Sastra Kaltim (Kalimantan Timur)

Korrie Layun Rampan *
Suara Karya, 6 April 2013

Memasuki tahun baru 2013 sastra Kaltim dihangati oleh peluncuran buku Rawa Buaya karya Elisaputra Lawa dan buku novel Dewi Nina Kirana yang berjudul istriku Hantu Jadi jadian.

Kedua karya itu diluncurkan 9 Februari 2013 yang lalu dengan pembicara Dr.Tiffany Tsao dari universitas Newcastle Australia dan Dr.Martinus Nanang dari universitas Mulawarman Samarinda Kaltim.

Para peserta seminar dan peluncuran buku tersebut sangat antusias,Terutama karena kehadiran kedua buku itu mencirikan tema-tema unik dari para pengarang yang ada di daerah ini.Karya Elisaputra Lawa mengusung tema-tema eksoterik yang memperlihatkan hubungan adat dan budaya di dalam etnik-etnik tertentu. Oleh berbagai ketentuan adat maka komunitas masyarakat adat berusaha untuk ada dan bereksistensi di wilayah tertentu dalam lingkungan masyarakatnya.

Mereka secara turun temurun tinggal dan hidup di dalam wilayah-wilayah hegemoni tempat mereka berada dalam situasi global, secara mengejutkan masyarakat lokal itu di penetrasi oleh kekuatan ekonomi baru berupa tambang, hutan tanaman industri, perusahaan kelapa sawit dan sebagainya yang secara mengejutkan mencaplok wilayah-wilayah hutan tanah adat masyarakat.

Hal yang demikian itu berlangsung pada beberapa tempat dan daerah yang selama ini aman damai. Setelah masuknya berbagai industri yang mengambil wilayah mereka, baik itu pertambangan maupun perkebunan, semuanya memberi dampak khusus terhadap kehidupan sehari-hari. Dalam kenyataan nya masyarakat adat yang tidak berdaya, kadang melakukan perlawanan secara tidak seimbang sehingga ujung dari konflik itu masyarakatlah yang dirugikan. Itulah inti utama kumpulan cerita pendek Elisaputra Lawa ini.

Lain hal nya dengan novel Dewi Nina Kirana istriku hantu jadi-jadian yang secara menarik mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan kehidupan masa lampau. Setting novel yang berada di Loa Bakung menunjukkan lokalitas yang jelas dalam hubungan penempatan lokasi.

Masa lampau masyarakat Samarinda dan peta perjalanan kota yang bertumbuh pada tahun 40-50an dapat dibayangkan jika kita melihat dan membayangkan Samarinda pada zaman ini. Dalam masa panjang itu perkembangan dan pertumbuhan kota menunjukkan perkembangan hidup masyarakat penghuni.Sejarah adalah penanda masa lampau yang menjadi bagian ingatan massa sebagai pelajaran untuk meninggalkan kesalahan dan membentuk keberanian membangun masa depan yang lebih baik.

Karya sastra di daerah ini telah memperlihatkan perkembangan yang dinamik.Perkembangan itu dapat di telusuri dalam antologi Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia dalam perkembangan muktahir seperti karya-karya Syafril Teha Noer, Herman Asalam, Jobal, Hamdani, Inni Indarpuri, Maria Ulfa, Syafruddin Pernyata, Dll yang menunjukkan dinamika kepengarangan di daerah ini.

Gerak maju itu ditandai lebih konkret dari beberapa judul antologi yang disusun oleh penulis seperti Hutan Tanah Adat dan Lidah Pun Menari, Matahari Bukit Selili, Jembatan Mahakam, Balikpapan dalam prosa pariwisata Indonesia, Kalimantan Timur dalam Drama Indonesia, Dll. Karya terbaru Panggilan Rindu milik Thresia Ratu Angin yang nama sebenarnya Thresia Hosanna Sumual bersama Hermiyana menunjukkan bahwa daerah ini memang kawasan yang menyimpan potensi kepenulisan yang setiap saat dapat muncul secara mendadak dan mengejutkan.Karya-karya mereka ini disajikan di dalam ruang-ruang indah yang dari saat ke saat melewati sastra-sastra kronik untuk mencapai sastra kanonik.

Secara tak terduga yayasan Lontar di Jakarta meminta penulis untuk menyajikan kekayaan sastra Kalimantan dalam hubungan pameran sastra, seni, kebudayaan yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta, 27 maret-7 April 2013. Permintaan pengisisan acara ini menunjukkan bahwa sastra di Kalimantan Timur sedang naik daun sehingga perlu salah seorang dari pekerja sastra itu untuk menyampaikan hal-hal penting yang berhubungan dengan kehidupan sastra, seni dan budaya dari daerah ini. Dalam hubungan itu penulis bersama pekerja sastra dari daerah ini akan berusaha tampil memperlihatkan cirri-ciri khas dan dinamika kreatif sastra dan budaya yang berkembang sejak awal di daerah ini, seperti yang tampak pada beberapa etnik misalnya etnik Kutai, etnik Dayak, Etnik Jawa,etnik Bugis, etnik Banjar dll.

Diharapkan penampilan penulis dan teman-teman seniman kreatif di Jakarta akan membuka wawasan baru dan penghargaan terhadap sastra dan sastrawan Kalimantan. ****

*) Korrie Layun Rampan, sastrawan, berdomisili di Samarinda, Kaltim
Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=324147