Pengantar dari Korrie Layun Rampan

Korrie Layun Rampan
http://gampiran.wordpress.com/

Pertama kali saya membaca embriyo Gampiran (Rampan, 2011: 121-5) saat menyusun antologi cerita pendek Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia. Buku itu diterbitkan sebagai dasar senimar sastra yang diadakan pada tanggal 7 Desember 2011 tentang pendidikan dan kreativitas sastra di Kalimantan Timur.

Rupanya Gampiran dilanjutkan dalam bentuk novel, meskipun ada beberapa perubahan pada tokoh dan latar, namun perubahan itu tidak membawa dampak pada alur dan tema. Pusat temanya pada lingkungan hidup tetap utuh dan tajam. Pengakhir novel menjadi happy ending sedang pada cerpen dilakukan pengakhiran sedih secara terbuka.

Untuk sampai kepada beberapa catatan akhir tentang novel ini, baiklah dijelaskan di sini beberapa hal elementer mengenai beberapa pengertian agar pembaca mendapat gambaran mengenai isi novel secara lebih komprehensif dan holistik.

Pertama, mengenai tokoh. Menurut Eksiklopedia Sastra Indonesia (2004: 811) tokoh ialah orang atau benda yang menjadi pelakon di dalam cerita yang kemudian menentukan unsur plot, suasana, dan tema. Itu sebabnya tokoh itu biasanya tidak tunggal, tetapi selalu didampingi beberapa tokoh lainnya yang kadang disebut tokoh antagonis, tokoh pembantu, tokoh pelengkap yang umumnya disebut tokoh bawahan. Dalam Gampiran ini dapat ditemui pada Munita, Buyan, Paman Riu, Ibu, Tuan Hisyam, Tua Mor, Monika, Seduyong, dan Wirawan

Tokoh utama novel, drama, atau cerpen disebut protagonis. Tokoh dikenal lewat tindakannya, ucapannya, perasaannya, pikirannya, tanggapannya terhadap diri sendiri. Tokoh utama adalah tokoh yang mengambil bagian dalam keseluruhan kisah, sehingga apa pun yang terjadi di dalam kesatuan kisah selalu berhubungan dengan tokoh utama. Itu sebabnya segala perubahan yang terjadi di dalam kisah akan membawa dampak perubahan sikap, tindakan, pikiran, perlakuan para pembaca terhadap pandangan hidup dari peristiwa-peristiwa yang mengubah jalan hidup tokoh utama. Hal ini dapat terlihat dari Gampiran yang akhirnya berubah menjadi manusia biasa dan menikah dengan mantan kekasih saudara kembarnya. Inilah takdir Munita.

Kedua, latar. Penempatan latar atau setting penting dalam sebuah cerita karena berhubungan dengan konsep mimesis Aristoteles tentang art imitatur naturam. Konsep ini menyebutkan bahwa karya seni meniru alam, dan, karena itu apa pun yang ditulis dan dikerjakan di dalam seni ada hubungannya dengan alam. Itu sebabnya latar itu penting karena menunjukkan suatu tempat tertentu dari terjadinya peristiwa yang dikisahkan. Tempat itu jelas dan pasti, dan tidak mungkin dipindahkan ke wilayah lain, karena latar sangat spesifik. Ia hanya ada di tempat itu. Karena itu, latar dikenal dalam dua bentuknya, yaitu: latar material yang berbentuk tempat dan waktu, dan latar sosial yang berwujud situasi sosial-ekonomi, budaya, politik dan sebagainya pada waktu cerita dikisahkan. Dalam novel ini latar dikontraskan pada tempat yang diwakilkan oleh kurun waktu sehingga melahirkan kontras-kontras tertentu dalam perubahan zaman. Kenyataan itu tampak pada awal kisah tentang Kampung Sangta dan pada masa akhirnya kampung itu dalam kisah yang diinginkan Gampiran setelah ia menjadi manusia dan menikah dengan Wirawan.

Ketiga, tema. Unsur tema sangat penting di dalam suatu karya sastra. Meskipun telah ada tokoh dan latar, tetapi tidak memiliki tema yang jelas, karya itu masih memiliki kekurangan. Tema sebagaimana dikatakan Rampan (2009: 3) adalah inti persoalan di dalam cerita, ide pokok, atau gagasan yang dituangkan sebagai dasar penulisan suatu cerita. Ide pokok itu tidak ditulis secara verbal, tetapi disamarkan di dalam sintaksis bagian-bagian cerita dengan cara menyicil. Dengan kata lain tema adalah ide dasar umum yang ditransformasikan di dalan karya untuk menopang gagasan yang dinyatakan di dalam novel, cerpen, atau drama, baik mengenai persamaan maupun perbedaan pemikiran yang ditulis dalam karya itu. Dalam Gampiran temanya jelas mengenai konsep hulu hilir sebagai cara pelestarian lingkungan.

Novel Gampiran Inni Indarpuri ini memenuhi semua syarat teknis novel yang baik. Dalam teori penulisan ada sejumlah elemen yang harus diperhatikan untuk mencapai hasil novel yang berkualitas. Dalam buku Dasar-dasar Penulisan Novel telah saya jelaskan elemen-elemen penting yang harus ada di dalam novel. Di samping tiga hal yang sudah disebutkan di atas masih ada sejumlah elemen lainnya seperti suasana, suspense, pembukaan, alinea akhir, atmosfer, sudut pandang, perwatakan, gaya, dan sebagainya. Hal-hal elementer ini dapat dibaca pada buku-buku panduan, di antaranya dalam Dasar-dasar Penulisan Cerita Pendek (1991), Apresiasi Cerita Pendek 1-2 (1990), dan Apresiasi Cerita Pendek Indonesia Mutakhir (2009) yang ditulis Korrie Layun Rampan, yang secara dasariah sama dengan teknik dan tahap-tahap penulisan novel.

Untuk memahami novel Gampiran Inni Indarpuri ini perlu juga dipahami beberapa hal dasar yang saya catat berikut ini. Pertama mengenai konsep kekosongan. Novel ini berkisah tentang kembaran manusia-buaya yang masing-masing memiliki alam sendiri-sendiri. Sebagaimana dikatakan Bramantyo dan Cheng (Sutasoma, 2010: xx) bahwa ada Jalan Tengah yang dalam Budhha merupakan saling bergantungan dalam kondisionalitas atau relativitas. Dalam hubungan tersebut, sunyata dimaknakan sebagai kekosongan, keterbukan, atau nonsubstansialitas, dan hal yang tak bisa dimusnahkan. Dalam Kakawin Sutasoma pengertian tersebut dinamakan nirasraya yang menurut L.L. Huesh Cheng bahwa segala sesuatu hal adalah kosong dari esensi yang abadi dan bahwa pencapaian kebebasan disamakan dengan sunyata itu sendiri. Hal ini tampak jelas dalam hubungan sakaw dengan kekurangan nutrisi sesajenan, dalam manifestasi yang dialami buaya jadi-jadian.

Dalam hubungan bahasa novel Gampiran menunjukkan kelancaran yang tidak membebani pembaca dengan berbagai kesulitan vocabuler dan sintaksis. Aminuddin (2008: 28) dengan mengutip Kridalaksana menyebutkan bahwa bahasa merupakan sistem lambang arbitrer yang dipergunakan untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Dalam hubungan itu, bahasa yang digunakan Inni mencerminkan bahasa fiksi yang memikat dalam hubungan individualitas dan cinta seperti ditulisnya secara romantis berikut ini.

“Ah, inikah rasanya menjadi pengantin. Semua mata memandang takjub. Kulirik sekali lagi peraduan yang keseluruhan berwarna kuning. Taburan bunga melati kian membuat semerbak pelaminan ini, dan aku menyukainya.

“Aku tersenyum. Khayalku itu sebentar lagi akan nyata. Aku akan bersanding setelah mengorbankan Monika terlebih dahulu. Aku akan mengalami apa yang seharusnya dialami wanita akil baliq di dunia ini. Sudah cukup selama delapan belas tahun aku terpisah dari dunia manusia. Hidup menyendiri dalam kesunyian.”

Dalam Sastra Nusantara atau Sastra Indo Belanda, ditemukan nama Louis Couperus (1863-1923) yang menulis novel De Stille Kracht yang di dalam Bahasa Indonesia menjadi Alam Gaib atau Keuatan Diam. Di dalam novel yang ditulis pada zaman penjajahan Belanda di Pasuruan, JawaTimur ini memperlihatkan sekian banyak kejadian ajaib yang berhubungan dengan hal-hal magis dan kekuatan supranatural. Novel ini berbicara tentang kekuasaan dan keinginan bahagia tokoh-tokohnya, namun nasib dan takdir membawa mereka kepada kenyataan lain dari hidup yang sebenarnya. Dalam Gampiran hal yang demikian tersua dengan bagus lewat narasi dan dramatisasi peristiwa. Mitos Senyulong² dan Pawang Tua Mor³ menjadi bagian yang mengandung misteri dari kerak tradisi dinamisme di alam modern. Persenyawaan alam gaib dan alam nyata mencerminkan singkretisme yang menghalalkan mite hidup bersama dari berbagai kekauatan gaib dan supranatural. Hal yang dikatakan filsuf van Peursen sebagai kelengkapan pikiran mitis bersatu dengan pikiran ontologis di dalam kesenyawaan yang melegakan.

Gampiran menunjukkan local genus yang dalam bahasa sehari-hari disebut kearifan lokal. Menurut Rahyono (2009: 7) dengan mengutip Poespowardojo yang merumuskan pemikiran Quaritch Wales bahwa kearifan lokal memperlihatkan ciri budaya tertentu dari sekelompok manusia sebagai pemilik budaya tersebut, dan berbagai pengalaman hidup yang menghasilkan ciri-ciri budaya tersebut. Dalam hubungan novel Inni Indarpuri Gampiran ini tampak kearifan lokal menjadi ciri utamanya yang menerakan kebudayaan kampung dalam hubungannya dengan perikehidupan buaya (jadi-jadian) yang mencirikan kehidupan manusia biasa. Selain itu, budaya kampung yang sebenarnya tercermin di dalam berbagai aktivitas komunal yang mencerminkan kekuatan gotong-royong dan kolektivitas di dalam keseharian manusia merdeka. Jiwa kampung dengan masyarakat kampung yang berjuang dalam pikiran jernih dan orisinal menjadi ciri kearifan lokal, di mana manusia berjuang dan berhasil berkat menjalani pengalaman hidup melewati proses belajar yang dilakukannya dari pengalaman hidup itu. Mite perjanjian antara raja buaya dan raja manusia tentang hukum pemeliharaan hulu dan hilir sungai menjadi salah satu kisah yang mencerminkan local genus dalam novel Gampiran. Hulu adalah wadah hidupnya habitat buaya dan hilir adalah kedamaian dan kesejahteraannya umat manusia. Kedua wilayah dan habitat ini tidak saling mengganggu, akan tetapi keduanya dapat hidup berdampingan tolong-menolong!(*)

Catatan:
¹ Sastrawan, pendiri dan pengelola Rumah Sastra Korrie Layun Rampan
² Mitos dan buaya yang ada di sungai-sungai di Serawak;
³ Dukun yang menggunakan kekuatan supranatural untuk mengerahkan kekuatan magis agar buaya Senyulong menggoda buaya jadi-jadian lainnya.

Kepustakaan:
Aminuddin, Drs. M.Pd.,2008, Semantik, Bandung: Sinar Baru Algensindo
Hartoko, Dick, 1979, Bianglala Sastra, Jakarta: Djambatan
Rahyono, F.X.,Kearifan Budaya Dalam Kita, Jakarta: Wedatama Widya Sastra
Rampan, Korrie Layun, 2011, Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia, Samarinda-Jakarta: Pustaka Spirit
——————————-, 2009, Apresiasi Cerpen Indonesia Mutaklhir, Jakarta: bukupop
Tantular, Mpu, 2009, Kakawin Sutasoma, Jakarta: Komunitas Bambu
WS, Hasanuddin, Prof. Dr., 2004, Ensiklopedi Sastra Indonesia, Bandung: Titian Ilmu

Dijumput dari: http://gampiran.wordpress.com/2012/05/10/pengantar-dari-korrie-layun-rampan/