Judul : Sunset in Weh Island, Bersamamu Mengejar Kilau Senja
Penulis : Aida M.A.
Penerbit : Bentang Belia (PT Bentang Pustaka) Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2013
Tebal : 246 Halaman
ISBN : 978-602-9397-73-4
Peresensi: Achmad Marzuki *
Kompas, 18 Maret 2013

Banyak keindahan yang muncul menjelang kembalinya matahari pada ufuk barat. Nuansa senja menambah romansa kisah anak manusia. Mega merah pada langit memberikan suasana yang syahdu. Dan yang paling menarik, menikmati sunset di pantai lepas dengan pulau terapung indah tersendiri. Pulau Weh adalah pulau kecil yang berada di bagian terbarat Indonesia; Sabang, Aceh.

Kata Aceh saat ini sarat dengan trunami. Bencana raksasa yang menimpa pulau tersebut memberikan dampak besar. Padahal banyak pemandangan indah yang tertancap di pulau tersebut. Keindahan pantai dan bawah lautnya cukup membuat mata tercengang. Keindahan-keindahan inilah yang diangkat Aida M.A. dalam novel ini. Latar cerita diambil dari sekitar pantai, laut, pulau, dan Jerman. Seolah-olah Aida menghidupkan kembali keindahan alam Aceh setelah terjangan bencana trunami.

Aida mengawali kisah ini dengan tiga pertanyaan penting dalam kehidupan. Antara harapan, kepercayaan, dan cinta, apa yang hendak dipilih? Kebanyakan orang pasti akan memilih cinta. Karena dengan cinta semua hal di dunia menjadi indah. Dengan cinta pula kepercayaan akan terbentuk, lebih tepatnya harus dibentuk walau dengan keterpaksaan. Dengan cinta pula, harapan besar menanti seseorang di masa depan.

Tetapi Alex, tokoh utama dalam novel ini, tidak memilih cinta. Dia lebih memilih kepercayaan. Apa yang bisa didapat jika dalam cinta tidak ada kepercayaan? Alex tidak ingin lagi melihat cinta yang pupus. Ibunya rela meninggalkan ayah dan dirinya saat kecil demi lelaki lain yang lebih mapan. Kepercayaan menjadi frasa tertinggi dalam hidupnya. Baginya kepercayaan antar sahabat yang loyal menjadi sangat penting. Jika kepercayaan ini telah tercederai maka habislah sudah.

Konflik sahabat menjadi permulaan cerita. Antara Alex dan Marcel. Awalnya mereka merupakan sahabat dekat hingga gudang milik Marcel digunakan untuk latihan musik yang diketuai Alex.

Andreea adalah wanita cantik yang menyukai dan disukai Alex. Sedangkan Marcel juga menyukai Andreea. Wanita memang selalu membuat permusuhan. Begitu pula konflik ini berawal. Marcel iri pada Alex karena selalu mendapat dukungan. Menjadi ketua grup musik dan mendapatkan Andreea.

Permasalahan ini membuat Alex pergi ke pamannya, Alan, yang berada di pulau Weh, Aceh, Indonesia, sebagai instruktur diving. Saat menuju aceh, Alex bertemu Mala. Cewek aneh pecinta masakan yang super perfeksionis tentang kebersihan dan hemat listrik. Ternyata Mala juga menuju pulau Weh. Tiap kali bertemu mereka berdua selalu saja ribut. Ada saja keributan yang dibikin. Mulai dari tanpa sengaja menambak, logat bicara yang ketus, dan hal remeh lainnya.

Mala memiliki lelaki yang disukainya, Raffi. Lelaki yang bekerja pada Alan sebagai instruktur diving pula. Tiga serangkai ini memaksa Alex dan Mala sering bertemu. Sebab Raffi menjadi instruktur diving Alex dan Mala. Tetapi Mala menjadi down saat mengetahui kalau Raffi ternyata sudah memiliki pacar. Saat itulah tanpa sadar Alex berhasil berdamai bahkan menenangkan hati Mala yang sedang gundah.

Keceriaan mulai dirajut. Kisah cinta mulai tumbuh antara Alex dan Mala. Namun konflik baru datang lagi. Andreea dan Marcel mendatangi pulau Weh hanya untuk minta maaf. Mala mengira Alex masih mencintai Andreea. Sikap dingin mulai tampak tiap kali Mala bertemu Alex. Di saat inilah Raffi datang pada Mala mengabarkan bahwa hubungannya telah putus dengan pacarnya dan menyatakan sebenarnya dia menyukai Mala sejak dulu. Hanya saja Raffi masih menganggap Mala sebagai adik kecil yang manja.

Di sini, kepercayaan dalam cinta teruji. Getaran hati yang dulu sempat terbenam di dada Mala kini terulang kembali walau tak sehebat dulu saat Raffi menyatakan cintanya. Begitu pula kedatangan Andreea pada Alex melupakan kisah manis yang pernah dirajutnya dengan Mala. Semua keadaan menjadi terbalik dan hampir tamat. Hanya kebijaksanaan Alan lah yang membuat Alex sadar. Begitu pula kemantapan hati Mala dipertanyakan oleh Bram, ayahnya.

Aida sangat lihai membentuk karakter dalam cerita. Seolah-oleh pembaca bukan menikmati kisah fiksi, melainkan menyaksikan cerita seseorang yang benar-benar hidup. Ada pelajaran penting dalam novel ini. Yaitu bahasa Jerman. Kehidupan Alex yang berasal dari Jerman memaksa komunikasi sedikit banyak berbahasa Jerman. Untungnya Mala juga sempat belajar bahasa Jerman dan tahu banyak tentang Negara Jerman.

Bahasa Jerman yang dipaparkan sangat apik dan mudah diingat. Sebagai pecinta bahasa, sudah selayaknya mengapresiasi cara pembelajaran bahasa dengan novel. Dengan begini, belajar bahasa menjadi tidak membosankan bahkan mengasikkan. Aida berhasil mengangkat Aceh sebagai bongkahan surga yang dianugerahkan pada Indonesia. Saat membaca buku ini saya lupa bahwa Aceh pernah kedatangan bencana tsunami.

*) Pegiat Farabi Institute, Anggota CSS MoRA IAIN Walisongo Semarang.
Dijumput dari: http://oase.kompas.com/read/2013/03/18/23240744/Kisah.Romantisme.di.Pulau.Weh

Categories: Resensi