Memahat Mega Makna; Solidaritas dan Ekspresi Penyair

Alam Terkembang *
Riau Pos, 12 Mei 2013

Puisi dan Realitas

SEBUAHpuisi tak pernah alpa atau dusta pada realitas. Puisi membuka mata penyair pada setiap jengkal kejadian. Ia merekam apa saja yang ia lihat dan ia dengar. Tak terbatas oleh ruang dan waktu. Maka, puisi jualah yang mencatatnya dalam lembar sejarah yang tak pernah lekang. Antara puisi dan realitas tak bisa dipisahkan. Puisi selalu mengangkat yang lama ke permukaan agar tetap baru dan terbaharukan, untuk bisa dinikmati sepanjang waktu.

Setiap tulisan yang mengalir dari penulis adalah anugerah, bila puisi dimaknai sebagai sarana kontemplasi. Puisi tidak setakat hidang estetika nutrisi kegalauan hati penyair saja. Padanya dapat ditautkan berbagai makna penggerak fitrah jiwa yang menuju nilai kebaikan. Ada ruang harap yang didedahkan dari sang penyair untuk menghindari kemunafikan. Puisi dapat dikatakan sebagai representasi penyair. Bila penyair menghidangkan puisi yang juga dapat ia pahami, dan menjadi wujud eksistensi diri.

Solidaritas Penyair

Di tangan-tangan penyair yang karyanya termaktub dalam Memahat Mega Makna puisi ternyata bukan saja wujud eksistensi diri belaka, tapi juga sebuah eksistensi solidaritas. Para penyair ini menghimpunkan karya-karyanya untuk satu semangat, yakni solidaritas kemanusian untuk rakyat Palestina. Buku-buku yang telah dicetak dipasarkan lewat pelbagai jaringan. Tak tanggung-tanggung, seratus persen keuntungan akan disalurkan ke rakyat Pelestina lewat kelembagaan yang ada.

Bentuk solidaritas seperti itu juga pernah ditunjukkan oleh kalangan seniman kepada sastrawan senior Hamsad Rangkuti. Kala Hamsad Rangkuti yang sedang terbaring di rumah sakit, sederet seniman menggalang dana untuk diberikan kepada Hamsad. Sehingga terkumpul sejumlah donasi yang diperuntukkan untuk Hamsad.

Solidaritas tersebut mereka tunjukkan lewat mendedahkan karya Hamsad lewat suatu kegiatan. Dalam kegiatan tersebut misalnya Aktris Lola Amaria tampil dengan membacakan sebuah cerpen Kunang-Kunang karya sang sastrawan. Ia tampil penuh penjiwaan sehingga membuat para penonton berdecak kagum. Butet Kartaradjasa juga membacakan cerpen karya Hamsad.

Tidak itu saja. Di penghujung tahun 2012, dalam rangka Hari HAM internasional, Bengkel Sastra UNJ menggelas Pentas Solidaritas Sastra untuk Palestina, di Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan. Para pengisi acara antara lain Taufiq Ismail, Sujiwo Tejo, Hidayat Nurwahid, Didi Petet, A. Fuadi, Habiburrahman Elshirazy, Fathin Hamama, Helvy Tiana Rosa, Fahira Idris, Astri Ivo, Dude Herlino, Oki Setiana Dewi, Ozy Syahputra, Cholidi Asadil Alam, Benny Arnas, Chaerul Umam,Tatty Elmir dan FIM, Boim Lebon, Jamal D. Rahman, Ical Vrigar, Yulia Chai, Bengkel Sastra UNJ dan lain-lain.

Pada kesempatan itu terkumpul uang sejumlah Rp75 juta. Semua diserahkan untuk anak-anak Palestina melalui Adara Relief International. Sebelumnya, pada pagi hingga sore di tempat yang sama juga digelar Lomba Cipta dan Baca Puisi tentang Palestina. Sebuah solidaritas yang ditunjukkan lewat puisi.

Memahat Mega Makna Dilihat dari Pendekatan Ekspresif

‘Memahat Mega Makna’ merupakan upaya para penyair yang mencoba memadukan fungsi estetika puisi dengan nilai-nilai logika kebenaran yang dirangkum oleh rasa empati kepada kalangan yang terjajah. Hal ini menunjukkan betapa kemerdekaan sudah seharusnya lenyap dari muka bumi dan menjadi hak setiap bangsa.

Puisi-puisi di dalamnya jika dilihat dengan pendekatan ekspresif dapat terlihat ungkapan batin dan perasaan penyair. Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menekankan pada ekspresi perasaan atau temperamen, pikiran dan diri penulis. Pendekatan ini lebih menitikberatkan pada penyair. Dalam hal ini puisi yang diciptakan dianggap sebagai gambaran pribadi penulis. (Wahyudi, 2002: 181).

Berikut salah satu puisi di dalam kumpulan puisi Memahat Mega Makna, karya Adi Azumar :

“Kembali Pada-Mu”
Kulebatkan air mata menderas terkuras.
Kurekatkan sebuah nama Kau tak kan kuingkari lagi, Robbi.
Kukubur hingga melebur membiar dia pergi.
Kumendekat Kau pun mendekat, ku eja nama-Mu berulang kali,
Kubiar semua buyar, kita tak ada lagi dalam sepotong episode masa lalu.

Dari puisi di atas, didapatkan gambaran bahwa si penyair adalah orang yang religius, ingat kepada Tuhannya yang mengakui kesalahan-kesalahannya. Hal ini tampak pada lirik Kulebatkan air mata menderas terkuras dan Kurekatkan sebuah nama Kau tak kan kuingkari lagi, Robbi.

Ia juga menyadari bahwa dirinya banyak melakukan dosa, ternyata hanya Tuhanlah tempat ia kembali dan memohon pertolongan dan tak akan mengulangan kesalahan lagi. Hal ini dapat dilihat pada lirik: Kubiar semua buyar, kita tak ada lagi dalam sepotong episode masa lalu. Termasuk hidup tanpa penindasan orang lain yang selalu menjadi bayang-bayang.

Puisi Adi Azumar merupakan gambaran representatif kandungan puisi-puisi yang ada di dalam buku tersebut. Namun, pembaca juga dapat memaknai puisi-puisi yang ada di dalamnya dengan berbagai pendekatan. Termasuk pendekatan emosional yang berkaitan latar belakang kemunculannya. Pada dasarnya kalangan penyair tidak serta merta memberikan materi dalam bentuk solidaritasnya. Terkadang kehadiran lewat karya akan mengetuk hati siapa saja untuk berpartisipasi. Penyair ibarat mediator yang mempertemukan puisi dan pembaca. Dari situlah diharapkan peran penyair sebagai juru penyampai estetika dan nilai, sekaligus relawan yang mengangkat ‘kotak’ donasi.

Penyair-penyair yang karyanya terakumulasi dalam Memahat Mega Makna, berangkat dari solidaritas yang sama. Sehingga ketika ada penggalangan dana oleh berbagai kalangan untuk rakyat Palestina, maka FLP (Forum Lingkar Pena) se-Sumatera -yang memprakarsai munculnya Memahat Mega Makna- menggalang solidaritas dengan caranya sendiri. Dengan mengikhlaskan karya mereka terjual tanpa mengharapkan satu rupiah pun royalti yang masuk ke kantong mereka, inilah salah satu sedekah yang telah dilakukan. Sebab bentuk solidaritas bisa dalam bentuk yang berbeda sesuai kapasitas masing-masing.

Jika puisi dilakukan dengan pendekatan ekspresif mengenai batin atau perasaan seseorang yang kemudian di ekspresikan dan dituangkan kedalam bentuk karya dan tulisan, akan membentuk sebuah karya sastra yang bernilai rasa tersendiri, bahkan menurut isi kandungan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Ini artinya penyair mempunyai peran dalam mengetuk pintu kemanusiaan siapa saja. Tidak saja berdiam pada ruang-ruang sepi sang penyair. Namun juga berpartisipasi aktif dalam dimensi yang lebih luas.

Pekanbaru, Februari 2013

*) Alam Terkembang, Nama pena dari Muflih Helmi yang menjabat sebagai Ketua FLP Cabang Pekanbaru. Karya-karyanya banyak dimuat diberbagai media massa dan bermastautin di Pekanbaru.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/05/memahat-mega-makna-solidaritas-dan.html