Kibarkan Tinggi-Tinggi Panji Pertempuran di Bidang Sastra dan Seni Revolusioner!

Jawaban D. N. Aidit pada pandangan peserta-peserta KSSR pada tanggal 1 September 1964
D.N. Aidit
Sumber: Tentang Sastra dan Seni, Yayasan Pembaruan, Jakarta, 1964
Diedit dan dimuat oleh Ted Sprague (5 April, 2013)

PENGANTAR PENERBIT:

Dari tanggal 27 Agustus sampai dengan 2 September 1964 CC PKI telah menyelenggarakan Konferensi Nasional Sastra dan Seni di Jakarta yang dikunjungi oleh para sastrawan dan seniman revolusioner dari segenap penjuru tanah air. Konferensi ini, Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR), adalah konfernas sastra dan seni yang pertama yang diselenggarakan oleh PKI.

Sebelum KSSR PKI sudah bekerja di bidang sastra dan seni, dasar-dasar untuk pekerjaan itu telah diletakkan. Meskipun demikian mengingat masih banyaknya tugas-tugas yang harus dikerjakan dalam rangka menegakkan dan mengembangkan “prinsip berkepribadian dalam kebudayaan”, maka KSSR ini diadakan.

Banyak bahan berguna telah disampaikan kepada Konfernas, baik oleh para pemimpin PKI maupun oleh para peserta KSSR. Kali ini kami terbitkan tiga bahan pokok yang diucapkan oleh Ketua CC PKI, D.N. Aidit, yaitu referat yang berjudul Dengan sastra dan seni yang berkepribadian nasional mengabdi buruh, tani dan prajurit dan Kibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran di bidang sastra dan seni revolusioner! serta Ayo bersama-sama Bung Karno kita bina kebudayaan yang berkepribadian nasional! sebagai lampiran.

Semoga usaha ini dapat membantu pelaksanaan keputusan-keputusan KSSR.

Jakarta, Desember 1964

Penerbit
__________________________

Kawan-kawan yang tercinta!

KSSR yang kita mulai tanggal 27 Agustus 1964 segera akan berakhir. Lebih dari 50 kawan yang sudah memberikan pandangannya mengenai referat saya. Disamping itu ada yang menyampaikan pandangannya secara tertulis. Sesudah jawaban saya ini, pada hari terakhir besok masih ada beberapa kawan lagi yang akan memberikan pandangan. Karena sampai sekarang sudah cukup banyak yang memberikan pandangan, saya berpendapat sudah tiba waktunya bagi saya untuk memberikan jawaban. Seandainya dari pandangan kawan-kawan besok masih ada yang memerlukan jawaban, maka akan saya jawab dalam pidato penutupan KSSR besok.

Sudah tentu saya tidak mungkin dan tidak perlu menjawab semua persoalan yang kawan-kawan ajukan, mengingat bahwa banyak persoalan yang kawan-kawan ajukan akan lebih tepat jika diajukan kepada pimpinan Lekra atau pimpinan Lembaga-lembaganya. Ada juga persoalan-persoalan, misalnya kelemahan Comite-comite Partai dalam memimpin Lekra dan dalam pekerjaan di bidang kebudayaan pada umumnya, yang lebih tepat langsung diajukan kepada Comite-comite Partai yang bersangkutan. Tentu saja saya bisa menjawab persoalan-persoalan tersebut, tetapi sebaiknya kesempatan ini saya gunakan untuk menjawab persoalan-persoalan yang langsung berhubungan dengan pekerjaan Partai di bidang kebudayaan, terutama yang berhubungan dengan isi referat yang telah saya sampaikan beberapa hari yang lalu.

Pertama-tama ingin saya kemukakan bahwa referat yang saya sampaikan bukanlah sesuatu yang sudah sempurna. Saya ingin supaya semua kawan ikut ambil bagian dalam menyempurnakannya, tidak hanya dengan pernyataan persetujuan serta alasan-alasannya, tetapi juga dengan jalan memberikan amandemen-amandemen. Saya minta semua kawan memberikan amandemen, sekurang-kurangnya satu halaman. Kalau tidak satu halaman, satu alinea atau satu kalimat. Kalau tidak satu kalimat, ya, satu perkataan. Amandemen-amandemen itu bersama dengan pikiran-pikiran yang timbul pada saya selama mendengarkan pandangan kawan-kawan akan saya gunakan untuk menyempurnakan referat. Tentu saja ini tidak mengenai isi pokok referat, karena tentang isi pokok tidak ada persoalan, semua kawan sudah menyetujui sepenuhnya. Yang perlu disempurnakan ialah tentang cara-cara mengemukakan persoalan, susunan kalimat di sana-sini, penggunaan istilah, dan sebagainya.

KSSR Mempunyai Arti Politik yang Besar

Saya berpendapat bahwa KSSR kita ini bukan hanya mempunyai arti kebudayaan yang besar, tetapi juga arti politik yang besar. Arti politiknya bukan hanya karena KSSR dibuka dengan resepsi di Istana Negara, bukan hanya karena dalam pidato amanat pembukaan KSSR Presiden Sukarno telah menyatakan simpatinya yang penuh kepada kawan-kawan sastrawan dan seniman yang ambil bagian dalam KSSR, bukan hanya karena banyak menteri yang memberikan sambutan positif terhadap KSSR, dan bukan hanya karena Radio Republik Indonesia – radio pemerintah – saban malam selama KSSR berlangsung membikin jurnal yang baik tentang KSSR lewat siaran khususnya.

KSSR mempunyai arti politik yang besar, terutama karena KSSR yang dihadiri oleh para sastrawan dan seniman kreatif serta pekerja-pekerja teori di bidang sastra dan seni dari banyak lapangan dan dari semua penjuru tanah air, telah secara bulat menyetujui garis-garis sastra dan seni revolusioner yang tepat, yang kegunaannya bukan hanya untuk dua atau tiga tahun, tetapi untuk puluhan tahun. Dan karena garis-garisnya tepat, saya yakin dalam waktu yang tidak lama garis-garis KSSR ini akan menjadi pedoman-pedoman nasion kita di bidang sastra dan seni.

Garis-garis KSSR mewakili kepentingan-kepentingan nasion kita di bidang sastra dan seni baik pada waktu ini maupun di hari kemudian. Terutama pada waktu ini. Ambillah misalnya, pedoman penciptaan memadukan “realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner”. “Realisme revolusioner” lebih mudah diterima oleh seluruh nasion daripada “realisme sosialis”, istilah yang selama ini kita gunakan. Di kalangan sastrawan dan seniman Komunis sendiri masih ada yang belum selesai mengenai “realisme sosialis”. “Realisme revolusioner” lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan soal, misalnya soal: apakah di negeri yang belum membangun Sosialisme juga bisa diterapkan realisme sosialis? Kalau di kalangan sastrawan dan seniman Komunis saja masih soal, apalagi di kalangan sastrawan dan seniman revolusioner yang non-Komunis. Pendeknya, lebih sulit kita menjadikan “realisme sosialis” milik nasion daripada “realisme revolusioner”. Tiap-tiap sastrawan dan seniman revolusioner dengan mudah menerima pendirian bahwa sastra dan seni harus bertitik tolak dari kenyataan-kenyataan objektif, harus berpihak kepada yang baru, yang sedang tumbuh dan maju, harus mengubah kenyataan objektif itu supaya menjadi lebih maju dan lebih indah.

Kita tidak mengatakan bahwa “realisme sosialis” itu salah. Tidak. Tetapi penggunaan istilah ini menimbulkan berbagai persoalan yang dapat menghambat kegiatan, disamping memang ada keterbatasannya. Yang saya maksudkan dengan keterbatasan ialah, bahwa penggunaan istilah ini akan tidak tepat lagi jika kita sudah sampai ke masyarakat Komunis di kemudian hari. Sedangkan istilah “realisme revolusioner” tetap akan dapat digunakan, karena dalam masyarakat Komunis sastra dan seni juga harus revolusioner.

Selama hampir satu minggu ini kita sudah bekerja untuk puluhan tahun! Dengan KSSR kita telah membikin program besar. Saya harap program besar KSSR ini juga dicerminkan oleh resolusi-resolusi yang sekarang sedang disusun oleh komisi-komisi Konferensi. Jangan sampai resolusi-resolusi KSSR tidak mencerminkan apa yang sudah kita kerjakan selama hampir seminggu ini.

Kawan-kawan. Dalam memimpin Partai kita sejak tahun 1951, saya dan pemimpin-pemimpin Partai kita lainnya sering dikagumkan oleh kebesaran Partai kita. Kebesaran ini selalu menjiwai kami untuk bekerja baik dan lebih baik lagi guna kepentingan rakyat dan revolusi. Semuanya ini adalah berkat makin baiknya, dalam arti makin kreatifnya, Partai kita dalam mengintegrasikan Marxisme-Leninisme dengan praktek konkret atau praktik aktual revolusi kita di semua bidang, termasuk bidang sastra dan seni.

Partai kita telah berkembang dari suatu Partai yang 13-14 tahun yang lalu masih kecil sekali, masih suka diremehkan orang, menjadi Partai yang besar, yang ditakuti musuh, disegani sahabat dan dicintai massa rakyat pekerja. Pengintegrasian Marxisme-Leninisme dengan praktek konkret revolusi kita berlangsung secara kreatif, dan kreativitas Partai kita besar pengaruhnya pada sastrawan dan seniman kita.

Jadi, janganlah ada kawan sastrawan dan seniman yang mengira bahwa yang kreatif itu hanya sastrawan dan seniman. Tidak. Kita semua, termasuk pekerja-pekerja politik yang senantiasa dijiwai oleh rakyat kita yang kreatif, adalah kreatif. Tanpa daya cipta semua anggota Partai dan rakyat pekerja, tidak mungkin kita mengembangkan Partai yang belasan tahun yang lalu masih kecil menjadi Partai besar, Partai Komunis yang jumlah anggotanya terbesardi luar kubu sosialis dan Partai yang nomor tiga di seluruh dunia. Dan, sebagaimana kawan-kawan ketahui, Partai kita tidak menarik garis pemisah yang tebal antara kerja politik dengan kerja kebudayaan.

Asas kita “politik adalah panglima”. Jadi ini juga asas bagi sastrawan dan seniman kita. Bersama dengan mengamalkan asas ini, tiap pekerja politik kita harus mengintegrasikan diri dengan kehidupan kebudayaan rakyat. Kita tidak menggunakan istilah “politik adalah jenderal” karena di negeri kita sekarang banyak jenderal yang tidak punya pasukan, jadi tidak memimpin, dan banyak jenderal tituler! Pekerja-pekerja politik harus sungguh-sungguh mengintegrasikan diri dengan kehidupan kebudayaan rakyat, karena pimpinan politik harus terutama waspada terhadap serangan-serangan kebudayaan imperialis dan feodal dan harus memimpin perjuangan melawannya.

Kepribadian Adalah Tanda Kekreatifan

Kawan Basuki Resobowo mempersoalkan bagaimana menemukan kepribadian dalam seni lukis. Adalah baik hal ini terus dipersoalkan. Akhirnya pasti akan ketemu, karena seni lukis kita sebagaimana juga sastra dan seni kita pada umumnya, mempunyai kepribadian. Kita pun mula-mula sulit menemukan kepribadian Partai kita, revolusi kita dan rakyat kita. Lambat-laun kita menemukannya, makin lama makin mendekati kesempurnaan. Mengetahui Marxisme-Leninisme dengan baik dan mengenal keadaan dengan baik, mengintegrasikan kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme dengan keadaan konkret di berbagai bidang, termasuk bidang sastra dan seni, inilah syarat untuk menemukan kepribadian kita, termasuk kepribadian di bidang sastra dan seni.

Seperti juga Partai-partai Komunis sejati di luar negeri, Partai kita adalah Partai Marxis-Leninis. Prinsip-prinsip dan teori-teori kita sama, tapi cara kita menuangkan pendirian kita tentang sesuatu yang sama adalah berbeda dengan Partai-partai Marxis-Leninis lain. Kita senantiasa berusaha untuk memberikan bentuk-bentuk yang sesuai dengan kepentingan dan selera rakyat kita. Ini tidak bisa lain, karena Partai kita adalah Partai Komunis Indonesia, revolusi kita berlangsung di Indonesia dan dilaksanakan oleh manusia-manusia Indonesia. Oleh karena itu kita harus selalu bertitik-tolak dari kepentingan dan dari perasaan dan pikiran rakyat kita sendiri, dan apa yang kita nyatakan harus dapat dimengerti dan dirasakan oleh rakyat kita.

Ambillah, misalnya hal mengganyang revisionisme. Kawan-kawan Tiongkok mengganyang revisionisme, demikian pula kawan-kawan Albania, Vietnam, Korea, Jepang, Selandia Baru, dan lain-lain. Masing-masing Partai itu mempunyai gayanya sendiri dalam mengganyang revisionisme, dan kita pun mempunyai gaya kita sendiri. Setelah menetapkan prinsip yang tepat, soal gaya, soal cara membawakan prinsip yang tepat itu, menentukan berhasil atau tidaknya pekerjaan kita. Salah dalam gaya bisa merusak kerja revolusioner kita. Oleh karena itu kaum komunis harus kaya dengan gaya. Kaum revisionis modern mempunyai gayanya sendiri, gaya revisionisme modern dan dogmatisme modern sekaligus, gaya-gaya yang miskin sekali. Dalam memberi alasan mengenai pendirian revisionisnya, mereka biasanya hanya memamah-biak yang itu-itu juga sehingga sangat menjemukan. Tetapi sebaiknya kaum revisionis modern memang tidak usah kreatif, karena makin kreatif mereka makin besar kerusakan yang mereka timbulkan dalam gerakan revolusioner, karena prinsip yang mereka pertahankan adalah salah.

Kepala kaum revisionis Khrusycov mau memaksakan konferensi perpecahan GKI dalam bulan Desember yang akan datang. Berhubung konferensi ini diadakan untuk perpecahan, karena dilakukan tanpa persiapan yang baik, misalnya tanpa pertemuan-pertemuan bilateral yang cukup untuk memecahkan sejumlah perbedaan pendapat di kalangan Partai-partai Komunis dan Buruh, maka semua Partai Marxis-Leninis menolak untuk hadir dalam konferensi itu. Kawan-kawan tentu sudah membaca sikap dari Partai-partai Tiongkok, Albania, Korea, Vietnam, Jepang, Selandia Baru, dan lain-lain, dan kawan-kawan memahami baik sikap Partai kita. Coba perhatikan, betapa warna-warninya, betapa beraneka-ragam gayanya, tetapi seluruhnya merupakan satu simfoni yang melagukan kematian revisionisme. Yang diganyang sama, yaitu revisionisme; prinsip-prinsip yang dipertahankan dan diperjuangkan untuk dimenangkan, juga sama, yaitu Marxisme-Leninisme. Tapi tak seorang pun yang bersungguh-sungguh bisa mengatakan, bahwa yang satu hanya meniru yang lain. Partai-partai Marxis-Leninis mempunyai daya cipta yang kuat, masing-masing mempunyai kepribadian, oleh karena itu semua segar-segar. Sedangkan partai-partai revisionis sudah kehilangan kepribadian, sudah layu, terus tenggelam dalam dekadensi.

Bagi kita, kaum Komunis Indonesia, tidak bisa lain kecuali harus melawan revisionisme karena revisionisme meracuni, tidak hanya GKI tetapi juga gerakan revolusioner rakyat-rakyat di seluruh dunia, karena GKI merupakan kekuatan inti dalam gerakan revolusioner rakyat-rakyat di seluruh dunia. Tetapi, jadi ada “tetapinya”, kita harus melawan revisionisme dengan bertitik-tolak dari kepentingan Rakyat Indonesia, kepentingan revolusi Indonesia, yang dibahayakan oleh revisionisme itu. Kita mempunyai rakyat kita sendiri, sejarah perjuangan kita sendiri, alam dan manusia-manusia kita sendiri, adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan kita sendiri, dan oleh karena itu kita harus menemukan dan mempunyai gaya kita sendiri.

Di bidang sastra dan seni, jadi juga di bidang seni lukis, kita harus mempunyai gaya kita sendiri, kepribadian kita sendiri. Dengan bahan-bahan dan alat-alat baik bikinan dalam negeri maupun luar negeri, pelukis-pelukis kita harus menciptakan luksan-lukisan dimana kepribadian Indonesia dicerminkan.

Berbeda dengan kaum revisionis, kekreatifan kita bukanlah dalam mengubah prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme, tetapi dalam membawakan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum itu, jadi dalam gaya. Kaum revisionis mengubah kebenaran umum Marxisme-Leninisme; dengan demikian mereka bukan berbuat kreatif, tetapi destruktif terhadap Marxisme-Leninisme. Prinsip dan kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme tidak boleh “dikreatifkan” atau “dibijaksanakan”, karena prinsip-prinsip dan kebenaran-kebenaran umum itu sendiri, khususnya materialisme dialektik dan histori, sudah merupakan kreasi agung yang dapat diterapkan kapan dan di mana pun.

Hanya kalau kita kreatif dalam membawakan kebenaran-kebenaran umum Marxisme-Leninisme, kita berbuat ilmiah. Hanya dengan berbuat demikian kita dapat menemukan dan mengembangkan kepribadian kita sendiri, kita dapat memberikan sumbangan kepada pertumbuhan Marxisme-Leninisme. Ini adalah sikap yang tepat, dan seharusnya menjadi sikap semua Partai Komunis, baik besar maupun kecil. Menyumbang pada pertumbuhan Marxisme-Leninisme bukan hanya kewajiban dan hak Partai Komunis yang besar atau sudah menang, ia juga kewajiban dan hak semua Partai Komunis, termasuk yang kecil dan yang belum menang. Tetapi untuk ini tiap Partai Komunis harus melemparkan jauh-jauh revisionisme, baik klasik maupun modern, melemparkan jauh-jauh dogmatisme, baik klasik maupun modern, harus melawan kosmopolitanisme dan sovinisme, harus bertitik-tolak dari kepentingan rakyat dan revolusi masing-masing sebagai bagian mutlak dari rakyat dan revolusi seluruh dunia, harus menggali dan mengembangkan kepribadian rakyat masing-masing. Kepribadian adalah tanda daripada kekreatifan.

Ciptakan Karya-karya yang Bersemangat Revolusioner

Dalam waktu yang relatif singkat Partai kita telah berkembang dari Partai yang anggotanya kurang dari 8.000 menjadi Partai yang beranggota lebih dari 3 juta, yang berhubungan erat dengan massa dan mempunyai pengaruh atas massa yang luas. Boleh dibilang rata-rata antara tiap 3 orang di negeri kita sekarang terdapat seorang Komunis atau simpatisan Komunis atau anggota keluarga Komunis. Jadi, tidak seperti yang dikatakan oleh Kawan Sujadi dari BTI, bahwa dalam tiap 3 orang ada seorang Komunis. Tidak, anggota PKI hanya 3 juta lebih. Yang tepat ialah rata-rata terdapat seorang Komunis atau simpatisan Komunis atau anggota keluarga Komunis dalam tiap 3 orang Indonesia.

Tanpa pengembangan daya kreatif dari para pekerja politik kita dan dari semua anggota Partai kita, tidak mungkin kita membangun Partai yang demikian besarnya. Kita berhasil dalam pekerjaan besar ini karena kita memadukan “realisme revolusioner” dengan “romantisme revolusioner”. Ketika kita memulai pembangunan kembali Partai kita dalam tahun 1951, kita bertitik-tolak dari suatu kenyataan, yaitu Partai yang kecil dan sangat sulit kedudukannya. Tetapi sekalipun kecil dan sulit posisinya, kita memiliki kesadaran yang dalam bahwa hanya Partai inilah yang mempunyai hari depan yang gemilang, yang juga menjadi hari depan Rakyat Indonesia. Kesadaran yang dalam ini kita padukan dengan heroisme proletariat dan rakyat pekerja Indonesia yang merupakan kekuatan yang tidak ada taranya dalam melawan kesulitan-kesulitan dan dalam mencapai puncak-puncak kemenangan revolusioner. Heroisme revolusioner atau romantisme revolusioner inilah yang kita padukan dengan realisme revolusioner kita, dan hasilnya kita lihat sendiri, di luar dugaan. Dengan kemauan keras dan berlandaskan realisme yang revolusioner kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Kita mau dan kita bisa!

Partai kita bukan hanya Partai yang sekedar banyak anggotanya dan tersebar di seluruh negeri, tetapi juga terkonsolidasi dalam organisasi, politik dan ideologi. Partai kita tidak hanya menggembleng diri dalam teori Marxisme-Leninisme,, tetapi juga dan terutama dalam semangat Marxisme-Leninisme. Malahan, sebagaimana pernah saya katakan, kita berpendirian bahwa teori Marxisme-Leninisme penting, tetapi semangat Marxisme-Leninisme adalah lebih penting lagi. Maka itu, saya kesal kalau melihat kawan-kawan kita yang tidak bersemangat, misalnya tidak bersemangat dalam membela kebenaran-kebenaran yang dikemukakan dalam pidato-pidato atau tulisan-tulisannya. Semangat penting, kawan-kawan. Isi pembicaraan yang baik, yang benar, tetapi tidak dikemukakan dengan semangat revolusioner, kurang dapat menarik perhatian, dan ini berarti kurang dapat menarik dan memobilisasi orang banyak untuk berdiri di pihak kebenaran yang kita bela. Tidak hanya para pekerja politik, kita harus bekerja dan berbicara dengan bersemangat, tetapi juga para sastrawan dan seniman harus menciptakan karya-karya yang bersemangat revolusioner sehingga mempunyai daya mobilisasi dan daya organisasi yang kuat. Buat apa kita berbicara atau menulis jika tidak untuk memobilisasi dan mengorganisasi massa agar berjuang membela kebenaran-kebenaran yang kita kemukakan.

Jadi, kita harus membela teori-teori dan politik-politik Marxisme-Leninisme dengan semangat Marxisme-Leninisme. Hanya dengan demikian Partai bisa bersatu pikiran dan bersatu hati dengan massa, dan anggota-anggota Partai kita bisa berhubungan erat dengan massa. Partai yang banyak anggotanya, tetapi tidak berhubungan erat dan tidak bersatu-padu dengan massa rakyat tidaklah banyak artinya.

Mutu Pribadi Sastrawan dan Seniman

Harus Lebih Baik daripada Mutu Karyanya

Kawan-kawan. Perkembangan sesuatu Partai politik banyak tergantung pada kader-kadernya. Kemarin Bung Karno berbicara tentang kader di hadapan para peserta “Pendidikan Kader Revolusi” dan di hadapan anak buah kapal pelatih “Dewa Ruci”. Kader, kata Bung Karno, adalah tulang, dan bahkan beliau katakan, tulang hidup daripada revolusi. Tubuh tidak mungkin tegak tanpa tulang-tulang, demikian pula revolusi tidak mungkin tegak tanpa kader-kader revolusioner. Kawan-kawan tentunya pernah melihat pigura. Pigura mempunyai bingkai. Dan jika bingkai itu rusak maka pigura berantakan. Dalam pembangunan Partai dan revolusi peranan kader adalah bagaikan bingkai pigura itu. Tanpa bingkai tidak ada pigura, tanpa kader tidak ada Partai dan tidak ada revolusi. Kalau bingkai rusak dimakan bubuk, bingkai itu akhirnya akan putus-putus dan piguranya akan berantakan. Begitulah pula kalau kader-kader kita “dimakan bubuk” karena ideologinya kendor, moralnya bejat, maka Partai dan revolusi kita juga akan berantakan.

Kemarin Kawan Dharta mengadakan selfkritik mengenai kesalahan-kesalahan di bidang ideologi, terutama moral, yang pernah dilakukannya. Dengan selfkritiknya itu Kawan Dharta telah memungut kembali panji-panji revolusi yang pernah dicampakkannya. Ia telah merebut kembali dan mengibarkan lagi panji-panji Komunisnya. Kawan-kawan, kita sambut hangat selfkritik Kawan Dharta.

Selama KSSR ini kawan-kawan telah bertekad bulat untuk mengibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran, panji ofensif revolusioner, di bidang sastra dan seni. Kawan Dharta tidak terkecuali. Untuk melancarkan ofensif revolusioner yang hebat ini tiap sastrawan dan seniman Komunis harus bertekad untuk menjadikan mutu pribadinya masing-masing lebih tinggi daripada mutu karyanya. Hati massa tidak bisa didustai dan janganlah bakat digunakan untuk menutupi kebusukan. Salah satu ciri orang revolusioner ialah satunya kata dengan perbuatan. Bagi sastrawan dan seniman revolusioner, satunya karya dengan perbuatan, bahkan lebih baik mutu pribadinya daripada mutu karyanya.

Dalam Partai kita bukan hanya kader-kader tinggi yang memegang peranan penting, tetapi juga kader-kader menengah dan bawahan. Malahan kader-kader basis, kader-kader Resort Partai dan Ranting ormas-ormas revolusioner, adalah sangat penting kedudukannya, karena merekalah yang langsung dan saban waktu berhubungan dengan massa rakyat. Karenanya mereka harus mendapat perhatian penuh dari Partai. Para sastrawan dan seniman revolusioner harus terutama mencipta untuk mereka, disamping juga suka belajar dari mereka.

Pernah saya katakan, bahwa berbicara pada umumnya atau pada pokoknya, kader PKI adalah baik. Tidak banyak Partai sekawan yang kadernya mengungguli kader Partai kita. Saya dapat mengatakan demikian karena saya mengenal baik keadaan kader Partai kita. Selain itu dari perkenalan saya dengan kader Partai di semua negeri Sosialis dan negeri-negeri kapitalis yang pernah saya kunjungi, saya juga mengenal keadaan kader Partai-partai sekawan. Dengan demikian saya dapat membuat perbandingan-perbandingan, dan kesimpulannya ialah, bahwa jika berbicara pada umumnya, kader PKI adalah baik. Memang ada Partai-partai sekawan, misalnya Partai Komunis Tiongkok, Partai Buruh Korea dan beberapa lagi, yang kadernya lebih unggul daripada kader Partai kita. Ini tidak membikin kita kecil hati. Malahan kita harus bergembira bahwa dalam usaha kita meningkatkan taraf kader Partai kita, kita mempunyai teladan yang mendorong kita untuk terus-menerus memperbaiki kualitas kader kita. Dengan demikian kita melihat kekurangan-kekurangan kita dan kepala kita tidak menjadi kemasukan angin, kita tidak menjadi sombong.

Kawan Imer Manzhozi dari Albania yang memberikan sambutan dalam KSSR kita ini antara lain mengatakan bahwa menurut pengalaman Albania membikn manusia baru adalah lebih sulit daripada mendirikan pabrik-pabrik. Ini dalam masyarakat baru, masyarakat Sosialis di Albania. Jadi, dapat dibayangkan betapa sulitnya membikin manusia baru dalam masyarakat lama seperti masyarakat kita sekarang. tetapi, adalah benar bahwa tidak otomatis lebih mudah membikin manusia baru dalam masyarakat baru, masyarakat Sosialis. Tergantung pada Partai Komunisnya. Dalam masyarakat Sosialis yang dipimpin oleh Partai revisionis, bukan manusia-manusia baru yang dibentuk oleh Partai tetapi manusia-manusia dengan ideologi dan pandangan lama, manusia-manusia lama. Di negeri-negeri Sosialis yang dipimpin oleh Partai-partai revisionis, rakyat pekerja tidak suka masuk Partai, karena Partai tidak menjiwai dan tidak mewakili kepentingan rakyat pekerja, tetapi mewakili klik-klik yang berkuasa yang memandang rendah rakyat pekerja dan yang politiknya tidak bisa diterima oleh rakyat pekerja. Kaum revisionis bukan hanya tidak melahirkan kader-kader yang baik, tetapi bahkan merusak kader-kader yang sudah baik, membikin mereka manusia-manusia dekaden.

Turba Bukan Pekerjaan Musiman

Di antara kawan-kawan ada yang berbicara tentang tidak ada waktu untuk turba (turun ke bawah). Saya sependapat dengan Kawan Agam Wispi, bahwa ini tidak benar. Memang, untuk turba ke desa harus disediakan waktu yang khusus, dan ini memang sulit bagi banyak kawan, karena mereka saban hari ditumpuki dengan pekerjaan-pekerjaan di kota, berhubung kita masih kekurangan kader. Tetapi semua kawan sastrawan dan seniman harus mempunyai pengalaman turba ke desa. Maka itu, kita harus membikin waktu untuk ini.

Tetapi, kawan-kawan, turba bukan hanya ke desa saja. Dan turba bukanlah pekerjaan musiman, tetapi sesuatu yang harus kita lakukan terus-menerus. Kawan-kawan mengetahui bahwa tiap anggota CC berkewajiban membantu pekerjaan Comite Partai di tempat tinggalnya, membantu CSS dan CR di tempat tinggalnya. Tentu maksudnya bukanlah bahwa anggota-anggota CC harus menggantikan peranan Sekretaris CSS atau CR. Maksudnya supaya bahwa anggota-anggota CC bergaul dengan pimpinan dan anggota-anggota Partai di tempat tinggalnya, supaya mengetahui sendiri bagaimana instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk CC dipraktekkan oleh Comite-Comite dan anggota-anggota Partai di tempat tinggalnya, dan supaya mengetahui langsung bagaimana suara massa anggota dan massa rakyat tentang Partai, tentang berbagai persoalan dalam dan luar negeri, dan dimana perlu memberikan petunjuk-petunjuk kepada CSS dan CR. Dengan demikian, Comite-comite Partai setempat merasa dibantu oleh anggota CC yang bersangkutan, dan bersamaan dengan itu anggota CC yang bersangkutan bisa menyumbang dalam diskusi-diskusi CC dengan pengalaman-pengalaman praktis yang segar, guna memperbaiki instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk CC. Dengan anggota-anggota CC yang mempunyai pengalaman-pengalaman langsung tentang kehidupan Partai diorganisasi bawahan, maka diskusi-diskusi di antara anggota-anggota CC tentang kehidupan Partai akan menjadi lebih hidup, sehingga instruksi-instruksi serta petunjuk-petunjuk CC akan menjadi lebih objektif dan lebih realistis.

Demikian pula para sastrawan dan seniman kita bisa mengadakan turba yang terus-menerus. Mereka tidak bertempat tinggal di awang-awang, mereka bertempat tinggal di tengah-tengah orang banyak dengan tetangga-tetangganya yang kedudukan sosialnya bermacam-macam, mereka mempunyai kenalan dan teman dekat yang kedudukan sosialnya bermacam-macam, mereka mempunyai keluarga sekota atau sekampung yang kedudukan sosialnya bermacam-macam, dan sebagainya. Orang-orang dari berbagai kedudukan sosial ini bisa diriset untuk mengetahui benar-benar keadaannya, suka dan dukanya, perasaan dan pikirannya, aspirasi dan cita-citanya, dan segala apa yang diperlukan untuk menciptakan karya-karya sastra dan seni yang menarik.

Di kota-kota tidak kekurangan tema yang menarik dan perlu diungkapkan, misalnya tema kabir (kapitalis birokrat), OKB (Orang Kaya Baru), buruh kereta api, pegawai negeri, fungsionaris ormas, dan sebagainya. Soalnya, sastrawan dan seniman kita harus mempunyai kemauan keras, pandai mengatur waktu, harus bekerja tekun dan sistematis.

Kaum kabir dari OKB, misalnya, secara politik sudah diludahi oleh rakyat karena kejahatan dan tingkah lakunya yang memuakkan. Tetapi belum ada karya sastra dan seni yang menelanjangi mereka sampai habis-habisan. Mengapa para sastrawan dan seniman kita tidak tertarik untuk mengungkapkan tingkah laku kaum kabir yang jahat, munafik dan memuakkan itu? Bukankah mereka yang gembar-gembor tentang revolusi dan amanat penderitaan rakyat, dan bukankah mereka pula yang menjual negara dan rakyat kepada maskapai-maskapai minyak asing, memiliki banyak mobil pribadi dan banyak gundik? Bukankah mereka pula yang bersama-sama dengan kaum majikan asing bermain golf, mempunyai lebih dari satu bungalow, mempunyai devisa di luar negeri, dan sebagainya? Tingkah laku kaum OKB juga memuakkan. Bukankah di antara mereka ada yang memesan perabot rumah tangga asal “mahal” saja dan kalau memesan buku bukan titel buku atau penulis buku yang mereka sebut tetapi mereka memesan “sekian meter panjang, harus ada kamus yang tebal atau ensiklopedia” agar tamu-tamu yang datang ke rumahnya mendapat kesan bahwa dia seorang yang “terpelajar”? Ya, banyak lagi hal-hal yang tidak hanya akan menarik jika diungkapkan, tetapi juga sangat membantu pekerjaan politik. Juga kegiatan-kegiatan subversif asing banyak yang menarik dan akan membantu pekerjaan politik jika diungkapkan lewat karya sastra dan seni. Jadi banyak tanah subur yang belum digarap oleh para sastrawan dan seniman kita.

Massa Adalah Sumber Inspirasi dan Sumber Kreasi yang Sesungguhnya

Tentang kekreatifan massa, semua kita, termasuk sastrawan dan seniman kita, sudah meyakininya. Tetapi umumnya keyakinan itu belum mendarah-daging, belum masuk ke tulang sumsum. Bahwa “massa lebih kreatif daripada yang kita duga atau kita pikirkan” harus ditanamkan dalam pikiran dan hati kita. Menurut kenyataannya pun memang demikianlah keadaannya.

Dalam saya bergaul dengan kader-kader bawahan, pemimpin-pemimpin organisasi basis daripada Partai dan ormas-ormas, serta dengan anggota-anggota biasa daripada Partai kita, sering saya tertegun dibikin kagum oleh kekreatifan, kebijaksanaan dan keuletan mereka dalam melaksanakan instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk Partai. Sedikit saja mereka diberi tuntunan yang tepat, artinya tuntunan yang dibikin berdasarkan pengalaman mereka sendiri, maka mereka akan melaksanakan tuntunan itu dengan lebih baik daripada yang kita pikirkan atau kita duga, mereka akan memperkaya tuntunan itu dengan pengalaman-pengalaman mereka. Oleh karena itu, jika kita tidak cepat menyimpulkan pengalaman kader-kader bawahan dan pengalaman-pengalaman massa, maka tuntunan-tuntunan yang kita berikan akan ketinggalan dan kemudian tidak akan terasa sebagai tuntunan bagi massa anggota. Dengan demikian massa anggota tidak merasa mendapat pimpinan dan akhirnya akan timbul ketidakpuasan serta kontradiksi-kontradiksi antara yang dipimpin dengan yang memimpin. Ambillah, misalnya, soal peluasan keanggotaan dan cara mendidik calon-calon anggota baru. Saya belum tentu dapat menarik 3 atau 5 orang calon anggota baru dalam beberapa bulan, dan belum tentu mampu mendidik mereka dalam beberapa bulan untuk menjadi Komunis-komunis yang yakin. Tetapi banyak kader bawahan dan anggota-anggota biasa kita yang bisa melakukan hal ini dengan baik. Jika pengalaman mereka ini kita simpulkan dengan baik dan kita jadikan milik seluruh Partai dengan memuatnya di dalam tulisan-tulisan atau laporan-laporan Comite, maka pasti perkembangan Partai akan lebih baik. Bekerja beginilah yang sudah agak lama dilakukan oleh CC Partai kita. Setiap kali menyusun laporan kepada CC saya tidak hanya meminta sumbangan pikiran dari anggota-anggota CC dan kader-kader tinggi lainnya, tetapi juga dari kader-kader bawahan, termasuk kader-kader CSS dan CR di tempat tinggal saya yang saya kenal baik karena pergaulan saya dengan mereka. Massa memerlukan petunjuk-petunjuk dari pimpinan, tapi petunjuk-petunjuk yang dibikin berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Dengan petunjuk-petunjuk itu massa akan berpraktek lebih baik lagi, dan praktek yang lebih baik itu harus disimpulkan oleh pimpinan, dan atas dasar kesimpulan-kesimpulan itu kemudian dibikin petunjuk-petunjuk yang lebih baik lagi, demikianlah seterusnya.

Kawan-kawan, saya pernah mengatakan bahwa Partai kita sekarang sudah dalam keadaan “selfpropelling growth”, sudah tumbuh dan menumbuhkan. Memang demikianlah keadaannya. Oleh karena itu keliru sama sekali jika ada pemimpin Partai kita yang berpikir bahwa Partai maju hanya karena dirinya semata-mata. Masing-masing pemimpin harus berpikir, bahwa Partai atau ormas mungkin akan lebih cepat kemajuannya jika yang memimpinnya kawan lain. Menganggap diri sebagai pemimpin yang tak tergantikan adalah takhyul dan meremehkan peranan massa.

Juga pemimpin-pemimpin Lekra tidak boleh berpikir bahwa Lekra berkembang dari organisasi kebudayaan terbesar di negeri kita dengan ½ juta anggota adalah hanya karena dirinya semata-mata. Ribuan bahkan jutaan orang yang telah ambil bagian dalam mengembangkan Lekra.

Demikianlah seharusnya tiap pemimpin kita berpikir, sedangkan mereka yang bukan pemimpin harus membantu sekuat tenaga agar sang pemimpin bisa melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Dengan demikian pemimpin-pemimpin Partai kita senantiasa bersandar kepada massa dan terus-menerus memperbaiki mutu kepemimpinannya.

Kawan-kawan, salah satu kesan saya yang sangat mendalam selama 4 bulan melaksanakan tugas riset tentang keadaan kaum tani dan gerakan tani pada awal tahun ini ialah tentang kesungguhan kader-kader Partai kita. Mereka tidak hanya berbicara dan tidak hanya meyakini kebenaran menurut teori tentang pentingnya pengintegrasian Partai dengan kaum tani, tetapi mereka sungguh-sungguh berbuat, yang di antaranya banyak yang mengagumkan saya. Misalnya, sebelum riset dimulai, banyak kawan yang mengira bahwa sarjana-sarjana Komunis tidak bisa ambil bagian dalam turba dengan melakukan “tiga sama”, yaitu sama tinggal, sama makan, dan sama kerja dengan buruh tani dan tani miskin. Tetapi setelah dikerjakan, terbukti bahwa mereka bisa, dan malahan, karena pengetahuan mereka lebih luas dari kawan-kawan lain dan mereka juga sungguh-sungguh mengintegrasikan diri dengan kaum tani, laporan riset mereka sering termasuk yang terbaik. Juga para sastrawan dan seniman pada umumnya baik sekali peranannya dalam pekerjaan riset itu.

Ada yang lebih mengharukan lagi. Kader-kader wanita kita yang ambil bagian dalam pekerjaan riset ada yang begitu hubungannya dengan mbok dan pak tani tempat mereka melakukan “tiga sama” sehingga ketika berpisah mereka bertangis-tangisan. Setelah mereka selesai memberikan laporan pertama kepada Comite Provinsi dan harus turba lagi meriset desa lain, mereka ternyata kembali ke desa untuk bertemu lagi dengan mbok dan pak tani tempat mereka pertama kali mengadakan “tiga sama”. Kalau tergantung kepada mereka tentu mereka tidak mau dipindah ke desa lain, karena sudah begitu mesra hubungannya dengan keluarga petani yang pertama.

Pertanda apa semuanya ini, kawan-kawan? Pertanda bahwa syarat untuk mengintegrasikan PKI yang Marxis-Leninis dengan massa kaum tani adalah cukup dan kuat. Cukup dan kuat syaratnya, sehingga tidak akan terulang lagi pengalaman perang gerilya dalam Revolusi Agustus 1945, dimana kader-kader intelektual kita dan kader-kader wanita kota kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di desa. Pada waktu itu sering terjadi bahwa kader-kader kota kita sulit buang air di kali. Mereka memimpikan WC seperti di rumahnya. Mereka kebingungan, karena tidak melihat tempat buang air besar yang biasa mereka kenal, dan mereka menggerutu dan memaki-maki dalam bahasa Belanda.

Tentu belum semua kader kota bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di desa. Tapi sudah banyak yang bisa, termasuk mereka yang semula dikira tidak bisa.

Pendeknya, kawan-kawan, kita harus membikin diri kita supaya senantiasa bisa dijiwai oleh massa anggota-anggota Partai kita dan oleh massa rakyat. Untuk ini kita harus senantiasa berada di tengah-tengah massa. Hanya dengan demikian kita bisa menjiwai massa rakyat. Para sastrawan dan seniman kita tidak terkecuali, mereka juga harus senantiasa membikin dirinya bisa dijiwai oleh Partai dan rakyat, dan hanya dengan demikian mereka dapat menjiwai anggota-anggota Partai dan rakyat dengan karya-karya mereka guna berjuang lebih hebat. Massa adalah sumber inspirasi dan sumber kreasi yang sesungguhnya.

Terus Perkuat Kesatuan Sastrawan dan Seniman dengan Partai,

Kelas Buruh, Rakyat Pekerja, dan Nasion

Kawan-kawan, juga selama Konferensi ini saya dibikin kagum oleh kebesaran Partai kita yang diekspresikan oleh beberapa hal, misalnya, oleh kesatuan sastrawan dan seniman Komunis dan Partainya. Tak seorang di antara peserta KSSR yang meragukan tentang keharusan pimpinan Partai, pimpinan proletariat, di bidang sastra dan seni. Kawan Sudharnoto, komponis terkenal kita, berdasarkan pengalamannya yang banyak mengatakan antara lain dengan tegas dalam pandangannya, bahwa sastra dan seni Indonesia tidak akan berkembang jika tidak dipimpin oleh proletariat.

Juga tentang untuk siapa sastra dan seni, semua kawan sependapat dengan reterat. Kawan-kawan tentu telah membaca pidato Kawan Mao Tje-tung dalam simposium Jenan pada bulan Mei 1942. Dalam salah satu kritiknya, Kawan Mao antara lain mengatakan, bahwa ada perselisihan antara sementara kawan tentang soal-soal yang tidak penting, yang tidak prinsipiil. Tetapi mengenai yang penting, yang prinsipiil, yaitu untuk siapa sastra dan seni, sementara kawan-kawan itu satu, mereka tidak berbeda, mereka sama-sama meremehkan kaum buruh, tani, dan prajurit. Kita dalam KSSR ini sudah bertekad bulat untuk mengabdikan sastra dan seni kepada kaum buruh, tani, dan prajurit. Soalnya sekarang, kita sebagai orang revolusioner, harus membuktikan satunya perkataan dengan perbuatan. Kalau tidak, kita akan sama saja dengan orang-orang yang dikritik oleh Kawan Mao itu.

Dengan demikian ada kebulatan yang sebulat-bulatnya tentang penghukuman terhadap aliran “seni untuk seni”, “sastra untuk sastra”, dan “seni untuk semua” yang semuanya itu dicakup dalam “Manikebuisme”. Ada juga orang yang suka berkata “seni untuk masyarakat”. Ini nampaknya tidak apa-apa, tetapi juga menyesatkan. Jika sekarang kita berbicara tentang “seni untuk masyarakat” maka berarti “seni untuk masyarakat yang belum merdeka penuh dan setengah feodal” sekarang ini. Dalam masyarakat Indonesia sekarang terdapat musuh-musuh rakyat, yaitu kaum pengisap seperti kaum imperialis, kapitalis komprador, kapitalis birokrat, tuan tanah, dan sebagainya, disamping juga terdapat rakyat pekerja yang diisap. Jadi, “seni untuk masyarakat” tidak jelas untuk siapa, untuk pengisap atau yang diisap? Kaum reaksioner sudah tidak mempunyai keberanian untuk terang-terangan berkata “seni untuk kaum kapitalis”, “seni untuk kaum feodal”, seni untuk raja-raja”, “seni untuk kaum menak”, “seni untuk kaum kapitalis komprador”, ‘seni untuk kapitalis birokrat”, dan sebagainya. Oleh karena itu mereka menggunakan perumusan-perumusan yang menipu dan menyesatkan seperti “seni untuk seni”, “seni untuk semua”, seni untuk masyarakat”, dan sebagainya. Kita harus mengakhiri penipuan-penipuan ini dengan mengganyangnya habis-habisan dengan jalan memenangkan prinsip “sastra dan seni untuk rakyat” dan “sastra dan seni untuk buruh, tani, dan prajurit”, dan dengan jalan menciptakan karya-karya yang tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistiknya.

Kawan-kawan menerima dengan antusias garis pengintegrasian dengan kaum tani. Salah satu kesimpulan riset keadaan kaum tani dan gerakan tani di Jawa, ialah bahwa dalam turba ke desa kita tidak boleh “menggurui kaum tani”. Ini tepat. Tetapi maksudnya bukan supaya kawan-kawan yang turba ke desa mengubah diri dari unsur proletariat menjadi unsur kaum tani. Sekalipun kebanyakan dari kita berasal dari kelas borjuis kecil, tetapi dengan menjadi Komunis berarti kita memasuki dan menjadi bagian dari barisan proletariat. Kita hanya bisa turba dengan membawa amanat proletariat jika kita “membawa” Marxisme-Leninisme bersama kita. Turba sastrawan dan seniman ke desa hanya akan berhasil jika mereka “membawa” Marxisme-Leninisme dalam otak dan hatinya. Kegagalan turba ke desa dari sementara kawan-kawan sastrawan dan seniman di waktu yang sudah-sudah disebabkan karena mereka tidak “membawa” Marxisme-Leninisme ke desa, karena memang mereka belum pernah mempelajari Marxisme-Leninisme dengan baik. Yang diintegrasikan oleh turba semacam itu bukan unsur proletariat, bukan PKI, dengan kaum tani, tetapi unsur borjuis kelas kota dengan unsur borjuis kecil desa. Jadi, bukan pengintegrasian PKI dengan kaum tani. Kalau kita dalam hubungan dengan ini berbicara tentang pengintegrasian harus ada dua unsur, yaitu pertama, unsur proletariat, yaitu Komunis atau Marxis-Leninis, dan kedua, unsur kaum tani. Demikianlah betapa pentingnya supaya kaum Komunis yang berasal dari borjuis kecil sungguh-sungguh mempelajari dan meresapkan Marxisme-Leninisme sehingga kita di mana pun, juga di desa, bisa menjadi wakil yang sejati dari proletariat. Oleh karena itu, kawan sastrawan dan seniman, sebagaimana juga kader-kader Partai di bidang-bidang lain, harus dengan sungguh-sungguh mempelajari dan meresapkan Marxisme-Leninisme. Tanpa masing-masing kita memiliki Marxisme-Leninisme tidak mungkin kita mengenal keadaan apalagi mengubah keadaan, tidak mungkin kita ambil bagian dalam proses mengintegrasikan PKI dengan keadaan objektif di Indonesia.

Kemudian, kawan-kawan, KSSR juga bulat mengenai sikap. Satu-satunya sikap yang tepat ialah sikap kelas buruh, sikap proletariat. Berdasarkan sikap proletariat, sastrawan dan seniman revolusioner harus bersikap memuji massa rakyat, bersatu dan berjuang terhadap sekutu, dan menelanjangi serta menanamkan kebencian terhadap musuh-musuh rakyat. Dalam soal sikap, soal yang prinsipiil ini, kita juga bersatu. Sikap yang tepat ini sangat penting, bukan hanya untuk memperbaiki kreasi kawan-kawan, tetapi untuk segala-galanya. Ya, bahkan saya dapat mengatakan bahwa sikap yang tepat juga dapat melawan serangan penyakit syaraf. Orang yang mempunyai sikap yang tepat, misalnya, yang di satu pihak telah memilih jalan proletariat tetapi di pihak lain masih belum mau melepaskan diri sepenuhnya dari kelas borjuis kecilnya yang lama, dalam saat-saat yang menentukan orang demikian bisa menjadi bingung, dan kalau bingungnya keterlaluan ia bisa diserang penyakit syaraf. Sebaliknya saya mengenal beberapa kawan yang karena penyakit TBC hanya tinggal satu paru-parunya, tapi sikapnya kuat, tidak pernah ragu tentang jalan proletariat dan jalan revolusi yang sudah dipilihnya; dalam saat-saat yang menentukan semangatnya malahan menjadi lebih tinggi dari biasa, kegembiraannya bertambah, dan dia jauh dari penyakit syaraf. Sudah tentu tidak semua kawan yang kena sakit syaraf disebabkan karena sikap kelasnya tidak teguh. Saya hanya ingin mengemukakan bahwa soal sikap adalah sangat penting bagi seseorang yang mau berhasil dalam perjuangan revolusioner. Tidak ada dan tidak akan ada orang revolusioner yang berhasil jika sikapnya plintat-plintut, jika biasa duduk di antara dua kursi, misalnya di antara kursi proletariat dan kursi borjuasi kecil atau di antara kursi kaum tani dan kursi tuan tanah.

Pekerjaan kita sebagai orang revolusioner makin lama makin banyak dan makin kompleks. Ini tidak terkecuali bagi para sastrawan dan seniman kita. Kita harus berusaha untuk melemparkan segala sesuatu yang akan merintangi pekerjaan kita, dan ini harus dimulai dengan melemparkan rintangan-rintangan ideologis. Oleh karena itu penting sekali kesatuan pendapat yang kita pertegas dalam KSSR ini, terutama tentang peranan pimpinan Partai dalam sastra dan seni, tentang sastra dan seni untuk buruh, tani, dan prajurit, dan tentang sikap proletariat yang memuji massa rakyat, yang bersatu dan berjuang terhadap sekutu-sekutu serta menelanjangi dan menanamkan kebencian terhadap musuh-musuh rakyat. Masalah pokoknya ialah memperkuat kesatuan sastrawan dan seniman revolusioner dengan Partai, dengan kelas buruh, dengan rakyat pekerja dan dengan nasion. Dengan sungguh-sungguh mengamalkan ini kita akan lebih mudah dan lebih tepat menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi intern yang suka timbul dalam diri sastrawan dan seniman dengan memenangkan urusan proletariat.

Belakangan ini dalam Partai kita banyak dibicarakan tentang keluarga Komunis, khususnya tentang kenyataan adanya keterbelakangan politik dan kebudayaan daripada anggota-anggota keluarga dalam rumah tangga Komunis. Para sastrawan dan seniman Komunis dapat berbuat sesuatu dengan karya-karya dan kegiatan-kegiatannya untuk merevolusionerkan semua anggota keluarga dalam rumah tangga Komunis.

Kita sering mengkritik kawan-kawan yang membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu dengan buku-buku silat atau komik-komik brengsek, akan tetapi kritik-kritik ini tidak akan banyak artinya jika para sastrawan dan seniman revolusioner tidak membantu memenuhi hasrat membaca dari anak-anak kita dengan memberi mereka bacaan-bacaan yang baik. Bantulah menyelamatkan pelaksana-pelaksana, pewaris-pewaris, dan penerus-penerus revolusi kita ini!

Masih banyak kawan yang tidak mengetahui tentang kebrengsekan buku-buku yang dibaca anaknya, karena kritik sastra kita belum jalan. Dan bukanlah suatu rahasia, bahwa di antara kita banyak yang dengan tidak sadar suka menyanyikan lagu-lagu brengsek yang kita dengar dari radio, dan bahkan di antara kita banyak yang tidak mengetahui bahwa lagu itu brengsek, karena kritik seni kita belum jalan. Berapa lama lagi hal-hal ini akan dibiarkan?

Untuk Mutu Karya yang Terus Menjulang Tinggi,

Intensifkan Pembajaan Diri dan Pendidikan Diri

Saya menyambut usul kawan-kawan supaya dalam rangka mengintensifkan pendidikan diri diadakan sekolah-sekolah khusus untuk para sastrawan dan seniman Komunis guna mempelajari sungguh-sungguh program dan politik Partai, guna mempelajari lebih baik Marxisme-Leninisme, guna mempelajari etika dan estetika Komunis, guna mempelajari antropologi budaya, sejarah tanah air terutama sejarah perjuangan Rakyat Indonesia dalam abad ini dan lain-lain lagi yang dapat membantu kawan-kawan sastrawan dan seniman menciptakan karya-karya yang berkepribadian nasional dan mengabdi buruh, tani, dan prajurit. Sekolah aplikasi untuk sastrawan dan seniman musik, sekolah reog, ludruk, dan sebagainya, juga harus kita tanggulangi dengan sebaik-baiknya. Kita harus menemukan bentuk-bentuk yang setepat-tepatnya agar usaha-usaha kita berhasil baik.

Saya menyambut dengan hangat tekad kawan-kawan sastrawan dan seniman untuk ambil bagian aktif dalam gerakan membajakan diri dan mendidik diri yang sekarang sedang berlangsung dalam Partai kita. Gerakan ini bukanlah gerakan musiman, tetapi yang akan berlangsung terus-menerus. Hanya dengan melakukan ini, dengan membajakan diri terus-menerus, mutu pekerjaan politik dan pekerjaan organisasi kita akan terus-menerus. Hanya dengan melakukan ini, dengan membajakan diri dan mendidik diri terus-menerus, mutu pekerjaan politik dan pekerjaan organisasi kita akan terus-menerus meningkat, dan mutu karya sastrawan dan seniman kita akan makin baik dan makin indah. Usaha membajakan diri dan mendidik diri adalah jalan yang paling efektif untuk melawan kemerosotan. Kita tidak menginginkan sastrawan dan seniman kita merosot, karena ini berarti kemerosotan ideologis secara menyeluruh dalam barisan dan seluruh pekerjaan kita. Oleh karena itu, intensifkanlah pembajaan diri dalam barisan sastrawan dan seniman revolusioner agar mutu karyanya terus menjulang tinggi!

Dalam rangka melawan kemerosotan dan meningkatkan karya, baik dalam jumlah maupun dalam mutu, tekad yang kawan-kawan ikrarkan dalam KSSR ini untuk mengadakan kompetisi kreasi adalah sangat penting. Ini merupakan pernyataan perang terhadap liberalisme dan kemalasan jiwa. Sebagaimana halnya tiap kompetisi, juga kompetisi kawan-kawan hanya akan berhasil jika dikontrol, pelaksanaannya dengan baik. Tepat sekali pernyataan sementara kawan yang mengatakan, bahwa kader-kader sastrawan dan seniman adalah sama dengan kader-kader lain, oleh karena itu pekerjaan mereka juga harus dikontrol pelaksanaannya oleh Partai. Sesudah KSSR ini semua Comite Partai, dan bahkan orang-orang pertama dari Comite-comite Partai, harus memberikan perhatian yang besar pada pengontrolan pekerjaan sastrawan dan seniman yang berada di bawah pimpinannya, khususnya pengontrolan terhadap jalannya kompetisi-kompetisi, yang harus kita adakan di banyak bidang dan di semua tingkat, baik tingkat nasional maupun tingkat propinsi, kabupaten sampai ke tingkat kecamatan dan desa.

Saya mengetahui bahwa untuk mengembangkan pekerjaan harus dipecahkan kontradiksi-kontradiksi yang menjadi penghalang. Sampai batas-batas tertentu kita sudah memecahkan kontradiksi antara bekerja praktek dengan belajar teori dengan jalan mengadakan jaringan sekolah-sekolah dan kursus-kursus Partai, dan bahkan sampai kita adakan akademi tertulis. Dengan demikian kita telah melikuidasi banyak rintangan untuk belajar teori bagi kader-kader yang sibuk dengan pekerjaan praktek.

Khusus untuk mengembangkan kerja kreasi di bidang sastra dan seni kita harus memecahkan kontradiksi antara kerja organisasi dan pengintegrasian di satu pihak dengan penulisan atau penggarapan karya di pihak lain. Ini pasti juga akan dapat kita pecahkan. Pertama-tama, kawan-kawan sastrawan dan seniman sendiri harus mempunyai self-disiplin yang kuat, dan bersamaan dengan itu Comite-comite Partai yang bersangkutan harus memberi kesempatan-kesempatan dan fasilitas-fasilitas baik untuk turba yang diperlukan maupun untuk penulisan dan penggarapan karya yang memang sudah selesai proyeknya. Pendeknya, pengembangan kerja kreasi para sastrawan dan seniman kita harus diorganisasi dan dibantu sungguh-sungguh.

Makin lama makin dirasakan, bahwa untuk meningkatkan mutu karya para sastrawan dan seniman kita, kita harus melahirkan barisan ahli dan teoretikus kita sendiri di bidang sastra dan seni. Hanya dengan adanya barisan yang demikian, kritik sastra dan kritik seni kita bisa berkembang. Hal ini diperlukan tidak hanya untuk meningkatkan mutu karya sastrawan dan seniman kita, tetapi juga untuk meningkatkan daya apresiasi massa terhadap karya-karya sastra dan seni.

Kepribadian adalah Kewajaran dan Kebenaran

Kawan-kawan, kita juga sudah bersatu dalam pikiran tentang keharusan menegakkan sastra dan seni yang berkepribadian nasional. Rasanya, apa yang dimuat dalam referat mengenai ini sudah cukup jelas. Tetapi saya tahu bahwa masih banyak kawan diliputi oleh pertanyaan: bagaimana caranya? Teruskanlah bertanya, tapi jangan berhenti berkreasi karena pertanyaan itu belum mau hilang. Prakteklah nanti yang akan menjawab pertanyaan itu. Pasti akan terjawab, asal kawan-kawan terus berkreasi dengan tekad untuk menjawab pertanyaan itu.

Jangankan mengenai kreasi di bidang sastra dan seni, kawan-kawan, mengenai soal-soal yang nampaknya kecil, remeh, kita pun harus mempertahankan dan mengembangkan kepribadian kita sendiri. Misalnya, Kawan Kim Il Sung pernah mengkritik mengapa buku-buku di Korea dicetak dengan daftar isi dimuat di bagian belakang, tidak di depan. Padahal, kata Kawan Kim, orang Korea kalau membaca buku mau tahu lebih dulu apa isinya dengan membaca daftar isi. Memuat daftar isi di belakang buku bukan kepribadian Korea, tapi mencontoh luar negeri secara membuta.

Baru-baru ini saya membaca buku “Maju Terus!”, yaitu nomor “Bintang Merah” yang memuat dokumen-dokumen Kongres ke-7 Partai kita. Kemudian saya tulis surat pada Bung Samah, kawan yang bertanggung jawab mengenai penerbitan-penerbitan kita. Dalam surat itu saya tanya kepada Bung Samah, mengapa gambar-gambar dalam buku itu tidak diberi keterangan sama sekali sehingga pembaca tidak mengerti mengapa ada gambar orang ngibing dalam buku yang memuat dokumen-dokumen Kongres PKI. Apa hubungannya orang ngibing dengan Kongres PKI? Saya betul-betul “memberontak”, kawan-kawan. Ya, saya yang ikut dalam malam kesenian Kongres itu masih ingat bahwa gambar itu adalah gambar penari Bali. Tetapi, mereka yang tidak ikut dalam malam kesenian Kongres itu, tentu tidak tahu. Bagi mereka yang ikut pun, kalau sudah lama nanti, juga akan lupa. Kemudian saya mendapat jawaban dari Bung Samah bahwa tidak memberi keterangan pada gambar-gambar itu, katanya, adalah “kebiasaan internasional”. Lantas saya kirim surat lagi kepada Bung Samah dimana saya katakan: persetan dengan itu “kebiasaan internasional”, orang Indonesia kalau melihat gambar ingin tahu gambar apa yang dilihatnya. Jadi, soal yang nampaknya remeh ini pun ada hubungannya dengan soal kepribadian. Kepribadian tidak lain daripada kewajaran dan kebenaran yang dianggap wajar dan benar oleh rakyat yang memiliki kewajaran dan kebenaran itu.

Kawan-kawan, kalau kita menekankan masalah kepribadian di bidang sastra dan seni, seperti dikatakan dalam referat, sama sekali bukan maksud kita untuk memisahkan diri dari sastra dan seni dunia. Tidak, sama sekali tidak. Sastra dan seni kita adalah bagian dari sastra dan seni dunia, jadi tidak mungkin dipisahkan. Tentang hal ini, referat saja jelas. Ya, kita misalnya tidak boleh menggubris Shakespeare, Honoré de Balzac, Pushkin, Beethoven, Chopin, Schubert, Chaikovsky, dan raksasa-raksasa sastra dan seni dunia lainnya. Teoretikus-teoretikus atau ahli-ahli sastra dan seni kita harus mempelajari mereka. Tetapi, janganlah dijejal-jejalkan atau dipaksa-paksakan kepada massa rakyat, sebab bisa menimbulkan kelucuan-kelucuan dan kesedihan-kesedihan.

Dalam delegasi-delegasi yang pernah saya pimpin ke luar negeri sering ikut kawan-kawan dari propinsi-propinsi. Di luar negeri ada kalanya kami dibawa oleh tuan rumah ke konser musik klasik atau opera. Beberapa kali terjadi, sepulang dari konser atau opera ada kawan yang dengan sedih berkata: “Saya ini memang tidak ada bakat untuk kebudayaan. Semua orang terpaku mendengarkan ciptaan-ciptaan Beethoven, Chaikovsky, dan entah apa lagi, sedangkan saya sama sekali tidak menikmati apa-apa”. Saya katakan kepada kawan itu: “Memang tidak ada alasan bung bisa menikmatinya, karena bung baru pertama kali mendengarnya, sedangkan biasanya bung mendengar klenengan dengan segala kenikmatan. Bukan bung tidak punya bakat untuk kebudayaan, tetapi memang belum ada alasan bung bisa menikmatinya”.

Ada lagi pengalaman. Pada suatu waktu diadakan malam Caikovsky di Jakarta ini, dihadiri oleh banyak orang dengan pakaian yang bagus-bagus. Maka diputarlah long-play dan cahaya dalam ruangan dikurangi, dibikin agak redup. Selesai lagu-lagu diputar, lampu semua dinyalakan kembali dan ternyata bahwa banyak di antara hadirin yang matanya merah, menunjukkan baru habis tidur pulas, dan malahan ada yang masih terus ngorok di kursinya sekalipun lampu sudah semua dinyalakan. Bukan salah mereka, kawan-kawan. OKB-OKB dan kabir-kabir itu memang tidak ada alasan untuk dapat menikmati Chaikovsky. Mereka tidak bersalah, mereka hanya munafik, berpura-pura, mereka datang hanya untuk mendapat cap “orang berkebudayaan”.

Ada lagi pengalaman pada suatu malam Beethoven. Sebelum tiap-tiap lagu diputar diberi pengantar oleh Kawan Bintang Suradi almarhum, kawan yang memang mengerti dan sungguh penikmat Beethoven. Sesudah salah satu lagu selesai diputar ada beberapa orang yang mengeluarkan air mata. “Memang sedih lagunya”, kata mereka. Pada suatu waktu saya bertemu dengan salah seorang yang mengeluarkan air mata itu. Dengan tidak menyinggung malam Beethoven itu saya jelaskan kepadanya, bahwa bukanlah kehinaan jika kita tidak bisa menikmati lagu klasik Barat, tetapi betul suatu kehinaan kalau kita tidak bisa menikmati kesenian rakyat kita sendiri. Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan saya. Kemudian saya tanya: “Mengapa waktu malam Beethoven itu bung mengeluarkan air mata. Apakah benar bung menikmati Beethoven ketika itu?” Dengan ketawa lebar dia menjawab: “Tidak”. “Tapi mengapa bung mengeluarkan air mata”, tanyaku lagi. “Habis, teman dekat saya dan Bung Bintang mengeluarkan air mata”, demikian jawabnya. “Sampai sekarang pun saya belum bisa menikmati Beethoven”, katanya lebih lanjut. Jadi, betapa lucu, ya, betapa menyedihkannya.

Kawan-kawan, yang lucu dan menyedihkan ini harus kita akhiri. Kita harus secara berangsur-angsur mendidik kawan-kawan kita untuk dapat menikmati kebudayaan dunia, tetapi jangan dijejal-jejalkan, jangan dipaksa-paksakan, dan jangan mencap “tidak berkebudayaan” mereka yang belum atau tidak dapat menikmatinya. Tetapi kita harus mengkritik kawan-kawan yang tidak mengintegrasikan diri dengan kehidupan kebudayaan rakyat. Kita tidak boleh memandang rendah mereka yang belum atau tidak dapat menikmati apa yang dianggap termasuk dalam kebudayaan dunia sekarang ini. Kita tidak menolaknya, dan malahan teoretikus-teoretikus atau ahli-ahli sastra dan seni kita tidak hanya harus berusaha untuk dapat menikmatinya, tetapi harus mengerti karya-karya sastrawan dan seniman-seniman dunia yang terkenal dan secara berangsur-angsur, secara wajar, memperkenalkannya kepada rakyat kita.

Seperti sudah saya katakan, kita harus mengkritik kawan-kawan yang tidak berusaha mengintegrasikan diri dengan kehidupan kebudayaan rakyat, jadi bukan hanya kebudayaan suku bangsa sendiri. Masih terdapat dalam Partai kita kawan-kawan yang tidak mau ambil pusing dengan kesenian suku bangsa kecuali suku bangsanya sendiri. Dan di antara kawan-kawan itu ada yang sudah dipilih oleh Kongres Partai sebagai salah seorang pemimpin nasion, jadi bukan hanya pemimpin salah satu daerah atau suku bangsa. Kejanggalan ini juga harus diakhiri secara berangsur-angsur.

Bangsa kita terdiri dari banyak suku bangsa. Setiap Komunis, terutama yang sudah dipilih oleh Kongres Partai atau Kongres Ormas revolusioner sebagai pemimpin seluruh nasion, harus berusaha untuk dapat menikmati segala yang indah dari semua suku bangsa. Kebudayaan suku bangsa adalah milik seluruh nasion. Jadi janganlah, misalnya, ada kawan dari suku bangsa Jawa yang ketawa geli dalam hatinya kalau melihat kawan-kawan dari salah satu suku bangsa di Sumatra sedang menonton wayang wong karena menganggap kawan-kawan itu sebagai orang-orang “aneh”. Juga jangan sampai ada sesuatu suku bangsa menganggap rendah kebudayaan suku bangsa lain.

Bagi tiap suku bangsa kebudayaannya sendiri adalah yang paling baik, keseniannya sendiri adalah yang paling indah. Tentang ini tidak boleh diperdebatkan lagi. Harus ada saling menghargai dalam soal kebudayaan, khususnya dalam kesenian. Dan masing-masing harus berusaha untuk dapat menikmati kesenian suku bangsa lain.

Kita semua harus merasa berbahagia karena bangsa kita terdiri dari banyak suku bangsa sehingga kebudayaan kita, khususnya tari dan nyanyi kita, adalah warna-warni dan indah sekali. Betapa menjemukannya seandainya musik kita hanya gamelan saja, sekalipun gamelan itu indah sekali. Betapa menjemukannya seandainya tari kita hanya tari Bali saja, sekalipun tari Bali itu indah sekali. Kita berbahagia mempunyai kesenian yang warna-warni, tetapi lebih berbahagia lagi kalau kita dapat menghargai dan terutama menikmati semuanya itu.

Kapan Ronggowarsito dan Multatuli Diterjemahkan?

Hal yang terakhir yang ingin saya kemukakan, kawan-kawan, ialah tentang Ronggowarsito dan Multatuli. Ada persamaan antara karya-karya kedua tokoh kebudayaan yang besar ini. Kedua-duanya sama-sama tidak ditulis dalam bahasa Indonesia, yang satu ditulis dalam bahasa Jawa dan yang satu lagi dalam bahasa Belanda. Tetapi kedua-duanya berhasil sampai batas-batas tertentu mengungkapkan keadaan masyarakat Indonesia pada masa hidupnya. Sudah pernah saya kemukakan harapan supaya karya-karya kedua tokoh ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi sampai sekarang belum juga muncul terjemahan itu. Entah dalam komisi KSSR sekarang, entah kemudian, tapi mesti ada ketentuan bahwa terjemahan Ronggowarsito dan Multatuli sungguh-sungguh akan digarap dan akan terbit.

Saya sedikit mengenal Ronggowarsito dari tulisan-tulisan Kawan Sunaryo. Saya sangat tertarik, karena begitu tajam kritik sosialnya dan begitu baik gaya bahasanya. Tentunya gaya bahasa Ronggowarsito dalam bahasa aslinya lebih baik daripada saduran terjemahan dalam bahasa Indonesia. Kita semua sependapat bahwa Ronggowarsito adalah pujangga besar Indonesia. Tetapi bagaimana kalau karya-karyanya tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ronggowarsito besar, tetapi kebesarannya tidak akan meresap dirasakan oleh seluruh bangsa selama karya-karyanya belum dapat dinikmati oleh banyak putra Indonesia. Penerjemahan karya-karya Ronggowarsito adalah penting sekali dalam rangka perjuangan kita untuk menegakkan kepribadian nasional di bidang sastra dan seni, demikian pula untuk memupuk kebanggaan nasional yang sehat, terutama di kalangan generasi baru kita.

Mengenai Multatuli ada kawan-kawan yang berpendapat bahwa karya-karyanya tidak bisa dimasukkan ke dalam sastra Indonesia karena ditulis dalam bahasa asing, bahasa Belanda. Saya pikir-pikir, ada juga benarnya, sebab orang Indonesia pada umumnya tidak dapat membaca dan menikmatinya. Tetapi kalau sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bagaimana? Multatuli dalam karya-karyanya mengungkapkan tema-tema Indonesia dan ia menulis dengan kecintaan yang besar kepada rakyat Indonesia, lebih besar daripada kecintaan sebagian besar penulis-penulis Indonesia sendiri kepada rakyat Indonesia. Selain daripada itu bagaimana pula dengan karya-karya yang bertemakan Indonesia yang ditulis oleh orang-orang Indonesia dari suku bangsa Indo dalam bahasa Belanda? Apakah karya-karya ini juga tidak termasuk sastra Indonesia, hanya karena ditulis dalam bahasa Belanda?

Di antara karya-karya Multatuli ada yang mengungkapkan penghidupan kaum tani Indonesia. Dan jika ini dipentaskan sebagai drama di tengah-tengah kaum tani kita yang sekarang sedang berjuang melawan 7 setan desa, kaum tani kita akan merasa bahwa yang dipentaskan itu adalah mereka sendiri. Dan jika kemudian dijelaskan kepada kaum tani bahwa yang dipentaskan itu adalah dari karya Multatuli seorang Belanda, maka kaum tani sendiri akan menarik kesimpulan bahwa orang Belanda itu mengerti mereka, berbeda dengan tuan tanah jahat bangsanya sendiri dan setan-setan desa lainnya yang memusuhi kaum tani. Ini pasti merupakan pendidikan internasionalisme progresif yang hebat bagi kaum tani kita.

Kawan Bakri Siregar telah membikin saduran dari karya Multatuli “Saijah dan Adinda” yang sudah sering dipentaskan. Jika pementasannya baik, kaum tani Indonesia yang sekarang sedang melawan pengusiran-pengusiran dari tanah garapannya pasti akan melihat dirinya sendiri yang sedang dipentaskan karena saduran kawan Bakri juga mengungkapkan soal pengusiran dari tanah garapan.

Pokoknya, sastrawan-sastrawan revolusioner tidak boleh bersikap pasif terhadap Ronggowarsito dan Multatuli yang sampai sekarang hanya namanya dikenal luas, tapi karya-karyanya masih tetap rahasia untuk bagian yang terbesar sekali dari rakyat kita, karena belum diterjemahkan.

Kawan-kawan yang tercinta!

Demikianlah jawaban-jawaban saya pada berbagai persoalan yang kawan-kawan ajukan dalam pandangan kawan-kawan. Juga ada tambahan-tambahan yang saya rasa diperlukan untuk membikin lebih jelas bagian-bagian tertentu daripada referat.

Yang terpenting ialah bahwa kita sudah bersatu hati, bersatu pikiran, dan bersatu tujuan mengenai sastra dan seni yang berkpribadian nasional dan yang mengabdi buruh, tani, dan prajurit.

Sekarang rakyat pekerja memang belum berdominasi di bidang kebudayaan. Tapi tidak bisa dibantah bahwa kubu-kubu kebudayaan imperialis dan feodal sudah mendapat serbuan yang bertubi-tubi dari kebudayaan rakyat. Sekarang kita sedang mengalami pasangnya ofensif revolusioner dalam kehidupan kebudayaan rakyat kita.

Dengan KSSR ini para sastrawan dan seniman revolusioner telah mengibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran di bidang sastra dan seni revolusioner.

Di masa-masa yang lalu kawan-kawan telah mencapai hasil-hasil yang gemilang. Saya yakin, kawan-kawan akan mengibarkan lebih tinggi lagi panji pertempuran yang dimercusuari oleh KSSR, dan oleh karena itu hasil karya kawan-kawan akan lebih gemilang lagi dan mutunya akan terus menjulang tinggi.

Lebih daripada itu, saya yakin bahwa kawan-kawan pasti akan berhasil menancapkan panji pertempuran di semua kubu pertahanan “kebudayaan” imperialis dan feodal, menaklukkan kubu-kubu itu dan mengibarkan panji kemenangan kebudayaan rakyat di semua penjuru tanah air.

Kibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran di bidang sastra dan seni revolusioner!

(diambil dari rekaman)
Dijumput dar: http://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditSastra.htm