pertiwi.

Tentang budaya timur dan barat, Chairil Anwar terbilang sangat fanatik. Usia kepenyairannya yang teramat singkat tidak membuat Chairil Anwar lemah memalingkan kembali kiblat budaya yang dilakukan Sutan Takdir Alisyahbana, yang sangat menjunjung tinggi budaya Barat. Chairil Anwar segera menguak sikap Sutan Takdir Alisyahbana. Bersama dua penyair se zamannya lahirlah Tiga Menguak Takdir, bersama Asrul Sani dan Rifai Apin. Selain ingin menguak takdir Tuhan yang tercetus di dalam puisinya: “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”, sekaligus ia ingin menguak Sutan Takdir Alisyahbana. Bagi Chairil Anwar, budaya barat harus mencontoh budaya timur.

Kefanatikan Chairil Anwar terhadap budaya timur, mungkin disebabkan oleh rakyatnya yang selalu merindukan sang pencipta. Tercetus dalam Doa dan Isa yang sekaligus menyeret Chairil Anwar sebagai sosok penyair yang sufisme. Dalam Doa, Chairil Anwar mengeluh risi; “Tuhanku/ dalam termangu/ aku masih menyebut nama-Mu/….Tuhanku/ di pintu-Mu aku mengetuk/ aku tak bisa berpaling.”

Meski di sini, Chairil Anwar adalah sosok yang menguak takdir Tuhan hanya lantaran cita-citanya untuk hidup lebih panjang, “seribu tahun”, namun kedekatannya kepada Tuhan tak terkurangi.

*) Restoe Prawironegoro Ibrahim, sastrawan, tinggal di Jakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/04/kefanatikan-chairil-anwar-dalam.html