Menyiasati Jejaring Sosial dengan Karya Sastra yang Tipikal dan Kontekstual

Ibnu Wahyudi
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/

Pengantar

Melalui Koran Tempo saya pernah menyatakan bahwa karya sastra, puisi pada khususnya, yang tampil dalam sejumlah milis sastra, belum menampakkan sumbangan atau kontribusi yang nyata atau signifikan bagi perkembangan kesastraan nasional (Basral, 2007). Konteks pernyataan saya itu bukan pada dimensi kualitas karya yang tampil, melainkan pada kenyataan bahwa (hampir) tidak ada seleksi terhadap karya dari para anggota milis bersangkutan. Terlebih lagi jika karya itu dimuat dalam blog atau situs pribadi, dapat dinyatakan bahwa seleksi atau pertimbangan layak-tidaknya sebuah karya itu terbit menjadi sangat subjektif. Dengan ungkapan lain, dimunculkan-tidaknya sebuah karya pertama-tama bukan karena pertimbangan mutu, melainkan lebih pada hasrat tertentu. Bahwa ada karya berkualitas yang hadir dalam dunia maya itu tentu merupakan suatu keniscayaan sebab mungkin saja sang pemilik blog atau situs adalah pesastra yang memang mempunyai talenta atau keterampilan dalam mengolah kata.

Dengan demikian, bukan dunia maya itu yang menjadi permasalahan di sini, melainkan pada karya itu sendiri. Sebuah karya yang, katakanlah, memang unggul baik dalam penggarapan tema maupun daya ekspresinya, tetap akan layak muncul di mana pun. Milis, blog, twitter, atau facebook, misalnya, hanyalah media dengan otoritas yang begitu longgar yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Bahkan, seseorang yang sesungguhnya tidak menampilkan sebuah puisi di dunia maya sangat mungkin “seolah-olah” turut meramaikan wahana itu dengan puisi karyanya. Tentu saja, jika “puisinya” itu tidak bermasalah, jejaring sosial itu dapat meneguhkan kepengarangan atau kepenyairan seseorang. Akan tetapi, bagaimana jika kenyataan yang merunyamkan yang malahan diperoleh?

Itulah yang terjadi pada diri Taufiq Ismail, dengan puisi yang konon telah ia buat dan muncul di sebuah milis, lalu bahkan puisi itu dikutip sebagai bahan latihan dalam sebuah buku Terampil Berbahasa Indonesia untuk Kelas 8 SMP/MTs, terbitan bentuk digital oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008. Kepenyairan Taufiq Ismail bukannya menjadi semakin menjulang dengan “puisinya” itu, malahan tercoreng sebab kemudian muncul tuduhan plagiat kepadanya. Dalam menghadapi kenyataan itu, Taufiq Ismail sampai perlu mengadakan klarifikasi di Fadli Zon Library pada tanggal 14 April 2011 sebab ia merasa memang tidak pernah menulis puisi yang berjudul “Kerendahan Hati” yang isinya sungguh serupa dengan “Be The Best of Whatever You Are” karya Douglas Malloch.

Itulah contoh akibat dari longgar dan mudahnya apa saja untuk dipublikasikan melalui dunia maya dengan akibat yang sering tidak disadari sedari awal. Bahkan, seorang pendiri Wikipedia, Jimmy Wales, pun konon pernah sampai geleng-geleng kepala membaca riwayat hidupnya yang centang-perenang tidak karuan dan tidak akurat (Media Indonesia, 10 Maret 2007). Namun, begitulah agaknya salah satu konsekuensi dari dunia maya yang serba terbuka dan telah mendunia.

Berkah Media Maya

Sudah barang tentu, bukan hanya peluang berdimensi negatif seperti contoh di atas yang ditawarkan oleh penemuan teknologi multimedia, khususnya dalam kaitan dengan dunia maya, melainkan terbentang pula ajakan untuk berkreasi dengan cara menyiasati keterbatasan yang dicanangkan. Sebagai contoh konkret, jejaring sosial yang bernama twitter, yang hanya memungkinkan kita untuk menuangkan ide dalam 140 karakter, ternyata tidak selamanya mengebiri, tetapi malahan merangsang kreasi yang tidak terduga.

Dalam #anjinggombal, komunitas dunia twitter yang pengikutnya hinggak kini telah berjumlah lebih dari 100.000, sangat tampak adanya upaya menyiasati keterbatasan jumlah huruf tersebut dengan pendekatan yang masa kini dan sangat kontekstual. Peribahasa dipermainkan, dan cinta pun diceburkan ke dalam ketidakterdugaan ungkapan yang (umumnya) serba memikat. Peribahasa yang dipelesetkan, misalnya adalah “Berakit-rakit ke penghulu, berenang-renang ke pernikahan”; “Bagai katak dalam tempurung. Ngga peduli soal jarak, cinta kita selalu terhubung; “Setinggi-tinggi bangau terbang, jatuhnya jadi kecap juga”; “Ma’ lu bertanya, ma’ gue yang jawab”; atau “Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan kelihatan. Ya, iyalah, orang kumannya semanis kamu”.

Peribahasa memang termasuk yang banyak “dipermainkan”, tetapi tidak berarti ungkapan lain diabaikan. Utamanya yang berhubungan dengan relasi antarmanusia, dalam hal itu yang paling dominan adalah mengenai cinta, banyak ditampilkan oleh komunitas twitter. Sekadar contoh, silakan simak kutipan ini, “Aku sukanya sih apel dibanding anggur, makanya aku suka ngapelin kamu daripada nganggurin kamu” atau “Maaf aku cuma bisa mencintaimu setengah hati karena hatiku yang setengah lagi kan ada di kamu”

Ekspresi melalui twitter yang sudah lumayan banyak sejak tahun 2010 itu, kemudian dikumpulkan dan diterbitkan sebagai buku pada tahun 2010 juga. Dengan nada yang tidak berbeda jauh dengan isi twitter, penjelasan akan telah terbitnya buku mereka pun diungkapkan dengan nada yang jenaka dan segar, seperti dapat dibaca dari anjinggombal.com: “Setelah menyebarkan kekuatan gombal warming di belantara dunia Twitter, Anjinggombal sudah berhasil menelurkan (Anjing kok bertelur?) karyanya berjudul AKU PADAMU, kumpulan tweet Anjinggombal yang diterbitkan oleh penerbit Bukune. Semua keuntungan dari buku itu sepenuhnya kami sumbangkan ke pihak Tunas Cendekia”.

Terbitnya buku Aku Padamu: Karena Cinta dapat Ditemukan dalam Kata (Bukune, 2010) bukan satu-satunya buku yang terbit setelah sebelumnya muncul di dunia maya atau jejaring sosial. Beberapa buku telah terbit, baik berupa kumpulan sajak, kisah inspiratif, maupun permasalahan yang lebih serius dan berat, tetapi tetap dikemas dengan keterbatasan yang ada. Sastrawan Goenawan Mohamad pun tidak ketinggalan: kumpulan “kicauannya” yang ia tulis semenjak tahun 2009 kini dapat kita peroleh dalam bentuk buku berjudul Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2011.

Jika pada Aku Padamu yang sangat dominan adalah nuansa yang serba ringan, menggelikan, tetapi juga lumayan cerdas, dalam buku Goenawan Mohamad itu berisi permasalahan yang sepintas lalu terkesan begitu berat. Hampir semua permasalahan utama manusia disinggung dengan pendekatan yang tampak serius. Perhatikan saja pengelompokan isi bukunya: Informasi dan Media, Politik dan Demokrasi, Korupsi, Ekonomi dan Konsumerisme, Olahraga dan Kebudyaan, Bangsa dan Negara, Jakarta dan Kota Besar, Hukum dan Keadilan, Komedi dan Inspirasi, Keimanan, Bumi dan Lingkungan, Amerika dan Internasional, serta Tokoh dan Sejarah. Akan tetapi, apakah “kicauan” Goenawan Mohamad juga senantiasa serba berat? Ternyata tidak; bahkan beberapa di antaranya terasa begitu akrab dengan kualitas inspirasi yang cukup mengena dalam kemasan yang tidak lebih dari 140 kata. Sejumlah pelesetan ternyata juga digarap oleh Goenawan Mohamad, seperti “Berpolemik di Twitter hanya mencari musuh. Bekerja di dunia kreatif: saling asah, saling asih, saling asuh”; “Semoga di Senayan mereka ingat: mereka dipilih rakyat untuk membela negeri ini dari kejatuhan. Bukan untuk membela teman-teman dalam kejahatan”; “Tiap hari di zaman otoriter Orde Baru, pertanyaannya: apa ada demo? Tiap hari di zaman demokrasi sekarang: ada demo apa?”; “Hukum Archimedes yang belum resmi: Mutu koalisi politik sebuah negeri sama dan sebangun dengan mutu kesebelasan nasionalnya”; “Sayang, Presiden gampang tersinggung. Tapi syukur kita boleh seenaknya menyinggung dia dan mengecam bahwa dia gampang tersinggung”; “Nikah siri yang mengawini perempuan tanpa komitmen akan dilarang. Maka seorang pelakunya jelaskan: ‘Ini bukan nikah siri. Ini koalisi”.

Wadah Karya Kontekstual

Cara orang berkomunikasi dan isi yang dikomunikasikan dalam era yang dikuasai oleh kekuasaan dunia maya itu jelas menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan ketika internet atau apalagi teknologi komunikasi jarak jauh belum ditemukan. Sebagai analogi, teater yang dipentaskan pada masa ketika teknologi tata suara, tata lampu, atau televisi belum ditemukan, tentu sangat berbeda dengan pada masa sekarang. Jika tokoh pewayangan itu pada umumnya memiliki tangan yang panjang atau mengapa bentuk arena pertunjukan pada masa lalu berupa teater setengah lingkaran, hal itu tidak lain karena penyiasatan atas teknologi yang mengiringi karya semasa.

Tangan yang umumnya panjang pada tokoh wayang kulit dimaksudkan, antara lain, agar gerakan utama cerita dapat diwakili oleh gerakan tangan itu. Kepala, kaki, atau gerakan tubuh boleh statis, tetapi gerakan tangan menunjukkan maksud yang hendak disampaikan atau jawaban atas suatu pertanyaan. Demikian pula dengan bentuk teater pada masa lalu yang setengah lingkaran, pada galibnya adalah penyiasatan atas kualitas akustik yang diharapkan. Jika bentuk teater datar atau lurus saja, jelas bahwa suara sulit untuk didengar oleh orang yang jauh dari panggung.

Gambaran yang baru disebutkan itu hanyalah cara untuk menjelaskan bahwa panjang suatu cerita dalam blog atau facebook dan kandungan “kicauan” dalam twitter tidak dapat dipisahkan dari tanggapan subjektif para penulis atas kemajuan teknologi yang ada. Lahirnya fiksimini, prosamini, cerpen atau novel kolaboratif, serta flash fiction di sejumlah jejaring sosial bukan soal kekurangmampuan para penulis itu mengemukakan gagasan atau ide, melainkan justru dilandasi oleh kesadaran atas media, waktu, dan kesempatan pembaca dalam menikmati bacaan teman sejejaring atau dalam sebuah komunitas. Kesadaran semacam itu penting karena dengan hal itu relasi personal dan komunal telah dibangun kendati di antara para anggota komunitas itu tidak sedikit yang belum pernah bertatap wajah atau berkenalan.

Karya seperti Nama yang Mendera: Antologi Prosamini (Citra Aji Parama, 2010), Cinta, Kenangan, dan Hal-Hal yang Tak Selesai (Gramedia Pustaka Utama, 2011), Biarkan Aku Mencintaimu dalam Sunyi: Email terbuka seorang selingkuhan (Gradien), Selasar Kenangan (Akoer), serta sejumlah buku serupa lainnya yang telah terbit menengarai adanya suatu laku dalam menghasilkan karya sastra dengan penyiasatan atas media yang memiliki karakteristik khas. Dalam kaitan itu, “media” yang dimaksud adalah media yang merupakan hasil penemuan teknologi multimedia yang memanfaatkan dunia maya sebagai basis komunikasi dan mewujud menjadi sejumlah sarana dengan bermacam istilah, seperti blog, proyek kolaboratif, situs jejaring sosial, jejaring sosial-virtual, dan dunia permainan virtual.

Penutup

Buku yang telah disebutkan hanya merupakan contoh dari kreativitas yang berupa tulisan yang awalnya semata-mata merupakan kegiatan menuangkan ide, baik melalui facebook maupun twitter, tanpa niatan atau pretensi untuk membukukannya menjadi sebuah terbitan. Dengan demikian, kehendak untuk menghasilkan “karya sastra” pun tentu juga tidak serta merta mengiringi setiap tulisan. Akan tetapi, terhimpunnya tulisan tersebut, secara tidak langsung menunjukkan bahwa telah muncul suatu bentuk kreativitas dalam berkarya dengan penyiasatan atas keterbatasan atau karakteristik dari media masing-masing.

Daftar Pustaka:
Apresiasi Sastra. 2009. Selasar Kenangan. Jakarta: Akoer.
Basral, Akmal Nasery. 2007. “Merayakan Komunitas, Mengkaji Selektivitas.” Ruang Baca Koran Tempo, Februari.
Blogmam Indonesia. 2007. Biarkan Aku Mencintaimu dalam Sunyi: Email Terbuka Seorang Selingkuhan. Jakarta: Gradien.
Cinta, Kenangan, dan Hal-hal Yang Tak Selesai. 2011. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kramadibrata, Dewaki, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto. 2008. Terampil Berbahasa Indonesia VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Media Indonesia. 2007. “’Wikipedia’ Sering Keliru. 10 Maret.
Mohamad, Goenawan. 2011. Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wahyudi, Ibnu. 2010. Nama yang Mendera: Antologi Prosamini. Yogyakarta: Citra Aji Parama.

Dijumput dari: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1336