Ibn ‘Arabi (1165-1240)

Karya: Masataka Takeshita
Penerjemah: M. Harir Muzakki *

Ibn ‘Arabi (1165-1240), tanpa diragukan, merupakan seorang pemikir yang sangat penting dan berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam pada masa berikutnya. Filsafat mistiknya, yang kemudian disebut wahdat al-wujud, mendominasi seluruh wilayah budaya dunia Muslim masa selanjutnya. Pengaruhnya sangat luas hingga tidak mungkin memahami sejarah pemikiran Islam setelah abad 13 tanpa memahamai pemikiran Ibn ‘Arabi secara baik. Khususnya di dunia Sunni, dimana teologi rasional (kalam) menyatu sedikit demi sedikit dan akhirnya filsafat “Hellenisme” (falsafa) sirna. Hal ini tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa pemikiran Ibn ‘Arabi menjadi satu-satunya teologi dan filsafat. Begitu juga Syi’ah di Iran, dimana filsafat dan teologi terus dikembangkan, pengaruh Ibn ‘Arabi sangat mencolok. Pemikirannya sungguh menyatu dengan teologi Syi’ah sejak Haydar Amuli dan Ibn Abi Jumhur dan salah satu sumber utama tradisi filsafat Syi’ah, sebagaimana diwakili oleh Mulla Syadra. Bahkan dalam bidang puisi, secara tradisional bentuk ungkapan yang paling digemari, tidak luput dari pengaruh Ibn ‘Arabi secara menyeluruh, tidak hanya beberapa sufi menyadur puisi-puisi filosofisnya, tetapi juga puisi-puisi tokoh sufi yang sangat terkenal, seperti Ibn Faridh dan Jalal al-Din Rumi, dijelaskan oleh para komentar sesuai dengan filsafat Ibn ‘Arabi.

Selain menjadi seorang pemikir penting dan berpengaruh, Ibn ‘Arabi dipandang sebagai pemikir Islam yang sangat pelik, namun produktif. Pemikirannya masih tetap sulit difahami, meskipun sejumlah kajian yang dihasilkan oleh beberapa generasi Muslim berikutnya dan juga para sarjana Barat berusaha menjelaskan pemikirannya. Usaha-usaha untuk menemukan sebuah sistem yang koheren dalam sejumlah karyanya telah dimulai oleh Sadr al-Din al-Qunawi, murid Ibn ‘Arabi yang paling masyhur. Di sini, kami akan menengok kembali karya-karya penting tentang Ibn ‘Arabi dalam bahasa Barat. Dua karya yang pertama ditulis oleh sarjana terkenal, H.S. Nyberg dan M. Asin Palacios. Nyberg mengedit tiga tulisan pendek dan beberapa karya penting Ibn ‘Arabi yang dimuat dalam bukunya yang berjudul Kleicere Schriften des Ibn ‘Arabi dan dia memberikan pendahuluan yang bernilai dan uraian jelas. M. Asin Palacios dalam buku Islam Cristianizado menulis riwayat hidup Ibn ‘Arabi secara lengkap dan terinci dan ringkasan pemikiran mistik-etik Ibn ‘Arabi. Kedua sarjana di atas, dengan kajiannya yang mendalam, berusaha melacak orisinilitas pemikiran Ibn ‘Arabi dari perbagai macam tradisi pemikiran Islam dan sebelum Islam. Karya Nyberg masih tetap menjadi studi perbandingan yang terbaik tentang filsafat Ibn ‘Arabi. Akan tetapi cukup aneh, tak satupun sarjana memberikan perhatian atas karya Ibn ‘Arabi yang paling matang, Fusus al-Hikam. Lebih-lebih, Nyberg ketika membatasi cakupannya untuk menjelaskan tiga risalah yang dia edit, mengambil sedikit al-Futuhat al-Makkiya. Di satu sisi dalam bukunya, Asin Palacious menghindari sejumlah analisis metafisika Ibn ‘Arabi.

R.A. Nicholson, seorang sarjana yang mendalam dalam bidang mistisme Islam, meringkas dengan baik sistem metafisika wahdatul wujud dalam bukunya Studies in Islamic Mysticism, meskipun demikian dia hanya melakukan kajian ringkas dan bersifat dasar atas karya Fusus al-Hikam Ibn ‘Arabi. Muridnya, A.E. Affifi, yang mengedit dan memberikan komentar Fusus al-Hikam, menyajikan uraian yang sistematis dan jelas dari seluruh pemikiran Ibn ‘Arabi dalam buku The Mystical Philosophy of Muhyid Din Ibnl ‘Arabi, sebuah karya yang sebagian besar didasarkan kitab Fusus al-Hikam dan al-Futuhat al-Makkiya. Meskipun demikian, karyanya masih merupakan penghantar terbaik yang bersifat umum atas pemikiran Ibn ‘Arabi, buku ini lebih sistematis, juga studi perbandingan antara Ibn ‘Arabi dengan para pemikir awal sebelum Islam dan pemikir Islam. Dia termasuk di antara sarjana yang berusaha menemukan sumber-sumber pemikiran Ibn ‘Arabi, namun masih bersifat sangat sederhana dan dangkal.

Terlebih akhir-akhir ini, buku H. Corbin L’imagination Creatice dans le Soufisme d’Ibn ‘Arabi dan buku T. Izutsu yang berjudul Sufism and Taoisme memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pemikiran Ibn ‘Arabi.

Corbin, secara khusus tertarik tradisi metafisika Iran (khususnya karya-karya Surahwadi), menemukan hazanah Ibn ‘Arabi yang terasimilasi dalam tradisi metafisika Iran. Meskipun Ibn ‘Arabi sendiri tidak memiki tradisi Iran, kesamaannya dengan tradisi metafisika Iran mengejutkan Corbin, dan mendorongnya untuk mengkaji Shekh al-Akbar. Buku Corbin memiliki pandangan yang sangat mendalam dan menarik, serta merangsang untuk melakukan kajian selanjutnya. Namun, dengan pendekatan fenomenologi dan psikologi secara mendasar bersifat ahistoris. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa pertimbangan latar belakang sejarah pemikiran Ibn ‘Arabi secara keseluruhan terlupakan dalam buku Corbin. Akan tetapi buku T. Izutsu, yang hampir sama dengan metodologi dan perhatian Corbin, membatasi kajiannya dengan menganalisis Fusus al-Hikam. Kedalaman penafsiran teknya, buku T. Izutsu melebihi semua karya sebelumnya, tetapi dia tidak menggunakan karya-karya lain Ibn ‘Arabi, dan dia (dalam kajiannya) tidak menempatkan Ibn ‘Arabi dalam sejarah pemikiran Islam.

Semua karya di atas dapatlah dikatakan bahwa hanya sedikit kajian yang dilakukan hingga saat ini untuk menilai pemikiran Ibn ‘Arabi berkaitan dengan tradisi awal intelektual Islam. Oleh karena itu, kami akan membatasi diri pada salah satu teori Ibn ‘Arabi yang paling terkenal, yaitu teori Manusia Sempurna, kami berusaha mengkaji pemikiran Ibn ‘Arabi dalam perspektif sejarah. Meskipun dia, dalam beberapa hal, merupakan seorang tokoh orisinal dalam sejarah pemikiran Islam, namun sebagian dari pemikirannya berasal dari tradisi-tradisi Islam sebelumnya. Selain itu, dia sulit bisa diterima oleh para sufi pada masa berikutnya. Lebih jauh keasliannya dapat diapresiasi secara tepat hanya dengan membandingkan lewat khazanah yang secara bebas dia gunakan, khususnya peninggalan awal ajaran sufi.

Salah satu alasan kesulitan bagi murid-murid Ibn ‘Arabi (untuk memahami) pemikirannya) adalah bentuk pemikirannya yang sukar difahami. Dia bukanlah seorang penulis yang sistematis seperti al-Ghazali yang mengajukan argumen-argumennya tersusun demgan baik, juga tidak penulis buku seperti Qusyairi dan Kalabadhi. Layaknya seorang sufi sungguhan, dia menulis atas inspirasi (ilham) dan beberapa ide karena ide-ide tersebut memancar dari penanya, bagaikan air (keluar) dari sumbernya. Sistemalisasi yang sederhana dari suatu karya tidak sepenuhnya tepat menurutnya. Ketika karya disistematiskan, maka akan kehilangan sifatnya yang dinamis dan menjadi suatu mistisme scholastis yang statis. Di satu sisi, kesulitan yang dia alami secara esensial berbeda dari sufi awal seperti al-Hallaj. Dalam karya al-Hallaj, setiap halaman dan kalimat membingungkan. Dalam kenyataannya kata-katanya adalah ungkapan ketika mabuk (syatahat) yang hanya bisa difahami dengan pengalaman, sementara dalam karya Ibn ‘Arabi masing-masing halaman, hampir dalam semua hal, cukup jelas, suatu ketika pembaca akan terbiasa dengan istilah-istilah teknis yang ia gunakan. Pembaca dapat menemukan dalam setiap halaman ide asli dan menarik atau suatu penafsiran al-Qur’an, hadis, doktrin-doktrin teologi yang mengagumkan, atau kata-kata para tokoh sufi pada masa awal. Meskipun demikian, secara keseluruhan, dia menyusun (idenya) pun masih tetap sulit dimengerti. Hal ini karena argumen-argumennya sebagian besar berjalan melalui penggabungan, tidak melalui susunan logika. Dalam pengertian seperti ini, sejumlah tulisannya dapat disamakan dengan tulisan Ghazal Persia, yang syairnya adalah bagaikan mutiara yang indah. Namun, setiap bagian secara umum dipandang sebagai rangkaian yang kurang terkait dalam satu kesatuan. Contohnya, dalam Fusus al-Hikam, Ibn ‘Arabi berpendapat bahwa setiap wali mendapat pengetahuan batin dari penutup para wali. Dengan demikian, para rasul dan para wali mendapatkannya dari penutup para wali. Akan tetapi, para wali harus mengikuti hukum yang dibawa oleh para rasul. Jadi, dalam satu aspek, wali adalah lebih rendah dari para rasul dan di sisi lain lebih tinggi. Argumennya adalah sangat jelas. Dia berusaha menjelaskan pernyataan tersebut dengan cara sebagai berikut:

Apa yang kita pertahankan di sini didukung oleh apa yang tampak dalam syari’ah kita, yaitu superioritas pendapat Umar (atas Nabi dan Abu Bakar) berkaitan dengan para tawanan ketika terjadi perang Badar, dan masalah penyerbukan buah kurma. Tidaklah penting bagi seorang yang sempurna untuk menjadi superior dalam segala hal dan pada semua tingkatan. Manusia (yaitu, sufi) dipandang hanya memiliki superioritas dalam berbagai tingkatan tentang pengetahuan Tuhan. Ini adalah (semata-mata) maksud keinginan mereka. Fikiran mereka tidaklah berkaitan dengan masalah-masalah yang bersifat fenomenal.

Pernyataan di atas, jika dipandang terpisah dari konteks adalah jelas, akan tetapi bagaimanakah pernyataan tersebut menjelaskan bagian sebelumnya? Untuk menjelaskan pernyataan yang menantang prima facie bahwa wali adalah lebih tinggi dari para rasul dalam satu aspek, Ibn ‘Arabi memberikan dua contoh dimana nabi membuat keputusan yang lebih rendah, jika dibandingkan mereka yang bukan nabi. Dalam contoh berikutnya tentang penyerbukan buah kurma, nabi mengatakan kepada para petani kurma bahwa mereka lebih mengetahui urusan-urusan duniawi (dari pada nabi). Perkataan nabi ini mendorong Ibn ‘Arabi untuk merumuskan pernyataan yang menarik tentang arti kesempurnaan pengetahuan. Pernyataan itu berkaitan dengan sebuah penafsiran hadis, akan tetapi tidak berkaitan dengan seluruh konteks, karena pengetahuan batin yang diterima para rasul dari penutup wali tentu berhubungan dengan Tuhan, bukan masalah-masalah yang bersifat fenomenal.

Terlihat ciri khas pemikiran Ibn ‘Arabi, suatu analisis beberapa tema yang diulang-ulang dalam sebagian besar tulisannya, menjadi sangat bermanfaat. Dalam sejarah filsafat abad pertengahan, metode analisa tema semacam ini diterapkan oleh Alexander Altmann sebagai langkah utama dalam bukunya “The Delphic Maxim in Medieval Irian and Judaism,” meskipun dia sangat tertarik filsafat Yahudi. Dalam kajian ini, kami memilih tiga tema utama yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi dalam membahas Manusia Sempurna; Adam diciptakan sesuai dengan citra Tuhan; hubumgan faham mikrokosmos dan makrokosmos; wali-wali sufi sebagai contoh utama Manusia Sempurna, berbeda dengan Manusia Binatang. Masing-masing tema memiliki sejarah panjang dalam pemikiran sebelum Islam dan pemikiran Islam. Namun, dalam kajian ini, kami akan membatasi pada pendapat-pendapat yang paling bisa mewakili tema-tema ini dalam pemikiran Islam, kecuali tema pertama tentang penciptaan Adam sesuai dengan citra Tuhan, dimana latar belakang Yahudi dan Kristen adalah jelas dan tak bisa diabaikan.

Catatan:

1. H.S. Nyberg, Kleicere Schriften des Ibn ‘Arabi (Leiden, 1919). Buku ini terdiri Insha’ al dawai’ir, ‘Uqlat al-Mustawfiz, dan al-Tadbirat al-Ilahiya fi Islah al-Mamlaka al-Insaniya.
2. Miguel Asin Palacios, El Islam Cristianizado: estudio del “sufisme” a traves las obras de Abbenarabi de Murcia (Madrid, 1931).
3. R.A. Nicholson, Studies in Islamic Mysticism (Cambridge, 1921).
4. Idem, “beberapa catatan Fusus al-Hikam,” dalam penelitiannya, 149-161.
5. A.E. Affifi, The Mystical Philosophy of Muhyid Din Ibnl ‘Arabi (Cambridge, 1919)
6. H. Corbin, L’imagination Creatice dans le Soufisme d’Ibn ‘Arabi, Cet. II (Paris, 1976). Pertama buku ini diterbitkan pada tahun 1958.
7. Thosihiko Izutsu, Sufism and Tooism: A Comparative Study of Key Philosophical Concepts (Tokyo, 1983). Buku ini merupakan edisi yang telah direvisi dari karyanya A Comparative Study of the Key Philosophical Concepts in Sufisme and Tooism, 2 Jilid (Tokyo, 1966-67).
8. Ibn ‘Arabi, Fusus al-Hikam, ed. Abu al-‘Ala Affifi (Cairo, 1946), 62-63.
9. Alexander Altman, The Delphic Maxim in Medieval Irian and Judaism, dalam tulisan Altman, Studies in Religious Philophy and Mysticism (Planview, N.Y. 1969, 1-40).

*) M.Harir Muzakki, Dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo.