Sastra Masa Depan Harus Kembali pada Perenungan

Isbedy Stiawan ZS
Riau Pos, 21 April 2013

PADA November 2012 lalu, saya berjumpa lagi dengan penyair asal Madura ini, D Zawawi Imron, pada acara Pertemuan Pengarang Indonesia (PPI) di Makassar. Setelah beberapa tahun tak bertemu, penulis buku puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin ini sudah bertongkat. Kami pun berangkulan.

Ternyata penambahan satu kaki itu untuk menyangga kaki kanan D Zawawi Imron yang katanya teridentifikasi pengeroposan. Tapi penyair ini tetaplah terpancar kegagahannya. Ia juga selalu tersenyum, menaburkan tawa dan canda pada rekan-rekan pengarang tanpa memandang senior ataupun junior.

Saya baru tahu, kenapa penyair yang juga pernah diundang di berbagai forum sastra dan budaya di Tanah Air ataupun luar negeri ini selalu tersenyum walaupun mungkin ada canda rekan-rekan penyair yang keliwat batas. ‘’Selalu berpikir positif dan tersenyumlah pada siapapun dan itu dilakukan dari dalam jiwa,’’ katanya.

Ia pun mencontohkan, para pengajar semestinya sejak masuk kelas hingga keluar berilah senyuman pada siswa (murid) dengan senyuman dari dalam hati. Dengan demikian, para guru telah menyumbangkan pada anak-anak bangsa rasa damai. ‘’Damai itu datang dari hatinurani, bukan dari slogan. Damai itu indah, harus dimulai dari perilaku bukan menyuruh,’’ ujar D Zawawi Imron.

Saya telah menduga salah, pertemuan di Makassar tak lagi berlanjut. Penyair Madura ini kembali saya jumpai di Lampung, Rabu malam, 6 Maret 2013 lalu. Saya berkesempatan menemaninya selama dua jam.

Bersama penyair Syaiful Irba Tanpaka, kami mengobrol dengan penyair ‘’silawan’’ (nama daun yang tumbuh di desa kelahiran Zawawi) ini di Kafe Diggers, Pahoman, Bandarlampung. Kedatangan Zawawi Imrom ke Lampung serangkaian kegiatan yang diadakan Yayasan Paramadina di Universitas Lampung.

***

D ZAWAWI Imron, penyair yang juga kyai ini, meski hanya berpendidikan rendah setingkat SD di desa yang dulunya sangat terpencil namun dengan kegigihan dan perjuangannya bisa menjadi salah seorang penyair Indonesia yang diperhitungkan (Celurit Emas, Said Abdullah Institute, untuk Kongres Kebudayaan Madura II, 2012).

Penyair “Bulan Tertusuk Ilalang” yang telah memperoleh penghargaan The SEA Writers dari Kerajaan Thailand tahun 2012 ini, banyak menerbitkan kumpulan puisi. Zawawi Imron mulai diperhitungkan dalam ranah sastra Indonesia ketika diundang Pertemuan Penyair 10 Kota tahun 1982 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Dari Hotel Sheraton, tempat penyair ini menginap, hingga Kafe Diggers kami membincangkan ihwal sastra Indonesia. Percakapan dilanjutkan di kafe di sela-sela menikmati hidangan ringan dan penyair ini membuat sketsa wajah kami.

Menurut penyair yang semasa kecil pernah menjalani kehidupan sebagai kuli dan mengumpulkan batu-batu untuk menghampari jalan, saat ini banyak penyair muda yang di antaranya bagus dan bisa diharapkan menjadi penyair yang benar-benar bagus.

Bagi mereka yang baru muncul menghiasi media cetak, biarlah berproses untuk menemukan identitas dirinya dalam puisinya. ‘’Saya senang membacanya, karena ada warna dan gaya yang bagus,’’ ujar penyair kelahiran 1 Januari 1945 di Batang-Batang, Sumenep, Madura.

Penyair kumpulan puisi Nenek Moyangku Airmata yang ditunjuk sebagai Buku Puisi Terbaik dari Yayasan Buku Utama (1985) mengaku ada semacam perasaan bahagia tersendiri dalam kehidupan bersajak, yakni ia sering berhadapan dengan aneka rahasia dan teka-teki yang mengasyikkan untuk disingkap.

‘’Adakalanya saya berhasil membuka sebagian saja wajah teka-teki itu, tapi adakalanya pula saya kehilangan jejak karena rahasia dan teka-teki itu secara tiba-tiba menghilang dari jangkauan ingatan atau kenangan,’’ ujar penyair yang dikenal sebagai ustad ini.

Proses kreatif Zawawi Imron ini pernah pula ia sampaikan pada pembacaan sajak-sajak “Celurit Emas” di TIM, 22 November 1984. Menyinggung maraknya komunitas sastra di Tanah Air, Zawawi melihatnya sebagai gerakan positif. Dikatakan penulis buku Madura Akulah Darahmu dan Lautmu tak Habis Gelombang ini, kalau anak-anak muda mau menulis dengan jiwa yang jernih dan kreatif, berarti makin banyak barisan hatinurani yang akan memberikan inspirasi positif bagi bangsa nantinya.

Menanggapi masa depan sastra harus kembali kepada sastra ’renungan’ yang sempat dilontarkan Budi Darma, penyair yang kini bekerja di Yayasan Paramadina ini, sangat setuju. Pasalnya, Zawawi menerangkan, olah pikir dan olah rasa dengan penghayatan terhadap nilai-nilai hidup itu diperlukan untuk memberikan ruh dan substansi kemanusiaan ke dalam sastra.

Karena itu, sastra tanpa renungan tentu tak mengandung pendalaman. Ia hanya ditulis mengikuti selera pasar dan otomatis tak bisa memberi inspirasi yang menuju kehidupan berbudaya dan bermartabat.

Sastra hasil kontemplasi, menurut Zawawi, akan menyimpan nilai-nilai yang diperlukan pembaca. Sehingga pembaca menemukan sesuatu yang berharga (bernilai) yang sebelumnya tidak terpikirkan. Ihwal anggapan karya sastra di media cetak cenderung mengikuti selera redaktur, Zawawi Imron menilai, bahwa tiap tedaktur sastra punya selera sendiri itu sudah sejak dulu. Karena itu, pesan dia, redaktur sastra harus pula luas cakrawala sastranya. Tetapi yang sudah berjalan ini sudah sehat.

Sayang percakapan harus dihentikan, sebab malam menunjukkan pukul 22.13. Penyair D Zawawi Imron harus istirahat, seperti kata dia saat di mobil seakan mengingatkan kami, berilah hak bagi tubuhmu untuk istirahat karena jika kau tak memberikan hak itu pada tubuhmu sama artinya telah menzalimi diri sendiri.

*) Isbedy Stiawan ZS, sastrawan yang rajin menulis karya sastra seperti sajak, cerpen dan esai. Buku-buku kumpulan puisinya telah terbit dan terjual di pasaran. Bermastautin di Bandarlampung, Lampung.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/04/sastra-masa-depan-harus-kembali-pada.html