Belajar Menulis dari Peter Elbow

Kasnadi *

Peter Elbow adalah Profesor bahasa dan Direktur program Menulis di Universitas Massachusetts. Ia adalah penulis buku berjudul Writing Withaout Teacher: Merdeka dalam Menulis (2007). Sebagai penulis pengalaman empiriknya perlu dielaborasi untuk dijadikan model belajar menulis. Dalam tulisan ini akan dipaparkan kiat empirik yang dilakukan Peter Elbow sebagai penulis.

Pertama, sesuai dengan bukunya Writing Withaout Teacher : Merdeka dalam Menulis, artinya menulis tidak perlu berpikir yang sulit-sulit, tidak perlu mengerutkan dahi, apalagi melakukan “semedi” untuk mendapatkan wahyu atau ilham. Kalau ingin menulis ya menulislah. Apa yang ingin Anda tulis segera tulis. Jangan ditunda-tunda nanti akan hilang. Menulis tidak perlu khawatir tentang kesalahan yang akan terjadi. Genggam saja petuah Peter Elbow bahwa “semua orang pasti punya salah” dan “belajar yang berkesan bisanya belajar dari kesalahan.” Bukankah Anda sering dengar bahwa pengalaman adalah guru terbaik?. Apa yang ada dalam benak Anda langsung saja tuangkan dalm sebuah tulisan. Mau menulis kegembiraan karena dapat hadiah silakan. Mau menulis tentang kejengkelan karena kemacetan jalan, silakan. Mau menulis tentang kesedihan karena sembako melonjak harganya, silakan. Mau menulis tentang kebencian terhadap seseorang, bapak, ibu, guru, rekanan, birokrat, apa pun objeknya, silakan. Samapi kalau Anda buntu untuk menulis, tulislah kebuntuan itu. Jangan lupa konsep ini “siapa cepat akan dapat” kita dapat mencintai kalau kita mencintai, kita dapat berbicara kalau kita mau berbicara, kita dapat bersepeda kalau kita mau bersepeda, kita dapat computer kalau kita memegang computer, kita dapat menyanyi kalau kita mau menyanyi, dan kiata dapat menulis kalau kita mau menulis. Itu saja cukup kata Gus Dur “gitu saja kok repot.”

Kedua, menulis perlu interaksi. Setiap manusia penting melakukan interaksi agar terjadi take and give informasi. Kegiatan menulis bagi Peter Elbow sangat mementingkan adanya interaksi antarmanusia. Karena, dengan berinterksi dengan manusia secara otomatis akan mendapatkan masukan demi kesempurnaan tulisan. Lha, di sinilah pentingnya membangun komunitas penulis untuk dijadikan tempat bertukar pengalaman. Di sinilah kata Peter Elbow merupakan tempat “penggodokan.” Jika tulisan sudah jadi penting dimasukkan dalam wadah “pengodokan” ini. Dalam proses penggodokan ini, perlu juga berinteraksi dengan diri sendiri. Inilah pentingnya kita merenung, mengoreksi diri sendiri, pinjam istilah Budi Darma “bersolilokui.” Begitu juga perlu berinteraksi dengan mahkluk lain. Flora dan fauna adalah sumber inspirasi kegiatan menulis. Mereka dapat kita jadikan patner untuk diajak dialog tentang selukbeluknya. Seperti yang dilakukan Gede Prama. Ia dalam menulis selalu berinteraksi dengan alam. Alam merupakan teman yang baik untuk beriteraksi. Bagi Prama alam adalah teman berdialog yang membawa kesejukan.

Ketiga, menulis tidak perlu bakat. Bakat hanya sekitar sepuluh persen berandil dalam kepenulisan. Dengan demikian penting untuk ditanamkan pada pemikiran kita bahwa mitos bakat dalam kepenulisan hendaknya digugurkan. Mitos itu justru menjerat, membelenggu, bahkan mematikan embrio kecil yang bergeliat dalam diri kirta. Sehingga, kecenderungan kita belum melakukan apa-apa harus bertempur dengan mitos. Dan mitos itu sudah kita menangkan. Oleh karena itu bahasa populernya kita ”kalah sebelum bertanding”. Simak pernyataan para orang-orang sukses. Apakah mereka sukses karena bakat? Tentu jawabnya tidak. Mereka sukses rata-rata karena kemauan dan etos kerja membaja. Bagaimana menggugurkan mitos itu? Tentu, berbuatlah, tidak usah menunggu waktu. Apalagi menunggu guru. Peganglah konsep ”apa dan siapa saja adalah guru”.

Keempat, menulis dapat dilakukan kapan saja. Kalau ingin menulis, jangan tunda-tunda sesegeralah pergi ambil kertas dan alat tulis dan coretkan pena, selesai. Tidak usah pilih waktu pagi, siang, sore, atau malam. Semua waktu baik dan dapat digunakan untuk menulis. Yang penting kapan punya waktu silakan menggunakan sebaik baiknya. Waktu hanya dapat dilewati hanya sekali. Ingat, jarum jam tidak pernah berputar balik.

Kelima, tempat jangan dijadikan alasan untuk menulis. Di mana kita berada dapat kita lakukan kegiatan menulis. Yang penting ketika kita ingin menulis tulislah. Tempat tidak mewarnai tulisan kita. Semua tempat syah untuk menulis. Di jalan dapat kita catat poin-poin penting untuk dikebangkan menjadi tulisan. Untuk itu pentingnya kita membawa alat tulis ke mana saja. Bukankah banyak sastrawan kondang, dan para penulis besar melakukan itu? Selamat untuk menulis!
***