Seniman Satukan Sikap Terkait Pembongkaran Kantin WISMA SENI

Chrisna Chanis Cara
Solo Pos, 1 Maret 2012

Wacana pembongkaran kantin Wisma Seni Taman Budaya Surakarta (TBS) oleh pengelola mendapat perhatian khusus dari seniman pegiat Wisma Seni. Hari ini, Kamis (1/32012), Komunitas Wisma Seni TBS akan menggelar pertemuan untuk menyatukan sikap terkait wacana pembongkaran tersebut.

Salah seorang pegiat Wisma Seni, Halim HD, menyebut wacana pembongkaran kantin Wisma Seni untuk perluasan ruang penginapan seniman dipandang sebagai langkah yang kurang bijak. Pasalnya, pembangunan tersebut rawan mengorbankan aspek-aspek ekologis yang telah dirawat di Wisma Seni selama ini.

“Kalau itu (ruang penginapan) dibangun lagi, ruang hijau di sini akan semakin tergerus. TBS lama-lama tak ada bedanya dengan taman budaya di kota lain seperti Makassar, Medan dan Jogja yang sangat gersang. Untuk itu besok Kamis, kami akan menyatukan sikap terkait hal tersebut,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di Wisma Seni, Selasa (28/2/2012) malam.

Diungkapkan Halim, dari semua taman budaya di Indonesia yang pernah dikunjunginya, TBS-lah menurutnya yang paling asri dan terawat. Oleh karena itu, pihaknya menolak pembangunan jika belum ada kajian-kajian ekologis sebelumnya.

“Lagipula pengembangan ruang penginapan bukan hal yang mendesak. Ruangan yang ada sekarang itu masih cukup menampung 150-an seniman. Apa masih kurang banyak?” Menurut Halim, pengelola harusnya lebih memperhatikan pembangunan Teater Besar yang telah lima tahun mangkrak. Selain itu, pengelola juga bisa mulai merealisasikan studio-studio untuk pendukung kegiatan seni.

“Dalam grand design TBS, akan ada studio musik, diskografi, sastra dan lain sebagainya. Kenapa itu tidak didahulukan?,” tukasnya.

Pegiat Wisma Seni lain, Djarot Budi Darsono, menilai saat ini Wisma Seni sudah menjadi ruang publik yang ideal bagi seniman dan masyarakat. Untuk itu, ia berharap pemangku kebijakan bisa mengkaji lebih dalam ihwal pembangunan fisik yang akan dilakukan. “Kami tidak anti pembangunan, tapi sebisa mungkin hal itu dikomunikasikan dengan baik bersama para seniman. Pertemuan nanti sebenarnya tak lebih dari kontrol sosial agar pengelola tak semena-mena dalam berkebijakan.”

Sementara itu, Kasi Pengembangan Seni TBS, ST Wiyono, menyebut wacana pembongkaran kantin Wisma Seni sebagai isu yang salah. Menurutnya, saat ini pihak Provinsi sedang mencari jalan tengah agar semua kepentingan terakomodasi. “Tidak ada pembongkaran, tapi mungkin ada penambahan. Nanti akan dibicarakan lagi penempatannya,” pungkas dia.

Dijumput dari: http://www.solopos.com/2012/03/01/seniman-satukan-sikap-terkait-pembongkaran-kantin-wisma-seni-166514